
Sudah tiga hari ini Rifki di rawat di rumah sakit. Dinyatakan lumpuh di bagian kaki serta mata yang masih tertutup perban membuat Rifki merasa hilang harapan. Ia berubah. Menjadi lebih pendiam dan murung. Bahkan hadirnya Dara tak mampu menerbitkan senyum di bibir Rifki.
Hari ini adalah hari yang di tunggu semua orang. Perban Rifki akan dibuka. Semua orang tak sabar, menunggu dengan cemas dan was-was. Meskipun dokter mengatakan kemungkinan besar Rifki mengalami kebutaan, keluarga besar masih berharap kemungkinan kecil yang menjadi kenyataan. Tidak ada salahnya dengan harapan baik, bukan?
"Kak, nanti sore perban kamu akan di buka. Sebentar lagi kita bisa saling tatap lagi. Kamu kangen berantem sama aku apa kangen manjain aku?" Dara tak menyerah membuat pribadi Rifki kembali seperti yang dulu. Kecelakaan yang menyebabkan kelumpuhan di kakinya membuat Rifki berubah total.
"Aku nggak bisa ngapa-ngapain, aku nggak berguna. Kamu lebih baik cari suami yang normal, aku udah cacat." Entah sudah ke berapa kalinya Rifki mengatakan itu.
"Kaki kamu masih bisa sembuh, kamu nggak dengar kalau dokter ngomong kamu bisa jalan lagi dengan terapi yang rutin?" sungut Dara.
"Tapi lama, aku nggak mau kamu nunggu. Aku tahu rasanya menunggu, pergi dari hidupku, Dara."
"Aku nggak mau. Aku maunya sama kamu, kenapa, sih Kak kamu kok jadi berubah? Kamu ragu sama cinta aku? Kamu nggak percaya kalau aku terima kamu apa adanya? Bilang aku harus apa, Kak biar kamu percaya." Nada suara Dara sudah tak normal, mulutnya bergetar hebat.
Meski dengan mata yang ditutup, Rifki tahu Dara sedang berusaha kuat untuk menahan tangisnya. Perih rasanya hati Rifki membayangkan Dara yang pasti sedih dengan keadaannya. Apa lagi sikapnya yang berubah menjadi dingin pasti juga menyakiti hatinya.
Percayalah, Rifki tak ingin melakukan ini. Hatinya sendiri tak rela jika ia menyakiti hati kekasihnya. Ia melakukan ini bukan karena suka rela, ia sendiri juga tersiksa dengaan bersikap dingin seperti ini.
"Apa, sih yang kamu harapkan dari aku? Aku ini lumpuh, aku mau kerja apa? Nggak ada perusahaan yang menerima orang duduk di kursi roda. Kalau kita teruskan hubungan kita ke pernikahan, aku nggak bisa kasih nafkah ke kamu. Malah yang ada aku menyusahkan kamu. Aku nggak mau nyusahin orang. Udah cukup Ibu aja nanti yang aku susahin. Aku nggak mau melibatkan orang lain."
"Orang lain? Kamu anggap aku orang lain, Kak? Kamu lupa apa aja yang kita lalui untuk sampai di titik ini? Yang cedera kaki dan mata kamu, Kak. Ingatan kamu nggak." Dara mulai terisak.
Bak belati yang tumpul menyayat hati. Begitu perih, sakit, dan sangat melukai hatinya. Dalam perban Rifki mengeluarkan air matanya.
Masih terdengar samar isakan Dara. Begitu pintu terdengar di tutup dengan keras, Rifki seketika menumpahkan air matanya. Yang terasa perih kini bukan hanya hatinya, tapi juga matanya dibalik perban.
Pria itu menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangannya. Rasanya tak sanggup lagi ia bertahan dengan kebulatan tekadnya. Lagi-lagi ia mengingatkan dirinya untuk menjaga kebahagiaan Dara. Tak mungkin ia egois dengan membiarkan Dara terus bersamanya. Keadaan yang sekarang nampaknya mampu membuat Rifki kehilangan kepercayaan dirinya.
