
(please.. jangan lupa tinggalkan jejak ya Kakak)
Sebuah proses adalah cara Tuhan untuk mengajarkan kepada kita tentang arti kesabaran.
♠
Damar tertegun melihat Pak Bambang orang yang ditemuinya kemarin. Dan beralih menatap kedua orang yang berada di samping Pak Bambang.
"Mereka ....?” gumam Damar.
••
Pak Bambang dan lelaki berkepala pelontos juga seorang wanita dengan rikma warna cokelat kehitaman yang berada di sampingnya juga memakai seragam pakaian hitam lantas mendekati Damar yang masih saja mematung.
Pak Bambang mengembangkan senyuman melihat Damar, beliau juga melakukan hal yang sama seperti karyawan lainnya. Sedikit membungkuk memberi salam setelah beberapa detik kembali berdiri tegak menatap Damar yang masih terheran-heran.
Damar mundur selangkah... Dari jaraknya dengan Pak Bambang yang hanya berjarak satu meter. Ia merasa tidak pantas jikalau orang yang lebih tua memberinya rasa hormat dengan cara membungkukkan badan.
"Selamat datang Presdir Damar,” ungkap Pak Bambang.
Damar mengangkat alisnya, tapi juga tidak bersuara. Ia sangat tercengang, seolah terpaku di tempatnya berdiri.
Namun sekuat mungkin ia mengembalikan keseimbangan antara rasa tertegun dan terheran.
"Lelucon macam apa ini?”
Kening Pak Bambang mengerut, dan tersenyum simpul mendengar pertanyaan Damar.
Jeda beberapa detik setelah menatap Pak Bambang, netranya beralih menatap kedua orang yang semalam di sergapnya. Damar refleks menunjuk kedua orang yang berada di samping kanan dan beralih kesamping kiri Pak Bambang,
"Te--terus, kalian sedang apa disini?”
Pak Bambang mengikuti telunjuk jari Damar, menengok kesamping kiri dan kemudian kesamping kanan mensejajarkan kepalanya dengan pundak, jeda dua detik beliau kembali menatap Damar.
"Mereka Bokir dan juga Wulan,”
Damar mengerjap-ngerjapkan matanya dan kembali fokus menatap Bokir dan Wulan secara bergantian, dan menatap keduanya dengan menyipitkan mata,
"Ya saya tahu mereka, saya pernah bertemu kedua orang ini," jawabnya, dan kembali menatap Pak Bambang.
Bokir membalas tatapan tajam Damar dengan tersenyum menyeringai serta melambaikan tangannya sekilas.
Sedangkan Wulan hanya menatap Damar tanpa ada rasa ekspresi yang tersirat. Bahkan Wulan menatap Damar seperti burung elang yang siap menerkam mangsanya.
‘Awas saja! Nanti ku balas perbuatan cabul mu, karena sudah menodai kesucian bibirku!' benaknya menyiratkan ketidaksukaan bertemu dengan Damar secara langsung.
Pak Bambang membalas dengan tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya lalu kemudian berujar,
"Benarkah? Syukurlah kalian sudah saling mengenal.”
Damar menatap Bokir tanpa berkedip, dan beralih menatap Wulan dengan mata jahilnya. Ia berkedip seketika membuat Wulan mempelototinya. Damar menahan senyuman, dan kembali menatap Pak Bambang,
"Iya! bukan hanya mengenal, bahkan kami bermain kucing-kucingan,”
‘Dan tanpa sengaja aku merasakan kekenyalan dari bibir seksi Nawang Wulan. Astaghfirullah Damar kenapa kamu mesum begini?.' lanjut Damar dalam hati, menghardik pikirannya yang mulai mesum.
Pak Bambang manggut-manggut tipis, dan terkekeh kecil, "Hehe... Saya sangat senang, bukan hanya mengenal tapi kalian malah main kucing-kucingan,”
Semua karyawan dan karyawati yang masih berdiri di lobby kantor pun ikut tersenyum. Tak terkecuali Bokir yang tahu jelas seperti apa permainan yang disebut Damar kucing-kucingan semalam.
Wulan menoleh kepada Bokir dan tanpa sengaja sambil menahan cengiran. Bokir menatap Wulan yang sedang menatapnya pula dengan tatapan seperti macan betina.
"Tapi, kucing-kucingan apa yang kalian mainkan?” lanjut Pak Bambang bertanya.
Wulan merasa obrolan yang sangat membosankan dan tidak perlu lagi di bahas. Ia pun membisikkan sesuatu didekat telinga Pak Bambang. Membuat Pak Bambang tersadar akan tujuan awalnya untuk memulai kerjasama bersama dengan Damar.
