
Di sekolah Arni menjadi pusat perhatian karena ponsel yg dipakainya belum ada yg make,sana sini teman ceweknya berbisik-bisik,ad yg meras kagum,ada juga yg iri pada Arni yg begitu banyak diincar pemuda yg rata rata memberikan hadiah buat Arni.
"Ponselnya Arni hebat ya,belum ada diantara kita yg punya barang itu", ucap Dian,teman sekelasnya Arni yg yg selalu memperhatikan tiap benda yg dimiliki Arni.
"Itu rezekinya Dian", sahut Mia
"Denger denger Arni tuh meladeni tiap cowok yg dekati,dihh genit amat jadi cewek,mana suka pamer", Cetus Dian lagi,ia merasa iri dengan Arni.
"Kamu cemburu ya dian?", tanya Mia yg heran melihat Dian,setiap kali melihat Arni memakai barang branded selalu yg menjadi kegerahan.
"Siapa juga yg cemburu,saya bisa juga kok beli barang barang begitu,orang tuaku kaya,tidak seperti mama Arni yg hanya PNS dengan gaji kecil,jadi kalau gak jual diri ,nggak bakalan memiliki apapun", sungut Dian.
Mia dan beberapa temannya yg lain sontak saling berpandangan,mereka merasa heran melihat tingkah Fian yg segitu cemburunya ke Arni.
Arni sebetulnya tahu jika Dian sangat membencinya dan sering menghasut teman teman nya yg lain untuk membencinya tapi Arni tidak pedulikan.ia malah sengaja memanas manasi Dian dengan selalu Gonta ganti tas dan sepatu baru.
Arni mengakui jika dirinya tercantik diantara seluruh siswi SMA tempatnya menimba ilmu.
"Arni ada salam dari Wirya", ucap Zaldi menghampiri Arni yg sedang asyik mengobrol bersama sahabatnya di kantin sekolah.
"Ngapain nitip nitip salam,suruh aja kesini", ucap Arni sambil mengerling Wirya yg nampak duduk dipojokan.
Wirya ,anak orang kaya,orang tuanya memiliki banyak lokasi tambang yg disewa perusahaan.membuat Wirya semakin tajir,kesekolah saja mengendarai mobil mewah.tak heran Wirya menjadi rebutan para cewek termasuk Dian yg selalu cari perhatian Wirya, tapi Wirya naksir berat ke Arni.
""Hai Arni", sapa Wirya mendekati Arni.
Arnipun menggeser pantatnya memberi tempat duduk untuk Wirya.
"Hai juga", Arni membalas sapaan Wirya.
Wiry dan Arni terus bercakap cakap hingga lonceng tanda masuk berbunyi.
"Biar saya yg bayar semua Arni", ucap Wirya.
"Terima kasih ya wir", balas Arni dengan tersenyum,begitupun teman teman Arni yg lainnya merasa senang ditraktir Wirya
"Sering sering aja wir!", teriak Vivi sahabatnya Arni.
Wirya hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Dalam kelas Vivi sengaja memanas manasi Dian yg diketahui naksir berat ke Wirya dengan ucapan membuat diwn meradang.
"Wahh,hari ini ditraktir Wirya", ucap Vivi tiba tiba memecah kesunyian kelas.
"Yang benar Vi?", tanya Dian tiba tiba mulai terusik dengan kata kata itu
"Iya dong,iya kan lagi deketin Arni,makanya kusuruh Arni menerima Wirya saja,lumayan tiap hari ditraktir,juga dibawa jalan jalan ke kota", Vivi sengaja memancing emosi Dian.
Dian nampak berdiri,ia menggebrak meja dengan kerasnya, membuat kelas seketik riuh.
"Arni,dasar ya kamu cewek murahan,udah tau Wirya itu pacarku,masih berani mengembatnya, padahal kamu kan udah banyak cowok!", teriak Dian menuding Arni yg nampak tenang tenang saja.
Vivi mulai tersenyum, hatinya merasa senang berhasil memancing emosi Dian.
"Emang kenapa kalau saya punya banyak pacar, masalahnya apa,apa kamu merasa rugi?", tanya Arni tetap mengendalikan emosinya.
"Dasar kamu cewek murahan!", Dian melabrak Arni dan berhasil menjambak rambutnya,tapi tangannya berhasil dicekal oleh Vivi yg mendorongnya hingga terjerembab ke lantai.
"Hei apa apaan kalian ini?", tiba tiba masuk wali kelas mereka,hingga mereka menjadi kalang kabut dan kembali ke tempat duduknya masing masing.
"Ia yg mulai Bu guru", Dian menuding jika Arni adalah biang keladinya.
"Bukan bu guru,Arni tidak terlibat,ia yg justru melabrak Arni", ucap Vivi membela Arni.
