Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
BEDA KASTA


Tok tok tok!


Felichia mengetuk pintu kamar Melanie, karena tadi kata salah satu maid Melanie memanggil Felichia dan memintanya untuk menemui istri Dean tersebut ke kamarnya.


"Masuk, Fe!" Titah Melanie dari dalam kamar.


Felichia membuka pintu kamar perlahan dan masuk ke dalam kamar Melanie meskipun sedikit canggung.


"Masuk saja tidak apa-apa!" Ucap Melanie seraya tertawa kecil.


Felichia sudah masuk dan segera menutup kembali pintu kamar Melanie. Langsung terlihat foto besar Melanie dan Dean yang mengenakan baju pengantin dan berpose mesra tergantung di dalam kamar.


"Duduk, Fe!" Ucap Melanie selanjutnya menunjuk ke arah sifa yang ada di kamar tersebut.


"Iya," jawab Felichia yang masih canggung.


Felichia baru saja duduk, saat Melanie bangkit dari kursi rodanya dan ikut duduk bersama Felichia di atas sofa.


"Kau bisa berjalan?" Tanya Felichia sedikit bingung.


Kenapa Melanie duduk di atas kursi roda jika memang wanita itu bisa berjalan seperti orang sehat?


"Ya! Aku tidak lumpuh. Tapi aku hanya cepat lelah jika berjalan sedikit jauh. Makanya Dean memaksaku untuk duduk di atas kursi roda menyebalkan itu sepanjang hari," tutur Melanie seraya tertawa kecil.


Sepertinya Melanie memang suka tertawa dan murah senyum.


"Haidmu rutin, kan, Fe?" Tanya Melanie selanjutnya.


Felichia tak langsung menjawab dan sedikit kurang nyaman dengan pertanyaan Melanie, sebelum kemudian Felichia sadar tentang dirinya yang akan menjadi seorang "rahim pengganti". Jadi sangat wajar Melanie menanyakan hal ini.


"Maaf jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menghitung maa suburmu. Atau kau mau bertemu dokter saja?" Tanya Melanie memberikan penawaran.


Felichia menggeleng dengan cepat.


"Tidak usah! Kau saja yang menghitung."


Melanie langsung mengangguk dan tersenyum.


"Haidmu teratur?" Melanie mengulangi pertanyaannya yang pertama tadi.


"Ya! Biasanya antara tanggal lima belas sampai delapan belas setiap bulan," jawab Felichia jujur.


"Sekarang masih tanggal dua belas, berarti masih beberapa hari lagi sebelum kau mendapatkan tamu bulanan," Melanie sudah mulai menghitung dan bergumam sendiri.


"Kau harus banyak makan makanan bergizi. Nanti aku akan berpesan pada chef agar mengatur makanan sehat untukmu, dan kau harus menghabiskannya," tutur Melanie seraya menggenggam tangan Felichia.


Aneh sekali rasanya!


Melanie terlihat begitu bersemangat, padahal jelas-jelas suaminya akan meniduri wanita lain.


"Kenapa kalian tidak ikut program bayi tabung saja?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Felichia, karena Felichia benar-benar penasaran dengan sakitnya Melanie


Apalagi pasangan suami istri ini begitu kaya dan punya banyak uang. Pasti tidak sulit bagi mereka untuk ikut program bayi tabung atau program hamil lainnya.


Kenapa harus memakai cara konyol, membayar seorang wanita asing untuk dihamili oleh Dean, demi bisa mendapatkan keturunan?


"Rahimku baru saja diangkat enam bulan yang lalu. Jadi aku tak akan pernah bisa hamil ataupun melakukan program bayi tabung," jawab Melanie yang raut wajahnya terlihat tegar. Meskipun sebenarnya Felichia juga bisa melihat raut kesedihan yang begitu nyata di kedua netra wanita itu.


"Maaf, Mel! Aku tidak bermaksud-" Felichia merasa bingung harus berucap bagaimana.


