Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
09. Keputusan Arsyil


Lima hari sudah Arsyil meminta petunjuk, dia sepertinya yakin untuk menerima permintaan Azam. Dia sempat bermimpi di malam hari, bahwa ada seorang gadis berkerudung tanpa terlihat wajahnya mendekat padanya. Menarik tangannya dan seulas senyum di bibirnya.


Arsyil sempat ingin membuka kerudung yang menutupi wajah itu, tapi dia keburu bangun dan duduk di tepi ranjangnya. Dia berpikir saat itu juga bahwa hatinya penuh keyakinan untuk menerima permintaan Azam.


"Baiklah Zam, mungkin takdirku harus menikahi mantan istrimu. Dan mungkin Allah punya rencana lain untukku." gumam Arsyil.


Dia melirik jam di meja samping dipannya, menunjukkan pukul empat pagi. Beranjak dari duduknya dan segera mengambil air wudhu untuk sholat. Sebelum waktu memasuki azan subuh, Arsyil menyempatkan diri membaca qur'an agar hatinya benar- benar yakin akan keputusannya.


Tinggal Arsyil memikirkan bagaimana dia memberitahu pada ayahnya tentang rencananya untuk menikah. Tentu ayahnya sangat senang dengan rencana Arsyil anaknya, sudah beberapa kali dia menyuruh anaknya segera menikah.


Tapi selalu saja gagal, jadi ayahnya menyerahkan pada anaknya masalah jodoh. Dan Arsyil kembali bingung, apakah ayahnya akan menerima dengan perempuan yang akan menikah dengannya hanya sebatas kontrak saja. Apa lagi dia janda, janda mantan sahabatnya lagi.


"Apa aku tolak saja ya?" gumam Arsyil.


Dia masih maju mundur untuk menerima permintaan Azam. Meski dia sudah yakin dengan istikharahnya bahwa mantan Azam adalah jodohnya. Bagaimana dengan ayahnya?


Arsyil menaiki mobilnya, dia harus pulang ke rumah ayahnya. Menceritakan apa yang sedang dia pikirkan tentang permintaan Azam, saat ini dia ingin persetujuan dari ayahnya. Masih ada waktu dua hari untuk memberikan keputusannya mengiyakan dengan permintaan Azam itu.


Ayahnya adalah seorang yang bijak, jadi dia meminta nasehat dari ayahnya lebih dulu sebelum memutuskan.


Tuuut.


Suara ponsel Arsyil berdering, dia mengambil ponselnya dari tasnya. Tampak di layar itu nama Azam, Arsyil sedikit kesal kenapa Azam tidak sabar dengan waktu yang sebentar lagi tiba itu.


"Kenapa dia seperti teror sih, menelepon terus hanya untuk menanyakan keputusanku. Apa waktu satu minggu itu terlalu lama?" ucap Arsyil masih mengabaikan panggilan Azam.


Tapi ponselnya masih berbunyi, hingga dia buat silent agar tidak terdengar di telinganya.


Mobil Arsyil masuk halaman rumah sederhana milik ayahnya, dia melihat pintu rumah tertutup rapat. Berarti ayahnya mungkin sedang pergi, karena motornya tidak tampak di depan halaman rumah. Karena biaaanya kalau ayahnya ada, motornya pasti nampang di depan rumah.


Arsyil keluar dari mobilnya, dia melangkah menuju teras rumah. Duduk di depannya sambil menatap ke jalanan yang tidak begitu ramai. Rumah ayah Arsyil tidak besar, dan memang sengaja tidak begitu besar karena hidup sebatangkara.


Pernah Arsyil menyuruh ayahnya untuk menikah lagi sepeninggal ibunya dua tahun lalu. Tapi ayahnya tidak mau, dia bilang ingin hidup sendiri saja. Ingin setia dengan almarhum istrinya, dan menunggu rumah yang dia beli dari hasil keringat sendiri di sisa- sisa hidupnya di rumah itu.


Justru Arsyil yang selalu di suruh terus untuk menikah oleh ayahnya, tapi nasib dan jodoh belum berpihak padanya. Arsyil ingin tinggal dengan ayahnya, tapi kantor percetakannya itu jauh dari rumah ayahnya. Meski ada mobil yang dia beli untuk inventaris kantor, tapi dia tidak bisa menggunakan seenaknya saja.


