
An kembali ke tempat ia seharusnya berjaga dengan tertatih, ia lalu melihat lapak yang awalnya sepi ketika ditinggalkan seketika menjadi ramai dengan pembeli, terlihat bibi penjual dengan semangat melayani para pelanggannya itu.
Disaat ia mendekat, bibi itu membulatkan mata, kaget melihat An yang seperti habis dikeroyok, "apa yang terjadi denganmu?! kenapa pakaianmu penuh darah dan sobek!?" serunya panik.
"aku baik bi, daripada itu bukankah kau harus melayani para pembeli mu dulu dibandingkan aku?" An berbisik pelan, masih memegangi luka yang ada di perutnya.
Bibi penjual kemudian memapah An untuk bersandar didinding dan memberinya sebuah kain untuk menyelimuti diri, "tunggulah disini, aku akan segera kembali," tegas bibi itu, ia dengan segera melayani para pembeli secepat yang ia bisa dan sesekali melirik kondisi An yang masih terengah-engah.
"Hu.. malu aku jika kesakitan hanya karena luka kecil." gumam An menatap kosong bibi yang tengah melayani pembeli. Ia kemudian membenarkan posisi tubuhnya dan berkultivasi agar dapat menyembuhkan energi yang ia pakai, juga untuk melupakan sejenak luka kecil di perutnya.
Sudah sepuluh menit berlalu sejak An mulai berlatih, selama berlatih ia tak mendengar suara atau merasakan apapun. Seperti tengah berdiri di sebuah ruang tertutup kosong tanpa adanya kehidupan sama sekali.
Sejauh mata An memandang, hanya terdapat kegelapan yang mengerikan, seakan kegelapan itu dapat menerkamnya hidup hidup. Ia terus berjalan dengan sesekali berteriak untuk mencari kehidupan disekitarnya, tak lama An melihat sebuah kristal besar yang tak dapat diukur dengan mata.
Kristal berwarna ungu kegelapan yang sangat cantik dan mengerikan, didalam kristal itu, ia dapat melihat seseorang berada di sana, meringkuk, sendirian, tanpa ada satupun kehidupan selain dirinya.
Seorang wanita berambut hitam panjang, An mendekati kristal itu, disaat sudah sangat dekat ia mengulurkan lengannya dan menyentuh kristal besar itu.
Ketika An menyentuhnya sebuah retakan muncul, dan membuat gadis didalam kristal terbangun lalu membuka matanya, mata ungu kegelapan yang sama persis dengan kristal yang telah mengurung gadis itu.
An membeku ketika matanya bertemu dengan mata sang gadis, tubuh An tiba tiba kaku dan keringat dingin mengalir ke seluruh tubuhnya, "itu.. aku?"
Ruangan hampa itu seketika pecah, dan kepala An mulai mengalami sakit yang luar biasa, dadanya sesak, sulit untuk bernapas walau dibantu chi sekalipun. Ia memejamkan matanya dan terus bergumam untuk meminta bantuan, sesuatu yang dapat membantunya keluar dari sana.
"..an!"
"TUAN!!" Teriak bibi penjual itu gemetar, wajahnya pucat dan keringat mengalir deras di wajahnya. Ia memegangi tubuh An dengan kuat sambil sesekali mengelap keringat yang ada di seluruh tubuh gadis itu.
"apa..kenapa?!" seru An terkejut karena wanita tua itu sudah ada disampingnya.
apa itu tadi?' batin An mengingat kembali mimpi yang ia alami.
"Anda bisa membuat wanita tua ini mengalami serangan jantung! kenapa pula Anda tiba tiba berteriak begitu? seluruh tubuh Anda pun terasa dingin seperti mayat!" jelas bibi penjual dengan kesal, lantas ia beranjak dari sana dan pergi mengambil sesuatu yang ada dipojokan.
"ini! cepat ganti baju Anda di gang sana! saya tak ingin berlama lama berurusan dengan Anda!" ucapnya sambil memapah An yang kesadarannya belum seimbang.
