Obsess With Edrea

Obsess With Edrea
13


Dirumah sakit semuanya sudah berkumpul, ada banyak orang yang berada di ruangan rawat inap Edrea.


Untung saja ruangannya sangat besar jadi tidak engap didalam dan dapat menampung semua orang.


Jonathan, Miguel, Max dan Javier bersantai di balkon rumah sakit, sementara Alston, Christian dan Geraldo menemani Edrea.


Untuk  Jason sendiri dia lebih memilih selonjoran bersantai di sofa sambil bermain game lewat handphonenya, dia sedang mabar bersama Harvey dan Zain.


Tok. Tok.. 


"Woi buka!" Teriak seseorang yang mengetuk pintu ruang inap Edrea.


Edrea menoleh sebentar "pa, kayak suara om Roger." Ucapnya.


Geraldo juga menoleh, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah pintu, lalu membukanya dengan pelan.


Setelah dibuka, benar saja ada Roger berdiri didepan pintu bersama Karina istrinya yang tak lain adalah ibu dari Miguel dan Javier.


Roger menatap tidak bersahabat pada Geraldo, bisa-bisanya dia baru diberitahu sekarang, malah kedua anaknya yang pertama kali datang bukan dirinya!


"Gue turunin saham lo!" Kesalnya pada Geraldo.


Karina juga nampak kesal dengan Geraldo, dia kira dia ini apa sampai lupa dikabari? Huh.


Makanya Karian enggan melihat wajah Geraldo, takut tiba-tiba kekesalannya membuncak dan malah menjambak rambut adik iparnya itu.


Geraldo tidak meladeni Roger, dia acuh saja "masuk sana." Ucapnya.


Kakaknya yang satu ini memang sangat mengesalkan, apa-apa selalu dikomen dan disemprot sana sini.


Kicepnya saat kena marah Jacob doang.


Keduanya masuk dengan cepat, dan mereka berdua langsung menghampiri Edrea.


"Minggir, minggir." Usir Roger pada Alston dan Christian.


"Apasih?" Christian merenggut kesal melihat kedatangan Roger.


Alston mundur memberi ruang untuk Omnya itu bersama Edrea, karena dia malas mendengar ocehan Roger yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.


"Minggir sana bocah, udah berapa lama kalian bertapa disini? Sampai gak kabarin saya." Kesal Roger pada kedua keponakannya.


Christian juga mendelik kesal " Om sendiri kok baru tahu? Baru keluar goa?" Balasnya.


Roger ingin sekali membalas, tapi tatapan Karina sangat tidak bersahabat. "Gak usah kayak anak puber!" Ucap Karina pada Roger.


Roger hanya pasrah dan menurut, dia segera duduk didekat Edrea, begitupula dengan Karina.


Karina langsung memeluk Edrea dengan sayang, tak lupa dia menicum kedua belah pipi Edrea. "Sayang, kok sampai begini sih. Tante lemes denger kamu sakit." Karina curhat.


Setengah jam lalu, Miguel mengkabari Karina dengan tiba-tiba, alangkah terkejutnya dia saat mendengar Edrea dirawat dirumah sakit, pasalnya semenjak kecil Edrea sangat mereka jaga dan tidak pernah masuk rumah sakit sama sekali.


Karina sempat merawat Edrea setiap hari saat kecil, baru bisa berjalan saja Edrea sudah harus kehilangan Mama kandungnya, jadinya Karina yang merawat Edrea waktu kecil, Kadang-kadang juga Tatiana yang merawat Edrea beserta kakak-kakak Edrea waktu ditinggal mama kandungnya Tatiana dan Karina yang merawat mereka semua.


Jadi Edrea dan yang lainnya sudah mereka anggap anak sendiri.


"Gak papa tan, aku udah baikkan." Ucap Edrea pada tantenya Karina.


Karina masih tidak tenang, walau seribu orang yang bilang Edrea baik-baik saja, nyatanya Edrea masih dirawat dirumah sakit ini.


"Mau apa? Nanti om beliin." Ucap Roger, berharap Edrea akan kembali gembira dan tidak lagi mengingat hal-hal buruk yang terjadi.


"Burger dong om." Celutuk Max yang masuk kedalam ruangan, disusul Jonathan, Miguel dan Javier, Jonathan paling belakang sambil menutup pintu balkon.


