My Imagine

My Imagine
26. Pembunuh Vian


Herra kembali ke apartemennya tepat pukul sembilan malam. Karena habis acara pemakaman, Herra langsung membantu acara layatan di rumah Vian. Apalagi Vian adalah seorang anak yatim piatu. Ia sudah hidup sendiri sejak kecil. Jadi tentu saja ia harus membantu karena bagaimanapun Vian adalah teman sekaligus mantan pacarnya juga.


Seberapa bencinya ia pada pria itu tetap saja, ada kenangannya yang tersimpan bersama pria itu. Lagipula mereka juga teman dari sejak SMP. Anggap saja ia pergi ngelayat untuk teman sekolahnya itu.


Saat di acara layatan itu, lagi-lagi Dara menunjukkan sikap curiga kalau Herra-lah penyebab dari kematian Vian. Herra hanya bisa pasrah. Padahal hubungan mereka baru saja membaik. Tapi datangnya masalah ini membuat hubungannya dengan Dara kembali retak.


Padahal ia sama sekali tak mengetahui hal itu. Percuma mau berbicara apa pun pada Dara. Karena matanya sudah buta dengan kecurigaannya pada Herra. Mending dia diam saja daripada semakin membuat runyam masalah itu. Apalagi tadi mereka berada di rumah layatan. Tak baik untuk memulai pertengkaran.


Tak ada sapaan saat dia masuk ke dalam apartemennya. Herra melegang masuk ke dalam tanpa melihat Rizhan yang tengah duduk di kursi ruang tengah. Ia tahu jika teman khayalannya itu ada di sana, tapi ia tak mau menyapa karena rasa lelah yang ada pada tubuhnya itu. Ia hanya ingin cepat-cepat tidur di ranjang empuknya itu.


"Kenapa lama banget pulangnya?" tanya Rizhan dengan nada dingin.


Herra menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Rizhan. Ia segera membalikkan tubuhnya dan melihat Rizhan yang tengah berjalan ke arahnya. Herra menatap pria itu dengan wajah datar.


Herra menghembuskan napas kasar. Entah kenapa saat melihat sosok Rizhan, membuatnya langsung berpikir kalau Rizhan adalah dalang dari kematian Vian. Tak ingin melepas emosinya yang sedang tidak stabil itu, Herra melegang pergi untuk ke kamarnya. Daripada akan muncul pertengkaran lagi.


Namun, Rizhan dengan cepat menahan tangan Herra untuk masuk ke dalam kamar.


"Herra, aku lagi bertanya padamu. Kenapa enggak jawab?!" protes Rizhan dengan tatapan amarah.


Herra langsung menghempas tangan Rizhan. Rizhan pun sedikit terkejut dengan perlakuan Herra. Ia sudah lelah hari ini.


"Maaf, aku lagi capek banget. Aku permisi," balas Herra dengan nada dingin seraya kembali memasuki kamarnya.


Namun, Rizhan kembali menahan Herra masuk ke dalam kamarnya. Rizhan kesal melihat wanita itu malah mengabaikannya.


"Kamu belum menjawab kenapa kamu pulang larut Herra?!" geram Rizhan seraya menekan bahu Herra hingga Herra mengaduh kesakitan.


"Auh!" keluh Herra


Rizhan segera melepas pegangan tangannya di bahu Herra dan melunakkan tatapannya. Ia tak bisa terus marah pada wanita di hadapannya ini.


"Maaf Herra. Aku udah kasar. Aku hanya ingin kamu menjawab pertanyaanku saja. Apa susahnya sih?" keluh Rizhan seraya mengelus rambut Herra dengan lembut.


Herra menghempaskan tangan Rizhan hingga membuat Rizhan terkejut dengan perlakuan Herra padanya. Herra semakin tak menyukainya.


"Heh, seharusnya kamu tau kemana aku pergi kan?" duga Herra dengan pandangan tajam dan menyindir.


Bahkan matanya Herra sudah memerah karena ingin menangis. Rizhan jadi merasa bersalah. Ia sangat tidak suka melihat Herra menangis.


"Aku enggak tau kemana kamu pergi. Kalau aku tau, enggak mungkin aku nanya," jawab Rizhan dengan nada lembut.