Wanita itu memberikan sebuah pakaian ganti juga jubah, beserta sisa uang yang ia gunakan. Ketika sampai di gang yang sunyi, An sudah mendapatkan kesadarannya kembali, ia meraba perutnya yang masih sedikit nyeri, "aku harus menyelesaikan ini dan tidur!" gumam An sembari mengganti pakaian.
Sambil mengganti pakaian, ia merobek jubah lama miliknya dan mengikatkannya ke luka di perutnya. 10 menit berlalu sejak ia mulai mengganti pakaian, kini ia terlihat lebih rapi dengan pakaian formal dan jubah yang sedikit lebih mewah seperti yang para bangsawan gunakan.
An lalu mengelap percikan darah yang ada di topeng rubah nya dan mengenakannya kembali, ia lantas keluar dari gang itu untuk menuju bibi penjual yang sudah membantunya.
"kuharap kau memiliki pekerjaan yang lebih baik." bisik An seraya memberikan satu kantong kecil dang, sisa dari membeli pakaiannya tadi.
Wanita itu memandangi kantong uang yang telah ia pegang, matanya berkaca kaca dan akhirnya menangis sesenggukan, "Anda.. padahal Anda sudah banyak memberikan saya uang.. Terima kasih, Anda benar benar seorang malaikat! Terima kasih tuan!" seru wanita itu dengan membungkuk hormat.
malaikat ya?' batin An sedikit tak nyaman dengan panggilan itu.
Gadis itu hanya mengangguk, karena telah mendapatkan dua pion, dia berniat ingin pergi dari sana. Namun ia berbalik kembali untuk menanyakan sesuatu pada penjual itu.
Sekarang An sedang berjalan menuju pusat pasar gelap, dimana itu menjadi tempat terpopuler bagi para kriminal yang suka bersenang senang. Tempat yang memiliki segalanya, entah bagaimana mereka menciptakan tempat ini, sangat mengagumkan.
"pusat pasar, bersebelahan dengan pelelangan boneka.. Huh, kenapa sih nama toko disini aneh aneh? tapi yah, ketemu." gumam An berdiri didepan sebuah toko antik yang suram, tanpa adanya papan nama.
"aku suka temanya." pujinya ketika melihat cat toko yang berwarna hitam pudar namun terlihat sangat kokoh, sesuai dengan toko yang bertema antik.
An memasuki toko tersebut, suara lonceng pintu berbunyi saat ia masuk. Pandangan matanya tertuju pada barang barang yang ada di dalam toko, mulai dari barang yang belum pernah dia lihat, panah, belati, kapak, bahkan pedang ada di sana.
Gadis itu mendekati meja kasir, terlihat seorang pria tua yang sedang membersihkan sebuah kapak melirik nya lalu mengacuhkannya kembali.
apa apaan sikapnya itu?'
"permisi, apakah disini menjual mantra peledak?" tutur An sopan, namun ia tetap di acuhkan oleh penjaga toko.
sialan, kalau bukan karena bibi itu bilang ini tempat yang bagus, aku akan pergi dari sini.' An menggenggam jemarinya kuat, menahan amarah yang hampir meledak.
"jangan menatapku begitu, tunggu aku selesai membersihkan ini baru akan ku ambilkan barang mu." ucap kakek itu masih sibuk membersihkan kapaknya.
An tak membalas perkataan itu, ia lalu berbalik dan berjalan jalan melihat isi toko tersebut. Hanya ada senjata di sana, beberapa kertas mantra, dan peralatan sihir tentunya.
sudah 15 menit berlalu, An pun telah selesai melihat seluruh barang yang ada didalam toko itu. Emosinya kini memuncak, ia kemudian menghampiri meja kasir lagi untuk menggertak penjaga tokonya.