Ini adalah kali kedua hidup Rifki terasa hancur menjadi kepingan yang paling kecil. Ia tak bisa mencari dan mengumpulkan semua kepingan itu agar kembali menjadi utuh.
Hal yang sama ia rasakan saat Ayu menikah dengan Anang. Disaat kepingan hatinya sudah mulai terkumpul secara perlahan, semesta kembali menghancurkannya dengan lebih parah lagi.
"Aku minta maaf, maafkan aku. Aku harus begini untuk kamu juga, aku hanya tidak mau masa depan kamu hanya untuk merawat aku. Aku tahu aku bisa sembuh, tapi percayalah, aku melakukan ini untuk kebahagiaan kamu, aku mau kamu bahagia." Rifki bicara dengan terisak.
Satu sentuhan tiba-tiba Rifki rasakan di pundaknya. Sangat ramah dan terasa hangat. Rifki tak tahu ia siapa, tak terdengar derap langkah masuk ke kamarnya. Atau dirinya yang tak mendengar karena telinganya hanya mendengar isakannya sendiri.
"Aku tahu kau melakukan ini bukan karena keinginanmu. Kita kenal memang baru, tapi aku memahami kau lebih dari yang kau tahu. Aku paham dengan pola pikirmu dan karaktermu sama besarnya dengan Ayu. Kau bisa bohongi Dara, tapi tidak dengan aku. Kau tahu? Dara sedang menangis di pundak ibumu yang baru saja datang. Kau sejak kemarin mencabik hatinya, kemarin dia tak menangis di depanmu, dia masih kuat, tapi kau nggak tahu betapa hancurnya hati Dara seakan menjadu leburan. Kau adalah laki-laki pertama yang berhasil membuat Dara meraung, terisak, histeris, bahkan dia tidak pernah memperlakukan aku seperti itu. Kau spesial, Rif buat dia." Jaka duduk ditepian ranjang.
"Aku beruntung punya dia, tapi tidak untuk dia, Jak. Kau juga tahu, kemungkinan besar aku buta. Memang aku bisa sembuh dengan kakiku, tapi untuk mataku? Mungkin, iya aku bisa operasi tapi bukankah itu butuh waktu yang sangat lama? Jak, coba kau pikir ini dari sisi laki-laki, jangan berpikir sebagai kau kakak dari Dara. Akan sangat tidak berguna aku dengan kondisiku yang sekarang. Bahkan untuk mengurus diriku sendiri saja aku nggak bisa, bagaimana bisa aku jaga dan mengurus Dara nantinya. Aku nggak mau buat dia menderita karena keegoisanku yang hanya peduli dengan perasaanku saja. Aku cinta sama dia, Jak. Aku tahu kau nggak akan ragu dengan ucapanku ini. Untuk itulah aku ingin yang terbaik untuk dia. Aku mau dia bisa hidup normal, nggak ngurusin aku yang nggak guna ini. Aku mana bisa kasih dia nafkah lahir batin, Jak?"
Jaka hanya menghela nafas panjang. Ia akui tak mudah menjadi Rifki. Harga diri bagi laki-laki adalah bekerja, dan di kondisi Rikfi yang seperti ini, tidak mudah untuk mencari nafkah.
"Aku yakin kau akan berpihak padaku jika kau berpikir di sisi laki-laki, kan? Kau diam itu artinya kau bingung harus berada di pihak siapa. Satu sisi kau tahu aku dan Dara saling mencintai, kami sama-sama tersakiti dengan keadaanku yang sekarang ini. Tapi di sisi lain, apa yang aku katakan barusan adalah kebenaran. Masa depan Dara masih panjang, Jak. Aku rela kalau harus kehilangan dia, asal dia bahagia. Udah itu aja yang aku mau."
"Kalau bahagianya ada dirimu bagaimana?"