PEMBALASAN DENDAM RAISA

PEMBALASAN DENDAM RAISA
MEMINTA KEADILAN


Sambil menunggu polisi datang nyonya Wu terus memaki – maki semua orang terutama RaIsa hingga air ludahnya keluar kemana – mana sehingga martabat dan keanggunannya sebagai wanita kaya yang anggun dan bermartabat tercoreng dalam sekejap.


Tak ingin menambah panas suasana semua orang membiarkan saja nyonya Wu marah dan akan menunggu pihak berwajib untuk mengungkap kebenarannya.


Melihat kedatangan polisi, tubuh Caterine bergetar tanpa sadar karena dia sangat tahu bagaimana dia terluka dan tak mengira jika masalah yang dibuatnya akan berkembang seserius ini.


Melihat putrinya ketakutan, nyonya Wu segera membelai rambut Caterine dengan lembut sambil berkata “ Caty, jangan takut, ada mama disini...”


Bu Lina yang melihat Raisa tetap tenang ketika polisi datang sudah bisa menilai jika muridnya tersebut tak salah, jadi diapun bisa lega dan menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib.


Mendengar jika ini menyangkut pembullyan maka polisipun bertekad untuk menyelesaikan permasalahan ini sampai keakar – akarnya karena tak ingin anak bangsa rusak moralitasnya seperti ini.


Kepala sekolah segera berunding dengan tiga orang polisi yang datang kesekolah atas panggilan nyonya Wu untuk menegakkan keadilan.


Mendengar jika pihak sekolah dan polisi ingin melihat kamera pengawas yang terpasang disekolah, Caterine semakin panik dan diapun mulai berteriak lantang untuk mendapatkan atensi dari semua orang.


“ Kurasa masalah yang terjadi kemarin tak terlalu serius, jadi bagaimana jika kita lupakan saja masalah ini karena semuanya hanya kesalah pahaman saja.... ”, ucap Caterine gugup.


“ Bagaimana bisa dilupakan. Kamu seperti ini karena dia, biarkan hukum yang mendisiplinkannya....”, ucap nyonya Wu dengan nada tinggi.


“ Benar kata mamamu, biarkan polisi menegakkan keadilan dan menghukum orang yang bersalah disini....”, ucap Raysa penuh ketenangan..


Caterine menatap penuh permusuhan melihat Raisa tersenyum mengejek kepadanya. Jika sampai terbongkar semuanya hari ini, entah bagaimana dia bisa menghadapi semuanya dimasa depan.


“ Tenang saja nak, kami akan menegakkan keadilan untukmu dan menghukum orang yang memang salah....”, ucap salah satu polisi tegas.


Semua orang pun segera mengikuti kepala sekolah menuju ruang keamanan dimana kamera pengawas cctv berada.


Wajah Caterine pucat pasi, kegelisahan dan ketakutan bercampur menjadi satu disana hingga tak sadar diapun mulai berkeringat dingin dengan tubuh gemetar.


Akhirnya, ketakutan Caterine terbukti waktu semua orang melihatnya menendang udara karena Raisa berhasil menghindar sehingga dia melakukan tendangan hingga dia terjatuh diatas paving dalam posisi kedua kaki merentang sempurna lurus kedepan dan belakang  tanpa ada satupun yang menyentuhnya.


Wajah Caterine memerah karena malu dan marah, ingin sekali dia menemukan lubang untuk menyembunyikan wajahnya saat ini.


Semua orang terdiam setelah menonton video pengawasan tersebut. Bahkan nyonya Wu yang sedari tadi berteriak – teriak meminta keadilan hingga memanggil polisi kesekolah pada akhirnya hanya bisa menutup mulut dengan malu.


Adegan dalam layar monitor sangat jelas. Siapapun yang memiliki mata dapat melihat jika Raisa sama sekali tak menyentuh Caterine bahkan ujung rambutnyapun tidak.


“ Nyonya Wu, kamera pengawas tidak berbohong...”


“ Apa yang dikatakan oleh Raisa benar adanya....”


“ Caterine cidera atas ulahnya sendiri dan tak ada sangkut pautnya dengan Raisa...”


“ Dan jika mau diteruskan maka seharusnya Raisa yang menderita disini karena Caterine membawa teman – temannya untuk membully Raisa....”, ucap kepala sekolah memecah kesunyian.


Meskipun nyonya Wu memiliki temperamen yang buruk, namun wanita itu masih memiliki harga diri.


Tidak perduli seberapa arogan dia sebelumnya, menghadapi fakta yang ada terbuka lebar dihadapannya kemarahan dan kesombongan diwajahnya langsung padam seketika.


