
Keesokan harinya .
"Hah, sudah pagi ternyata." Gumam Agha sambil mengucek matanya.
......................
"Asil bangunlah." Ibu membangunkan Asil dengan suara lembutnya.
"Hm, kenapa?" Lenguh Asil, yang setengah kehidupannya ada di dunia mimpi. "Astagah anak ini, bangun nak sudah pagi." Ibu mengelus kepala Asil. "Pagi yah, baiklah sebentar lagi." Ucap Asil berusaha membuka matanya, dan meninggalkan dunia mimpi. "Ayolah, bukannya kau harus pergi ke kantor, kau kan sangat semangat hari pertama mu apakah sekarang kau akan bermalas-malasan." Ucap ibu. "Hah, kantor.Iya! Kantor! Astagah!" Asil langsung meloncat dari kasurnya.
"Aih, tidak bisa begini aku, aku harus cepat.Ibu, ibu sudah jam berapa?" Asil sangat terkejut dan bicaranya jadi kacau.
"Heh, kenapa?Sekarang kau baru mau bangun, ayo tidur lagi.Sekarang baru jam 6.30." Ucap ibu. "OMG! Aku harus cepat, sebelum berpapasan dengan manusia yang merepotkan itu." Asil langsung berlari menuju kamar mandi.
"Anak ini,dia tidak disiplin namun dia tidak begitu amburadul." Gumam ibu Asil
......................
Tepat jam 7.00 akhirnya Asil selesai bersiap-siap.
"Bu, ibu aku berangkat dulu." Ucap Asil kepada ibunya. "Iya,hati-hati nak." Sahut ibu Asil.
......................
Asil berjalan dengan cepat untuk menghindari Agha.
Taksi online yang dipesan Asil akhirnya datang.
"Wehee, untung aku cepat memesan taksi nya.Jika tidak aku akan pergi bersama tuan jelek itu." Gumam Asil sembari memasuki mobil.
Taksi pun mulai berjalan, terlihat wajah Asil yang senang karena terbebas dari Agha.
......................
Sesampainya di kantor Asil mendongak melihat gedung perusahaan tempat ia bekerja.Asil terlihat slalu takjub melihat gedung itu.
"Aku sampai sekarang, dihari kedua ku tetap tidak percaya aku bekerja di perusahaan ini." Gumam Asil yang mulai melangkah masuk.
"Hei lihat itu karyawan yang baru." / "Terlihat umurnya pasti masih sangat muda yah." / "Benar itu, jabatan nya jadi asisten presdir lagi." / "Kita saja yang sudah lama bekerja tidak dijadikan asisten presdir." / "Cih dia pasti memakai cara licik.Ntah berapa lelaki yang ia tiduri." Ucap para staf kantor yang melihat Asil dengan tatapan menghujam.
"Hm, kenapa aneh sekali." Gumam Asil.
"Helo nona Asil." Sapa seorang wanita. "Hah? Eh, Ha-hai kak Asena." Jawab Asil kepada wanita yang menegurnya. "Bagaimana kau suka bekerja disini?" Tanya Asena. "Yah mungkin." Ucap Asil. "Ah kau pasti senang bukan, bagaimana tidak kau slalu berdampingan dengan tua Agha. Ah iya Asil, bagaimana caramu mendapatkan posisi itu?" Cerocos Asena. "Yah?Maksud kak Asena bagaimana yah, aku tidak mengerti." Jawab Asil. "Ahaha, begitu yah. Yah sudahlah lupakan saja.Kau pergi keruangan mu." Ucap Asena. "Ouh, baiklah sampai jumpa kak Asena." Asil berlalu pergi.
"Ceh, anak ini." Gumam Asena sambil menyilangkan tangan didadanya.
"Hei Asena." Seorang wanita datang dan menepuk pundak Asena.
"Heh,jabatan ku lebih tinggi dari mu.Dimana sopan santun mu." Ucap Asena dingin. "Ups ma-maaf kan aku." Ucap wanita itu, sembari menurunkan tangannya.
"Apa yang kau mau?" Tanya Asena. "Kau iri kan dengan anak itu." Bisik wanita itu. "Hah, aku iri dengan nya.Bagaimana mungkin." Tukas Asena. "Oh yah, aku pikir kau akan merasa iri, yah bagaimana tidak anak itu masih begitu mudah bahkan kriteria nya saja tidak bisa mendapatkan posisi menjadi asisten presdir. Tapi wah sangat mengejutkan dia bisa mencapai nya, sedangkan aku tahu Asena kan sudah lama bekerja disini.Namun tidak mendapatkan posisi itu, ciks.. ciks.. kasihan sekali kau. Ah iya, jika kau butuh bantuan untuk menyingkirkan nya aku akan membantu mu." Ucap wanita itu kepada Asena, dengan memindahkan posisi nya berdiri tepat didepan Asena. Terlihat wajah Asena mulai memerah, jantungnya berdetak dengan sangat cepat, Asena mulai terpengaruh mendengar ucapan wanita itu.
"Heh.Posisi mu itu masih jauh dariku, beraninya kau berbicara seperti itu.Dasar ******!" Tukas Asena dan ia berlalu pergi.
"Haha, aku sangat senang mempermainkan mu Asena.Kau pasti akan berbuat hal yang konyol." Gumam wanita itu.
......................