Hanya kali ini dia gunakan karena ingin menggunakan mobil itu, meski mobilnya itu tidak sebagus milik Azam.


Deru motor memasuki halaman rumah ayahnya Arsyil, pa Marwan. Dia melihat ada mobil dan di teras ada anaknya sedang duduk tersenyum menatapnya. Berdiri menghampiri pak Marwan.


"Assalamu alaikum yah." sapa Arsyil menyalami ayahnya.


"Wa alaikum salam Syil. Kamu sendirian?" tanya ayahnya.


"Kalau sudah beristri pasti datang dengan istri yah. Heheh." kata Arsyil bercanda.


"Oh ya. Heheh. Ya sudah, masuk aja ke dalam." kata pa Marwan.


Arsyil mengikuti ayahnya masuk ke dalam rumah, dia pun masuk ke dapur untuk mengambil air minum karena sejak di jalan dia sangat haus sekali. Pak Marwan meletakkan bungkusan di meja makan, dia melihat anaknya itu sedang minum karena haus.


"Kamu haus sekali ya?" tanya pak Marwan.


"Kamu ada perlu sama ayah, Syil?" tanya ayahnya.


"Iya yah, aku pengen ngobrol sama ayah." kata Arsyil.


"Tentang apa?" tanya pak Marwan.


"Duduk di depan saja yah, ngga enak kalau ngobrol sambil berdiri. Heheh."


"Kamu itu, ya sudah. Ayah mau sholat dulu, kamu kalau mau makan ayah sudah masak nasi dan lauknya ayah baru beli tadi." kata pak Marwan.


"Iya yah, nanti saja." kata Arsyil.


Pak Marwan pergi ke kamar mandi, sedangkan Azam ke ruang tamu. Ponselnya kembali berbunyi, dan tentu saja Arsyil tahu siapa yang meneleponnya. Akhirnya dia pun tidak enak jika harus mengabaikan telepon Azam, dia pun menjawabnya.


"Assalamu alaikum, Zam."


"Wa alaikum, Syil. Kamu sibuk?" tanya Azam di seberang sana.


"Nggak sih, tapi aku lagi di rumah ayah." kata Arsyil.


"Oh, di rumah om Marwan? Apa kamu sedang berdiskusi masalah permintaanku?" tanya Azam.


"Iya, kan ayahku juga harus tahu masalah itu. Lagi pula masalah menikah itu harus di ketahui oleh keluarga, bukan hanya aku sendiri saja. Lagi pun harus ada restu dari orang tuaku, Zam."


"Iya sih, tapi bagaimana dengan om Marwan. Apakah rencana menikah secara mendadak itu akan di restui, aku khawatir Syil."


"Serahkan pada Allah, Zam. Aku sudah membuat keputusan dan keyakinan kalau memang ini jalan jodohku, aku harus menerimanya. Lagi pula kita tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya, aku juga sudah berikhtiar untuk meminta petunjuk pada Allah, agar keputusanku ini benar adanya." kata Arsyil.


Azam diam di seberang sana, menarik napas panjang dan membenarkan ucapan Arsyil itu. Dia merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya dia juga sama sedang berikhtiar untuk mencar jalan agar bisa berjodoh lagi dengan Najwa.


Pembicaraan mereka pun terputus dengan Arsyil menyudahinya karena ayahnya sudah selesai sholat dan kini duduk di hadapannya. Arsyil tersenyum pada ayahnya, sedangkan pak Marwan diam menatap anaknya yang sepertinya mempunyai beban yang cukup berat.


"Apa kamu ada masalah di percetakan Zam?" tanya pak Marwan.


"Ngga ada sih yah, semuanya baik-baik saja. Alhamdulillah, hanya saja aku punya sesuatu berita untuk ayah dan juga meminta saran dari ayah juga." kata Arsyil.


"Saran? Saran apa? Cerita apa itu." tanya pak Marwan.


Begini yah, aku sepertinya ingin menikah." kata Arsyil.


"Apa?! Menikah?!"


_


_


**********************