
suasana desa begitu sepi, Raka tau jika malam ini pasti akan ada sesuatu.
Fahri yang menyetir mobil pun tiba-tiba kaget melihat ada sebuah anjing yang lewat.
"innalilahi," kaget Fahri yang langsung menginjak rem.
"pelan-pelan Fahri, kamu lihat apa?" tanya Raka yang juga hampir terbentur dasbor mobil.
"itu mas, aku melihat anjing hitam pekat, tapi anjing itu tersenyum kearah mobil kita, coba lihat saja," kata Fahri menunjuk hewan di depan mereka.
Raka yang melihat pun, mengerakkan tangannya, dan anjing itu otomatis minggir dari jalan.
"sudah tak perlu kaget, kita tak perlu mengurusi urusan orang, ayo kita pulang," ajak Raka.
Fahri pun mengangguk dan mulai menjalankan mobil, dan perjalanan mudah tanpa kendala.
sesampainya di rumah, Wulan ternyata sudah tidur, begitupun dengan kedua putranya.
Raka bahkan mengendong Arkan yang tertidur di meja belajar, Raka menyadari sesuatu.
"wah... ada yang ingin mengunakan sirep di rumah ini, cari mati ternyata," gumam Raka.
tapi di sedikit aneh, karena kenapa bisa Wulan dan anak-anaknya terpengaruh oleh sirep.
Raka mengambil air dan mengusapkan ke wajah ketiga orang yang dia cintai itu.
"ih ayah,kenapa membangunkan Amma, aku ngantuk," kata Wulan yang terbangun.
"kamu tak sadar, rumah ini sudah kena sirep, dan aku yakin jika sekarang Fahri pasti sudah kena juga," kata Raka mencubit pipi Wulan.
"owalah tak kita apa, tadi ada keblek yang datang, pasti itu ya, sudah lah mas," kata Wulan yang terlanjur begitu mengantuk.
Raka pun mengangguk dan ikut tidur juga, toh anggap saja jika mereka kehilangan beras sebagai sedekah yang di ambil sendiri.
toh mereka juga tak akan miskin dengan kehilangan beras satu karung, malam itu beberapa makhluk pesugihan memang keluar dan berkeliaran.
Sesnag dan Ki Adhiyaksa hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa ingin ikut campur.
"Ki item benar-benar kehilangan seluruh wilayahnya, lihat saja sekarang dia tak bisa melakukan apapun saat teritorial miliknya di masuki oleh mahluk asing," kata Ki Adhiyaksa.
"ya karena semua orang sudah tak percaya dengan putukan, dan semakin banyak orang yang gelap mata, jadi tak heran," jawab Sesnag
"tapi selama di kurung, apa ini juga terjadi?" tanya Ki Adhiyaksa penasaran.
"tidak, karena dua putra Raka dan wulan begitu lincah dan berhasil membuat kedua orang tuan,ya kebingungan. bagaimana tidak, mereka bahkan pernah keluar dari rumah tengah malam karena melihat tuyul yang berlarian setelah mengambil uang," jawab Sesnag.
"bagaimana bisa, apa rumah tak di kunci?"
Ki Adhiyaksa diam, dia tak mengira jika bakat kedua bocah itu sudah sampai sejauh ini, bahkan bisa mengendalikan mahluk yang mungkin sudah hidup jauh di atas mereka.
"sudah tak perlu bingung gitu, kita santai lihat saja, jika ada yang berani mengirim hal yang buruk, baru kita bereskan," kata Sesnag santai
"ya terserah lah, kebetulan aku juga menganggur dan bisa istirahat akhir-akhir ini, karena bocah itu tak suka mencampuri urusan orang lain," terang Ki Adhiyaksa.
"bagaimana kalau lihat hal itu om," kata pocong gosong temen Raka.
"eh poci disini, ku kira udah tenang," kaget Sesnag yang kini berubah menjadi wujud manusianya.
"ngapain, orang aku aja belum bisa menemukan siapa pembunuh ku, jadi gak mungkin bisa tenang, ngomong-ngomong ya, nih mahluk doyan beras ngapain woy muter disini, bikin pusing anj*Ng," kesal di poci.
"kamu buta ya Cong, orang bentuknya kayak kelelawar kok kamu bilang anjing, ha-ha-ha," ledek Ki Adhiyaksa.
"anda lupa jika bola mataku hilang om," kata pocong itu menoleh sambil menunjukkan *** matanya yang tidak ada.
"gak takut, dasar pocong aneh, sudah biarkan, selama dia meresahkan orang yang tempat, aku tak masalah," kata Sesnag.
"ya kalian berdua bodohnya hak ketulungan sih, kalian gak tau ya kalau mahluk itu sudah ngambil gabah milik orang tua Wulan, beh.... khodam gila," ejek pocong itu.
karena kesal Ki Adhiyaksa menendangnya hingga terjatuh dan menggelinding, "rasain,bikin orang emosi Mulu, aku udah tau dan karena mereka diam aku juga diam bodoh," kesal raksasa itu.
Sesnag hanya tertawa, tiba-tiba terdengar suara alunan seruling yang mengundang semua mahluk pesugihan untuk berkumpul.
karena penasaran, Ki Adhiyaksa pun mengubah wujudnya jadi burung perkutut dan terbang.
begitupun dengan Sesnag yang mengubah wujudnya hingga menjadi super kecil dan baik di punggung ki Adhiyaksa.
saat sampai di tempat dari suara seruling itu terdengar, ada seseorang yang tengah duduk di kursi yang terbuat dari bambu.
dia berpakaian serba hitam dan menghentikan tiupan serulingnya, "semua sudah kumpul, kalau begitu kalian harus mati,"
tiba-tiba api menyala dan melahap semua mahluk yang menjadi wadah pesugihan.
"selamat datang tamu yang terhormat," kata orang itu melirik sebelum berlari pergi.
bahkan Ki Adhiyaksa tak bisa menemukan orang itu karena hilang di pemukiman warga.
terlebih aroma dan aura dari orang itu tersamar dengan terciumnya aroma ubi bakar.
"alah, di goblok datang pula," kesal Ki Adhiyaksa.
Sesnag hanya tertawa saja, pasalnya dua khodam itu terus saja berantem saat bertemu.