Gadis itu mengurungkan niatnya sewaktu melihat meja kasir yang diatasnya sudah tersedia tiga macam mantra peledak, dari beberapa kertas mantra itu, An melihat sebuah kartu kecil yang dapat dimasukkan ke dalam kantong baju.
"apa ini juga peledak?" tanya An dengan mengambil kartu tersebut.
"kau minta peledak kan? itulah yang kau dapatkan. Benda itu akan berguna, tergantung bagaimana cara kau menggunakannya." jelas pria tua itu masih sibuk membersihkan kapaknya.
"berapa ini?" tanya An lagi.
"satu kartu 5 dang."
"aku ambil 10." ucap An dengan mengeluarkan 50 dang dari telapak tangannya.
Setelah membayar kartu tersebut, ia keluar dari sana dan berniat ingin pulang ke rumah. Tanpa sengaja, An menoleh pada penjaga tempat lelang yang terlihat sangat mewah disampingnya, melihat aura samar yang ia kenal, An memutuskan untuk masuk ke pelelangan itu.
Sampailah dia di meja tamu, dimana seorang wanita cantik sedang melayani orang orang yang masuk, kini gilirannya untuk memberitahukan urusannya di sana.
"selamat datang di pelelangan boneka, apakah ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu sopan.
"bilang saja padanya, rekan yang Dia sayangi ada disini." Gadis itu tersenyum cerah.
Wanita itu mengangguk dan meninggalkan An sebentar untuk menuju ruangan tuan besar mereka, ia menunggu sembari mengetukkan jarinya ke meja. Untungnya saat itu sudah sepi karena pelelangan telah dimulai, tak ada tamu yang datang sekarang.
Tak lama, wanita itu kembali dengan tergesa-gesa, keringat bercucuran keluar dari tubuhnya. Masih dengan napas memburu, ia memberitahu An untuk mengikutinya menuju lantai dua.
Tak seperti pertama bertemu, Wanita itu sama sekali tidak melihat mata An saat berbicara dengannya, seakan menjaga sikap agar tak membuat kesalahan.
"memang ya.. kekuasaan itu berbeda." gumam An dengan senyum yang memudar, ia kembali memasang wajah dingin dan acuhnya pada siapapun yang ia temui.
Ketika sampai di depan sebuah pintu, Wanita itu mengetuk pintunya sopan, "Tuan..saya membawa tamu Anda,"
"masuk!" terdengar suara berat seorang pria dari balik pintu, wanita itu lalu membuka pintunya dan mempersilahkan An untuk masuk.
Ruangan yang dimasukinya sangat sederhana dan antik, banyak sekali guci juga lukisan di sana, ruangan lebar itu sama sekali tak terlihat mencolok seperti ruangan lainnya. Tampak pula di atas meja sudah tersedia banyak makanan ringan dan minuman.
"aku heran denganmu, ini terlalu sederhana untuk bujangan tua." ledek An masih didepan pintu.
"masuk saja, dasar!" Pria tua itu kemudian menyuruh pelayan wanitanya untuk segera pergi dari sana.
An memasuki ruangan kakek itu, ia langsung duduk dan menyeruput sebuah lemon teh di atas meja, "aku tak menyangka jika kau masih mempekerjakan manusia hidup." timpalnya disela sela meminum teh.
"kau pikir aku ini manusia menyedihkan yang tak membutuhkan orang lain?" sahut kakek itu dan malah mendapat anggukan tegas dari An.
"aku jadi heran siapa yang tuan rumah disini?" ucap kakek itu dengan bersandar di sofanya.
"jadi, apa yang membuatmu repot repot datang kemari?" tanya pria itu tanpa perlu berbasa basi.
"aku ingin kau membuatkan ku dua boneka. Oh ya, apakah kau bisa melihat ingatannya? mungkin sekitar seminggu?" pinta An, ia kemudian mengulurkan tangannya ke arah pria itu dan memberikannya dua orang mayat yang telah ia tangkap.
