My Sweet Journey

My Sweet Journey
Berjuang


Santo menarik Nurul yang baru saja keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja, sehari setelah pertemuan gadis itu dengan Rossa. Santo yang mengikuti dua wanita beda status tersebut, tidak mendapatkan informasi apapun. Padahal Santo sudah berusaha sedekat mungkin dengan tempat dua bestie itu berbincang-bincang.


Santo setengah menyeret Nurul yang langsung berontak dengan ulah asisten kepercayaan kanjeng mami itu. "Masuk!" Satu perintah dari Santo justru membuat gadis itu bergeming. Tatapan Nurul memang selalu dingin dan penuh tantangan pada Santo.


"Jangan membuatku tambah emosi, Rul." Santo menurunkan nada suaranya. Berharap Nurul akan menurut padanya. Bukannya segera mengikuti permintaan Santo, ingatan Nurul justru kembali ke waktu kemarin. Saat dia dan Rossa bertemu.


"Kakakku tidak mengizinkan aku melangkahinya. Padahal pacar saja dia tidak punya. Mau sampai kapan aku menunggu?"


"Karena itu, kamu mengabaikan Santo?"


Nurul kala itu menangguk, dia tidak mau memberi harapan lebih pada Santo, sebab itu hanya akan menyakiti Santo. Nurul bahkan berpikir sampai sejauh itu. Apa dia punya rasa pada Santo? Tentu saja dia memiliki. Hanya wanita bodoh yang tidak tertarik pada Santo. Pria yang selalu tampil rapi, wangi, klimis. Ditambah aura dingin dan cuek. Santo adalah kebalikan dari Aria dan Amato. Karena Aria dan Amato masih bisa bertingkah tengil saat di luar kantor. Tapi Santo tidak. Di dalam dan luar kantor dia sama dingin dan kakunya seperti robot masuk ke kulkas.


Helaan nafas berat terdengar dari bibir Nurul. Sungguh dia ingin berjuang, tapi Nurul takut jika keinginannya hanya bertepuk sebelah tangan. Nanti dia sendiri yang kecewa. "Katakan apa salahku? Kenapa kamu menghindariku?" tanya Santo. Si robot harus ekstra keras berusaha menurunkan kekakuan yang ada pada dirinya. Santo cukup tahu diri.


"Tidak ada." Nurul berjalan melewati Santo, berusaha cuek, meski dia juga merasa sedih. Santo menahan tangan Nurul. "Jika kamu masih diam, aku akan bawa kanjeng mami untuk melamarmu." Akhirnya keberanian itu datang juga.


Kalau dulu Nurul akan melompat saking senangnya mendengar ucapan Santo, sekarang tidak. Wajah Nurul berubah risau. "Jangan lakukan itu." Mohon Nurul, wajah gadis itu berubah sendu. Hal yang membuat Santo tidak berani berucap lagi. Nurul yang biasanya galak pada Santo kini bersikap sebaliknya. Gadis itu tampak putus asa, dengan rupa ingin menangis.


"Iya....iya...aku tidak akan melakukan itu." Habis sudah sikap dingin dan cuek Santo, melihat Nurul yang menunduk. Pada akhirnya pria itu hanya diam sepanjang perjalanan menuju rumah Nurul.


"Halo, ini mas Santo ya." Seorang wanita menyapa Santo, saat pria itu turun membukakan pintu untuk Nurul. Dua alis Santo tampak bertaut heran, melihat tingkah perempuan yang Santo anggap kecentilan itu. Pria itu reflek menarik diri saat si perempuan begitu antusias ingin menjabat tangan Santo.


"Maaf, bukan muhrin. Rul pulang dulu, sampaikan salam pada bapak ibu, tidak sempat mampir." Santo langsung putar balik tanpa menunggu jawaban Nurul, pria itu bergidik ngeri mengingat wanita tadi. "Murahan sekali." Maki Santo. Sejauh ini, Santo belum pernah bertemu wanita menye-menye yang seolah menawarkan diri pada lelaki, kecuali Katy "Suketi" Sunders. Yah, dia jangan disebut lagi. Bahkan setingkat Shilda yang ceplas ceplos kalau ngomong, Shilda cuma menang omong thok, soal tindakan Shilda nol besar.


"Ingat ya, mbak gak mau dilangkahi!" Kakak Nurul yang bernama Meri itu seketika memasang tampang judes pada Nurul. Lah, dari nama saja sudah kelihatan.


