
Altaric masih terlelap dikasurnya dengan bertelanjang dada. Kayla yang melihatnya hampir meleyot, kenapa pacarnya begitu seksi ketika sedang tidur.
"Kayla sadar!" plak "Auw sakit" pipi kayla memerah karena tamparannya sendiri.
Mendengar suara berisik altaric pun bangun, dan altaric kaget melihat kayla yang berada dikamarnya.
"Kayla"
Panggilan bernada serak basah itu membuat kayla gugup dan salting.
"Kamu udah bangun al"
"Hm, sini"
Kayla menurut dan menghampiri altaric, ketika kayla sudah dekat altaric pun menarik tubuh kayla membawanya ikut berbaring.
"Altaric!! "
"Kenapa sayang?"
"Lepasin ih"
"Gak mau"
Altaric sangat gemas melihat kayla yang memberontak minta dilepaskan. Namun sayangnya kekuatan kayla tak ada bandingannya dengan altaric.
"Segini doang udah nyerah? lemah!" goda altaric membuat kayla mencebikan bibirnya kesal.
"Ya kamu pikir aja, badan kamu gede gini mana kuat aku singkirin"
"Ngomongnya jangan keras keras kay nanti tenggorokan kamu sakit" ucap altaric sambil mengelus lembut leher kayla.
Elusan altaric membuat kayla merinding kegelian. Dengan cepat kayla menyingkirkan tangan altaric dari lehernya.
"Kenapa?"
"Geli"
Altaric mengangguk. Tangannya pun beralih mengelus rambut kayla.
"Kamu kesini sama siapa?"
"Ojek"
"What?!" wajah altaric tampak tak suka mendengar kayla kerumahnya naik ojek "Pasti cowok kan yang bawa motornya!"
"Iya cowok. Jarang sih aku denger kang ojeknya cewek"
Altaric pun melepaskan pelukannya pada kayla, dan berbalik memunggungi kayla.
"Kamu marah?"
"Menurut kamu?"
Kayla memeluk altaric dari belakang dan menyerukkan kepalanya dileher altaric.
"Abi sibuk jadi gak bisa anterin aku kesini, maafin kayla yaa al"
"Kenapa gak telpon aku aja"
"Udah, tapi kamu gak angkat telpon dari aku"
Kicep. Altaric tak bisa mengatakan apapun lagi karena ini murni kesalahannya.
Melihat keterdiaman altaric kayla pun bangun dari baringnya dan menggusak tubuh kekar altaric.
"Al ayo bangun. Kemarin kamu bilang kita hari ini bakal kencan"
"Eum kapan?"
"Ish" kayla merengut kesal membuat altaric terkekeh senang karena berhasil menggoda kayla.
Wajah altaric seketika masam karena kayla malah mengajaknya pergi ketempat bermain.
Sedang kayla menatap altaric dengan senyum lebarnya, sepertinya pacarnya itu sangatlah senang.
Perlahan altaric mendekati mesin capit, memasukan koinnya dan mulai menggerakan tombol untuk mencapit salah satu boneka disana.
"Yaaah" nada kecewa itu keluar dari mulut kayla, namun kayla tetap bertepuk tangan memberi semangat untuk altaric.
Altaric sudah kepanasan. Matanya yang tajam mengarah pada mesin capit, sialan sekali mesin ini karena telah mempermalukan altaric didepan kayla karena tidak pernah berhasil mengambil bonekanya.
"Ck mesin ini pasti penipuan. Aku yakin banget kay, masa bonekanya gak bisa diambil"
Kayla terkekeh melihat ekspresi kesal yang ditujukan altaric pada mesin capit yang tidak bersalah itu.
"Boleh aku yang coba?"
Altaric mengangguk dan mempersilahkan kayla yang mengambil alih mesin capitnya.
"Percuma kay gak bakal.."
"Dapat yes!"
Mata altaric membola. Kenapa kayla dengan mudahnya mendapatkan boneka itu, sedangkan dirinya sangat susah sekali.
Dengan kesal altaric pergi duluan. Kayla pun berlari mengejar altaric dengan tawa pelannya.
Sekarang kayla maupun altaric tengah memainkan game tembak tembakan.
"Al arah situ al tembak!"
Sesekali altaric melihat kayla yang fokus sekali pada gamenya dan melupakan dirinya.
Altaric pun melepaskan tembakan mainan ditangannya dan menatap kesal pada kayla.
