
Seorang gadis cantik duduk dengan kondisi tubuh gemetar serta merasa kedinginan, gadis cantik yang memiliki mata biru bening, dengan bulu mata lembut dan lentik dan hidung mancung, paras yang sempurna secantik malaikat apalagi rambut pirang nya yang panjang bergelombang begitu halus tergerai.
"Nyonya, sepertinya dia sudah tiba." Bisik seorang pelayan.
Mendengar kalimat dari sang pelayan, tubuh gadis cantik itu langsung menegang dan semakin kaku. tangannya gemetar, kakinya juga lemas.
Keringat dingin terus keluar dan semakin deras menetes di punggungnya, gaun pengantin yang ia gunakan memang tidak mewah bahkan tidak menjuntai hingga bermeter-meter di lantai.
Pakaian pengantin berwarna putih yang sederhana dan pas di tubuh Callista, namun tetap membuatnya kerepotan untuk Callista bergerak, karena tekanan mental yang sedang ia alami saat ini.
Pendingin ruangan pun tidak berguna sama sekali bagi gadis tersebut. Semakin lama, ia merasa seperti frustasi, banyak keringat menetes dan tak kunjung berhenti namun beberapa waktu sekejab keringat tiba-tiba mengering berganti dengan suhu dingin yang berulang kali menerpa diri, dan itu terjadi terus menerus tanpa henti
"Nyonya Abigail, saya mohon lepaskan saya, saya tidak ingin menikah dengannya." Pinta Callista.
"Lalu kau mau terus-terusan menjadi parasit di keluarga ini?" Mata Abigail mendelik.
"Saya akan bekerja lebih giat dan tekun lagi, saya akan memenuhi semua perintah anda, saya tidak akan melanggarnya. Saya mohon ibu...."
"PLAKKK!!!" Tamparan keras mendarat di pipi Callista membuat pipi Callista menjadi merah.
"Siapa yang kau panggil ibu!!!"
Callista memegangi pipinya yang panas dan sakit, kembali lagi hatinya sakit di perlakukan seperti itu oleh ibu tirinya, meskipun ini bukan yang pertama kali ia mendapatkan tamparan dan tendangan atau pukulan yang di berikan pada tubuh dan wajahnya, namun entah mengapa moment ini menjadi sangat menyedihkan bagi Callista.
"Saya... Tidak mau menikah dengannya!" Kata Callista berteriak sembari menangis.
Kemudian Abigail meraih sebuah foto, dan itu adalah foto satu-satunya mendiang ibu Callista.
"Aku akan membakarnya jika kau tidak mau!" Kata Abigail.
"Jangaannn.... Jangann foto itu Nyonya.... Saya mohon, itu satu-satunya kenangan yang saya miliki dengan ibu saya, itu adalah barang berharga saya."
"Kalau begitu jangan banyak bicara, dan lakukan peran mu dengan baik!"
"PYAARR!!!"
Abigail melemparkan foto itu ke lantai dan pecah.
Dengan isak tangis Callista merosot duduk di atas lantai yang dingin dan mengambil foto dimana bingkai kaca itu telah pecah berkeping-keping seperti hatinya, sebuah kaca pecahannya pun menusuk jarinya hingga membuatnya berdarah.
"Aakh!" Pekik Callista, dengan menahan sakit.
Callista meraih rok Abigail, yang notabene adalah ibu tirinya. Abigail berdiri di samping Callista, dan kini gadis itu mulai paham bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.
Callista benar-benar tidak percaya bahwa dirinya di jadikan tumbal kekayaan bagi Abigail. Selama ini Abigail memang tidak pernah baik padanya, namun menjualnya dan menjadikannya tumbal untuk vampire? Itu benar-benar keterlaluan.
"Aku tidak akan memaafkan kalian." Geram Callista menggertakkan gigi.
"Diam! Bisa apa kau!" Bentak Abigail kesal.
"Jaga dia, jangan sampai kabur." Kata Abigail pada sang pelayan.
"Baik Nyonya."
Kemudian Abigail keluar untuk menemui sang pengantin pria. Saat itu tidak banyak iring-iringan, hanya 1 kereta kuda mewah yang ada di depan mansion tua yang sudah agak lapuk.
Di dalam ruangan lain, Callista memejamkan mata, air mata mengalir di kedua pipinya, meski Callista tak memakai riasan, ia tetap terlihat begitu cantik, gadis itu berulang kali menarik nafas dan membuangnya, ia mencoba yang terbaik untuk menenangkan jantungnya yang berdebar seperti genderang perang.
"Kau terlihat menakjubkan, Nona Callista. Vampire itu pasti akan sangat menyukai darah segarmu." Cemoh sang pelayan dengan senyuman mengejek.
