
"Coba kamu pikir perlahan !, investasi yang tak sengaja dilakukan ayah kamu itu nilainya berapa ?" Dara membuka pembicaraan malam ini . "Menurutku itu lebih pada modal bukan investasi !" Rara menyela sebelum Sinta menjawab .
"ayah kamu itu bisa dibilang ikut membangun bisnis ayah Hamdan jadi harusnya bapak kamu mendapatkan pembagian yang adil ," secara tak langsung Dara seperti mengarahkan Sinta untuk meminta bagian yang hilang itu .
"Maksud kamu pembagian yang adil ?" Sinta sudah paham maksud Dara tapi makna adil itu yang masih dipertanyakan olehnya . "Ya kalo dulu modal yang diberikan ayah kamu seperempat yang sampai sekarang seperempat juga bagiannya !"
Di lubuk hati yang terdalam Sinta tak bisa setuju karena dua alasan , pertama karena mereka tak tau persis berapa besar modal yang diberikan ayahnya sehingga sulit meminta bagian yang hilang itu .
Kedua , karena ia tak ingin menjadi gila harta karena sejak kecil dibiasakan sederhana apalagi ayahnya saja melupakan hutang itu . "Aku tak mau !, Ayah saja sudah lupa."
Rara yang hanya menonton baru ikut bicara sekarang , "Coba sekarang kalian pikir !, bagaimana cara Sinta meminta haknya jika tak ada bukti yang sah ?" Sinta mendukung pendapat Rara ini . "Karena waktu itu hanya dianggap pinjaman pada teman bukan pinjaman modal ya sudah pasti tak ada dokumen resmi."
"Dan aku tak termakan hasutan mu , Dar ! aku tetap menganggap uang dan tempat yang dipinjamkan ayah adalah pinjaman antar teman bukan modal . Jadi dikembalikan bukan berapa keuntungan yang didapat namun berapa pinjaman aslinya."
Dara tak putus asa agar Sinta mau mengikuti kemauannya . "Pinjaman bank satu bulan saja berbunga apalagi ayah kamu yang meminjamkan uang belasan tahun , kenapa tetap meminta pinjaman asli ?"
Sinta menjelaskan alasannya , "Pertama , ayah bukan bank yang bisa meminjamkan uang untuk siapapun , ayah cuma orang biasa waktu itu hanya bisa meminjamkan uang dengan jumlah kecil ." Rara menyetujui ucapan Sinta karena tak elok membandingkan dua hal yang berbeda.
"Kedua , bunga itu riba yang akan mendatangkan dosa ! , Aku tak mau ayah yang sudah tenang mendapatkan dosa ," Saat itu Dara hanya bisa diam mendengarkan Sinta berbicara . Tapi bukan setan namanya kalau tidak menghasut kepada keburukan.
"Lagipula tanpa Sinta dan kakaknya minta warisan itu sudah sangat banyak !, bahkan masih bisa bertambah lagi nilainya." Rara semakin mendukung Sinta melawan Dara . Tapi jangan salah , setan tetaplah setan yang pasti membawa kepada hal yang salah.
Dengan kondisi emosi yang lebih dekat pada Rara otomatis semua hal yang disarankan oleh dara pasti di dengar . "Begini saja daripada kita ribut nggak jelas , mending kita cari tau kenapa kamu dan kakak kamu di diberikan warisan bukan pengembalian hutang biasa !"
"Nah , kalo itu aku lebih setuju ! , Aku dan kakak hanya anak teman lamanya bukan keluarganya jadi perlu dipertanyakan." Benar Sinta menyetujui ucapan Rara .
\*\*\*\*
"Malam kapten !, hari ini ada laporan penting ," lapor seorang wanita yang baru melakukan misi . "Tugas kita cuma satu , mencari gadis misterius itu jadi laporan mu harus tentang itu !" Dia menganggap dan menunjukkan beberapa foto kepada orang yang dipanggilnya kapten.
"Aku juga sudah mengumpulkan sidik jari semua orang yang bersama dia !" Wanita itu memberikan sebuah benda yang dipenuhi sidik jari yang sudah dia ambil dari semua benda disekitar gadis yang ia maksud . "Disini ada dua gadis muda , jadi yang mana dugaanmu , Tan ?"
"Dari beberapa orang yang aku tanya mereka mengatakan jika gadis sebelah kiri sebelum kejadian itu beberapa kali kesana tapi setelah pembunuhan itu dia lama tak muncul dan baru akhir-akhir ini kembali terlihat."
note : sekali lagi author minta like , komen , vote dan rate kalian agar author semakin semangat dan karya ini berkembang , thx 😄