Padahal bukan ini yang diinginkan altaric. Altaric ingin bermesraan dengan kayla.
"Yey menang! " kayla berteriak kesenangan bahkan sampai meloncat loncat, namun ketika ingin memanggil altaric orangnya sudah tidak ada "Al!" kayla pun akhirnya berlari mencari altaric.
"Kakak makasih es krimnya"
"Hem"
Perlahan kayla mendekati altaric dan ikut duduk. Altaric menyadari keberadaan kayla namun altaric tetap acuh dan asik memakan es krimnya.
"Kakak siapa?"
"Aku kayla" kayla tampak tersenyum pada anak kecil itu membuat altaric memasukan sisa es krimnya pada mulut kayla.
"Senyum kamu jelek! ayo pulang"
"Loh terus anak kecil ini kita tinggal?"
"Gak pa'pa, orang tuanya ada kok"
Altaric tidak mau kayla pulang, jadilah altaric membawa kayla kerumahnya.
Tiba dirumah. Sarah tampak sibuk kesana kemari membuat altaric penasaran.
"Mama ngapain sih, sibuk banget kayanya"
"Al untung kamu pulang, nanti bantuin mama masak yaa. Kamu tau sendiri kan mama kurang bisa masak hehe"
"Apalagi al yang gak pernah sama sekali kedapur. Mama juga gak biasanya mau masak, bibi ijah kan ada"
Wajah sarah seketika lesu mendengar nama pembantunya disebut.
"Bi ijah pulkam anaknya sakit. Jadi kemungkinan semua pekerjaan rumah kita yang bakal kerjain"
"Ma yang bener aja!"
"Bener sayang. Oh ya mama lupa, bi ijah pesen tadi, katanya pakaian kamu belum sempat dicuci, jadi kamu cuci sendiri ya nak"
"Ma! al gak bisa nyuci baju" ah rasanya altaric frustasi, kenapa hari ini semua orang membuat moodnya rusak.
"Tinggal dimasuki kemesin cuci apa susahnya si al"
"Al nanti aku bantu"
Sarah baru menyadari jika putranya tidak sendiri, ternyata ada calon menantunya juga.
"Kayla! mama gak nyadar ada kamu. Maaf ya"
"Gak pa'pa ma"
"Yaudah mama mau keminimarket dulu, belanja bahan bulanan kita yang mau habis"
"Mau al anterin?"
"Gak perlu al. Tugas kamu nyuci baju, kalo udah jangan lupa lantai disapu ya"
"Mama!"
Altaric dan kayla duduk dikursi menunggu pakaian altaric yang masih dikeringkan didalam mesin cuci.
"Kapan kamu ngasihnya?"
"Huh?"
"Itu.. sesuatu disaku kamu, aku liat kamu daritadi mau kasih keaku tapi gak jadi jadi"
Altaric pun mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dari sakunya dan membuka kotak itu didepan kayla.
Kayla terpukau melihat kalung yang begitu indah, apa itu untuknya.
"Gimana? cantik kan?"
"Iya"
Altaric pun mengambil kalung itu dari kotaknya dan memasangkannya dileher kayla.
"Apalagi kalung ini dipakai sama cewek secantik kamu kay, kalian tampak serasi. Memukau"
"Apasih al aku malu tau"
Altaric tersenyum. Perlahan altaric mendekatkan dirinya kearah kayla lalu memeluknya.
"Makasih al"
"Hem"
Altaric membawa keranjang yang berisi bajunya yang sudah kering. Altaric masuk kekamarnya diikuti kayla dibelakangnya.
"Kay"
"Hu'um?"
Belum sempat kayla mendongak, altaric sudah menyerang bibirnya. Tak bisa menolak, akhirnya kayla pun membalas ciuman altaric.
Keduanya larut dalam ciuman tanpa menyadari dering telpon entah dari ponsel siapa.
Brak!
Kayla mendorong altaric ketika pintu kamar dibuka oleh dira. Untung saja sarah tidak sempat melihat.
"Kayla kamu ngapain sih, umi kamu nelpon berkali kali"
"Umi nelpon" kayla mengecek ponselnya, ternyata benar, ada 3 panggilan tak terjawab.
"Gak perlu telpon lagi. Ayo kita kerumah sakit, abi kamu kecelakaan"
"Apa?!"
Kayla berlari memasuki rumah sakit. Padahal altaric melarangnya untuk berlari takut terjatuh, namun kayla mengabaikannya karena abinya lebih penting dari apapun.