Lelaki itu tampak sedikit syok melihat dua orang mayat tiba tiba ada di hadapannya, ia dengan ragu bertanya pada An, "dimana kau mendapatkan ini?"
"kedai budak." jawab An santai seraya memakan hidangan yang telah disiapkan.
Kakek itu menghela napasnya dan memijat keningnya, "aku tahu kau gila, tapi ternyata sangat parah ya?" ujarnya terkekeh senang.
Pria itu dengan senang hati mendekati dua mayat yang ada dilantai dan memeriksa lukanya, "kau menusuk mereka berkali kali.. tidakkah kau tahu betapa sayangnya sebuah kulit?"
"aku tak peduli, kau bisa melakukannya atau tidak?" tegas An seolah tak ingin disalahkan jika barangnya terlihat kurang memuaskan.
"tentu, tapi aku tak bisa melihat ingatan yang telah mati lebih dari sehari." kakek tua itu mulai membuka pakaian kedua mayat untuk dijahit.
"siapa bilang? aku baru menangkapnya dua jam lalu, dan lagi.. apa kau tak menyadari sesuatu?"
"ha? itu gila! hahaha!" pria itu tertawa dengan keras, entah tertawanya dapat didengar orang lain atau tidak.
"yah.. aku akan memberikanmu potongan 60% karena telah memberikanku barang yang langka. Sangat jarang aku dapat membedah tubuh siluman rendahan bukan?" lelaki tua itu menyeringai, aura membunuhnya sekilas keluar untuk sementara.
Lantas, An menceritakan tentang rencananya yang ingin membuat ledakan besar di kedai budak pada kakek tua itu. Dia juga menceritakan ingin mengambil beberapa bukti transaksi antara penjual dan pembeli yang ada di sana.
"baiklah.. tapi kenapa kau ingin melakukannya?" tanya pria itu masih tak mengerti jalan pikirannya, dia tahu jika An membenci perbudakan, tapi jika sampai melibatkan semua orang yang terlibat? itu gila, sungguh gila.
"rahasia." ucap An singkat, senyuman jahatnya keluar dikala jawaban itu terlontar dari mulutnya.
Tentu An tak akan memberitahu jika dia ingin bibinya tertangkap pihak Kekaisaran, untuk menghilangkan kewaspadaan terhadap dirinya yang seorang keluarga baru, An berniat menjerumuskan semua bangsawan yang pernah terlibat dengan perbudakan ini.
Gadis itu memang berencana untuk menyeret semua orang yang pernah bertransaksi di sana, walau mereka telah lama melakukannya sekalipun. Namun, ada sesuatu yang membuatnya kepikiran setelah melihat kembali salah satu mayat yang dia bawa.
"oh sial.. apa yang harus kulakukan?" gumam An saat melihat Arum tergeletak di sana. Pantas ia seolah pernah mendengar suara penjaga itu, siapa yang menyangka jika itu adalah pelayannya sendiri.
Padahal dia sudah sering membunuh orang, apa karena Arum adalah orang yang selalu menempel dengannya, makanya ada sedikit rasa bersalah yang tersirat? Muka An seketika pucat pasi.
"kenapa kau? kelelahan?" tegur kakek itu disela obrolan.
"yah.. kurasa." jawab An dengan lemas, ia kemudian berdiri dan hendak pergi dari sana, sebelum pergi, An mengulurkan tangannya sekali lagi dan mengeluarkan beberapa barang antik yang ia dapat dari perpustakaan tua rumahnya.
Mata kakek tua itu seketika terbelalak, ia tak dapat menyembunyikan rasa sukanya terhadap barang antik.
"itu uang muka untuk boneka ku, aku ingin boneka itu selesai sebelum matahari terbit. Akan aku kirimkan surat untuk memberitahu rencana berikutnya." jelas An dan langsung pergi lewat jendela.
Setelah An pergi, pria tua itu memukul keningnya dan bergumam, "ah.. aku lupa untuk memberitahunya, jika gadis perak itu selalu menanyakan dirinya."
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...