Asil membuka pintu ruangan nya yang berdampingan dengan Agha.
Ckelk... Pintu langsung terbuka.
"Kau dari mana saja, aku sedari tadi menunggu mu." Ucap sang empunya ruangan, yang tidak lain adalah Agha.
"Heh?Ka-kau bagaimana mungkin." Asil terlihat kebingungan. "A-aku, kenapa dia bisa datang secepat ini.Yang benar saja, lelaki yang sangat **menyebalkan**.Coba saja aku tidak pakai acara kesiangan, aku pasti sudah terbebas dari lelaki ini." Gumam Asil.
"Ka-kau tadi malam kemana?" Tanya Asil dengan perasaan gugup. "Aku pergi kemana,itu bukanlah urusan mu." Cetus Agha dingin. "Kenapa anak kecil ini perduli, cih karena ibu aku harus memposisikan nya sebagai asisten ku.Jika saja yang meminta adalah dia sendiri akan ku buang dia segera." Gumam Agha yang terlihat sibuk membaca dan menandatangani beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.
"He,sifat nya langsung berubah seketika.Apa ini, Kemarin dia sangat perduli, sekarang dia. Ah sudahlah dasar aneh." Gumam Asil melihat kearah Agha.
"Hei jika kau lelah dengan pekerjaan mu maka berikan aku surat pengunduran diri." Ucap Agha sembari berdiri.
"Apa?Hei yang benar saja!" Tukas Asil yang ikut berdiri.
"Dasar anak kecil." Ucap Agha membelakangi Asil. "Aku tidak mau aku berubah karena anak ini,sudah beberapa hari ini aku merasa aku sedikit lembek menghadapi nya." Gumam Agha.
"Ah sudahlah terserah." Agha melenggang pergi.
"Yah?Dia mengusir ku setelah itu dia menjadi.... Huh? Dasar plin-plan." Gumam Asil.
......................
"Astagah lelahnya, aku lapar." Gumam Asil sambil melirik jam tangan nya yang menunjukkan jam 1siang.
"Kemana pria itu pergi." Gumam Asil menuju pintu keluar.
......................
Bruk... "Uch,ma-maaf kan aku." Ucap Asil karena tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Yah,kopi ku. Hei kalau jalan lihat-lihat." Ucap wanita itu sembari berdiri.
"I-iya aku minta maaf." Ucap Asil ikut berdiri.
"Ada apa ini?" Seorang wanita menyahut dari belakang Asil.
"Kak, kak Asena ini bukan apa-apa." Ucap Asil kepada Asena. "Hei, anak baru tidak ada apa-apa bagaimana.Kau menabrak ku, apakah kau tidak mempunyai mata untuk melihat?" Tukas wanita itu. "Iya maaf kan aku." Ucap Asil lagi. "Apa yang terjadi Carna?" Tanya Asena kepada wanita itu. "Si anak baru ini menabrak ku." Ucap wanita itu. "Yah aku tahu aku minta maaf." Ucap Asil lagi, ntah berapa kali ia meminta maaf.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Agha." Ucap Asena. "Tapi kak, aku, aku minta maaf." Ucap Asil.
"Kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan." Terlihat Agha berjalan mendekati kerumunan para wanita itu.
"Kenapa?" Tanya Agha lagi. "Anak ini menabrak ku tuan." Ucap wanita itu. "Perhatikan jalan mu, dan kembalilah ke ruangan mu." Ucap Agha kepada Asil.
"Hah?Apa ini begitu saja?" Ucap wanita itu lagi. "Lalu apa?" Tanya Agha dingin. "Ti-tidak tuan." Wanita itu langsung tertunduk ketakutan.
Agha segera menarik Asil untuk pergi dari kerumunan.
......................
Agha menarik Asil dan berjalan dengan langkah yang sangat cepat.
"Tu-tunggu kita mau kemana?" Tanya Asil yang khawatir tentang hidup nya, dan Agha hanya diam tidak menggubris pertanyaan Asil.
......................
Asil dan Agha menuju atap gedung yang sangat tinggi itu. Agha langsung melepaskan pegangan nya dengan kasar.
"Apa mau mu?" Tanya Agha dengan nada keras. "Maksudnya apa?" Asil balik bertanya. "Kau kenapa mencari masalah!" Teriak Agha. "Ka-kau kenapa?Apakah aku membuat kesalahan, aku tidak menabrak nya dengan sengaja, aku sudah meminta maaf." Tukas Asil. Agha menarik nafas panjang.
"Aku minta maaf." Ucap Asil lagi. "Aku, aku tidak mengerti mengapa." Agha menghentikan Kata-katanya.
"Ah sudahlah kembalilah keruangan mu!" Bentak Agha. Asil terkejut dan langsung pergi dari hadapan Agha. "Anak kecil,aku bingung aku harus bagaimana. Aku punya banyak masalah, aku melampiaskan pada anak itu, yah itulah fungsi kau ada di dekatku.Tapi kenapa aku tidak bisa marah kepada mu." Gumam Agha.
......................
Asil duduk di kursinya.
"Aneh aku tidak bersalah, tapi kenapa tindakan nya. Aku sudah meminta maaf tapi kenapa aku malah dimarahi. Semula nya baik-baik saja." Gumam Asil menahan air matanya, karena tambah lama harinya hancur sedikit demi sedikit.
...****************...