My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 99


Sudah terhitung 5 hari sejak Fanya mengetahui dirinya hamil. Namun sampai saat ini ia belum juga cek ke rumah sakit. Ia masih terlalu takut jika harus mendengar kabar buruk dari janin yang tengah ia kandung.


Sedangkan Zico, ia belum juga tau jika sang istri tengah berbadan dua. Dan masalah kondisinya saat ini sudah jauh lebih baik dari beberapa hari belakangan ini. Tapi walaupun begitu, ia masih sesekali merasakan mual walaupun tidak sampai muntah.


"Sayang, aku ke kamar dulu ya," ucap Zico dengan mengecup kening Fanya. Mereka berdua baru saja selesai makan siang bersama. Namun karena Fanya masih sibuk makan dan Zico sudah merasa mual kembali, ia memilih untuk lebih dulu menuju ke kamar mereka. Tentunya Fanya mengerti akan kondisi sang suami yang belum juga fit itu.


Fanya menengadahkan kepalanya lalu dengan senyumannya ia menganggukkan kepala sebelum dirinya kembali fokus dengan makan di hadapannya.


Zico yang melihat hal itu pun ia hanya geleng-geleng kepala. Kemudian ia baru melangkahkan kakinya menuju ke lantai tiga, dimana kamar mereka berada tentunya dengan lift yang akan mengantarnya.


Sesampainya dia berada di kamar, Zico langsung mencari keberadaan obat yang biasanya ia minum ketika mengalami mual seperti saat ini. Namun sayangnya, obat yang tengah ia cari tak kunjung ia temukan.


"Astaga, dimana sih itu obat?" gumam Zico dengan mengacak rambutnya. Ia berharap semoga saja ia masih bisa tahan dengan rasa mualnya.


Zico terus mencari obat yang ia butuhnya dengan membuka seluruh laci nakas. Namun lagi-lagi ia tak menemukannya. Hingga tatapannya kini mengarah ke laci meja rias Fanya.


"Apa mungkin disana kali ya?" tanya Zico dengan melangkahkan kakinya mendekati meja rias Fanya.


Dan sesampainya di depan meja rias itu, Zico segara membuka bagian-bagian lagi disana. Hingga saat lagi kedua ia buka, tangannya yang tadi bergerak, mengobrak-abrik isi di laci itu seketika diam bertepatan dengan matanya yang tak sengaja melihat suatu benda yang sangat ia tau benda itu apa. Dengan kerutan di keningnya, Zico meraih benda itu.


"Test pack?" beo Zico dengan melihat-lihat benda pipih itu.


Hingga matanya terbuka sempurna saat ia melihat hasil dari test pack tersebut.


"Pregnant? Hamil? Hasilnya positif hamil?" ucap Zico dengan binar mata bahagia.


"Tapi tunggu, ini hasil test pack milik siapa? Kenapa bisa ada di sini? Apa jangan-jangan milik Fanya lagi? Tapi apakah mungkin dia hamil? Bukannya dokter Ariana sudah memvonis dia tidak bisa hamil lagi? Apa jangan-jangan milik orang lain lagi? Tapi kalau memang milik orang lain, kenapa bisa sampai sini dan siapa yang bawa? Lagian kalau di nalar lagi, sangat impossible orang lain meletakkan hasil test pack miliknya di kamar orang lain seperti ini. Lagian kamar ini juga hanya di masukin aku, Fanya dan bik Nem saja. Dan jika menuduh, lebih tidak masuk akal lagi karena beliau sudah tua yang tentunya juga sudah tidak akan bisa hamil lagi. Tapi jika test pack ini milik Fanya, kapan dia testnya? Diwaktu-waktu dekat ini atau udah lama? Karena takutnya hasil test pack ini adalah hasil test pack terakhir dia hamil," ucap Zico yang tiba-tiba galau. Ia ingin bahagia karena jika di logika test pack yang ada di tangannya memang milik Fanya, tapi ia juga takut. Takut ketika ia sudah bahagia, kebahagiaan yang ia rasakan hanya sesaat saja karena ia belum tau kapan Fanya mendapatkan hasil test pack ini.


Helaan nafas pun terdengar dari Zico.


