
Pintu kamar mandi terbuka pelan oleh Kalun. Dia bangun lebih dulu dari istrinya pagi ini. Matanya kini tertuju pada wanita yang masih bergelung di bawah selimut. Dia berjalan mendekati Aluna, tampak wajah polosnya yang terlihat menggemaskan dengan bibirnya yang cemberut.
“Yang, bangun!” lirihnya sambil menempelkan tangannya yang dingin di pipi Aluna, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi, pasti seluruh anggota keluarganya sudah menunggunya di bawah sana.
“Eughh ....” Aluna menggeliat, tangannya terangkat ke atas kepalanya, setelah merasa baik dia kembali meraih gulingnya, mencari posisi ternyaman untuk memejamkan matanya kembali.
“Sayang, sudah jam 7 loh. Kamu nggak mau bantu mama masak di dapur? Aku sudah merindukan masakanmu,” kata Kalun, tangannya mengulangi hal yang sama seperti tadi.
Perlahan tapi pasti, mata Aluna mulai terbuka, mengerjap sejenak ketika melihat wajah Kalun tepat berada di depan wajahnya, dengan sangat dekat. Aluna menarik selimut hingga ujung lehernya, saat melihat wajah Kalun, semakin mendekat ke arahnya.
Cup!
“Selamat pagi! Aku merindukanmu yang dulu,” kecupan di kening itu, menyambut Aluna yang sudah tersadar dari tidurnya.
“Memang aku dulu seperti apa?” tanya Aluna penasaran. Dia mengalihkan tatapannya dari Kalun yang menatapnya dengan lekat.
“Pengin tahu?”
Aluna mengangguk cepat.
“Seperti suami istri pada umumnya!” jelas Kalun dengan nada tinggi namun diakhiri dengan tawa yang renyah, ketika melihat ekpresi bingung Aluna.
“Sudah! Cepat mandi, atau mau Aa’ yang mandiin?” goda Kalun yang sebenarnya ingin mendapatkan jawaban ‘ya’ dari Aluna.
“Ogah! Bukannya bersih, justru karatan nanti!” ucap Aluna sambil mendorong tubuh Kalun menjauh darinya.
Aluna beranjak dari kasur, berjalan ke arah kamar mandi, dengan langkah sempoyongan, meninggalkan Kalun yang kembali merebahkan tubuhnya di kasur, untuk menunggu Aluna.
Hampir tigapuluh menit berlalu, Aluna belum juga keluar dari kamar mandi. Kalun yang dari tadi di kasur sudah hampir memejamkan matanya kembali karena terlalu lama menunggu.
Sesaat sebelum mata Kalun benar-benar terpejam, terdengar pintu kamar mandi dibuka pelan. Kalun kembali tersadar, lama dia menunggu, tapi Aluna juga tidak kunjung terlihat batang hidungnya.
“Kal,” lirih Aluna.
“Kalun!” Dia memperjelas lagi panggilannya. Namun, pemilik suara belum menyambut suara panggilan itu, karena begitu asing di pendengarannya.
“Kaaluun!” teriak Aluna yang akhirnya membuat Kalun tersadar jika istrinya membutuhkan sesuatu.
“Heemm, kenapa?” sahutnya dengan santai namun jelas.
“Handuk! Aku lupa!” jawab Aluna yang melihat Kalun dari celah pintu, dia malu untuk keluar kamar mandi, karena masih belum mengenakan pakaian.
“Nggak ada! Handuknya dicuci semua sama Bu Mina tadi!” ujarnya mengarang cerita.
“Ya sudah kamu pergi dulu, aku mau masuk ke ruang ganti,” teriaknya lagi.
“Nggak usah pergi, aku tutup mata saja pakai selimut,” jawab Kalun yang mengambil selimut untuk menutupi wajahnya.
“Jangan ngintip ya! Awas nanti bintilan baru tahu rasa!” peringat Aluna.
“Ngintip sedikit juga nggak papa, halal juga kok jadi nggak akan mungkin bintilan,” ucap Kalun sambil terkekeh kecil.
Aku sudah hafal juga ngapain malu-malu, dasar aneh! Batin Kalun menggerutu dalam hati, tidak menyadari jika istrinya tidak pernah mengingat kejadian malam kenikmatannya dulu.
Aluna berjalan tanpa suara, tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya.
“Sudah belum!”
“Belum! Awas bintilan nanti!” peringat Aluna sambil berlari ke arah kamar mandi, pandangannya terus menatap ke arah Kalun memastikan jika suaminya tidak membuka selimut tebalnya.
Gubraakk!
“Awas! Jangan mendekat aku bisa sendiri!” peringat Aluna saat melihat pergerakan Kalun yang sudah membuka selimutnya, hendak duduk melihat posisi jatuh Aluna.
“Dasar! Aku cuma ingin membantu, nggak ada niatan untuk menikmatimu!” sahut Kalun yang khawatir dengan Aluna.
Aluna segera bangun dan berjalan ke arah ruang ganti, dengan langkah tertatih, tanpa dia sadari, sepasang mata Kalun mengamati tubuh polosnya, sambil menggelengkan kepalanya.
