
"Aku seperti mengenal aura ini adik" Ungkap Dewa Zura.
"Ini sepertinya aura dari Narya" Lanjutnya.
Dan benar saja, setelah Dewa Zura selesai berucap, tiba-tiba saja muncul sosok anak kecil dengan aura yang sangat menyeramkan.
Dia adalah sosok Rajanarnya, sosok yang selalu membuat semesta dan alam raya berada dalam kekacauan sampai saat ini.
"Hahaha.. Ternyata benar, ada seorang manusia yang kekuatannya melampaui para Dewa terdahulu." Ucap Rajanarya setelah memperlihatkan wujudnya.
"Mmmmh, Sepertinya tubuhmu bagus untuk wadah jiwaku selanjutnya manusia." lanjutnya.
Sedangkan di sisi Dewa Wasa dan Dewa Zura, Mereka terlihat sedikit cemas karena tak mampu mengukur kekuatan lawannya.
"Si-sial.. Bagaimana bisa sosok ini muncul di alam sejauh ini" gumam Dewa Zura.
"Bagaimana ini kak? Apa yang harus kita lakukan, Aku bahkan tidak bisa mengukur kekuatannya." tanya Dewa Wasa kepada Dewa Zura melalui pikirannya.
"Hahaha, asal kalian tahu, aku bisa mendengar percakapan kalian meskipun kalian berbicara melalui pikiran." Ungkap Rajanarnya di iringi dengan tawanya.
Pernyataan itu pun lantas membuat Dewa Wasa dan Dewa Zura tercengang, sehingga membuat mereka berdua bingung harus berbuat apa.
"Sepertinya kalian sudah menerima nasib kalian, maka dari itu aku akan membunuhmu terlebih dahulu, lalu setelah itu aku akan mengurung jiwamu." Ucap Rajanarya sembari melirik ke Dewa Zura terlebih dahulu lalu di lanjutkan dengan melirik ke Dewa Wasa dengan di iringi sebuah senyuman yang licik.
Sontak saja hal itu membuat sosok Dewa Wasa dan Dewa Zura langsung mengambil jarak ke belakang, dan memasang kuda-kudanya bersiap untuk melawan Rajanarnya.
"Hahaha, Aku senang dengan perlawanan kalian, maka dari itu aku akan meladeni perlawanan kalian dulu agar tidak mati dengan sebuah penyesalan." ungkap Rajanarnya.
Setelah itu dirinya juga mengambil jarak sedikit kebelakang dan mengeluarkan 10% dari kekuatannya.
Namun jangan salah, meskipun hanya 10% saja, kekuatan Rajanarya sudah mampu untuk melenyapkan satu semesta hanya dengan sekali kibasan tangan saja.
Sedangkan di sisi Dewa Wasa, mereka berdua langsung terkena tekanan yang sangat kuat, sehingga membuat mereka berdua tak mampu bergerak.
Akan tetapi Dewa Wasa tak kehilangan akal, setelah dirinya mendapat sebuah tekanan yang sangat kuat, Dia langsung mengalirkan seluruh energinya berpusat menuju ke jari pada tangan kanannya.
Setelah itu dirinya langsung berusaha keras untuk menekan tangannya mengarah ke arah perutnya.
Dan setelah berjuang dengan sekuat tenaga akhirnya jarinya mampu mengenai perutnya, setelah itu dirinya membaca sedikit mantra sehingga terjadi sebuah fenomena yang aneh.
Sedangkan di sisi Dewa Zura, dirinya tak mampu berbuat apa-apa lagi, bahkan seluruh kekuatannya tak mampu di gunakan seperti tersedot oleh aura tekanan milik Rajanarya.
Bahkan energi emas yang waktu itu mampu menyelamatkan Dewa Wasa saat pertama kali datang di semesta Gandi pun tak bisa di andalkan di hadapan Rajanarya.
Meskipun Dewa Zura adalah sosok yang memiliki kekuatan tinggi, namun di depan Rajanarya dirinya tak mampu berbuat apa-apa dan mungkin hanya sekali serangan saja itu mampu membuat sosok Dewa Zura sekarat.
Tidak bisa di bayangkan setinggi dan sekuat apa sosok Rajanarya, bahkan sampai saat ini pun belum ada yang tahu siapa yang mampu mengalahkannya.
Di saat Dewa Zura sudah pasrah, tiba-tiba saja terjadi sebuah badai yang hampir sama saat pertama kali Rajanarya muncul.
Badai itu terlihat semakin lama memunculkan sebuah petir-petir kecil hingga menjadi besar.
Dewa Zura yang melihat itu pun, langsung saja melirik ke arah sampingnya.