“ Menurut sudut hukum, pelaku adalah korban sendiri dan itu tidak ada hubungannya dengan orang lain....”


“ Namun, disini putri anda bisa jadi tersangka jika nona ini mengajukan tuntutan karena putri anda bersama  teman – temannya dengan sengaja ingin membully dia....”, ucap salah satu polisi menjelaskan.


Sepasang ibu dan anak ini hanya bisa menunduk karena malu. Benar apa yang dikatakan oleh polisi tersebut, jika Raisa melaporkan dengan bukti yang ada maka anaknya bisa menjadi tersangka.


Ketika dirasa masalah yang ada sudah beres, pada saat ketika polisi hendak pergi Raisa segera menahannya.


“ Ada apalagi nak....”


“ Untuk masalahmu, sebaiknya kamu membiacarakan secara kekeluargaan dan meminta temanmu untuk meminta maaf karena saya lihat kamu tak terluka disini....”, ucap sang polisi tenang.


“ Jika untuk masalah kemarin, saya sudah memaafkan Caterine. Tapi ini masalah serius lainnya....”, ucap Raisa tajam.


Caterine binggung melihat tingkah Raisa dan merasa ketidaknyamanan dalam hatinya dan tampaknya kali ini gadis yang sering dia bully itu tak akan melepaskannya dengan mudah.


Melihat semua orang menatapnya binggung, Raisa segera maju kedepan dan meminta bantuan guru untuk menemukan gambar sesuai dengan tanggal dan jam yang dia berikan.


Meski didekat kolam tak ada kamera pengawas tapi Raisa melihat jika tak jauh dari kolam ada kamera pengawas di dekat gudang tempat guru menyimpan kendaraan bermotor disana yang bisa menangkap jelas gambar yang ada dikolam.


Mendengar apa yang diminta oleh Raisa tubuh Caterine kembali bergetar dengan hebat dan kepanikan kembali melandanya.


“ Ada kejadian apa didekat kolam ? ”, tanya bu Lina penasaran.


“ Pada hari itu Caterine dengan sengaja mendorong Raisa hingga tercebur kedalam kolam dan sempat mengalami kondisi kritis. Untung ada kakak tingkat yang tak sengaja lewat dan cepat menolongnya, jika tidak mungkin nyawa Raisa sudah melayang sekarang....”, ucap Lili sedih.


Bu Lina dan semua orang yang mendengar penjelasan Lili merasa sangat terkejut karena mereka mendengar berita jika Raisa jatuh kekolam karena terpeleset tanpa ada yang tahu jika ada yang sengaja mencelakainya.


“ Kamu...kamu berbicara omong kosong....”, ucap Caterine panik.


Baru saja dia menderita dan malu setelah semua orang melihat kamera pengawas mengenai kejadian kemarin sore.


Jika semua orang kembali melihat apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu maka Caterine merasa jika tidak bisa lagi untuk berkelit karena semua fakta akan terungkap dengan jelas.


“ Kita akan tahu apakah yang diucapkan Lili benar atau tidak dari tangkapan kamera pengawas hari itu....”, ucap Raisa dengan penuh penekanan.


Dalam layar monitor dapat semua orang lihat dengan jelas jika Raisa berjalan sendirian ditepi kolam.


Tiba – tiba Caterine datang dengan senyum mengejek dan beberapa kali terlihat menekan dahi Raisa dengan telunjuknya dengan tatapan menghina.


Meski tak bisa mendengar apa yang Caterine ucapkan kepada Raisa, tapi melihat mimic wajah keduanya bisa semua orang simpulkan jika apa yang diucapkan oleh Caterine bukanlah hal yang baik.


Raisa terlihat menunduk ketakutan sambil dipukul kepalanya beberapa kali oleh Caterine dengan keras sebelum gadis itu mengangkat kedua tangannya di kedua bahu Raisa dan mendorongnya dengan keras hingga tercebur kedalam kolam.


Bukan hanya perbuatan keji Caterine yang membuat semua orang terbelalak, tapi sikap Caterine yang bukannya berlari meminta pertolongan malah tertawa terbahak – bahak ditepi kolam membuat semua orang menjadi geram.


Setelah menyaksikkan apa yang ada dilayar, ekspresi semua orang menjadi sangat serius karena tak menyangka jika dibalik jiwa gadis berusia empat belas tahun tersimpan sikap keji dan kecenderungan untuk menghabisi temannya tanpa ada sedikitpun rasa bersalah diwajahnya.