Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 45 : Berpindah Tempat


Di kerajaan Elverne, raja dan ratu yang selama ini terbaring di atas kasur karena kutukan yang mereka derita. Hingga akhirnya mereka bisa bangun kembali berkat bantuan dari Ferisu. Saat ini mereka sedang dalam masa pemulihan.


Di sebuah ruang rapat, para tetua elf berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu dengan Ferisu. "Apa yang ingin Anda inginkan?" tanya para tetua pada Ferisu.


Karena pertemuan ini adalah permintaan Ferisu pada Olivia setelah mengangkat kutukan anaknya (sang raja). "Aku hanya ingin meminta sebagian wilayah, bukan untuk selamanya. Ini hanya untuk sementara saja, aku ingin para penduduk desa heiwa untuk menetap disini," jawab Ferisu dengan tenang.


"Apa mereka iblis?" tanya Olivia.


"Bukan, penduduk desa heiwa terdiri dari beberapa ras yang berbeda, goblin, manusia, bunny, dan catsith. Mungkin akan bertambah lagi seperti lamia dan lizardman," jawab Ferisu.


"Baiklah, kalian bisa menggunakan lahan yang berada di dekat danau. Di sana cukup luas dan tak terlalu jauh dari kota," ujar Olivia.


"Tapi, Olivia-sama! Apa Anda akan mempercayai iblis ini begitu saja!?" salah seorang tetua menolak usulan itu.


"Dia telah menyelamatkan pohon dunia, mengangkat kutukan raja dan ratu, sekaligus pohon dunia juga mempercayainya. Apa ada hal yang harus kujelaskan lagi?" jawab Olivia dengan tegas.


Para tetua tampak tersentak, lalu menundukkan kepalanya. "Tidak, Yang Mulia..." kata mereka secara bersamaan.


"Jadi, aku boleh meminjam lahan di dekat danau?" Ferisu memastikan ucapan Olivia.


"Ya, jadi kapan mereka akan datang?"


"Hari ini mereka akan sampai, aku akan menjemput mereka," jawab Ferisu, lalu ia berdiri dari kursi dan berjalan keluar dari ruangan. Olivia dan para tetua merasa heran dengan ucapan Ferisu, "apa mereka menetap di dekat hutan?"


Para penjaga perbatasan juga tak melaporkan adanya seseorang mendekat ke hutan. Olivia dan beberapa tetua mengikuti Ferisu menuju ke lahan luas yang ada di dekat danau. Di depan lahan itu, Ferisu menciptakan sebuah gate.


"A-apa itu?" Para elf tampak terkejut saat melihat gate untuk pertama kalinya.


"Ini sihir yang dapat menghubungkanmu dari satu titik ke titik lainnya," jelas Ferisu pada para elf.


Ferisu masuk kedalam gate dan sampai di desa Heiwa, para penduduk juga menyambutnya dengan hangat disertai senyuman yang lebar. Pada saat itu Ferisu melihat segerombolan orang asing, mereka memiliki rupa seperti babi, namun berdiri layaknya manusia. "Orc?" gumamnya lirih saat melihat sosok itu.


Saat melihat para penduduk yang menyambut kedatangannya dengan ceria, Ferisu melihat kawanan orc di dekat gerbang masuk desa. "Siapa mereka?" tanya Ferisu menunjuk ke arah para orc.


"Mereka orc yang saya bawa, Ferisu-sama," jawab Kuroe dengan nada gemetar.


Setelah itu Ferisu berjalan menuju ke rombongan para orc, general orc langsung menghadangnya. "Kumohon, tolong lepaskan mereka. Anda bisa melakukan apa saja padaku," ucapnya dengan gemetaran.


"Tenanglah, aku tak akan melakukan apapun pada kalian. Sebaliknya aku ingin bertanya, apa kalian mau tinggal bersama kami?" tanya Ferisu sembari mengulurkan tangannya.


Semua penduduk desa yang lain menunjukkan senyuman hangat seperti melihat keluarga baru yang akan bergabung bersama mereka. Orc general menerima uluran tangan tersebut. "Iya, kami bersedia," ucapnya dengan yakin.


"Baiklah, semuanya cepatlah bereskan barang-barang kalian!" teriak Ferisu memberikan instruksi pada para penduduk. Para orc juga berkumpul di dekat gate. Satu persatu dari mereka masuk kedalam sana dan sampai di hutan elf.


