
Setelah makan siang yang benar-benar nikmat. Akhirnya ibu Topan pun tertidur karena lelah dan juga pengaruh obat sarafnya.
Topan kini berada di lantai atas restoran itu dengan tengah menerima telfon penting. Sedangkan Alia bersama ibu berada dibawah di tempat meja makan mereka tadi.
Semua piring kosong sudah di pindahkan dan hanya tertinggal jus dan beberapa cemilan kecil di sana.
Alia melihat beberapa kain untuk dapat menyangga kepala Ibu Topan. Tidur di kursi yang di susun telah mengantarkan ibu Topan tidur dengan lelap.
Setelah di rasakan nyaman, akhirnya Alia dapat bernafas lega. Dan ia memandang teduh wajah tenang ibu Topan yang tertidur.
Namun suara deburan ombak seolah menarik perhatian Alia. Sekilas ia melihat luar jendela dan entah mengapa suara ombak seperti memanggil dirinya.
Perlahan Alia keluar dari ruang restoran itu dan berjalan pada pasir laut.
Suara deburan ombak seolah menarik langkah Alia untuk kian mendekat pada tepian pantai hingga akhirnya kakinya yang terlanjang basah oleh air laut.
Senyum Alia terbingkai lega, hatinya seolah tenang berada di sana dan matanya dapat melihat luas laut yang tenang.
Dan tanpa sadar terdengar suara anak kecil berlari bersama orang tuanya dengan melewati Alia. Seketika tatapan Alia berubah sendu namun senyum kecilnya terlihat senang.
Dari atas restoran, Topan dapat melihat jelas sosok Alia yang berdiri sendiri di bibir pantai. Dan entah mengapa hal itu mengusik fokus Topan sehingga ia tak mendengarkan lagi percakapan penting dari telfonnya itu.
"Apa kau ikut, Topan??"
"Hah?? apa?? ada apa Kevin??"
"Kau ini kenapa sih?? Aku tanya? apa kamu mau masuk tim Johan??"
"Oh?? soal itu..Hm, nanti saja..oke.. bye" ujar Topan yang langsung memutuskan komunikasinya begitu saja.
***
Alia menatap anak-anak batita tengah mandi laut bersama ibu mereka. Canda tawa terdengar jelas di pendengaran Alia. Ada rasa iri yang tersimpan, namun ia berusaha untuk tetap tegar berdiri disana.
"Kamu suka laut??"
Alia sonta kaget dan berbalik pada sisi suara yang menghampiri dirinya.
"Ah, hm.. pak Topan.. maaf pak" seru Alia gusar.
"Santai saja.. ibu juga lagi tidur dan tadi saya titip sebentar sama pelayan restoran"
Alia seketika lega.
"Terimakasih, Alia.."
Alia menoleh dan ia pun mendapatkan wajah senyum tulus Topan yang memandang laut luas.
"Karena kamu begitu baik merawat ibu saya.." sambung Topan yang tiba-tiba menoleh pada Alia sehingga tatapan keduanya bertemu.
Alia tersenyum kecil.
"Itu memang tugas saya, pak"
"Tapi kamu bekerja dengan sepenuh hati.."
"Karena beliau adalah orang tua bapak.. " tutur Alia dengan memandang jauh laut. "Karena di zaman seperti ini, sangat sedikit orang tua yang di asuh oleh anaknya dengan tulus.. banyak yang menitipkan orang tua mereka di panti jompo dengan berbagai alasan kesibukan.. tapi bapak adalah pengecualiannya" jelas Alia.
Deg.. getar jiwa Topan kembali bergetar.
"Andai ibu bapak tau, bahwa beliau benar-benar disayang dan di rawat oleh anaknya, pasti ibu akan sangat bahagia dan ia pasti bangga sama pak Topan.." tutur Alia.
Topan menatap lekat wajah tenang Alia, dan Alia berbalik menatap Sang majikan.
"Saya hanya punya ibu.. saya tidak punya sanak keluarga yang lain.."
Alia mendengar.
"Saat ibu masih muda Ibu hamil diluar nikah, dan saya adalah anak haram.. karena hal itu, ibu di buang oleh keluarganya karena tetap memilih melahirkan saya.." kenang Topan.
Alia tercengang.