"10 yah om, kami laper buangettt." Jonathan menimpali, dia menampilkan ekspresi kelaparan sambil memegangi perutnya.


Keduanya berbohong, nyatanya sebelum Roger dan Karina datang. Mereka semua sudah makan ditraktir Geraldo, bahkan Jonathan nambah dua piring.


Roger mendelik sebentar menampilkan wajah kesalnya "bukan kalian!"


Roger tahu bahwa mereka semua sudah makan, bukti bekas bungkusan masih ada di bak sampah, mereka kira dia bisa mengelabui Roger? Tidak bisa!


Roger kembali menatap Edrea "ayo mau makan apa?" Tanyanya lagi.


Dibelakang Roger, ada Jonathan dan Max yang kembali mengelabui, mengkode Edrea agar meminta burger 50 buah kepada Roger, biasanya Roger akan mengabulkan apa yang Edrea minta.


"Tawarin yang lain om, aku masih kenyang." Jawab Edrea.


Edrea tidak bernafsu makan jika begini keadannya, mereka semua selalu mendesak makan dan makan, bagaimana dia bisa makan dengan tenang kalo melihat tangannya saja dia tiba-tiba teringat darah.


"Oh kamu udah makan ya?" Lesu Roger.


"Makan buah satu biji aja dia tadi pa." Timbal Miguel yang sambil duduk disofa. Miguel tadi ingin mengupaskan lima buah lagi, tapi langsung ditahan oleh Edrea.


"Kok kamu gak makan sayang?" Karina melihat ternyata keranjang buahnya saja masih banyak berarti Edrea benar-benar tidak menyentuh itu.


"Gak tan, aku kenyang." Jawab Edrea lagi.


Dia ingin segera keluar dengan sesi tanya jawab makan, karena membuatnya semakin tidak mau makan!


Edrea hanya ingin cepet-cepet pulang dan menikmati masa sekolah tanpa hambatan lagi.


•••


Di lain tempat, Darren termenung memikirkan bagaimana kondisi Edrea sekarang.


Tadi sekolah sempat heboh, dan terpaksa seluruh siswa dipulangkan lebih awal, agar tidak ada kejadian lagi serupa menimpa yang lain.


Awalnya Darren tidak tahu bahwa kasus itu terjadi pada Edrea, jika bukan teman Edrea yang memberi tahu mungkin Darren akan selamanya tidak tahu kabar Edrea.


Gea dan Mikael mendatanginya dengan wajah pucat, tentu saja itu membuat Darren gugup apalagi tidak ada Edrea bersama mereka berdua.


Padahal Darren setelah mendengar kabar itu dari Gea dan Mikael, dia ingin langsung pergi kerumah sakit, tapi dia ditahan oleh Mikael.


"Jenguk lah bro, masa pacar sendiri lagi sakit lo gak nongol." Saran Sebastian, teman se geng mereka. Sebastian lebih tua tiga tahun dari Darren dan dia juga satu kampus dengan Kavel.


Darren mendongak mendengar omongan Sebastian "susah bang." Jawabnya.


Sebastian berdecak, dia sedikit geram dengan tingkah Darren "mau pertahanin gak? Kalo lo gini mending putus aja saran gue." Kesalnya pada Darren.


Darren segera menggelengkan kepalanya "gak lah."


"Yaudah SANA CEPETAN JENGUK!!!" Geram Sebastian sampai teman-temannya menoleh.


"Lo ngapa anj*ng?" Hardik Kavel menatap Sebastian.


"Kesel gue sama ni bocah, jangan labil dong! Gue jadi greget sendiri liatnya." Ucap Sebastian yang masih menggebu-gebu.


Kavel melihat kearah Darren "pacar Edrea kan?" Tanyanya.


Darren sontak mengangguk "ya."


Kavel jadi paham "udah bagus aja dia gak jenguk." Ujarnya. Dia tahu bagaimana sifat-sifat absurd keluarga Edrea itu. Tapi menurutnya wajar saja mereka melakukan itu.


Kavel juga jika hanya punya satu anak perempuan pasti akan sangat dia jaga.


Sebastian semakin tidak Terima "kok gitu? Berjuang lah.'' tekannya.


Kavel menggelengkan kepalanya " Nyerah lah, ngapain berjuang buat yang gak pasti?"