Rizhan takut menggunakan nada amarah karena Herra sudah hampir menangis.


"Aku pergi ke untuk pemakaman Vian. Vian itu udah mati. Kamu jawab yang jujur Rizhan. Apa kamu yang membunuh Vian?" tanya Herra dengan tatapan selidik.


"Kalau iya kenapa? Kamu kesal aku udah bunuh dia?" tanya Rizhan dengan smirk jahatnya.


Herra melebarkan matanya tak percaya. Ia bahkan menutup mulutnya menahan isakan yang keluar.


"Ke-Kenapa kamu membunuhnya?" tanya Herra dengan terbata.


Herra jadi mengingat pembicaraannya dengan Vian tempo lalu. Berarti Rizhan sudah mendengar semuanya. Kalau tahu gitu mending Herra tidak usah mengangkat telpon dari Vian. Walaupun bukan tangannya yang menyentuh langsung, tapi tetap saja Herra ada sangkut pautnya dengan pembunuhan itu.


"Aku enggak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Kamu kenapa sih Rizhan?! Kamu bener-bener berubah! Kamu bukan lagi Rizhan penyelamatku. Melainkan seorang iblis," tukas Herra seraya masuk dalam kamarnya seraya membanting pintu kamar itu.


Kali ini Rizhan tak menahannya untuk masuk ke kamar. Rizhan memasang wajah penuh amarah setelah Herra masuk ke dalam kamarnya. Bahkan ia mengepalkan tangannya. Matanya pun jadi berwarna merah karena amarah.


***


Herra masih menangis di kamarnya setelah pembicaraannya dengan Rizhan. Herra masih tidak habis pikir dengan kelakuan Rizhan. Bagaimana bisa dia dengan seenaknya membunuh orang. Apa dia mengira nyawa manusia itu tidak ada harganya di matanya?


Akibat dari lamanya ia menangis, Herra akhirnya tertidur dengan mata sembab tanpa mengganti pakaian kantornya.


***


Herra terbangun dengan sinar matahari yang masuk melalui celah kamarnya. Ia melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Untung saja ini hari Minggu, jadi Herra bisa bangun kesiangan. Karena tadi malam ia baru tertidur pukul tiga pagi.


Herra sering terbangun dari tidurnya karena memimpikan Vian yang mati terbunuh. Ia memeluk lututnya erat.


'tok-tok'


'cklek'


Sosok Rizhan memasuki kamarnya dengan nampab yang berisi makanan untuknya. Herra mengalihkan pandangannya dari Rizhan. Entahlah dia kesal dengan Rizhan saat ini.


"Kenapa masih kesal? Aku tau kamu kesal. Tapi kamu jangan enggak makan dong, sayang. Aku jadi khawatir nanti," ucap Rizhan seraya duduk di dekat kasur Herra.


Herra masih tak bergeming. Tirai yang masih tertutup itu lebih menarik baginya dibandingkan dengan melihat wajah Rizhan. Karena jika melihat wajah Rizhan, ia akan diliputi oleh rasa bersalah pada Vian.


"Herra, ayo makan," perintah Rizhan


Herra masih tak bergeming. Rizhan segera mengeluarkan napas kasar.


"Kamu mau makan atau aku membunuh orang lain lagi di depanmu," ancam Rizhan


Herra langsung menoleh pada Rizhan dan memandangnya dengan tatapan tak percaya.


"Apa kamu pikir membunuh manusia itu sebuah permainan?! Kenapa kamu dengan mudah membunuh sebuah nyawa?!" protes Herra dengan pandangan tajam.


"Bagiku tak ada yang lebih penting dibandingkan dengan bersamamu. Aku akan melakukan ini selama ada orang yang berusaha membuatmu jauh dariku," tukas Rizhan yang menatap dalam wajah Herra.


Herra segera mengambil nampab di tangan Rizhan. Ia menyuapi dengan paksa makanan ke dalam mulutnya. Ia sungguh tak mau ada korban lain lagi.


Aku harus segera memutuskan kontrak ini bagaimanapun caranya ~ batin Herra


Kamu hanyalah milikku Herra. Kamu enggak akan bisa pisah dariku ~ batin Rizhan


To be continued....