"Huh, apa aku tanya Fanya saja ya? Biar jelas gitu," gumam Zico. Ia menimang-nimang apakah ia harus bertanya kepada Fanya dan biar rasa penasarannya itu segara terjawab atau ia memilih untuk tetap diam saja seolah-olah ia tak tau masalah test pack ini hingga Fanya sendiri lah yang nanti memberitahu kepadanya?


Saat Zico tengah menimbang-nimbang, memilih untuk bertanya atau terus bungkam, pintu kamar itu tiba-tiba dibuka, memperlihatkan Fanya yang baru masuk kedalam kamar itu.


Dan jika sudah seperti ini, ia tidak bisa lagi untuk mengelak apalagi menyembunyikan tentang kehamilannya dari Zico. Sehingga dirinya kini menghela nafas, dan dengan mencengkeram sisi dress yang tengah ia kenakan, dirinya berjalan mendekati Zico.


Baru saja ia berada di hadapan laki-laki itu, Zico sudah angkat suara.


"Bisa jelaskan tentang ini sekarang?" ucap Zico dengan mengangkat test pack tersebut.


Fanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, kamu jelaskan setelah kita duduk." Zico melangkahkan kakinya terlebih dahulu menuju ke sofa yang berada di dalam kamar tersebut. Tentunya langkah kakinya diikuti oleh Fanya di belakang.


Keduanya kini telah duduk berdampingan di sofa panjang. Zico merubah posisi duduknya menjadi menyamping agar ia bisa menatap wajah sang istri.


"Jelaskan sekarang," pinta Zico yang lagi-lagi diangguki oleh Fanya. Wanita itu juga sudah menghadap kearah Zico.


Fanya perlahan mengangkat tangannya, lalu ia mulai menjelaskan apa yang memang harus ia jelaskan dan harus Zico ketahui.


"Sebelumnya maafkan aku yang sudah menyembunyikan masalah ini darimu. Tapi yakinlah aku tidak berniat seperti itu. Karena aku akan tetap memberitahu masalah ini kepadamu ketika semuanya sudah pasti. Aku takut kamu akan kecewa lagi ketika sudah tau hasil dari test pack ini yang memang menunjukkan kalau aku hamil tapi setelah kita periksa ke dokter justru kabar menyedihkan yang akan kamu terima. Dan seperti yang kamu lihat di dalam test pack itu. Aku memang mendapatkan hasil positif hamil lima hari yang lalu. Tapi sampai saat ini aku belum berani periksa ke dokter kandungan. Maafkan aku."


Zico yang melihat penjelasan dari Fanya, ia memejamkan matanya sesaat sebelum ia merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya.


Ia usap punggung Fanya dengan sesekali ia memberikan kecupan manis di puncak kepala Fanya sembari berkata, "Aku sudah memaafkanmu. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya. Apapun masalahnya entah sedih ataupun kebahagiaan yang masih abu-abu ini, aku berhak tau sayang karena aku tidak mau kamu melewatinya sendiri. Aku mau kita lewati bersama-sama. Begitu juga dengan kabar bahagia yang masih abu-abu ini, kita harus saling bergandeng tangan. Apapun nanti hasilnya kita harus selalu menguatkan. Jadi kita hari ini ke dokter ya, memastikan apakah memang kali ini kita akan mendengar kabar bahagia atau tidak. Kamu mau kan sayang?"


Zico sedikit melonggarkan pelukannya, menatap mata Fanya yang berkaca-kaca.


Sedangkan Fanya, dengan ragu ia menganggukkan kepalanya. Dan saat ia membalas ucapan dari sang suami, Zico langsung mengecup keningnya begitu lama sebelum ia melepaskan ciuman serta pelukannya.


"Ya sudah kalian gitu kamu siap-siap sana gih. Aku juga mau siap-siap soalnya." Lagi dan lagi Fanya menganggukkan kepalanya, lalu kemudian ia beranjak dari samping Zico menuju ke walk in closed.


Kepergian dari Fanya tadi tak luput dari pandangan Zico. Laki-laki itu terus menatap punggung Fanya dengan batin yang berkata, "Ya Allah, tolong sekali saja biarkan hamba dan istri hamba mendapat kabar bahagia untuk hari ini. Hamba butuh kun fayakun darimu ya Allah. Aamiin."