
Seperti biasa aku berangkat kuliah lebih awal dan aku pun sudah mulai tidak merasa sakit saat berjalan. Tak lupa aku pun menutupi semua bekas luka dan kantung mata ku dengan make-up.
Sampailah aku di halte dekat kampus dan berjalan kaki menuju kampus, ternyata Neysa sudah menunggu ku dan melambaikan tangan kepada ku.
"Kamu ini iya! Pulang ngga bilang-bilang, mana ngga bisa di hubungi. Bikin aku khawatir tau, untung ada Kakak. Yang ngabarin aku kamu pulang duluan ada urusan keluarga, emangnya ada urusan apa? Ibu baik-baik aja kan?" Ucap Neysa kesal dan khawatir sekaligus.
"Kalau ngomong itu pelan-pelan, Dek!" Ucap datar seorang laki-laki yang aku kenali suaranya.
Deg . . .
Seketika tubuhku gemetar, takut dan aku langsung berkeringat dingin. Saat aku menoleh dan mata kami saling menatap, cepat-cepat aku memalingkan wajah. Berusaha menenangkan diri ku, dengan menarik napas dalam. Hingga aku tak tau apa yang di katakan Neysa.
"Va. . . Va. . . Kamu ini aku ngomong ko ngga di dengerin sih!" Ucap kesal Neysa dan tiba-tiba Ega datang.
"Hosh. . . Hosh. . . Maaf aku telat lagi, ayo kita masuk. Udah hampir telat kita." Ucap Ega yang langsung menyeret tangan aku dan Neysa menuju kelas.
Dan kami pun berjalan tergesa-gesa menuju kelas, sekuat tenaga aku berusaha menyeimbangkan langkah ku dengan mereka.
"Untung belum telat, maaf iya gara-gara aku kalian hampir telat." Ucap Ega merasa tidak enak.
"Santai aja kali, kemarin aja aku juga hampir telat. Hahaha. . ." Ucap Neysa yang tertawa, sedangkan aku hanya diam dengan tatapan kosong.
"Eh iya juga iya! Hahaha. . ." Ucap Ega tertawa.
"Va. . . Va. . . Kamu kenapa sih? Dari tadi diem aja! Eh kamu ko pucat banget! Kamu sakit? Ya ampun maaf aku ngga tau! Gimana kalau kita k UKS saja, ayo mumpung dosen belum masuk." Ucap Neysa khawatir.
"Iya Va kamu pucat, kamu pasti kecapean iya? Udah sana istirahat di UKS, biar nanti aku yang minta izin ke Dosen hari ini." Ucap Ega khawatir.
"Aku baik-baik aja ko, kalian tenang aja." Ucap ku berusaha tersenyum.
"Kamu yakin?" Ucap Neysa ragu.
"Itu muka kamu pucat Va, lebih baik kamu istirahat saja. Tenang aja nanti aku akan memberikan catatan ku ke kamu." Ucap Ega.
"Bener ko, aku baik-baik aja, kalian ngga usah khawatir iya." Ucap ku berusaha meyakin kan mereka.
"Iya sudah kalau begitu, tapi nanti kalau kamu ngga kuat. Kamu kasih tau kita iya, kita ke UKS." Ucap Neysa khawatir.
"Iya tenang aja." Ucap ku.
"Eh iya. . . Kemaren kamu ada acara apa? Ko sampai pulang dari Rumah aku buru-buru, ngga pamit pula? Padahal kan aku bisa anterin kamu." Ucap Neysa penasaran.
"Oh. . . Jadi karena itu kamu telpon aku pagi-pagi kemaren?" Ucap Ega cemberut.
"Habisnya Eva ngga bisa di hubungi, aku kan khawatir tiba-tiba dia ngga ada di samping aku. Aku cari-cari kesemua ruangan dan tanya pembantu, tapi ngga ada yang tau. Eh tau-tau Kak Nathan keluar dari kamar tamu dan bilang kamu pulang pagi-pagi banget." Ucap Neysa menjelaskan.
'Aku bukan pulang, tapi aku ada di kamar yang sama dengan Kakak kamu Ney.' Ucap ku dalam hati.
"Memang nya ada acara keluarga apa Va? Setau kami, keluarga kamu kan cuman Ibu kamu aja!" Ucap Ega penasaran.
"Emmm. . . I-tu a-da sa-udara yang datang. Iya benar, ada saudara yang tiba-tiba datang ke Rumah." Ucap ku gugup karena berbohong.
