
Han Beng melihat hal itu. Dia khawatir kalau bajak-bajak yang dipukuli dayung oleh Hok Cu itu tewas.
"Kalian selamatkan dulu kawan-kawan kalian itu!" seru Han Beng seraya menunjuk ke arah yang dia maksudkan.
Kepala bajak yang masih meringis kesakitan karena kuku-kuku jari tangan kanannya patah-patah, dengan segera memerintah,
"Cepat tolong mereka!"
Dan lima orang anak buahnya itu berloncatan ke air, berenang dan masing-masing menjambak rambut dua orang kawan yang pingsan dan menyeret mereka ke perahu. Biarpun dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil juga menyeret tubuh sepuluh orang bajak yang pingsan itu ke atas perahu.
"Ampun, pendekar! Kami seperti buta saja, tidak mengenal seorang gagah. Apakah pendekar ini Han Beng si pendekar naga sakti dari sungai kuning?' tanya kepala bajak laut itu yang menebak.
Han Beng menganggukkan kepalanya..
"Sebetulnya, sudah menjadi tugasku untuk membunuh kalian semua!" seru Han Beng.
"Ampun pendekar, ampunkan kami ! kami tidak mengenal pendekar maka berani berbuat lancang...." kata kepala bajak sungai itu yang merintih.
"Hmmm, keparat kau! Jadi kalau berhadapan dengan yang kuat kalian tidak berani, akan tetapi kalau berhadapan dengan orang lemah kalian lalu berbuat jahat dan sesuka hati kalian!" seru Han Beng yang geram
"Ampun, kami tidak berani lagi....." kata kepala bajak sungai itu yang nampak sekali ketakutan.
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Hok Cu telah berdiri di perahu itu. Melihat ini, kepala bajak dan anak buahnya menjadi semakin terkejut. Baru mereka tahu bahwa bukan hanya pendekar naga Sakti yang lihai, bahkan nona yang cantik itu pun lihai bukan main.
Dari caranya merobohkan sepuluh orang bajak di air dan caranya meloncat dari perahu kecil ke perahu besar saja sudah membuktikan kelihaiannya.
"Han Beng, kenapa tidak kaubunuh saja semua tikus sungai ini?" tanya Hok Cu karena sengaja berkata demikian untuk menakut-nakuti mereka.
Dan benar saja setelah mendengar ucapan itu, kepala bajak dan anak buahnya yang kini banyak yang sudah siuman dari pingsan, segera mengangguk-anggukkan kepala sambil berlutut ke arah gadis itu.
"Pendekar, ampunkan kami!. kami bertaubat...!"seru mereka.
"Coba katakan, bagaimana caranya kalian akan bertaubat. Kalau sekarang kami mengampuni kalian, lalu kalian kembali akan merajalela dengan perahu kalian ini dan menghadang orang-orang untuk dibajak?" tanya Han Beng dengan tatapan tajam.
"Ampun, kami tidak berani lagi. Dahulunya kami adalah nelayan yang mencari ikan dan menjual tenaga untuk mengangkut barang dagangan dengan perahu. Kami akan kembali bekerja seperti dulu...!" jawab kepala bajak laut itu dengan nada yang masih ketakutan.
"Hmm, baiklah akan kami lihat apakah kalian akan memegang janji ini. Sekali ini kami akan membebaskan kalian, akan tetapi ingat! kalau satu kali lagi kami mendapatkan kalian membajak, kami tidak akan mengampuni kalian lagi!" ancam Han Beng pada para bajak laut itu.
"Baik, terima kasih, pendekar!" seru Kepala bajak sungai itu dengan girang dan mengangguk-anggukkan kepalanya dan dia sudah lupa akan tangannya yang nyerinya bukan main itu.
"Mari, Hok Cu, kita lanjutkan perjalanan." ajak Han Beng, dan Hok Cu menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua lalu meloncat ke dalam perahu kecil mereka dan menyuruh tukang perahu mengembangkan layar agar pelayaran dapat dipercepat.
Akan tetapi tukang perahu itu bahkan mendayung perahunya ke tepi.
