
"Tuan!"
Zades berteriak dengan suara parau saat melihat sosok yang selama ini dia cari akhirnya muncul setelah sekian lama ditelan bumi.
"Kemana saja Anda selama ini?" tanyanya campur aduk.
Namun tak kunjung dibalas oleh Damian. Sosok tuannya itu masih saja berdiri membelakangi tubuhnya. Memilih bungkam seraya memandangi aliran air terjun diseberang.
"Apa Anda akan diam saja? Bangsa vampir kini telah kembali dan mulai berulah! Mereka bahkan mulai merampas separuh wilayah kekuasaan kita. Tuan! Apa Anda akan diam saja?!"
Masih hening. Meskipun Zades sudah menjelaskan semua permasalahan yang tiga tahun belakangan ini terjadi, tuannya itu tetap saja diam membisu di tempatnya berdiri.
"Apa ini karena Luna?"
Deg!
Degup jantung Zades seketika berpacu lebih cepat dari pada sebelumnya saat ditatap tajam oleh mata itu. Yah, tatapan dingin nan bengis yang sudah lama dia tak pernah lihat. Kini, mulai tampak diwajah tuannya.
"Jangan pernah sekalipun kau menyangkut-pautkan Lisa dalam urusan ini!" Damian tampak menggeram pelan. "Gadis itu tidak terlibat."
Sepertinya memang benar, jika cinta mampu mengubah segalanya. Salah satunya, hati milik tuannya itu. Damian yang dulu dingin dan tak pernah tersentuh, bisa hancur begini hanya karena seorang gadis?
"Lalu hamba harus menyalahkan siapa?" Zades terlihat menjeda ucapannya.
"Seharusnya Anda malu, karena jika Luna melihat sikap Anda yang seperti ini. Dia pasti akan merasa kecewa dan sedih."
"Sungguh?" balas Damian tiba-tiba.
Zades perlahan tersenyum tipis. "Yah, karena Luna adalah orang yang paling benci dengan ketidakadilan."
***
"Kau serius akan pergi sekarang?" tanya Lisa saat melihat Jimmy mengenakan pakaian perangnya dibantu pelayan.
Menoleh sedikit, Jimmy kemudian menjawab. "Tentu, memangnya kenapa?"
"Kau seharusnya mengajakku juga."
Tersenyum tipis, Jimmy segera menghampiri Lisa, lantas memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Aku takut kau sakit, terlebih lagi salju sedang turun lebat di luar."
Lisa yang mendengar itu, membalikkan tubuhnya. Membuat dirinya dan Jimmy saling berhadap-hadapan sekarang.
"Vampir tidak bisa sakit."
"Tapi kau bisa terluka," balas Jimmy cepat.
"Setidaknya, jangan buat aku cemas sendirian di sini." Lisa membalas lagi, membuat Jimmy akhirnya menganggukan kepalanya. Pertanda kalah.
"Baik, kau bisa memegang busur dibelakang barisan untuk berjaga-jaga," ucapnya lembut yang langsung dihadiahi senyuman manis milik Lisa.
***
Hari ini seperti apa yang Jimmy bilang tadi. Salju benar-benar turun begitu lebatnya menutupi segala tempat. Membuat Lisa yang akhirnya ikut berperang, merapatkan mantel berbulu seraya diam-diam mengintai dari atas pohon Cemara.
Matanya begitu awas melihat sekeliling, dengan busur yang sudah stand by ditangan. Yah, meskipun dia berada dibarisan paling belakang, tapi kemampuan melihat jarak jauhnya jangan diragukan lagi.
Dari atas sini, Lisa bisa melihat dengan begitu jelas satu persatu bangsa serigala mulai muncul dan berkumpul. Meskipun jumlahnya terlihat lebih sedikit daripada klan vampir. Tapi ukuran tubuh bangsa serigala bisa melawan beberapa orang vampir sekaligus.
Benar-benar siasat yang tak terduga. Hanya saja ...
Deg!
Kepalanya mendadak kembali merasakan pening saat melihat satu sosok yang berdiri ditengah-tengah barisan. Seorang pria berkulit gelap dengan tubuh kekar, yang entah mengapa membuat hatinya merasakan sesak luar biasa.
Siapa? Dan mengapa hal ini bisa terjadi?
Di saat kesadarannya mulai kembali, Lisa mulai melihat peperangan itu terjadi.