Setelah itu dirinya benar-benar di kejutkan oleh sosok Dewa Wasa yang perlahan menjelma menjadi sosok makhluk yang begitu asing di matanya, dengan aura yang terus keluar dan semakin meningkat.
Dia tidak mengira, sosok manusia yang di anggapnya tidak bisa lebih kuat dari dirinya, ternyata sosok makhluk yang jauh lebih tinggi dari dirinya.
"Si-siall.. Sebenarnya siapa dirinya." gumamnya dalam hati.
Sedangkan di sisi lain, Rajanarnya yang melihat perubahan dari Dewa Wasa sedikit mengernyitkan dahinya.
Rajanarya sungguh tidak menyangka jika kekuatan manusia itu bisa melampaui Dewa pada umumnya, bahkan saat ini semakin lama kekuatan itu semakin besar, sehingga membuatnya sedikit tertekan.
"Tidak kusangka, ternyata dirimulah yang di pilih olehnya, beruntung sekali diriku bisa berjumpa dirimu, meskipun kau bukanlah dirinya, akan tetapi kekuatanmu hampir sama dengan dirinya saat masih kecil dulu." ungkap Rajanarya dengan jelas yang membuat Dewa Zura bingung.
Sedangkan Dewa Wasa sendiri, dirinya hanya mengamati lawannya saja tanpa berucap sepatah kata pun.
Dirinya saat ini hanya berfokus untuk mengeluarkan kekuatan yang dahulu menjadi kutukan dalam dirinya.
Sehingga saat ini, perlahan sosok Dewa Wasa menjelma menjadi sosok yang sangat mengerikan dengan wibawa dan aura beserta energi yang bercampur aduk.
Energi itu ada yang mendamaikan, ada yang kelam, dan ada juga yang membuatnya terlihat sangat berwibawa.
HIngga beberapa menit kemudian, dirinya menjelma menjadi sosok yang memiliki empat sayap, dan mata yang berbeda.
Rambutnya pun kini berubah menjadi sebagian putih dengan membawa kipas besi berwarna putih ke emasan di tangan kanannya.
Sedang untuk matanya terlihat yang sebelah kiri berubah menjadi merah darah dan yang kanan masih sama berwarna biru namun terdapat pola berbentuk bunga dengan sangat jelas.
Setelah kekuatannya keluar sepenuhnya pun, akhirnya tekanan dari Rajanarya lenyap begitu saja, dan berbalik membuat Rajanarya menjadi sedikit tertekan oleh kekuatan Dewa Wasa.
Sehingga sesaat setelah itu dirinya mau tak mau membuka kembali sedikit kekuatannya, sehingga membuat alam yang saat ini mereka tempati berguncang hebat, dan menjadi gelap seluruhnya.
"Baik adik, berhati-hatilah, dan segeralah pulang." jawab Dewa Zura tanpa membantah.
Setelah menjawab Dewa Wasa, dirinya langsung menghilang dan muncul kembali jauh di perbatasan semesta, lalu dirinya membuat portal dimensi untuk menuju tempat tinggalnya dan akan memberikan pesan kepada ayahnya.
"Baiklah, sekarang hanya tinggal kita berdua, mari selesaikan ini makhluk sesat." Ungkap Dewa Wasa dengan suara parau.
"Hahaha.. Jangan jumawa kau bocah manusia, hanya dengan kekuatan seperti itu saja mau melawanku yang bahkan diriku belum mengeluarkan lima puluh persen dari kekuatanku." Jawab Rajanarya yang di iringi dengan munculnya sebuah bola hitam kecil di atas permukaan tangannya.
Setelah itu dirinya tanpa aba-aba pun langsung melesat menyerang Dewa Wasa.
Sedangkan bola hitam kecil yang ada di telapak tangannya kini berubah menjadi sebuah tombak yang sangat panjang dengan gagang yang memiliki mata berwarna ungu pekat.
Dewa Wasa yang melihat lawannya menghilang dari pandangannya pun juga langsung melesat menyambutnya.
Seperti seimbang, Dewa Wasa mampu melihat kecepatan dari lawannya, begitupun dengan Rajanarya.
Dewa Wasa melesat dengan membawa sebuah kipas besi di tangannya, dan setelah jarak keduanya hampir berada dalam lima puluh meter, dirinya langsung mengibaskan kipasnya ke arah depan.
Setelah itu, terlihat muncul ribuan jarum yang sangat kecil dengan di lapisi sebuah api berwarna coklat melesat cepat menuju arah Rajanarya.
Rajanarya yang melihat itu pun langsung mengarahkan tombaknya ke arah depan, dan tak berselang lama tombak itu ternyata mampu berubah menjadi sebuah perisai yang sangat tebal dan besar mengelilingi menutupi dirinya.
