
...Vote,like dan komentar ya...
...🍃...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🍃...
Asline memasuki mansion dan berjalan menuju dapur,seketika merasa haus kala berbagai pemikiran menyeruak kedalam fikiranya.
"Nyonya muda..ada yang anda butuhkan? biar kami siapkan untuk anda" Seorang maid segera bergerak begitu melihat asline memasuki dapur .
Tersenyum ramah,istri Rayga itu menggeleng samar.
"Tidak perlu repot...saya akan mencari apa yang saya butuhkan sendiri..kalian bisa lanjutkan pekerjaan ,oh benar! mami dan nenek dimana?" Asline bertanya kala saat memasuki mansion tadi tak ada melihat dimana pun ibu serta nenek mertuanya.
Maid wanita itu berfikir sesaat.
"Oh..nyonya dan nyonya besar ada di paviliun barat memeriksa persediaan dapur bersama kepala koki..." Jawab wanita berpakaian maid itu sopan.
Asline mengangguk paham,gadis cantik itu memberi kode agar maid itu berlalu.
Melanjutkan langkahnya menuju salah satu pojok dapur,membuka sebuah pintu geser gadis itu tak henti menghela nafas.
Selalu seperti ini,rasanya bagai dia memasuki sebuah swalayan!.
"minuman bersoda pasti hubby marah! apa ya yang cocok diminum terik begini?"
Asline bergumam,mulai membuka salah satu pintu kulkas disana.
Yah,ini adalah pojok ruang khusus cemilan.
Dan ini semua adalah ide dari si bungsu cantik Wiguna bersama kakak ketiganya,Raino.Tentu saja.
Akhirnya asline meraih sebuah botol dingin berisi jus jeruk.
Baru saja ingin meneguk minuman itu.
"Line!! astaga kamu minum apa ini? ingat kamu lagi kedatangan tamu! jangan minum yang dingin seperti ini!" Anggi datang meraih botol ditangan cucu menantunya itu dan mulai mengomel.
Asline mengerjap linglung,sejak kapan nenek mertuanya ada disini?.
"Jaga kesehatan sayang!! bagaimana nenek bisa punya cicit dengan cepat kalau kamu sembarangan begini?" Anggi terus berkicau,kayra didepan pantry sudah terkekeh melihat kelakuan ibu mertuanya geli.
"Minuman dingin saat tamu bulan datang itu tidak baik! darahmu bisa menggumpal dan haid kamu nanti tidak lancar sayang...dengar kata nenek! minum air gula merah hangat! nenek tidak mau lihat lagi kamu minum minuman dingin saat kedatangan tamu!" Racau Anggi tegas.
Asline mengangguk linglung.
Rasanya bagai melihat mendiang neneknya lagi!.
Bagaimana wanita tua itu mengomeli dirinya,menunjukkan perhatian dan kasih sayang!.
Marah yang membalut cinta dan kekhawatiran!.
Semua itu menjadi satu,rasanya kembali ke rumah yang hangat.
"Ne.. nenek...maaf..Line.." Perasaan hangat itu mencekat hati,rasanya dirinya ingin menangis memeluk sosok wanita tua itu.
Grephh...
"Maaf sayang...nenek bukanya ingin memerahi kamu! nenek hanya cemas..kamu ini sedang datang bulan sayang..jangan makan dan minum sembarangan.." Anggi memeluk tubuh bergetar cucu menantunya itu dengan senyum teduh,perasaan sedih gadis itu tersampaikan melalui sorot matanya.
Asline terisak,mengigit bibir bawahnya dan mengangguk haru.
Benar....
Dia butuh pelukan hangat ini!..
Kayra tersenyum teduh,berjalan mendekat dan menepuk pundak rapuh istri dari Rayga itu.
"Nah...sudah cukup sad dramanya!! waktu makan siang sebentar lagi, bagaimana kalau kita memasak untuk para pria itu? mami dengar masakan kamu enak sayang? kamu bisa tentukan menu hari ini!" Kayra berucap semangat.
Anggi menggeleng geli dan melepas pelukannya pada cucu menantu nya.
"Alright!! saatnya bertempur dengan para bumbu dan kitchen set!!" Seru Anggi renyah.
Asline terkekeh dan menggeleng lucu.
"Baiklah..hari ini kita memasak apa nek?" Asline bertanya sembari mulai meraih apron disalah satu laci dapur.
