Our Life

Our Life
Hari pertama di Akademi



Hari pertama di Academy



Saat kesadaranku kembali. Aku ada di sebuah kamar. Kepalaku terasa berat saat itu. Di luar kamar yang tertutup aku mendengar tawa Princess bersama seseorang. Aku menduga kalau itu adalah Ayah. Tak lama setelahnya pintu kamar terbuka.


"Kamu sudah sadar Nak, bagaimana perasaanmu?" Ayah menghampiriku segera sambil memberikan segelas air putih.


"Aku merasa pusing... Apa yang terjadi padaku?" Aku bertanya.


Saat ku pikir Ayah akan menjawabnya, Ayah hanya menatap ke samping sembari menggaruk tengkuknya. "Ayah juga tidak tau. Tapi kamu harus berhati-hati, emosimu bisa saja membuatmu tidak nyaman."


Ayah jelas mengetahui sesuatu. Tapi dia tidak mengatakan apapun kepadaku. Dan sepertinya ia memang tidak berniat untuk mengatakannya. "Tuan!"


Ah, teriakan penuh semangat itu. Bagaimana aku bisa melupakannya? Itu pasti Xinfey. Namun entah mengapa aku merasakan hawa keberadaan seseorang yang lain. Saat Xinfey memasuki kamar, aku mampu melihat siluet orang lain. Itu adalah seorang dengan tanduk dan sisik merah.


"Tuan! Ini adalah temanku, namanya Ardan. Dia juga seekor Naga. Aku Naga petir dan dia Naga api." Xinfey memperkenalkan dengan senyuman.


"Halo Tu-"


"Jika kamu ingin ikut memanggilku Tuan, harap lupakan itu. Mengatasi satu Xinfey saja sudah cukup untukku. Tolong panggil aku Aris saja." Aku menyela Ardan yang hendak berbicara.


Princess melompat ke pelukanku. "Apakah Tuan baik-baik saja sekarang?"


"Ya. Bagaimana proses pendaftarannya?"


Xinfey segera menjawab. "Itu bagus. Namun karna Tuan tidak sadarkan diri, Anda melewatkan Tes pendaftaran."


Xinfey terdengar kecewa di bagian akhir. "Memangnya berapa hari aku tidak sadarkan diri?"


Ketiga pria berbeda usia menatapku lalu membuka mulutnya. "Seminggu."


Ya ampun... Seminggu itu sudah keterlaluan. Artinya aku melewatkan banyak hal menyenangkan! Bahkan perpisahan SMPku. "Se-sepertinya aku melewatkan banyak hal ya?"


Aku agak sedih sebenarnya. "Ya, tapi jangan khawatir. Pelajaran di akademi belum di mulai. Itu di mulai besok. Ini adalah asrama kita, asrama nomor 13. Karna Aris melewatkan masa orientasi, Aris harus tetap bersamaku atau Xin jika ingin pergi."


Di luar dugaan, anak bernama Ardan ini ramah dan akrab kepada semua orang. Princess melompat-lompat. "Tapi Tuan juga bisa bertanya kepadaku! Aku sudah hapal tempat-tempat di Akademi!"


Ku Lihat Xinfey melirik Princess. "Dia bahkan menandai tempat-tempat dimana tanaman seperti sayuran atau buah di tanam."


Princess tertawa canggung. Sepertinya orang-orang di sini mampu mendengar kalimat Princess. "Itu aku tandai untuk kesehatan Tuan! Tuan akan semakin tinggi dan tampan jika aku memberikannya buah."


Aku hanya mengusap kepala kucing itu. Tapi aku masih merasakan sesuatu yang seolah di sembunyikan. Aku merasa kalau Semua orang di ruangan ini mengetahui segalanya tentangku. Bukan, mengetahui sesuatu yang aku tidak tau.


"Benarkah? Aku merasa aku melewatkan sesuatu. Apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Ku tatap satu persatu wajah mereka. Mereka hanya memberikan senyum. Namun aku merasakan dengan baik kegugupan yang mereka rasakan.


Aku turun dari tempat tidur. Ketiga Pria itu masih terdiam tanpa niat untuk berbicara. "Aku rasa kalian tau kalau kalian tidak bisa menyembunyikan apa-apa dariku. Meski sekarang aku tidak tau apa itu, aku akan membongkarnya suatu hari."


Lalu aku melangkah menuju pintu. Meski sedikit lemas, aku masih bisa berjalan. "Tuan ingin kemana?"


Itu adalah Princess. "Aku ingin ke Toilet."


Barang-barangku sepertinya sudah di siapkan oleh Ayah. Asrama ini lebih mirip sebuah rumah mungil dengan tiga kamar, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi. Kami bertiga sudah membagi tugas untuk membersihkan rumah atau memasak makanan.