Hok Cu dan Han Beng saling pandang. ,
"Kami membutuhkan perahu ini. Kalau kau tidak berani mengantar kami pun tidak mengapa, akan tetapi perahumu ini harus diserahkan kepada kami. Akan aku beli, jangan khawatir. Kami bukan bajak-bajak macam tadi yang suka merampas milik orang lain!" seru Hok Cu seraya menyerahkan sekantung uang pada tukang perahu itu.
"Terima kasih pendekar!" kata tukang perahu itu yang mendengar apa yang dikatakan Hok Cu, tukang perahu itu memandang dengan wajah berseri. Dia lalu memberi harga yang pantas dan tanpa menawar lagi Hok Cu membayarnya. Tukang perahu itu dengan cepat meninggalkan tempat yang dianggapnya amat berbahaya itu.
"Wah, engkau mengeluarkan banyak uang untuk membeli perahu ini, Hok Cu," kata Han Beng seraya melirik ke arah Hok Cu .
"Tidak apa-apa karena aku mempunyai uang, hasil menjual gelang emas pemberian guru dahulu. Sekarang perahu ini milik kita, lebih leluasa dan dapat kita pergunakan selama kita masih membutuhkan. Kalau sudah tidak kita pakai, dapat dijual atau diberikan kepada nelayan miskin." kata Hok Cu sembari mengulas senyumnya.
Han Beng membalas senyuman Hok Cu, dan kini mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Beberapa hari kemudian perahu mereka pun mereka daratkan di kaki Bukit Kim-hong-san. Tempat itu sunyi, maka Han Beng lalu menarik perahu itu ke darat dan menyembunyikannya ke semak belukar sehingga tidak nampak dari luar. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mendaki bukit.
...****...
Sementara itu Liu Tai yang menerima laporan pembantunya, yaitu Tabib Kui Song dari Siong-an tentang pemberontakan itu dan tentang keterlibatan Cang Jin dengan para pemberontak. Mendengar laporan yang lengkap ini, Liu Taimerasa girang sekali.
"Di mana adanya pendekar Naga Sakti dan Nona Pendekar itu sekarang?" tanya Liu Tai karena dia mempunyai keinginan untuk menarik dua orang muda perkasa yang sudah berjasa besar itu menjadi pembantunya.
"Sayang sekali, Tuan. Mereka berdua mengatakan bahwa mereka sudah cukup memenuhi kewajiban dan mereka tidak ingin terlibat dengan urusan pemerintah, juga mereka tidak mengharapkan balas jasa. Mereka telah pergi karena masih mempunyai banyak urusan pribadi yang harus mereka selesaikan." jawab Kui Song dengan hormat.
Pejabat tinggi itu menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
"Sudah kuduga, memang para pendekar itu lebih suka berkelana dengan bebas, tidak mau terikat. Bagaimanapun juga, selama masih ada pendekar-pendekar seperti mereka itu, negara menjadi aman dan kejahatan pun berkurang." kata Liu Tai.
"Akan tetapi tuan, menurut keterangan yang saya dapatkan, di antara para pemberontak itu pun terdapat banyak mereka yang menamakan diri pejuang dan pendekar!" seru Kui Song.
"Ah, di mana ada pendekar menjadi pemberontak? Kalau memang rakyat tertindas, mereka akan menentang para penindas. Akan tetapi, sekarang ini rakyat tertindas oleh pejabat-pejabat yang korup. Kalau pemberontakan itu dimaksudkan untuk merebut kekuasaan dan mencari kedudukan, apalagi bersekutu dengan pejabat korup seperti Cang Jin, jelas bahwa pendekar yang bergabung di situ adalah pendekar sesat! Orang yang pada dasarnya hanya mencari kesenangan pribadi dan berkedok sebagai pendekar. Lihat pendekar Naga Sakti itu. Dialah seorang pendekar sejati! Tidak mau menerima imbalan jasa, tidak mempunyai pamrih keuntungan pribadi dalam sepak terjangnya. Sayang dia tidak mau membantu kita, kalau kita memiliki tenaga seperti dia, alangkah baiknya." jelas Liu Tai.
"Akan tetapi, kalau dia menjadi pembantu tuan, berarti dia menjadi seorang petugas negara, bukan seorang pendekar lagi!" kata Kui Song yang berpendapat.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...