
Kesempatan Raven untuk membunuh Jesslyn semakin terbuka lebar saat Rumi minta diturunkan di depan kos-kosannya.
"Jess, sorry, ya! Aku Nggak bisa ikut," kata Rumi sambil membuka pintu mobil bagian belakang. Sementara Jesslyn duduk di depan, tepat di samping sang pangeran Raven.
"Iya, Rum. Nggak masalah! Aku juga ngerti kamu banyak tugas," balas Jesslyn.
Rumi kemudian melirik Raven. Ia menatap Raven dengan sorot mata tajam.
"Eh, Kang pisang goreng! Awas ya, kalau kamu sampe berani ngapa-ngapain temen aku!" ancam Rumi. Raven hanya mengangguk tanpa berkata-kata.
Begitu ditutup, Raven langsung melajukan mobilnya kembali. Namun sesuai rencana, di tengah jalan lelaki itu membalikkan mobilnya ke arah Utara, tepatnya menuju area pantai.
"Hei, mau kemana? Rumahku bukan ke sana!" Jesslyn masih bersikap positif. Ia pikir Raven kesasar atau semacamnya.
Namun, kecepatan mobil Raven meningkat dua kali lipat. Hal itu membuat Jesslyn panik dan berpikir Raven hendak melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.
"Hei, mau kemana?" teriak Jesslyn panik.
"Sudah jangan banyak bicara! Hari ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah," ucap Raven.
"Ketempat apaan, kok pake ngebut segala?"
"Justru itu, setelah ini kau tidak akan merasakan apa pun."
Deg.
Seketika Jesslyn terperanjat tubuhnya menggigil dan tidak merasakan apa-apa.
Jesslyn benar-benar panik karena wajah Raven berubah drastis. Lelaki itu terlihat seperti orang jahat. Tersenyum smirk, bahkan sesekali tertawa jahat.
"A ... A ... Apa kamu mau membunuhku?" tanya Jesslyn dengan suara tergugu-gugu. Raven tak menjawab. Dia menoleh sekilas lantas
Feeling Jesslyn berusaha kerja secara maksimal. Sementara Raven terus mengendarai mobilnya hingga tak lama kemudian ia melihat area pantai.
"Jangan sembarangan kamu ya, kamu pikir membunuh orang mudah? Kalau kamu pakai cara begini kamu juga akan ikut mati!"
Jesslyn makin merinding ketakutan. Ia berharap bahwa Raven hanya sedang main-main.
"Jika kamu tidak mau bertanggung jawab tidak masalah, tapi tolong jangan lakukan hal ini. A ... Aku belum siap mati."
"Raven!"
"Raven!"
Jesslyn berteriak makin gila. Namun, suaranya tak didengar. Mobil yang dimiliki Raven juga sepertinya memiliki kecanggihan meredam suara. Jadi, apa pun yang terjadi, suara lengkingan Jesslyn tidak akan terdengar sampai keluar.
"Ah, sial!" Tiba-tiba Raven melihat sebuah mobil putih mengikutinya dari belakang. Tanpa perlu ditebak, Raven sudah paham kalau itu adalah Naspati. Raven harus buru-buru melancarkan aksinya kalau tidak mau digagalkan.
Vrummmm .... Vrrummm ... Vrummm
Raven terus menaikkan laju mobilnya seperti orang kesetanan. Gemuruh suara mobil lamborgininya bahkan nyaris menandingi lagu baru BLACKPINK.
Saat melihat ada jembatan yang mengarah pada area laut, Raven langsung menekan gas sampai volume paling atas, lalu menerjunkan mobilnya begitu saja.
Mereka berdua jatuh ke tengah laut bersama mobil Naspati yang belum selesai dicicil.
Blup ... Blup ... Blup ...
Itulah suara yang didengar Jesslyn sebelum mobilnya tenggelam ke dasar laut.
Air perlahan membanjiri mobil tersebut. Dia meremas kuat-kuat baju yang dipakai Raven sampai akhirnya Jesslyn tak melihat apa-apa lagi.
Raven langsung bergerak cepat dan mendorong pintu mobil. Sebelum polisi menemukan mobil itu, Raven harus segera membawa mayat Jesslyn ke lokasi yang agak jauh.
Untuk masalah menghilangkan jejak sangat mudah, Raven bisa langsung pergi ke perairan dalam memberikan tubuh Jesslyn kepada monster laut yang sudah tidak makan setengah bulan.
Hanya dalam sekali kunyah, dipastikan mayat Jesslyn akan hancur tak Tersisa.