"Asian,Western food?" Ujar kayra berfikir,meski tak terlalu handal memasak,namun kayra masih bisa memasak beberapa jenis makanan sederhana.
"Hm.. bagaimana kalau Indonesian food? sudah lama rasanya nenek tidak memasak makanan dari negara kelahiran nenek itu? nenek rasa western skip dulu" Kayra dan asline mengangguk mantap.
Akhirnya para maid segera bekerja begitu mendengar ucapan sang nyonya,tidak perlu berbicara panjang lebar karena semua pekerja disini dilatih sebelum mulai bekerja langsung.
Memahami keinginan tuan mereka tanpa harus bertanya.
Setelah semua bahan siap diantas set taple,ketiga wanita berbeda generasi itu mulai bekerja.
.......🍃.......
Sementara itu..
Tawa dalam pecah dengan intonasi rendah dan penuh ancaman.
Victoria mengigil dan tanpa sadar semakin menyusup kedalam pelukan hangat Raino.
"Katakan sekali lagi Victoria? apa yang kamu katakan?"
Raino menyorot dingin,lenganya merangkul tubuh sang kekasih dengan posesif.
Sementara Victoria menutup mata berusaha mengumpulkan keberaniannya yang seakan tercecer.
"Ria...we behind you! don't be afraid,sometimes you must be fight back...get back your freedom!" Bisik Raino sarat akan makna.
Victoria mengangkat wajahnya,menatap wajah tampan Raino .Wajah yang dipenuhi garis cinta juga perlindungan.
Pria ini ada untuknya...
Dia harus percaya dan maju melangkah dengan berani...
Seumur hidupnya,bukankah sudah banyak dirinya membunuh orang? lalu mengapa? tangan dan seluruh tubuhnya sudah lama terlumur darah dan dosa,apa lagi yang harus ia takutkan?!.
Victoria melepas pelukan hangat itu,berbalik dan berjalan dengan pasti dan berhenti beberapa langkah dari posisi Devano dan keluarganya berdiri.
"Vivi sayangku...dengar mama! kami tidak pernah berniat menyakitimu! kembalilah nak..jangan membangkang pada papa dan mama kamu ini..hiks..sayang pulang ya sama mama!" Patricia menangis tersedu-sedu,menatap wajah cantik Putri angkatnya dengan senyum sarat permohonan.
Victoria tertawa nanar,terlalu sakit tubuh dan jiwanya jika harus kembali ke masa lalu itu.
" Ini adalah salam perpisahan! apapun yang kalian katakan,aku akan tetap teguh pada keputusan awalku.Aku dulu selalu katakan 'aku pasti bisa lewati ini' dan benar,kini tuhan sudah memberiku jalan.Bukan hanya untuk melewati ini.. tapi untuk mengakhiri jalan ini..jalan yang dibuat keluarga jahat kalian padaku.." Ucap Victoria tersenyum hampa.
"Victoria...kamu tau apa yang bisa ku lakukan?!" Devano mengeram,wajah pria itu memerah murka.
Victoria melirik pria itu lewat ekor matanya,menghela nafas kala inilah saatnya.
Gadis itu mengangguk haru kala Rion ,ayah dari sang kekasih nampak mengangguk santai.
"Aku bisa lakukan apapun..aku tak mau terjerat lagi akan mimpi keluarga palsu kalian! kamu..bersama orang tuamu,kalian bisa berdiri sendiri..dan lihat aku menemukan kebahagiaanku sendiri tanpa harapan palsu dari kalian lagi! " Victoria tak lagi menahan isi hatinya,dia tak mau lagi terbelenggu ketakutan oleh mereka.
"Vivi...papa katakan padamu,kau sudah terlalu melewati batas kesabaran kami! kau harusnya tau berterima kasih atas apa yang kami berikan padamu..bukan membangkang!!" Peter telah membuang wajah ayah penuh kasihnya,topeng itu telah retak kala kesabaran mulai habis.
Grephh...
"Ikut dengan papa pulang!" Tanpa basa-basi lagi,Peter mencengkram lengan Victoria dan menarik gadis itu kearahnya.
Namun..
GREPHH...
Sebuah telapak tangan menarik lengan Victoria lainya.
"Lepaskan calon istriku!' Desis Raino murka.