"Maaf, Mas Damar. Saya jadi terbawa suasana. Ternyata Mas Damar sangat humoris,” kata Pak Bambang, menganggap Damar sedang melawak layaknya stand up comedy.
Damar tersenyum simpul, ia berpikir sudah saatnya mengajukan pertanyaan kepada Pak Bambang, yang sejak tadi bergelayut di pikirannya. Ingin tahu apa tujuan kerjasama yang sebenarnya. Juga lelucon Presdir yang di sebut Pak Bambang.
"Jadi, apa boleh saya bertanya. Apa alasan Anda mengundang saya kesini Pak Bambang?”
"Mari ikut saya ke ruangan Mas Damar di lantai empat, Mas Damar akan tahu kerjasama apa yang akan saya ajukan,” jawab Pak Bambang.
Pak Bambang lantas berbalik dan menuju lift
Damar ragu untuk mengikuti langkahnya, namun Purnomo yang masih setia berdiri di tak jauh dari Damar. Mencoba membujuknya, "Ikuti saja apa kata Pak Bambang, Mas Damar.”
Damar menoleh kearah Purnomo dan mulai kembali fokus menatap Pak Bambang yang sudah lebih dulu masuk lift dengan pintu lift terbuka.
Damar berjalan melewati Bokir dan juga Wulan, dengan tatapan bertanya-tanya tentang hal menyangkut ada hubungan apa? Pak Bambang dan kedua orang yang di sergapnya semalam.
Bokir dan Wulan pun mengikuti langkah Damar dan masuk kedalam lift. Sesampainya di dalam lift. Bokir memencet tombol angka empat. Yaitu, lantai paling atas dari gedung sebelum rooftop.
Di dalam lift tidak ada yang membuka suara. Damar sangat canggung akan keadaan ini. Namun, Pak Bambang memecahkan keheningan, "Meskipun bangunan ini hanya empat lantai, tapi pemilik sebelumnya mengkhususkan untuk memakai lift guna mempermudah akses dari lobby ke lantai empat.”
Tidak ada yang menjawab Pak Bambang. Damar sedang berpegangan di pegangan lift, karena inilah kali pertama Damar menaiki lift. Dan juga sibuk dengan jalan pikirannya sendiri yang terasa terjebak dalam suatu permainan yang sekarang ini seolah sedang menjeratnya bersama Pak Bambang dan kedua orang yang semalam jelas ketahuan memata-matainya.
Bokir melirik sekilas kearah Damar dan menahan tawa, melihat tingkah konyol Damar yang jelas saja terlihat takut menaiki lift.
Tak menunggu waktu lama, karena hanya empat lantai. Lift pun berhenti dan menyuarakan bunyi tanda lift sudah sampai di bagian lantai empat.
Ding
Pak Bambang keluar lift terlebih dulu, dan di susul Damar yang keluar dengan meraba dinging lift. Selanjutnya Bokir dan Wulan yang berada di belakangnya. Bokir masih saja tersenyum geli melihat tingkah Damar.
Sedangkan Wulan, wanita yang terkesan tak berperasaan dan sedingin salju hanya melirik dingin kearah Damar.
Di lantai empat sudah di sambut kedua orang yang berdiri didekat lift.
"Selamat datang Tuan Damar.”
Damar terhenyak tidak mengerti harus menjawab apa? ‘Apa-apaan mereka? Tuan Takur kali akh!'
Pak Bambang menjelaskan ruangan yang ada di lantai empat.
"Pintu yang berwarna hitam itu adalah ruangan Anda Presdir,” ungkap Pak Bambang lagi menyebut Damar Presdir.
Damar menghela nafas dan menggeleng, "Jangan lagi menyebut saya dengan sebutan itu Pak Bambang.”
Pak Bambang tidak mengindahkan ucapan Damar, dan kembali menunjukkan pintu dari ruangan di sebelahnya.
"Dan disebelahnya adalah ruangan manajer, lalu..." belum juga usai Pak Bambang menjelaskan ruangan lain yang terdapat di lantai empat Damar segera memotong ucapannya.
"Maaf Pak Bambang, bukannya saya lancang menyela pembicaraan Anda. Kenapa sejak tadi Pak Bambang tidak langsung saja menjelaskan apa yang saya tanyakan...” kata Damar terjeda, ia tak tahan lagi. Dan ingin langsung saja kepada intinya, apa maksud Pak Bambang mengundangnya datang ke perusahaan ini.
Pak Bambang, Bokir dan juga Wulan dapat melihat dengan jelas kegelisahan yang tergambar dari postur tubuh dan raut wajah Damar saat ini
•••
Bersambung...