Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 32 Perasaan atau Keuntungan


Beberapa lelaki mulai mendekati Ellaine lagi semenjak kakaknya pergi, terutama Beckett, Kyler dan Lionel. Mereka tidak ingin melepas peluang emas kepergian dari Julliane. Penantian mereka terbayarkan. Meski tahu bahwa putri kedua ini tidak menyukai keberadaan mereka, ketiga kandidat utama ini tetap menemui Ellaine. 


Carlos terus berusaha menahan diri agar tidak meledak di depan mereka. Baginya ucapan manis dari lelaki yang mendekati tuannya hanyalah kepalsuan. Ada sesuatu yang disembunyikan para lelaki itu. Tuannya pun tahu akan hal ini, tetapi hanya diam saja. Tak tertarik atau pun juga menolak.


Ia mendatangi kamar Ellaine dan melihat tuannya menangis lagi. Hampir pada setiap pertemuan dengan kandidat tokoh utama Ellaine menangis. Carlos sudah tak tahan lagi membuka kamar tuannya.


Ellaine terkesiap atas kedatangan Carlos, ia langsung mengusap air matanya. Seingatnya ia tidak meminta Carlos untuk menemaninya. Carlos hanya terus menatap Ellaine penuh kemarahan.


"Apakah Tuan Putri menyukai mereka?"


Mata Ellaine melebar mendengar ucapan tanpa basa basi pengawalnya. Sikapnya pada lelaki yang menemuinya disalah pahami oleh Carlos.


"Aku tidak menyukai mereka Carlos."


"Kalau begitu kenapa Tuan Putri tetap menemui mereka? Mereka pun sebenarnya juga tidak mencintai Tuan Putri."


Ellaien terdiam tak mampu menjawabnya. Masalah tentang kerajaan merupakan sebuah rahasia yang tidak boleh diungkapkan pada siapa pun dengan mudah. Ia berusaha mencari alasan, tetapi tidak ada yang tepat.


"Mereka berniat memanfaatkan Tuan Putri saja. Pangeran Beckett ingin menjaga kedudukannya di Kerajaannya dengan menikahi seorang Putri. Duke Orsin-lah yang menculik Tuan Putri waktu itu. Ia ingin mendapatkan hati Tuan Putri dengan berniat menyelamatkan Tuan Putri, tetapi rencananya gagal karena Putri Julliane dan Pangeran Edgar. Sedangkan Keuangan Tuan Muda Crowley dalam masalah, ia menututupinya dengan hidup mewah." Carlos memberi penekanan pada setiap katanya.


Carlos mendengar rumor ini dari pelayan. Karena kebenaran rumor ini masih diragukan, Carlos mencari tahu saat ia sedang cuti. Ternyata rumor tentang mereka benar. Ia tidak ingin Ellaine hidup dengan orang seperti mereka.


Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut Ellaine. Carlos menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangan.


"Tuan Putri sudah tahu?" 


"Pernikahan politik sudah biasa di kalangan bangsawan Carlos. Saling mencari keuntungan untuk kedua belah pihak adalah kewajaran." Ellaine memalingkan wajahnya, tidak mampu melihat wajah Carlos. Kesedihan di wajah Carlos terpancar kuat, bila melihatnya hatinya akan goyah.


"Bagaimana dengan perasaan Tuan Putri? Apakah Tuan Putri akan bahagia?" Suara Carlos mulai gemetar.


Mungkin suatu hari perasaannya pada Carlos akan berubah. Mungkin ia bisa mencintai salah satu dari lelaki yang mendekatinya. Ia berpegang pada harapan itu. Harapan yang bisa runtuh kapan saja. Ellaine sudah tahu jawabannya. Ia tidak akan bahagia. 


Carlos menggertakkan giginya. Ia keluar membanting pintu dengan keras. Ia tidak bisa membiarkan Ellaine menderita seumur hidup dengan bersama orang yang tidak dicintainya. Apabila Ellaine hidup bahagia bersama orang yang dicintai dan mencintainya, maka Carlos rela melepasnya. Carlos akan menghapus rasa cintanya mencari pasangan yang lain.


Carlos kembali ke kamarnya. Ia menulis surat untuk dikirimkan pada Julliane. Ellaine pasti tidak menceritakan kedatangan para lelaki ke istana pada kakaknya. Bila sudah pasti Julliane akan berada di sini. Hanya Julliane yang bisa membantu Carlos untuk mengeluarkan Ellaine dari situasi yang pelik ini. Carlos menyerahkan surat pada salah satu pelayan. 


Ketika pelayan itu hendak mengirimkannya secara tidak secara ia bertabrakan dengan Rati. Mata Ratu tertuju pada nama Julliane yang tertulis di amplop.


"Apakah Julliane mengirim surat? Atau itu dari seseorang untuk Julliane?" tanya Ratu.


"Ini adalah surat dari Sir Carlos untuk Tuan Putri Pertama, Ratu," ucap pelayan itu sambil menunduk.


Pikiran-pikiran buruk mulai memasuki otak ratu. Apakah putrinya menjalin hubungan dengan seorang pengawal? Itukah alasannya putrinya menolak banyak lelaki bangsawan?


Ratu meraih surat itu. "Aku sendiri akan mengirimkannya. Kamu kembalilah ke bekerja."


Pelayan itu berpamitan. Tangan Ratu gemetar membuka surat untuk putrinya. Ia berusaha menguatkan hati pada kemungkinan terburuk. Dugaannya salah. Isinya mengenai keburukan lelaki yang mendekati Ellaine dan permintaan agar Julliane kembali ke istana. Ratu melangkah menuju ruang kerja suaminya.


Leroy yang berkutat dengan dokumennya mendongak ke arah Ratu. Ratu menyodorkan kertas itu pada Leroy.


"Bacalah."


Leroy membacanya perlahan. 


"Apa yang harus kita lakukan, Sayang?" tanya Ratu.


Leroy menyobek kertas itu. "Sekalipun itu benar, kita masih bisa memanfaatkan salah satu dari mereka. Ellaine pasti bisa bertahan dan tentu kesejahteraan Kerajaan lebih penting. Julliane tidak perlu tahu tentang hal ini."


Ratu menyetujui ucapan suaminya. Putri keduanya adalah orang kuat. Namun, hati kecilnya berkata. 'Bagaimana jika Ellaine menderita?'


Suara hati kecil itu sangat kecil hingga perlahan-lahan menghilang.