Setelah Bu guru berhasil mendamaikan mereka,mereka kembali belajar dengan tenang .
*****
"Kamu gak pernah keluar ya Arni?", tanya Wirya.
"Gak pernah,kalau pulang dirumah saja", jawab Arni .
Wirya tersenyum senyum,matanya menatap ke dinding dimana foto keluarga Arni terpajang.ia juga memperhatikan semua perabotan dirumah Arni yg sangat sederhana sangat kontras dengan rumahnya sendiri yg semuanya berkesan mewah.
Lalu matanya tertumbuk pada sepeda mini yg selalu dipakai Arni ke sekolah.
"Kamu bisa nggak pakai motor Arni?", tanya Wirya
Arni menggeleng dari raut wajahnya tersirat kesedihan yg tiba tiba.mrmbuat Wirya merasa bersalah dan segera meminta maaf.
"Maaf ya Arni,saya bukannya mau menyinggung perasaanmu", ucap Wirya dengan perasaan bersalah.
"Gak masalah kok wir", sahut Arni.
Wirya memohon pamit dan pulang kerumah nya,ia terus teringat Arni yg sepertinya membutuhkan sepeda motor,tanpa menunggu waktu ia segera menghubungi dealer motor yg kebetulan salah satu temannya bekerja disitu..
Wirya memesan Motor Scoopy warna merah menyala untuk Arni,Arni sendiri merasa terkejut saat motor itu diantar kerumahnya.
"Maaf pak,saya tidak pernah memesan motor", ucap Arni,begitupun dengan Hana yg merasa heran
"Kami tak pernah memesan Motor,jangan jangan anda salah alamat?", tanya hana yg tiba tiba nimbrung.
"Motor ini dipesan saudara Wirya,ia menyuruh kami mengantar ya kesini untuk Arni", ucap orang itu.
Arni terkejut tapi hatinya merasa sangat senang menerima hadiah dari salah satu fansnya lagi.
Hari itu juga Arni langsung belajar mengendarai motor.ia cepat bisa hingga esoknya sudah dipakai kesekolah.
"Wahh,Arni pakai motor baru lagi!", teriak Vivi kegirangan.
Sementara Arni hanya tersenyum senyum saja,dari jauh ia bisa melihat tatapan Dian yg penuh kebencian.
Saat Arni ,Vivi dan 2 sahabatnya yg lain sedang nongkrong di kantin, mereka disamperin Wirya yg segera diberi tempat duduk yg kosong dekat arni,tiba tiba datang dian menarik tangan Wirya ,yg membuat wirya hampir terjungkal ke belakang.
"Kamu kenapa sih Dian?", tanya Wirya dengan pandangan tak mengerti.
"Ku kasi tau ya wir,,Arni tuh bukan cewek baik baik,ia meladeni semua cowok yg mendekatinya", ucap Dian,matanya melotot melihat Arni yg terlihat senyum senyum saja.
"Emang kenapa kalau Deket ma cowok banyak, rugi nya ke kamu apa?", Wirya makin heran melihat akting dian yg tiba tiba berlagak sok peduli banget ma dirinya
"Kasian kamu aja wir,jika dapet nya cewek murahan begitu", ucap dian lagi yg terus berkicau tak karuan .
"Dian,kumohon ya,silahkan pergi dari sini,urusi urusanmu sendiri,jangan pernah mengurusi kehidupanku lagi", Wirya mendorong tubuh dian dengan kasar nya karena terlalu merasa dongkol.
Dian nampak basah matanya,ia merasa sangat malu diusir Wirya.
"Huuu,makanya jangan sok tau deh jadi cewek!", teriak Vivi saat Dian berlari menuju kelasnya.
"Udah deh Vi,kasian Dian digituin", ucap Arni yg ujung ujungnya merasa kasian juga melihat Dian yg sebenarnya bersalah juga.
Dian terlihat sangat malu,dikelasnya,ia yg terkenal paling jutek dan sok berkuasa telah dipermalukan Wirya.
"Awas kau Wirya, tertawa lah hari ini,sebab esok kamu akan bertekuk lutut didepanku,dan kamu Arni,akan merasakan akibatnya telah merebut Wirya dariku", ucap Dian dalam hatinya.
Dian memiliki seorang keluarga yg tinggal dipedalaman sangat jago mrngguna gunai orang dan bisa mengirim ilmu santet yg spontan bisa membunuh.
Di tempat lain Hana merasakan akan terjafi sesuatu yg akan menimpa putrinya hingga datang menjemput Arni disekolah.
"Apa ada yg terjadi bu?", tanya pak guru,wali kelasnya Arni.
"Mendadak ada urusan yg penting pak", jawab Hana
Pak guru itu tak bisa menolak permintaan Hana,karena ia sudah lama menaruh hati pada ibunya Arni yg juga cantik jelita.