Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
130


Berada dalam mobil dan melihat Liliana tampak kesakitan, maka Aliana langsung meneteskan air matanya karena tidak kuasa menatap darah yang terus keluar dari kaki Liliana.


Liliana yang melihat kesedihan gadis kecil itu mengulurkan tangannya memperbaiki rambut Aliana yang sedikit berantakan, "jangan menangis, aku baik-baik saja," ucap Liliana menghindari menyebut dirinya sebagai ibu Aliana karena dia cemas bahwa gadis kecil itu mungkin akan marah.


"Maafkan aku bu!!" Kata Aliana langsung memeluk Liliana hingga membuat Liliana terdiam menatap gadis kecil itu.


"Sayang, kau bilang apa?" Tanya Liliana.


"Aku bilang maaf, hiks, hiks,, mulai sekarang aku akan memanggil ibu, kau adalah ibuku!!" Isak Aliana yang menyesal telah membuat Liliyana sampai terjatuh dan terluka.


Padahal, seandainya dia langsung menerima ucapan Liliana, maka tidak akan terjadi hal seperti itu.


"Sayang,, Terima kasih sayang, terima kasih," kata Liliana membalas pelukan Aliana dan dia merasa senang karena meskipun dia sekarang terluka, tetapi akhirnya dia mendapat pengakuan dari Putri kecilnya.


Tiara yang ada di sana pun tersenyum, lalu perempuan itu berkata, "dia juga sudah memanggilku nenek, sekarang Ariana benar-benar jadi gadis yang pintar."


Liliana semakin mengembangkan senyumnya melalui puncak kepala Aliana karena merasa begitu bahagia.


Maka, orang-orang itu terus berkendara sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan Liliana langsung ditangani oleh dokter.


"Lukanya cukup dalam, Kami perlu menjahitnya," kata Sang dokter pun menyiapkan obat bius untuk kaki Liliana.


Aliana yang ada di sana langsung dibawa keluar UGD dengan Dika yang menemaninya, sementara Liliana ditemani oleh Tiara.


"Kita juga harus memeriksakan kandungan mu, tadi kau terjatuh kan?" Tanya Tiara yang menyerah cemas pada kandungan Liliana.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kaki Liliana selesai ditangani, lalu perempuan itu pun didorong ke dalam sebuah ruangan khusus untuk melakukan USG terhadap kehamilannya.


Syukurnya tidak ada yang serius, hanya ada pendarahan kecil, namun tidak terlalu mengancam sehingga Liliana hanya diberi resep untuk memperkuat kandungannya.


Setelah mendapatkan obat dari apotek Rumah sakit, Mereka pun kembali ke rumah dengan Aliana yang terus memeluk Liliana karena gadis kecil itu terus merasa bersalah pada ibunya.


Setelah tiba di rumah, Liliana dibantu oleh Tiara menaiki tangga dan ada juga tongkat yang ia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tidak memberi beban terlalu banyak pada kakinya yang terluka.


Setelah tiba di kamar, Liliana duduk bersandar di atas ranjang sembari meluruskan kedua kakinya dan menatap Aliana yang dengan sigap menarik selimut untuknya.


Gadis kecil itu dengan telaten menyelimuti ibunya sebelum menatap Liliana dengan mata sembabnya, "Apakah ibu mau dibuatkan minum?" Tanya Aliana benar-benar membuat Liliana merasa sangat senang dengan panggilan yang diberikan Aliana padanya.


Maka dengan cepat, Liliana menganggukkan kepalanya, "ya, air hangat saja," jawab Liliana langsung diangguki oleh Aliana.


"Kalau begitu ibu tunggu sebentar, biar ku ambilkan," kata Aliana segera berlari meninggalkan ibunya lalu gadis kecil itu pun pergi menuju dapur untuk mendapatkan air hangat.


Sementara Liliana yang ditinggalkan sendirian, ponsel perempuan itu langsung berdering sehingga dunia menggulurkan tangannya mengambil ponselnya.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Liliana tersenyum melihat penelpon adalah Andi, dan terlebih lagi, pria itu kembali melakukan panggilan video, padahal saat itu ialah jam kantor, jadi dia yakin betul bahwa Andi sedang berada di kantor.