“Keras kepala!” cibir Kalun saat Aluna sudah menghilang di balik pintu.
Dia lalu berjalan, mendekat ke arah ruang ganti memastikan kondisi Aluna setelah menabrak meja kayu jati.
“Ada yang terluka?” tanyanya yang berdiri di depan pintu.
“Nggak ada, cuma memar saja!” sahut Aluna yang tengah binggung mencari pakaian ganti.
Kalun meninggalkan kamar, mencarikan obat untuk istrinya di ruangan pemilik rumah. Hanya menyapa sebentar keluarganya yang tengah berada di meja makan. Dan memberitahu supaya mereka sarapan lebih dulu, karena Aluna masih berada di dalam kamar mandi.
Kalun sudah kembali ke kamarnya. Melihat Aluna, memakai baju kemeja yang biasa dia pakai, terlihat terlalu besar di tubuh Aluna yang mungil, dia duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, yang dia ambil dari laci kamar ganti.
“Mana yang sakit?” tanya Kalun sambil menelisik kaki Aluna. Dia lalu membuka salep yang ada di tangannya.
“Ceroboh sekali! Jadi begini, kan?” gerutu Kalun yang tidak memperhatikan raut wajah Aluna yang memerah dan tubuhnya yang tiba-tiba menegang. Aluna melirik sebentar ke arah tangan kiri Kalun, yang berada di atas pahanya, tanpa pembatas sehelai kain. Dia merasakan sesuatu yang berbeda menghinggap di hatinya. Tak mampu menolak dan tidak berani mengusir tangan Kalun dari tubuhnya. Sentuhan itu, dia menimmatinya tapi tidak bisa mengingatnya lagi!
“Sini! Aku bantu mengeringkan rambutmu!” ucap Kalun membuyarkan pikirannya, Kalun yang sudah selesai mengolesi memar di kaki Aluna, dia langsung mengambil handuk kecil yang ada di tangan Aluna.
“Nggak usah, aku bisa sendiri!”
“Biar aku! Dulu kamu selalu minta aku yang melakukannya, kenapa sekarang seperti ini!” bohong Kalun, sambil menggosok-gosokkan lembut handuk kecil itu di kepala Aluna. Beruntung akhirnya istrinya menurut, dia mengeringkan sambil sesekali membauhi aroma shampo yang ada di rambut Aluna. Aluna hanya menikmati pijatan tangan Kalun yang menurutnya sangat nyaman.
“Biasanya setelah ini kamu akan memberikanku ciuman terima kasih, apakah selanjutnya akan begitu?” kata Kalun yang pandai mengarang cerita.
“Aku masih belum yakin, jika aku benar-benar mencintaimu,” kilah Aluna yang masih menikmati pijatan kepalanya.
“Mau aku ceritakan, kamu itu dulu memanggilku dengan sebutan Aa’ kamu menyatakan cinta padaku saat kita berbulan madu ke Maldives, tidak ada yang spesial di hari itu, tapi kita akhirnya tahu jika kita saling mencintai,” jelas Kalun sambil mengalukan tangannya di pundak Aluna. Menciumi pundak Aluna yang tertutup kemeja navy miliknya.
“Benarkah seperti itu?” selidik Aluna.
“Ya, kita saling mencintai. Sudah, aku yakin kamu akan mengingatnya. Sekarang buatkan sarapan untukku, aku sudah merindukan masakanmu!” ucapnya sambil menarik tangan Aluna menuju dapur.
Aluna memulai menyiapkan sarapan untuk Kalun, sesuai permintaan suaminya, omelet sayur, dengan sausnya. Kalun sengaja mengusir pelayan yang ada di rumahnya, karena dia ingin menemani Aluna di sana. Mereka hanya berdua, penghuni rumah sudah pergi ke alamnya masing-masing yang entah berada di mana.
“Lun, kapan kamu akan mengingat jika kamu mencintaiku?” tanya Kalun yang mulai menganggu Aluna, memotong wortel di tangannya.
“Lepas Kal! Atau kamu akan benar-benar melewatkan jam sarapanmu?”
“Sebentar saja!” jawab Kalun yang tidak ingin melepaskan pelukannya.
“Kak Kalun! Kalau mau bermesraan jangan di sini! Sana pergi ke kamar!” teriak Maura yang baru datang dari arah belakang dapur.
“Ini bocah, ngagetin aja! Sudah sana kamu yang pergi!” usir Kalun yang kesal dengan momentnya yang terganggu.
“Nanti kita pulang ke apartemen saja, aku ingin mengulangi masa kenikmatan kita!” ajak Kalun pada Aluna setelah melepaskan dan menghadapkan tubuh Aluna. Membuat Aluna berpikir keras tentang ucapan yang Kalun maksud dengan 'Masa kenikmatan'.
“Kak ada Kak Kayra dan Tante Viona di luar!” ucap Maura yang kembali ke dapur.
👣
Jangan lupa untuk like ya dan komentar positif.😍😁