Sebastian masih kekuh dengan pendiriannya "kalo kita berani pasti Tuhan ngasih jalan! Lo coba dulu makanya kalo gagal ya udah gagal aja sana, beres." Sebastian berkomentar lagi.


Kavel berdecak kesal "gak ada kesempatan! Lo liat aja tuh keluarga macam apa."


"Tau gue, makanya kan gue bilang berusaha dulu, gagal ya gakpapa asal berusaha dulu!" Jawab Sebastian.


"Ya udah lah sana! Serah lo berdua." Final Kavel yang memilih untuk tidak lagi berdebat dengan Sebastian.


Darren menghembuskan nafasnya dalam, obrolan keduanya membuat kepalanya semakin pening.


Sebastian menghadapnya lagi "besok jenguk deh, nanti gue temenin." Ajak Sebastian.


Darren berpikir sebentar, benar. Berusaha dulu apa salahnya? Gagal berarti memang Takdirnya yang tidak bisa bersama, kalau berhasil berarti memang jalannya seperti itu.


"Oke, setuju." Ucap Darren.


Sebastian tersenyum bangga "sip, besok lo harus bawa buah tangan Banyak-banyak! Kalo gak bawa percuma lo nanti belum masuk udah ditendang duluan." Saran Sebastian.


Darren hanya bisa mengangguk paham.


•••


Jam satu malam, Edrea terbangun karena perutnya yang kelaparan.


Jonathan dan Jason pulang ke Mansion Geraldo, sedangkan Miguel dan Javier juga pulang bersama kedua orang tuanya yaitu Roger dan Karina.


Untuk Geraldo sendiri, dia terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan dari perusahaan Jacob dulu karena besok Jacob akan kembali, jadi bisa dibilang dia lembur kerja.


Ruang rawat inap Edrea gelap karena lampu dimatikan, Max dan Christian tertidur disofa.


Edrea menoleh kesamping, ada biskut disana dan pas sekali dia lagi lapar.


Tangan Edrea terulur untuk mengambil biskuit itu.


Tapi biskuit itu langsung diambil oleh seseorang.


Dia adalah Alston, ternyata Alston belum tidur dan dia tadi berada di balkon. Melihat Edrea terbangun dia segera menghampiri Edrea.


"Kamu lapar?" Tanya Alston.


Edrea meringis mendengar perkataan Alston, jangan diperjelas juga kali lah.


Melihat Edrea diam, Alston segera mengambil makanan yang ada di meja.


"Kamu bersandar saja." Alston membenarkan bantal Edrea agar dia nyaman bersandar.


Alston mulai menyuapi Edrea makan.


Edrea malu bukan main, untung saja kakaknya yang lain masih tidur, jika salah satu bangun Edrea benar-benar akan menghentikan makannya sekarang juga.


Jika saja tangannya tidak terluka, dia pasti akan makan sendiri.


Tapi walaupun begitu, karena suasana dia lagi lapar. Jadi dia memakan habis tidak bersisa.


Alston memberikan minum pada Edrea dengan perlahan.


Alston melihat adiknya lahap makan membuat hatinya tenang.


Dia tahu bahwa sejak sore tadi Edrea seperti lapar tapi dia tahan lapar nya itu.


Alston tidak tahu alasan apa Edrea mengaku kenyang, jadi Alston sisakan makanan satu kotak untuk jaga-jaga saat malam hari Edrea akan bangun untuk makan.


Ternyata dugaannya benar.


Setelah kenyang, mata Edrea menjadi berat. Rasa ngantuk sangat cepat menyerangnya.


"Rea, jangan tutup matamu, tidak baik sehabis makan langsung tidur." Ucap Alston.


"Aku gak bisa melek, berat banget ni mata." Gumamnya yang masih memejamkan matanya, mungkin sudah otw ke alam mimpi.


Alston menghela nafasnya, dia saat ini tidak mau memaksa Edrea.


Alston membiarkan saja Edrea tidur dengan bersandar selama beberapa menit, dirasa cukup waktunya untuk berbaring, Alston segera membenarkan posisi Edrea dan menyelimuti tubuh adiknya dengan benar.


Mengecup singkat kening Edrea, sekarang Alston juga bisa tidur dengan tenang.