
Ke mana arah pandangan Firhan sekarang memang tidak kepada Tiana. Rupanya gerakan kecil dari Firhan itu disadari oleh Tiana, hingga Tiana pun bertanya kepada Firhan.
"Emang ada orang lain di sini yang kamu kenali yah?" tanya Tiana.
Mendengar pertanyaan dari Tiana, Firhan merasa gelapan. Di sana ada Ervita, lalu mungkinkah dia mengatakan bahwa ada Ervita di sana. Menurut Firhan, sudah pasti Tiana juga tahu mengenai Ervita karena mereka juga satu angkatan dan satu kelas.
"Enggak ada siapa-siapa," balas Firhan.
Kemudian Firhan melihat ke arah yang lain dan melihat jam di pergelangan tangannya. "Kenapa obatnya lama yah?" tanya Firhan.
"Belum lama ... baru lima menit kok," sahut Tiana.
Rupanya di Poli Anak, Ervita sudah selesai mengimunisasikan Indira. Terdengar bayi itu menangis dan Pandu segera berdiri. "Nangis yah Indira nya?" tanya Pandu.
"Iya, nangis telat," balas Ervita.
Pandu kemudian membuka kedua tangannya, "Sini, biar aku gendongkan Indira dulu. Kamu perbaiki selendangmu dulu saja. Kenapa suka gendong pakai jarik sih?" tanya Pandu kemudian.
Sekarang sudah modern, para ibu muda biasanya menggunakan gendongan kekinian, tetapi Ervita masih menggunakan jarik selendang untuk menggendong bayinya. Ervita pun tersenyum, "Iya, mewarisi tradisi. Lagian, gendong pakai jarik enak juga kok. Kencang dan tidak sakit di punggung," balasnya.
Pandu menganggukkan kepalanya, "Eh, ini ada obat yang ditebus enggak?" tanya Pandu kemudian.
"Ada dikasih paracetamol saja kalau demam, cuma kalau enggak demam ya enggak usah. Cuma, paracetamol drops untuk bayi masih ada di rumah kok, Mas ... jadi bisa langsung pulang deh," ucapnya.
Ervita kembali meminta bayi Indira dan menggendongnya kembali dengan menggunakan selendang. Kemudian mereka hendak keluar dari poli anak dan pulang tentunya. Sebenarnya, Ervita masih ragu karena ada Firhan di sana. Akan tetapi, tidak mungkin juga dia berlama-lama di Puskesmas. Sementara masih banyak pesanan online yang harus dia kemas sekarang juga.
Dengan perasaan gamang, Ervita yang menggendong Indira keluar dari poli anak dan melewati Firhan dan Tiana yang masih berada di apotek. Namun, baru beberapa langkah keduanya berjalan, rupanya Tiana mengenali sosok Ervita. Sehingga Tiana pun memanggil nama Ervita.
"Ervita ... kamu Ervita kan?" panggil Tiana.
Bahkan sekarang Tiana sudah berdiri dan tampak berdiri di depan Ervita. Tiana yakin bahwa yang dia lihat sekarang adalah Ervita dan bukan orang lain. Sehingga Tiana pun segera memanggil temannya itu.
Merasa dipanggil bahkan Tiana berjalan mendahului, hingga sekarang Tiana ada di hadapannya membuat Ervita dan Pandu sama-sama menghentikan langkahnya.
Pertanyaan cukup keras itu membuat beberapa pengunjung di Puskesmas itu menatap kepada Ervita dan juga Pandu. Beberapa dari tetangga mendengar bahwa Ervita hanya karyawan Bu Tari saja. Karyawan yang sudah dianggap layaknya sebagai seorang anak. Lalu, benarkah sebenarnya Ervita sudah menikah dengan Pandu? Beberapa orang yang di sana pun rasanya mulai tertarik.
"Ti ... Tiana," ucap Ervita dengan lirih.
Tiana menganggukkan kepalanya, "Ya, benar sekali ... aku Tiana. Berarti benar kan kamu adalah Ervita. Jadi, kamu memilih putus kuliah karena menikah dan punya anak yah?" tanyanya lagi.
Sungguh, kali ini dia tidak bisa memberikan jawaban. Tidak mungkin Ervita melibatkan Pandu yang begitu baik itu dalam masalahnya yang pelik. Tidak dipungkiri selama ini, Ervita juga mendapatkan banyak bantuan dari Pandu. Bahkan tiga bulan yang lalu, kala Ervita kembali ke Rumah Sakit untuk cek up jahitan, Pandu juga yang mengantarkan Ervita. Sekarang, rasanya tidak mungkin mengakui Pandu sebagai suaminya.
Belum sempat Tiana menjawab, obat untuk Firhan sudah selesai dan nama Firhan disebutkan oleh apoteker di sana. Kemudian Firhan mendatangi Tiana.
"Ayo Tiana kita balik ... pasti Pak Bandi dan teman-teman yang lain nungguin kita. Kalau kelamaan dikiranya aku ngapa-ngapain lagi sama kamu," ucap Firhan dengan melirik ke Ervita.
Mungkin itu adalah cara Firhan untuk memanas-manasi Ervita. Namun, Ervita memilih diam dan seakan tidak terusik. Bahkan, Ervita berpikir tidakkah ada getaran saat ini di hati Firhan melihat bayi yang tidak lain adalah darah dagingnya sendiri. Kenapa pria itu seakan tidak sadar dan tidak merasakan ikatan yang terjalin antara dirinya dan Indira. Mungkinkah Firhan sudah mati rasa sehingga memang tidak bisa merasakannya?
"Kamu bisa saja Firhan ... aku juga enggak mau ngapa-ngapain sama kamu. Kamu terlalu mengerikan Firhan," balas Tiana kemudian.
Firhan tersenyum, kemudian dia menatap tajam pada Ervita, "Mengerikannya cuma sama kamu, Tiana Sayang. Sama kamu mah pacaran asyik. Bikin aku jadi bucin," ucap Firhan dengan tiba-tiba.
Pandu yang diam menduga bahwa mungkin saja pria yang masih menjadi mahasiswa inilah yang membuat Ervita jatuh dalam kesalahan hingga lahirlah Indira. Namun, Pandu juga tidak ikut campur dan cukup membaca situasi saja.
"Udah ah ... kalau bicara pasti kayak gitu."
Kemudian Tiana menatap kepada Ervita, "Ya sudah Ervita ... aku duluan yah. Sehat dan bahagia bersama baby dan suami kamu yah," balasnya.
Ervita masih berdiri di tempatnya dan menatap Firhan dan Tiana yang menjauh darinya. Kemudian Pandu memanggil nama Ervita di sana.
"Pria itu yah?" tanya Pandu kemudian.
Sungguh, kali ini Ervita seakan tidak bisa memberikan jawaban. Ada rasa sakit yang muncul, ada rasa kecewa dengan penolakan yang diberikan oleh Firhan, dan juga rasa benci karena Firhan yang nyatanya tidak berubah bahkan sudah menjalin hubungan dengan gadis lain. Luka di hatinya yang belum sepenuhnya pulih, nyatanya kembali digarami kali ini. Sungguh, sakit ... perih, tetapi tak berdarah.