"Ini dimana Ferisu-sama?" tanya Mudru.


"Kita berada di kerajaan Elverne, hutan para elf tinggal," jawab Ferisu, sembari menunjuk para elf yang berada di sekitar. "Kalian bisa gunakan lahan yang ada disini, dan berteman baiklah dengan para elf. Aku akan menjemput yang lainnya," ucap Ferisu, lalu masuk kedalam gate menuju ke goa para lamia dan Lizardman.


"Kenapa tak ada iblis selain Ferisu?" itulah kata yang terucap dari mulut mereka.


"Ferisu-dono, apa ras iblis hanya dirimu seorang?" tanya Olivia.


"Ya, aku berasal dari ras Vampir," jawab Ferisu.


Olivia memiringkan kepalanya dengan wajah kebingungan, "vampir?"


"Tak perlu bingung begitu, aku satu-satunya vampir di dunia ini. Jadi wajar saja kalian tak mengetahui ras ku," ujar Ferisu menjelaskan soal rasnya.


Pembangunan rumah sederhana untuk para penduduk desa Heiwa mulai dikerjakan, dengan kerja sama pembangunan dapat di selesaikan dengan waktu yang terbilang cepat. Rumahnya hanya sedikit namun, setiap rumah dapat menampung sekitar tiga puluh orang.


Setelah sepuluh hari berlalu sudah ada empat rumah yang selesai di bangun, saat ini penduduk desa Heiwa berjumlah dua ratus lima puluh orang, jadi mereka masih memerlukan lima rumah lagi.


Waktu berlalu dengan cepat dan telah genap satu bulan mereka tinggal di hutan para elf. Hubungan mereka juga semakin baik dan bisa mempercayai satu sama lain, meskipun masih ada beberapa orang yang memiliki rasa benci pada ras lain karena perang di masa lalu.


Di ruang rapat yang ada di rumah Ferisu, setiap perwakilan ras di panggil. "Bagaimana? Apa kalian sudah bisa beradaptasi di sini?" tanya Ferisu membuka pembicaraan.


"Ya, Ferisu-sama!" jawab mereka serentak.


"Bagus, kalau begitu aku akan melanjutkan perjalanan menuju hutan kematian," ucap Ferisu dengan perasaan lega.


Yoruka mengangkat tangannya, "apa saya boleh ikut?" Licia, Shiro dan Kurumu juga menangatakan hal yang sama.


Ferisu menggelengkan kepalanya, "maaf, tapi aku ingin kalian tetap disini," jawabnya. "Aku akan terbang menuju ke hutan kematian, itu akan menjadi perjalanan yang singkat. Terlebih lagi aku tak tau seberbahaya apa hutan itu," jelasnya.


"Apa kamu mengkhawatirkan kami?" ungkap Yoruka.


"Ya," jawab Ferisu sembari memejamkan matanya.


Mendengar hal itu ke empat gadis itu tersipu dan menundukkan wajahnya. "Ada apa?" tanya Ferisu heran saat melihat ke empat gadis itu.


"Bu-bukan apa-apa!" jawab mereka serentak dengan muka memerah.


"Eh? Yah, pokoknya aku akan pergi sendiri, kalian fokuslah berlatih dan meningkatkan kekuatan untuk mereka yang ingin jadi prajurit," ujar Ferisu. "Itu saja, kalian bisa kembali ke tempat masing-masing," Ferisu menutup pembicaraan.


Ke esokan paginya, semua orang berkumpul untuk menghantarkan kepergian Ferisu. "Hati-hati, Ferisu-sama!"


"Ya, kalian juga!" balas Ferisu. Lalu ia membentangkan sayapnya dan terbang ke atas. Setelah melambaikan tangannya, Ferisu melesat dengan cepat meninggalkan hutan elf.


Di saat sedang berada di udara, pedang yang ada di pinggang Ferisu melakukan telepati. "Tuan, apa kita bisa turun?"


"Ada apa, Gure?" tanya Ferisu. Gure adalah nama yang diberikan oleh Ferisu pada pedang hampa yang ada di pinggangnya.


"Saya merasakan keberadaan dari saudara saya," jawabnya.