"Tuan muda..dia adalah putri kami,meski bukan anak kandung kami,kamilah yang merawat dan membesarkan dirinya! anda tidak punya hak menahan dia disini!! kami akan membawa dia pulang,sudah cukup basa-basi ini!" Peter berucap dengan sorot mata dingin,keramahan tamahan pria paruh baya itu lenyap seketika.
"Jangan menguji kesabaran keluarga kami...Alinston!'
Peter dan keluarganya segera menatap kebelakang tubuh Raino.
Itu suara bass dari putra kedua Rafendra,ayah dari Raino.
Arion...
Pria paruh baya itu berdiri,memasukan kedua tangannya kedalam saku celana kain hitam yang ia kenakan,berjalan dan tersenyum jenaka,sungguh sorot mata dan ekspresi wajah benar-benar bertolak belakang!.
Grephh...
Rion mencengkram tangan Peter yang memegang erat tangan Victoria,ayah dari Raino itu menatap Victoria yang berdiri dengan wajah pucat dan tubuh bergetar.
Meski ekspresi wajah gadis itu tetap tenang,Rion tau kekasih putranya itu tengah ketakutan.
"Bukankah Anda begitu tidak sopan didepan kami,tuan rumah mansion ini? lepaskan calon menantuku....." Rion berucap dengan senyum jenaka,namun aura penindasan dari tubuhnya menguar tajam.
Peter balik menatap wajah tampan yang tak lekang oleh zaman itu,menyerigai sinis dan berucap sarkas.
"Apa yang bisa kami lakukan? cara baik-baik tidak berpengaruh...jadi jangan salahkan kami jika bertindak kasar tuan muda Arion! kami hanya ingin men-"
"Jangan sebut aku putri kalian lagi! aku tidak pernah ada dalam silsilah keluarga Alinston! lepaskan aku! aku akan katakan sekali lagi...ini...selamat tinggal ex family! aku tidak akan menahan apapun lagi,aku tak ingin membiarkan rasa sakit ini lagi!" Victoria dengan segenap kekuatannya menghempas tangan Peter dari lengannya,berjalan mundur dengan cepat dan memeluk tubuh tegap Raino yang sudah siap menerima dirinya apa adanya.
"VICTORIA! JANGAN KETERLALUAN KAMU! " Geram Devano emosi.
Krakhh..
Degggg..
"Papa!!" Victoria memekik kala Devano dengan seringai iblisnya menodongkan senjata api ke kepala Rion yang berada didepannya masih mencengkram kuat tangan Peter.
Rion terkekeh geli, Arkansas menyerigai dalam.
"One......." Rayga menghitung dengan ketukan santai pada sandaran sofa.
"Anak muda..jangan main-main denganku,kau butuh 100 tahun lagi untuk menyamai diriku.Ingat aku bukan seperti parah sampah yang kau hadapi sebagai kepala CIA!" Ucap Rion penuh ancaman.
"Two....." Rayga menyeringai buas.
Devano terkekeh sarkas.
"Katakan pada gadis tidak tau diri itu....kemari dan jadilah boneka penurut lagi!!" Kejam Devano pada raino tanpa mengindahkan ucapan Rion.
"Papi kau tidak butuh bantuan kami bukan? jika kau tidak bisa mengurus hama ini..aku akan katakan pada mami untuk cari suami baru!!" Arshenio berucap jenaka.
Devano tertawa remeh,sungguh dirinya tak tau monster seperti apa yang coba ia bangunkan.
Hingga ....
Krekhkk....
Tubuh Devano seketika menegang begitu tawa remeh bahkan belum selesai .
Sebuah senjata api mengarah tepat diurat nadi lehernya.
Sejak kapan?!...
"Kau tau anak muda? saat kau bahkan baru belajar menggunakan senjata,aku..dan para saudaraku sudah membunuh ratusan orang! saat kau pertama kali merenggut nyawa manusia.Saat itu kami sudah menancapkan taring kami diseluruh dunia underground Eropa! Jadi...jangan terlalu sombong dengan pencapaian dirimu dan keluargamu... CIA? cih...kau tidak pantas dengan jabatan itu!' Desis Rion sarkas penuh penghinaan.
Pria paruh baya itu tersenyum ramah menatap wajah tercengang Peter dihadapannya,sementara Devano terdiam ditempatnya dengan senjata api tertodong oleh putra kedua Rafendra itu.
