Reunion Of Another World

Reunion Of Another World
Chapter 5


Setelah beberapa jam berlalu dan di kelas tidak ada guru sampai bel pulang.


"Kriiiing....kriiiing."


Bel sekolah berbunyi yang berarti semua murid diperbolehkan untuk pulang. Tetapu Rey masih tertidur.


"Rey....Reeey, ayo bangun. Ingin pulang tidak?"


Seseorang membangunkan Rey tetapi Rey susah untuk bangun.


"Susah banget bangunnya, aku kerjain deh. Fuuuuh."


Orang itu menjaili Rey dengan cara meniup telinganya.


"Apa ini?" Ucap Rey di dalam hati.


"Anginnya menyejukkan."


Setelah ditiup, Rey perlahan terbangun dan mulai membuka matanya. Lalu Rey melihat ke arah dimana angin sepoi-sepoi itu berasal.


"Waaah, Lina." Rey terkejut dengan wajah Lina yang terlihat dekat sekali.


"Waaah, Rey. Kamu sudah bangun, bilang dong kalau kamu sudah bangun." Lina juga terkejut karena Rey sudah bangun dan tiba-tiba teriak.


"Aku juga bangun karena ada angin sepoi sepoi yang menerpaku."


"Ahahahaha, angin sepoi sepoi? Ahahahah."


"Kenapa tertawa?"


"Tidak, tidak apa apa, ahahaha."


"Apa ternyata kamu melakukan sesuatu padaku?"


"Entahlah." Ucap Lina sambil membalikkan badan lalu keluar pintu kelas.


"Hoy, tunggu. Huh, lagi enak enak tidur dan mimpi indah tapi malah diganggu. Tapi memang seharusnya aku segera pulang, sudah mulai sore."


Rey berdiri lalu mengangkat tasnya dan menggendongnya. Rey berjalan ke arah pintu keluar kelas. Tiba tiba di pintu keluar ada Lina yang kembali untuk mengajak Rey pulang bersama.


"Rey, pulang bareng yok."


"Boleh." Jawab Rey.


Mereka akhirnya pulang berdua. Saat di jalan Lina menagih janji Rey untuk menjawab pertanyaannya tadi pagi.


"Hey, Jawab pertanyaanku tadi pagi."


"Hah? Yang mana?" tanya Rey sambil memasang wajah bingung.


"Itu, yang kenapa kamu bisa bertarung seperti itu."


"Ooh, itu. Itu karna aku di ajari oleh ayahku saat masih kecil."


"Benarkah?"


"Iya benar. Dulu sebelum kamu pindah ke sini aku belajar bela diri dengan ayahku setiap hari."


"Ya wajar kamu tidak tau, itu kan saat aku masih kecil."


"Benar sekali."


Mereka terus berjalan dan menyebrangi jalan raya menggunakan jembatan penyeberangan orang.


"Oh iya, aku hampir lupa. Aku besok lusa akan kemah bersama teman teman."


"Heee, putri sekolah memang hebat." Ucap Rey sambil bercanda.


"Berhentilah memanggil seperti itu"


"Ahahaha, bercanda bercanda."


"Awas saja besok lusa, aku akan menitipkan barang barangku padamu semua."


"Baik, baik.... Heh?"


Rey terdiam sejenak karena terkejut dengan apa yang dibicarakan oleh Lina.


"Tunggu, tunggu dulu. Aku ikut?" tanya Rey dengan wajah yang kebingungan.


"Tentu saja, aku kan sudah menulis namamu untuk ikut kemah."


"Kok kamu tidak bilang?"


"Karena kamu lagi tidur, aku tidak mau membangunkanmu. Jadi aku tulis saja sendiri dan diam diam."


Rey tidak tau kalau dirinya diikutsertakan oleh Lina untuk pergi berkemah. Bahkan Rey tidak tau kalau akan ada kemah bersama teman temannya.


"Huuuh, kenapa ini terjadi padaku."


Rey menghelas nafasnya karena dia berpikir bahwa kalau dia ikut, tidak ada yang mau dekat dengannya karena Rey tidak punya teman. Rey juga berpikir bahwa kalau dia ketahuan dekat dengan Lina, kemungkinan dia akan semakin dijauhi.


"Tidak apa apa, pasti semua akan baik baik saja. Semangatlah" ucap Lina kepada Rey sambil menyemangatinya.


"Semoga saja begitu. Huuuh." jawab Rey sambil lemas.


Mereka berdua berjalan sampai kerumah Rey. Rey sampai duluan.


"Sampai jumpa, jangan lupa besok lusa." ucap Lina sambil melambaikan tangannya.


Rey pun membalasnya hanya dengan melambaikan tangannya saja. Rey berjalan ke arah pintu Rumahnya lalu membukanya.


"Aku pulang."


"Selamat datang." jawab ibunya.


"Ibu aku besok lusa akan kemah."


"Heeeeeh."


Ibunya terkejut karena selama ini Rey menghabiskan liburannya hanya di rumah saja untuk bermain game dan jarang keluar rumah, setelah itu Rey juga memberitahu ayahnya dan reaksinya pun sama seperti ibunya.