Callista tidak mengindahkan kalimat sang pelayan, ia tahu tidak ada satu orang pun di keluarga Fernando yang simpati padanya, tidak ada satu orang pun di keluarga Fernando yang akan menolong atau mendukungnya, apalagi setelah kematian Berto Fernando Ayah kandungnya.
Tepat beberapa jam setelah kematian sang ayah, ibu tirinya mulai benar-bebar berkuasa, para pelayan lama yang berusaha melindungi Callista di ganti dengan pelayan yang baru dan mereka begitu kurang ajar pada Callista.
Abigail ibu tiri Callista, memutuskan membuat perjanjian hitam dengan sang makhluk malam, agar ia menjadi kaya raya serta awet muda, namun sang makhluk malam memberikan syarat agar Abigail memberikan seorang gadis perawan sebagai tumbal.
"Aku tidak pernah membayangkan bagaimana pernikahannku, karena setelah ayah meninggal aku bahkan tidak tahu bagaimana menjalani kehidupanku di kemudian hari. Apalagi kematian ayah membuat kehidupanku semakin terbalik, tidak punya masa depan dan tidak memiliki suara untuk membela diriku. Tapi, kenapa aku juga harus menjalani pernikahan yang menjijikkan ini dengan makhluk malam yang mereka sebut sebagai Vampire!"
"Pernikahan seharusnya menjadi hal yang baik dan di berkati, mendapatkan doa-doa dari para tamu, mendapatkan restu dari para kerabat, mendiang dan leluhur, tapi pernikahan ini menjadi sebuah kutukan dan aku yakin akan menjadi pernikahan yabg terkutuk!" Dalam hati dan benak Callista semakin bergejolak bagaikan gemuruh air yang siap meluap.
Alih-alih kegembiraan dan kesenangan dalam pesta pernikahan di siang hari yang begitu cerah, matahari menyinarkan kehangatan dan penuh undangan, itu tidak terjadi dalam pernikahan Callista.
Pernikahan itu di kutuk! Pernikahan itu menjijikkan! Pernikahan itu tidak waras karena antara manusia dan vampire yang tak memiliki jiwa.
Pernikahan yang lebih pantas di sebut pertumbalan atau lebih tepatnya perjanjian pernikahan yang tak bermoral dilaksanakan, tanpa adanya pendeta, tanpa di gereja dan tanpa para undangan, apalagi di laksanakan pada malam hari dengan hati yang dipenuhi ketakutan dan kegelisahan.
Ya, yang jelas Callista tetap akan menikah, mau atau tidak mau pernikahan itu akan tetap terlaksana, tapi tidak seperti gadis-gadis lainnya, calon suaminya bukanlah manusia, dia adalah seorang Vampire.
Yang paling parah Vampire adalah musuh mereka, musuh bebuyutan manusia, karena Vampire menghisap darah manusia.
"Sudah waktunya. Tidak perlu terharu, hapus air matamu." Suara pelayan itu sinis hampir membuat Callista mati lemas.
Callista menghela nafas panjang dan dalam-dalam lagi, meski kakinya terasa lemas dan tidak berdaya namun ia harus keluar untuk menemui mempelai pria karena jika tidak ia tahu ibu tirinya pasti akan datang menyeretnya.
"Rasanya aku ingin kabur dan pergi, tapi harus kemana? Sejauh apapun, mereka akan tetap menemukanku." Lagi-lagi dalam hati Callista berdebat dengan dirinya lagi.
Pintu dibuka oleh pelayan, Callista melangkah dengan gemetar, dan sebenarnya tubuhnya sudah mulai menggigil, jika Callista benar-benar tidak berjuang dengan keras, pasti ia sudah pingsan dan terjatuh di atas lantai.
Setelah melewati ambang pintu dan melanjutkan berjalan ke sepanjang koridor, Callista tidak bisa menghitung berapa kali dia menarik napas dalam-dalam.
Callista sempat berpikir atau kah dia pura-pura pingsan saja, atau pura-pura mati lemas, agar perjanjian pernikahan dibatalkan.
Tetapi Callista berfikir kembali, tidak akan semudah itu mengelabui Vampire, dan tidak semudah itu perjanjian hitam di batalkan, pada akhirnya niatan itu pun ia singkirkan dari kepalanya, karena Vampire pastilah tahu jika ia sedang berbohong.
"Aku... Membenci kalian semua! Aku mengutuk kalian semua tidak akan pernah bisa hidup tenang!" Akhirnya yang Callista bisa hanyalah mengutuk mereka dari dalam hatinya.
bersambung