Dari dalam rumah bapak dan ibu Nurul hanya bisa menarik nafas bersamaan, mereka tahu maksud Meri. Putri sulungnya itu menyukai Santo. "Iki piye pak? Mesakke Nurul." (Ini bagaimana pak? Kasihan Nurul)


Pak Burhan hanya bisa menghembuskan nafas kasar menanggapi pertanyaan istrinya. Pria itu juga tidak bicara melihat Nurul yang langsung masuk ke kamar. Pak Burhan pikir dia harus melakukan sesuatu.


Rumah besar keluarga Aria. "Teh Ocha...." suara Santo menggema di lantai satu rumah besar itu, memanggil nyonya muda kediaman itu.


"Ngapain nyari bini gue?" Aria yang menjawab panggilan Santo.


"Pinjem bentar, mau konsultasi." Balas Santo acuh. Mata pria itu terarah ke pintu kamar Aria di lantai dua. Sementara si pemilik kamar menatap tajam pada Santo.


"Buat apaan? Awas ya kalau aneh-aneh." Aria memperingatkan Santo. Aria makin ke sini, makin posesif saja pada Rossa.


"Jangan! Mereka baru...." Aria menaikkan dua alisnya sebagai kode. Santo perlu beberapa detik untuk memahami maksud Aria. Sampai Santo menepuk dahinya sendiri. "Mereka baru unboxing sekarang? Betah amat, sebulan nikah baru jebol gawang." Sudahlah akhirnya keluar juga sisi somplak seorang Santo.


"Yeeyy, itu saja harus di-push sama kanjeng mami."


Ha? Bagaimana caranya? Pertanyaan itu yang mewakili ekspresi wajah Santo saat ini. Sampai mata Santo membulat setelah Aria membisikkan sesuatu. "Yang benar? Memang ada yang seperti itu?"


"Adalah, nyatanya tu dua orang gak keluar kamar dari habis sarapan."


"Astahfirullah, kalau mereka mokat karena kelelahan gimana. Kayak yang di cerita...." Santo berhenti bicara saat Aria menoyor kepala Santo.


"Mokat...mokat....mereka tidurlah, kecapekan abis gelud di kasur." Santo membulatkan mata, bersamaan dengan Rossa yang turun dari kamarnya. "Apaan sih, berisik. Nungguin Adnan tidur."


"Dah gedhe lo dia, gak boleh tidur campur kalian." Santo memperingatkan. Aria dan Rossa pun mengiyakan. Ketiganya kini duduk di ruang keluarga. "Mau bicara apa?" tanya Rossa to the poin.


"Soal Nurul. Kalian bicara apa hari itu?" Santo pun tak kalah terus terangnya. Aria dan Rossa saling pandang. Hingga anggukan pelan dari Aria membuat Rossa menarik nafas dalam. Tak lama mengalirlah cerita dari mulut Rossa. Dengan Santo hanya diam menyimak.


Sampai akhirnya, tarikan nafas dalam terdengar dari bibir Santo seusai Rossa bercerita. "Solusinya apa?" todong Santo seketika, tanpa basa basi.


"Lamar aja lah langsung." Sambar Aria cepat.


"Lah kalau dia gak terima, malu dong aku."


"Ya kali Nurul mau buat malu kamu." Kompor Rossa. Perkataan Rossa membuat Santo mengangkat wajah, melihat Aria dan Rossa bersgantian. Rossa sebenarnya hanya sedikit memberi dorongan pada Santo untuk maju. Nurul jelas tidak berkutik di bawah ancaman sang kakak. Tapi jika dilogika, apa gadis itu akan menolak saat Santo datang mengulurkan tangan padanya. Satu kesempatan yang pasti tidak akan Nurul sia-siakan.


"Keputusan ada di tanganmu. Resiko tahu sendiri, antara di tolak atau diterima.Tapi hubungan kalian tidak akan berkembang jika tidak ada yang memulai. Jadi sebagai laki-laki, aku sarankan padamu untuk maju. Tunjukkan kalau kamu serius padanya. In sya Allah dia akan bisa merasakannya. Ada kemungkinan kalau dia akan menerimamu karena kamu mau berjuang untuknya."


Saran dari Aria membuat Santo terdiam. Pria itu tengah mempertimbangkan perkataan putra bosnya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***