
Daniella duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan menghadap ke jendela kamar. Infus di tangan kanannya masih terpasang. Tatapan matanya kosong, menembus jendela kaca kamar rawat inap itu. Ekspresinya datar cenderung dingin. Mulutnya diam tertutup rapat. Sejak ia membuka mata setelah tak sadarkan diri selama beberapa jam, tak sedikit pun ia mengeluarkan suara. Entah itu berupa tangisan atau rintihan.
Klotak.. Klotak..Klotak..Klotak..
...