"Saudara yang mana Va? Bukannya kata kamu saudara kamu ngga tau pada kemana semua? Ko aneh tiba-tiba ada yang datang, tapi kamu ngga kenapa-kenapa kan?" Tanya Neysa.
"Aku baik-baik aja ko, kalian tenang aja. Itu tiba-tiba aja ada saudara jauh yang mampir ke Rumah. Jadi aku terpaksa pulang pagi-pagi, maaf iya Ney." Ucap ku bohong.
"Iya ngga apa-apa ko, aku kan cuman khawatir takut kamu kenapa-kenapa di Rumah aku. Tapi bener kan kamu ngga apa-apa?" Tanya Neysa lagi.
"Iya bener ko." Ucap ku berusaha tersenyum.
"Va. . . Va. . ." Panggil Neysa yang menggoyangkan bahu ku, hingga aku tersentak dari lamunan.
"Eh. . . Iya ada apa?" Ucap ku bingung.
"Kelas udah selesai dari tadi tau, kamu kenapa sih? Banyak melamun, ada masalah apa? Ayo cerita ke kita." Ucap Ega penasaran.
"Aku baik-baik aja ko, kalian tenang aja." Ucap ku tersenyum.
"Tapi kamu beda banget hari ini." Ucap Neysa.
"Iya benar, kamu beda hari ini. Kaya ada yang kamu sembunyikan dari kita, ayo cerita dong!" Ucap Ega kepo.
"Beneran aku baik-baik aja, kalian tenang aja iya." Ucap ku berusaha meyakinkan mereka.
"Tapi kalau ada apa-apa kamu harus cerita iya!" Ucap Neysa.
"Iya pasti aku cerita ke kalian." Ucap ku.
"Eh iya, Ney!" Ucap Ega, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Apa?" Tanya Neysa sambil mengernyitkan kening.
"Tadi kamu bilang Kak Nathan yang bilang kalau Eva pulang pagi-pagi, berarti Kak Nathan ada di Rumah dong? Katanya ke Singapura?" Ucap Ega bingung.
Deg. .
Seketika aku pun teringat kembali dengan kejadian naas yang menimpa ku, tanpa mereka sadari badan ku mulai gemetar.
"Iya aku juga bingung, ko Kak Natha sudah ada di Rumah. Apalagi kata satpam semalem dia pulang dengan keadaan mabuk berat, makanya aku khawatir sama Eva. Takutnya ketemu Kak Nathan, nanti dia di apa-apain. Soalnya kalau udah mabuk itu serem dia, bahkan pernah mukulin satpam yang jaga di Rumah." Ucap Neysa sambil bergidik ngeri.
'Kamu benar Ney, Kakak kamu sangat menyeramkan saat dia mabuk. Tak hanya menyakiti fisik ku, namun menyisakan trauma yang mendalam untukku.' Ucap ku dalam hati sedih.
"Serem banget dong kalau kaya gitu, sampai berani main fisik kalau udah mabuk kaya gitu. Bener Va, kamu ngga di apa-apain kan sama Kakaknya Neysa?" Ucap Ega yang kemudian memandang wajah ku.
"Loh kamu kenapa?" Tanya Ega terkejut, saat melihatku.
"Kamu kenapa Va? Muka kamu pucat banget, badan kamu gemetar pula! Ayo kita ke UKS aja, kamu istirahat! Atau kita ke Dokter aja yuk!" Ajak Neysa khawatir.
"Iya ayo kita bawa ke Dokter aja sekalian, liat mukanya pucat gitu." Ucap Ega yang sama khawatir nya.
"Kalian ini lebay deh! Aku baik-baik aja ko, mungkin cuman kecapean aja." Ucap ku bohong.
"Ini beneran tau muka kamu pucat banget, kita ke Dokter aja iya. Kak Nathan juga masih ada di luar, nungguin aku. Kita minta anter dia ke Dokter iya, ayo kita berangkat." Ucap Neysa memaksa dan mencoba membantu aku berdiri.
Deg. . .
'Dia ada di sini?' Ucap ku dalam hati.
"Ngga perlu, makasih Ney. Eh iya! Aku pulang duluan aja iya, sampai jumpa besok." Pamit ku kepada mereka, dan bergegas sekuat tenaga melangkah keluar kelas dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
Brukk. . .
"Auuu. . . Maaf aku tidak sengaja." Ucap ku sambil mencoba bangun dan orang yang ku tabrak mengulurkan tangan membantu ku, aku pun menerimanya.
Deg. . .
"Ka-k Na-th-an." Ucap ku gemetar dan seketika aku merasa berkunang-kunang, setelah itu aku tak tau apa yang terjadi.