"Aku baik-baik saja!" Melanie sudah kembali mengulas senyum.


Felichia mengangguk dan ikut mengulas senyum meskipun masih merasa canggung.


"Kau akan tinggal di rumah ini setelah hamil nanti hingga kau melahirkan anak kami," ucap Melanie selanjutnya yang terdengar sedikit ambigu di telinga Felichia.


Anak kami?


Maksudnya anak Dean dan Melanie?


Bukankah yang akan mengandung dan melahirkan adalah Felichia?


Aneh sekali!


"Ya, tentu! Kau juga bisa tetap menemui keluargamu dan jangan menganggap rumah ini sebagai penjara." Jawab Melanie sedikit terkekeh.


Menemui keluarga?


Maksudnya menemui Erlan dengan perut yang membuncit?


Erlan pasti akan shock berat dan kecewa pada Felichia.


Jadi sebaiknya Felichia menemui Erlan setelah melahirkan saja.


Toh Mama Astri dan Papa Panji juga sudah berjanji, kalau Felichia melaksanakan tugasnya kali ini, mereka akan merestui hubungan Feli dan Erlan dan tak akan merongrong rumah tangga Felichia bersama Erlan.


"Kau punya keluarga, Feli? Orang tua? Adik? Kakak?" Tanya Melanie selanjutnya.


"Aku seorang yatim piatu," jawab Felichia dengan raut wajah datar.


"Ouh, maaf! Aku tahu bagaimana rasanya karena aku juga yatim piatu Sejak usiaku tujuh bekas tahun," tukas Melanie yang sedikit membuat Felichia terkejut.


Ah, tapi meskipun sama-sama yatim piatu, Felichia yakin kalau ia dan Melanie beda kasta.


Melanie pasti ditinggalkan warisan yang banyak sekali oleh kedua orang tuanya dan tak perlu kerja banting tulang demi bisa melanjutkan pendidikannya.


Tidak seperti Felichia yang sudah hidup mengenaskan sejak dulu dan harus bekerja keras dari membuka mata hingga menutup mata demi bisa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA.


Felichia yang malang!


"Fe!" Teguran Melanie membuyarkan lamunan Felichia.


"Aku sudah boleh kembali ke kamarku?" Tanya Felichia pada Melanie, karena Felichia benar-benar merasa tak nyaman bearda di dalam kamar ini dan di dekat Melanie.


Entahlah, Felichia juga tidak tahu kenapa.


"Tentu!"


"Tapi jangan hanya mengurung diri seharian di kamar, Fe! Banyak ruangan di rumah ini yang bisa kau kunjungi." Ujar Melanie memberikan saran untuk Felichia.


"Kau bisa berolahraga di ruang Gym, atau berenang, atau membaca buku di perpustakaan," tutur Melanie yang hanya dijawab Felichia dengan anggukan kepala.


"Kemarin kepala maid sudah mengantarmu berkeliling, kan?" Tanya Melanie lagi.


"Iya, sudah! Dan aku juga sudah meminjam beberapa buku dari perpustakaan untuk aku baca di kamar," jawab Felichia seraya menggaruk tengkuknya.


"Baiklah! Lakukan saja apa saja yang membuatmu nyaman, dan kau tak perlu sungkan di rumah ini!" Pesan Melanie sekali lagi pada Felichia.


"Iya!" Felichia sudah bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar Melanie.


"Aku ke kamar dulu, Mel!" Pamit Felichia selanjutnya sebelum keluar dari kamar Melanie.


Baru saja Felichia menutup pintu dan berbalik, wanita itu sudah terkejut karena ada tubuh kekar berdiri di depannya.


Ya ampun!


Felichia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah dingin itu. Hanya sesaat, sebelum kemudian Felichia menyesali perbuatannya.


Felichia memilih untuk buru-buru pergi meninggalkan Dean yang kini sudah membuka pintu kamar sang istri dan menghilang ke dalamnya.


"Sial!"


Umpat Felichia sebal.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.