Dengan menghela nafas panjang Topan seolah mengenang pahit perjalanan sang ibu saat membesarkannya seorang diri.
"Dan dulu saya pernah bertanya pada ibu, apa beliau menyesal telah melahirkan saya?? dan jawaban benar-benar diluar dugaan.."
Alia penasaran.
"Memang ibu jawab apa?"
"Nyesal.. pakek banget" jawab Topan dengan tertawa.
"Hah?? ibu bilang begitu, kok bisa?" tanya Alia heran.
Topan kembali tertawa kecil.
"Karena saya sangat nakal, bahkan dulu saya sering keluar- masuk penjara remaja karena tawuran saat sekolah"
"Hah?? serius pak??"
Kagetnya Alia sukses membuat Topan tertawa lepas.
Tawa Topan tanpa sadar membuat Alia terpanah.
"Yaa, namanya juga darah muda.. saat itu saya gak mikir apapun, yang penting bisa mukul orang dan menang adalah satu kepuasan tersendiri bagi saya.. saya gak mikir apa pun, mau ibu marah bahkan sampai menangis karena saya, saya gak merasa iba sedikit pun dan terus menjadi nakal" jelas Topan santai.
Alia masih terpaku pada wajah Topan.
"Sampai suatu hari.." ucap Topan tergantung berat. " Saya dan ibu bertengkar hebat lalu tanpa di sangka ibu yang marah keluar dari rumah dengan menangis, namun siang harinya saya mendengar kabar bahwa ibu jatuh dari tempat kerja dan mengalami geger otak hingga tak sadarkan diri.." kenang Topan dengan perasaan bersalah.
"Dan saat itu anda berubah??" tebak Alia.
Topan tertawa sembari menggeleng.
"Salah.. justru saya berubah saat saya tau ternyata ibu diperlakukan tidak adil oleh pihak pabrik tempat ibu bekerja.."
"Hah??" seru Alia terkejut tak percaya.
"Ya, memang terdengar aneh.. walau saya nakal, tapi saya tidak suka melihat ibu saya di perlakukan tidak baik oleh orang lain.."
"Jadi karena itu bapak jadi pengacara??" tebak Alia.
"Tidak.."
"Hah?? enggak?? lalu??"seru Alia kian terheran.
"Saya malah berharap jadi polisi, tapi catatan keburukan saya di masa muda tidak bisa di hilangkan.. makanya saya memilih pengacara" tukas Topan santai.
Alia tertawa kecil.
"Polisi?? bapak serius?"
"Ya, memang banyak yang tidak percaya, tapi yaa begitu laah, dan sekarang malah jadi pengacara spesialis perceraian bukan kriminal, ironis bukan" tukas Topan menertawakan diri sendiri.
Alia reflek mengangguk setuju.
"Iya.. nama pak Topan sangat terkenal di dunia perceraian.." sahut Alia setuju
Topan tertawa kecil.
"Dan kamu mantan lawan klien saya" balas Topan cepat.
Sesaat suasana di antara mereka terlihat begitu akrab.
Dan tanpa sadar hal itu membuat Alia tertawa lepas.
"Hahaha, iya.. dan bapak saat itu sangat kejam" celetuk Alia santai.
Deg..Topan terpaku, ketika melihat tawa Alia yang lepas. Ia baru sadar, ternyata wanita ini telah menyembunyikan wajah cantiknya selama ini.
"Topan.. panggil saja nama saya Topan.." pinta Topan tanpa sadar.
Alia kaget mendengar ucapan sang majikan.
Dan tanpa di duga tangan Topan tergerak untuk mererai rambut Alia yang terbang bebas karena hembusan angin sepoi laut.
Alia terkaget dan bereaksi dengan menghindari sehingga Topan tersadar.
"Ah, maaf.." ujar Topan salah tingkah.
"Hm, sebaiknya Alia liat ibu dulu.." ujar Alia yang seketika menjaga jarak dari sang majikan dan berlalu pergi.
Topan tak sempat menjawab, namun Alia meninggalkan dirinya begitu saja. Dan Topan hanya bisa menatap punggung Alia.
"Sial!! kau harus menahan diri Topan.. tahan!!" rutu batin Topan mengutuk dirinya sendiri. Namun tanpa ia sadari, ada perasaan yang tak bisa ia pendam lagi.