RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 009


Khay masih memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut bibir Rakha yang menyentuh kulitnya. Khay mengepalkan tangan berusaha menahan hasratnya. Baru kali ini ia seintim ini dengan seorang lelaki.


Selama ini ia tak pernah dekat pria manapun kecuali Ray. Ya, hanya Ray saja. Karena sepertinya para pria takut mendekati Khay karena hobi misterinya itu. Ditambah kemampuan bela diri Khay yang mumpuni, membuatnya disegani banyak pria.


Dan kini, Khay dalam posisi yang amat dekat dengan seorang pria yang tak lain adalah kekasih kakaknya sendiri. Khay berusaha sekuat tenaga untuk tak terbawa suasana. Khay tersentak ketika Rakha membalikkan tubuhnya dan menghadap padanya.


Khay seketika menundukkan kepala. Ia tak mau Rakha melihat wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu. Rakha tersenyum kecil kala melihat kekasihnya tertunduk malu karena telah lama tak berjumpa dengannya.


Rakha mengangkat dagu Khay namun untuk menghindari bertemu pandang dengan Rakha, Khay secara spontan memeluk tubuh Rakha.


Rakha yang mendapat pelukan secara tiba-tiba pun tersenyum bahagia.


"Sayang, apa kau malu bertemu denganku? Banyak sekali yang ingin kukatakan padamu. Bisakah kita bicara?" ucap Rakha dengan membelai rambut Khay.


Khay memejamkan mata merutuki kebodohannya yang memeluk Rakha. Sudah tak ada waktu lagi untuk menghindar. Rakha tidak akan melepaskannya kali ini. Dengan terpaksa Khay mengangguk dalam pelukan Rakha.


Dan semua adegan romantis tadi tak mereka sadari telah disaksikan oleh seorang pria yang kini menggeram kesal.


Bagaimana bisa Khay malah memeluk pria itu? Apa Khay sudah terbawa suasana?


Dengan kesalnya, Ray pergi dari tempat itu tanpa mengawasi tindakan selanjutnya sahabatnya itu.


Sementara itu, Rakha membawa Khay duduk berdua di sebuah kafe tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Khay berusaha mengatur degup jantungnya yang kian memburu usai berpelukan dengan Rakha.


Mereka kini duduk berhadapan. Rakha terus memandangi Khanianya yang sudah lama tak ia jumpai.


"Khania... Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak senang bertemu denganku?"


Khay menggeleng. "Bu-bukan begitu..."


Akhirnya Khay mengeluarkan suaranya meski terdengar gugup.


"Aku menunggumu malam itu. Kenapa kau tidak datang?" tanya Rakha dengan terus menatap intens Khanianya.


"Aku... Aku... Ada urusan mendesak saat itu."


"Dan kau tidak kembali lagi?"


"Aku... ingin kembali. Tapi tidak bisa..."


"Kenapa?"


"Kau sudah bertunangan dengan orang lain..."


Rakha mengusap wajahnya. Ia menggenggam tangan Khay.


"Dengar, pertunanganku dengan Disha... itu adalah keinginan ibuku. Aku juga tidak tahu jika saat itu ibu akan langsung mengumumkan pertunangan kami."


"Kau tidak menolak, itu berarti kau setuju..."


"Tidak, Khania. Aku selalu mencintaimu. Aku tidak mencintai Disha. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Percayalah!"


Khay kini berani menatap mata Rakha.


Ya Tuhan! Dia begitu tampan. Matanya menunjukkan cinta yang amat dalam, dan juga kejujuran.


"Percayalah padaku, Khania. Aku tidak berhenti mencarimu sejak kau menghilang."


"Benarkah?"


Tapi kenyataannya kakakku meninggal dengan tragis. Kau bilang kau mencarinya?


"Khania... Ijinkan aku untuk membuktikannya padamu. Aku sengaja membuka cabang di kota ini agar aku bisa mencarimu dan bertemu denganmu. Dan ternyata benar, kau memang ada disini..."


Khay pun tersenyum. Senyum yang sama yang Khania berikan pada Rakha. Rakha membalas senyum itu dan mencium punggung tangan Khay dengan mesranya.


Ya Tuhan!!! Kenapa dia bersikap semanis ini? Tahan, Khay! Tahan! Dia bisa saja menyimpan sisi psikopat dalam dirinya.


Khay menarik tangannya, lalu berpamitan pada Rakha. Ia beralasan jika kini ia menjual barang-barang seni di sebuah ruko di jalanan tadi.


Rakha pun juga harus pergi karena sedari tadi ponselnya terus bergetar. Panggilan dari Dika dan juga ibunya.


*


*


*


Khay meneguk habis es tehnya dan mengipaskan tangannya di depan wajahnya. Ia merasa panas saat ini padahal cuaca tak begitu terik.


Ray dan Lusi yang melihat tingkah aneh Khay hanya bisa bergeleng kepala.


"Kau kenapa? Apa kau baru berlari keliling lapangan? Dua gelas es teh langsung tandas dalam satu tegukan." tanya Ray sinis.


"Sudahlah, jangan banyak bicara!"


"Apa kau mulai jatuh hati dengan kekasih kakakmu itu?" Ray tak suka jika harus berbasa-basi.


"Hei!!! Jangan sembarangan bicara!" Suara cempreng khas Khay telah kembali.


"Sudah kubilang kau harus membiasakan diri untuk bicara lemah lembut. Jika tidak, kau akan terbiasa bersikap bar-bar didepan pria itu."


"Pria itu memiliki nama, Ray."


"Wah, sekarang kau membelanya? Baguslah. Setelah ini kau rencanakan saja semuanya sendiri. Aku tidak mau ikut campur lagi." Ray pun meninggalkan Khay dan Lusi yang masih tak paham dengan sikapnya kali ini.


"Ada apa dengannya, Lus?"


Lusi mengedikkan bahunya. "Entahlah. Sedari tadi dia uring-uringan tidak jelas."


"Hah, ya sudahlah. Mungkin dia sedang PMS."


"Eh, kak, bagaimana dengan rencana kakak? Apakah berhasil?" tanya Lusi antusias.


"Belum bisa dikatakan berhasil. Aku baru bertemu dengannya hari ini."


"Lalu bagaimana? Dia sangat tampan 'kan?" Lusi semakin menyelidik.


"Iya, dia sangat tampan." Khay memutar bola matanya malas.


"Benar 'kan? Aku hanya melihat dari majalah. Kak Khay sangat beruntung."


"Hmmm, entahlah apakah aku beruntung atau malah sebaliknya..."


Khay menerawang jauh. Pikirannya di isi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpanya di kemudian hari.


Apa aku sudah mengambil keputusan yang tepat? Atau kah ini adalah jalan yang salah?


#Bersambung...


Jangan lupa dukungannya untuk karya mamak ini yaaa ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š tinggalkan jempol kalian ๐Ÿ‘untuk Rakha dan Khay ๐Ÿ˜˜


thank you ๐Ÿ™๐Ÿ™