Entah senjata macam apa itu, yang jelas kekuatan dari api coklat pun tidak dapat menembusnya.
Sehingga membuat ribuan jarum itu hanya berjatuhan tanpa melukai Rajanarya sedikitpun.
"Cih, ternyata dia juga menguasai Api coklat dan kekuatan angin tingkat tinggi, Sial... Meskipun kekuatannya sangat lemah, tapi dengan dirinya menguasai dua kekuatan itu, ini akan sedikit sulit" gumamnya Rajanarya di dalam perisai.
Sedangkan di sisi lain, Dewa Wasa yang melihat serangan pertamanya tak mampu menembus pertahanan lawan, dia langsung melepaskan jurusnya yang kedua.
Tanpa menunggu waktu lama, dia kembali mengambil jarak sedikit kebelakang dan menangkupkan kedua tangannya.
"Tapak Tirtamaya!"
Setelah itu dari kehampaan muncul sebuah tangan yang sangat besar dengan di lapisi sebuah energi berwarna emas transparan langsung menghujam menabrak perisai yang telah Rajanarya buat sehingga terjadilah sebuah ledakan yang mampu mengguncang alam yang saat ini mereka tempati.
"Si-sial, aku lengah." Gumam Rajanarya.
Booomsss..
Booomss..
Dhuaarrr...
Suara ledakan yang sangat dahsyat di tempat Rajanarya.
Tapak itu mengenai telak perisai yang di buat oleh Rajanarnya, sehingga membuat perisai itu hancur berkeping-berkeping.
Sedangkan di sisi Dewa Wasa, dia masih mengamati dengan pasti dan berifikir dengan keras untuk dapat menyentuh lawannya.
Karena setelah dirinya berhasil menghancurkan perisai lawannya, dia dapat melihat dengan jelas bahwa Rajanarya masih berdiri dengan tenang, dan terlihat pula perisai yang tadinya hancur kini kembali menyatu kembali secara perlahan.
"Sebenarnya kekuatan macam apa yang dia miliki Warta?" Tanya Dewa Wasa kepada sosok yang saat ini juga bersinggah di dalam tubuhnya.
Sosok itulah yang membuat tubuh Dewa Wasa berubah menjadi aneh dan memiliki aura kegelapan yang pekat dan juga aura yang sangat kelam dan dia adalah Warta yaitu sosok kegelapan yang terserap oleh Dewa Wasa setelah dirinya terlahir di dunia dulu.
"Aku bahkan baru pertama kali ini melihat kekuatan dan aura seperti itu" Jawab sosok Warta.
"Akan tetapi aku dapat merasakan auranya yang hampir sama seperti leluhur bangsa Tiran." Lanjutnya.
"Baiklah, aku tidak peduli dengan kekuatannya meskipun lebih tinggi dariku, karena dengan ini aku akan dapat merasakan sebuah kenikmatan.. Hahaha" Ungkap Dewa Wasa dengan di iringi sebuah tawa yang sangat menyeramkan dan seperti merindukan sesuatu yang sangat lama sekali tidak ia rasakan.
"Sial, kenapa aku harus berada dalam tubuhnya dan menjadi salah satu dari bagian jiwanya, yang bahkan dirinya lebih menyeramkan dari pada iblis." Gumamnya dalam hati, namun masih mampu di dengar oleh Dewa Wasa, sehingga membuat Dewa Wasa hanya menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat licik.
Beberapa saat setelah Rajanarya bersatu kembali dengan perisainya yang saat ini berubah kembali menjadi tombak.
Dia akhirnya tak segan-segan lagi mengeluarkan setengah dari kekuatannya, sehingga membuat dirinya menjadi sosok Dewa yang sangat tampan dan tingga beserta gagah, namun memiliki tiga tanduk di kepalanya, dan empat sayap hitam di punggungnya.
Dengan sebuah tombak yang tadinya memiliki gagang berbentuk mata, namun saat ini mata itu berubah menjadi sebuah kepala yang hampir sama dengan wujud Rajanarya saat ini.
Dengan keluarnya setengah kekuatan dari Rajanarya itu, membuat alam kembali berguncang, bahkan saat ini guncangan itu sampai ke berbagai ratusan alam lain.
Dan terlihat dari ratusan alam itu, ada satu leluhur alam raya yang sangat terkejut oleh sebuah guncangan itu, sehingga membuat dirinya langsung menghilang dari tempat peristirahatannya.
"Sial, Dia berulah lagi." gumam sosok leluhur misterius itu sebelum menghilang.
Wusshhhh...
***