Devano,menelan rasa gusar dihatinya.
Harga dirinya tak membuatnya ingin mundur!.
"Hehe...yah,kau benar tuan Arion..itu menyatakan bahwa kau memang perlahan telah menua! bukankah baik jika kau tak menunjukkan taringmu yang mulai menumpul padaku? " Devano berucap congkak,pria berwajah tampan namun sayangnya berhati hitam itu benar-benar melewati batasnya.
Dan sayangnya,Rion mulai menanggapi dengan senyum begitu mengerikan.
"Tua? kau katakan aku tua? hahahaha!! bahkan jika kita meminta para gadis muda memilih,lihat siapa yang berada dengan kontestan terbanyak mengikuti,dan itu bukanlah kau! lihat saja Victoria...apa dia memilihmu? sayang sekali kau terbang terlalu tinggi!!" Kekeh Rion dingin.
"BEDE-"
Srakhhhh...
"DEVANO!!!!!!!!"
Patricia menjerit histeris,darah seger seketika tumpah ruah dengan begitu mengerikan .
Rion bukan menggunakan lagi pistolnya,sebuah belati seketika menyayat leher Devano hingga kulit leher itu menganga lebar.
Peter mematung, tidak ia duga seorang Arion mampu melukai putranya dimana mereka adalah tamu disini! .
"Khe...khe..khe..aku sudah katakan bukan? jangan melambung terlalu tinggi anak muda,aku bukan orang yang sabar!" Kekeh Rion dingin,pria paruh baya itu menatap wajah calon menantunya, Victoria berdiri didalam pelukan Raino dengan manik membulat horor.
"Kau mau membunuh putra kami tuan Rion?!! how dare you are!!!! " Peter berucap penuh amarah.
Pria itu menutup leher Devano dengan dasi yang ia lilitkan dan menutupi leher putranya dengan tangan gemetar.
Patricia menangis histeris membantu suaminya menghentikan darah dari leher Devano putra mereka.
" Menangis apa? ayah kami tidak membunuh putra sampahmu itu! bahkan sayatan itu tidak mengenai nadinya tapi kau berteriak seperti putra kalian sudah menjadi mayat!" Ejek Raino puas atas perbuatan ayahnya itu.
"Pergi dan bawa putra kalian dari sini..aku tidak mau mansion keluarga kami kotor oleh darahnya!" Tekan Arkansas tersenyum mencemooh.
Beberapa pengawal memasuki ruang saat Rafendra telah memberi instruksi lewat interkom,semua bergerak sangat cepat.
"Dyazel...pastikan tidak ada satu tetes pun darahnya yang tersisa dilantai mansion ini...dan bawa mereka keluar jangan sampai istri juga cucu manisku melihat mereka!" Rafendra mengintruksikan.
Dyazel mengangguk paham,dan berlalu dengan cepat.
"Nah!!Drama sudah selesai..aku akan ke batalyon hari ini..aku berangkat dad,kakek,papi....dan papi,bersihkan dirimu jangan menemui adik juga nenekku dengan tangan penuh darah itu...yah,terkecuali istrimu aku tidak perduli!!" Arshen berucap dengan senyum malasnya.
Rion mendelik sinis.
"Istriku itu ibumu juga anak bodoh! yang sopan!!" Dengus Rion menatap sosok Arshenio yang berjalan santai membuka pintu.
"Well...kenapa marah? istrimu itu juga sama psikopat denganmu..jadi aku tak mau mereka berdua melihatmu penuh darah papi! well..jangan ribut seperti wanita tua,aku pergi!" Arshenio berlalu dengan senyum geli yang tak terlihat oleh Rion yang sudah memerah ingin menendang anak kurang ajar itu.
"ARSENIO!! DASAR ANAK KU-"
"Sudahlah papi..kau marah-marah kerutan semakin bertambah nanti!" Potong Raider jengah .
Semua berlalu meninggalkan Rion dengan wajah tercengang.
"DASAR ANAK-ANAK KURANG AJAR!!!" Raung Rion geram.
Sungguh,dosa apa dirinya hingga mendapat putra titisan iblis seperti kembar R .
Dan untuk archana sendiri,dia sudah dibawa keluar saat Devano mulai menodongkan senjatanya pada Rion.
...🍃...
...TBC...