Hari ini jadwalnya Ardan memasak. Xinfey dan Princess sibuk bilang padaku kalau makanan buatan Ardan sangat enak. Jadi, saat aku sudah berseragam, dan datang ke ruang tamu, Princess melompat-lompat di bahuku dengan penuh semangat.


Hari ini adalah hari pertamaku dan kami semua untuk menjadi murid akademi. Ardan bilang sarapan yang sehat itu penting. Jadi dia menyiapkan salad buah untuk kami. Menurutku tidak ada yang menarik tentang salad buah.


Sarapan berlangsung dengan cepat. Setelah mengunci pintu, kami bertiga beserta Princess berjalan menuju kelas. Di perjalanan, Xinfey bilang kalau dia sudah mendaftarkanku di kelas manusia pada sub kelas 'Penjelmaan'. Ardan dan Xin ada di kelas Iblis. Kami tidak sekelas. Tapi Xinfey bilang kalau Princess tau jalan, jadi aku hanya perlu mengikuti arahan Princess saja.


Xinfey juga cerita kalau Akademi ini bertujuan untuk membantu pengguna kemampuan istimewa untuk mengendalikan kekuatannya. Setiap kelas di bentuk berdasarkan ras. Aku tentunya masuk ke kelas manusia, kelas manusia berkemampuan. Kelas itu juga di bagi lagi menurut setiap kemampuan.


Sebenarnya aku pikir aku tidak memerlukan kelas ini. Tapi karna misteri dari identitasku masih tidak di ketahui, aku butuh tinggal di sini lebih lama. Tempat di mana ada dunia pararel yang bisa di jelajahi ini, pasti menyembunyikan rahasia.


"Tuan, itu dia kelasnya." Princess yang sedang duduk di bahuku menunjuk sebuah ruangan dengan cakar depannya. Aku mengangguk, lalu memasuki kelas.


Aku dapat merasakan banyak pasang mata yang melirik atau melihatku. Aku mengambil kursi di belakang agar tidak menarik perhatian. "Tuan! Mereka menatap kita!"


Princess ikut gelisah. Tapi aku yakin yang mereka lihat bukan aku, tapi Princess. Kucing kecil dan remaja lelaki, itu adalah kombinasi yang hampir mustahil sebenarnya. Princess terlalu imut dan menarik perhatian orang banyak. Dan aku adalah tipe orang yang tidak suka menarik perhatian.


Jadi aku membenamkan wajahku di antara tanganku yang di letakkan di atas meja. Seolah aku sedang tidur, tapi sebenarnya tidak. Princess berpindah ke kepalaku dan sepertinya ia juga tidur.


"Tanya saja dia..."


"Ayolah, kamukan duduk di sisinya."


"Ta-tapi dia kan sedang tidur."


Mereka berbisik mungkin sebab takut membangunkan aku. Tapi aku sebenarnya mendengar bisikan mereka. Ini menyebalkan, gurunyapun juga belum datang.


Lalu tiba-tiba seseorang mengetuk bahuku beberapa kali. "Hm?"


Aku menatapnya. Dia adalah seorang lelaki yang usianya mungkin tidak jauh dariku. Atau bahkan mungkin usia kami sama. Tapi dia agak pendek untuk ukuran lelaki. "Salam kenal. Aku Ray, bolehkah aku tau siapa namamu? Aku tidak melihatmu saat masa orientasi."


"Aku Harist Fernada. Aku tidak bisa menghadiri masa Orientasi sebab aku sakit. Sekarang aku sudah membaik." Aku menjawab sekenanya saja.


"Apakah itu Roh Kucing?" Gadis muda yang duduk di depanku bertanya.


Aku mengangguk sebagai Jawaban. "Namanya Princess."


Aku menurunkan Princess dari kepalaku. Ku lihat ekor Princess tegak lurus ke arah langit-langit. Dia jelas sedang bahagia. "Halo! Aku Princess!"


Para gadis berkumpul mengelilingi Princess. Normal bagi mereka menyukai kucing kecil yang lucu bukan? Dalam sekejap, Princess telah menjadi artis di kalangan murid wanita. Di tempat ini semua orang bisa memahami apa yang di katakan Princess. Itu membuat para gadis sangat senang dengan Princess.


Tak lama setelahnya, barulah seorang guru lelaki yang usianya tidak jauh dari Ayahku datang. Awalnya ku pikir Ayah yang akan menjadi wali kelas di kelas ini. Saat guru itu duduk ke kursinya. Princess menaiki bahuku lagi dan para gadis dengan hormat memperhatikan gurunya.


"Berdiri grak!" Seorang lelaki yang duduk di depan berujar.


Semua siswa berdiri. Ray membisikkan agar aku mengikuti aba-abanya. "Selamat pagi Pak!"


Murid-murid lain segera mengikuti murid itu. Aku pun ikut juga untuk mengikuti para murid itu.