
Di tempat berbeda, Laila dan Radit tiba di kota tempat kelahiran Ridho. Ini keempat kalinya, Laila menginjakkan kaki di sini. Selama menikah dengan Ridho, ia hanya diajak dua kali ke sini dan ditambha satu kali saat sebelum menikah, tepatnya ketika Ridho meminta restu pada keluarganya saat ingin menikah.
Ridho anak kedua dari tiga bersaudara. Ia memiliki satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Ridho terbilang dari keluarga yang cukup kaya di tempatnya. Namun saat itu, usaha milik sang ayah sedang tidak berlangsung baik. Sang kakak yang kala itu masih hidup, berjuang untuk memulihkan usaha ayahnya. Usaha yang dimiliki keluarga Ridho berangsur menurun karena memang perekonomian negara yang lesu, ditambah biaya rumah sakit ayah Ridho yang saat itu sedang dalam perawatan intensif karena penyakit yang berat, sementara ibu Ridho sudah lama berpulang.
Laila bertemu Ridho, saat pria itu tengah melakukan KOAS atau Co Assisten di tempat tinggalnya. Sebelum mendapat gelar dokter, Ridho menjalani masa ini sebagai asisten dokter di rumah sakit yang terletak bukan di perkotaan. Di sana, Ridho bertemu Laila. Kala itu, Ridho menempati sebuah kontrakan yang dimiliki ayah Laila. Dua tahun tinggal dan tugas di desa itu, membuat Ridho dekat dengan Laila. Perhatian dan kelembutan Laila membuat Ridho nyaman, apalagi saat itu, Ridho baru saja putus cinta. Sng kekasih yang dipacari sejak SMA itu, meminta putus karena tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh.
Ya, sejak SMA, Ridho sekolah di Jakarta dan tinggal bersama pamannya. Dan saat kuliah kedokteran pun, Ridho tetap kuliah di kota yang sama.
Ridho semakin simpatik pada Laila, saat dirinya sakit. Patah hati, membuatnya sakit dan terpuruk, tapi Laila membangkitkannya dan menjadi suster untuknya. Tanpa diberi imbalan, Laila sering memasak untuk Ridho. Setiap kali pria itu pulang dari tugas, ia sudah mendapati kontrakannya yang rapi dan makanan yang tersedia. Laila sudah seperti seorang istri. Itu sebabnya, Ridho akhirnya memilih Laila untuk dijadikan istri dan memperkenalkan pada keluarganya. Namun, hal itu disemulus yang Laila bayangkan. Keluarga Ridho menentang keras, karena Laila berasal dari desa. Padahal walau pun Laila tinggal di desa, ia juga bukan dari keluarga yang sangat miskin.
Walau mendapat tentangan, Ridho tetap menikahi Laila dan tinggal di Jakarta. Karena setelah KOAS, Ridho mendapat pekerjaan yang bagus di rumah sakit. Bukan hanya itu, Ridho juga mendapat rekomendasi untuk langsung menjadi dokter tetap dan melanjutkan kembali pendidikannya menjadi dokter spesialis. Menikah, membuat Ridho justru semakin berkah. Ia tidak memerlukan lagi uang dari keluarganya.
“Bu, rumahnya yang mana?” tanya Radit, setelah taksi itu tiba di depan sebuah rumah yang Laila sebutkan sebelum mereka masuk ke dalam kendaraan itu.
Sontak, perkataan Radit membuyarkan lamunan Laila akan mantan suaminya. Laila melihat rumah yang ternyata masih sama. Itu adalah rumah orang tua Ridho. Menurut kabar, ayah Ridho meninggal dua tahun setelah pria itu pergi meninggalkannya dan kakak lelaki Ridho juga ikut berpulang sekitar dua tahun lalu.
“Ya, ini rumahnya,” jawab Laila mengangguk.
“Tidak salah kan, Bu? Soalnya kan Ibu sudah lama ga ke sini.”
Laila mengangguk. “Iya, Ibu masih inget kok, Dit.”
Radit keluar dari mobil diikuti Laila. Keduanya mendekati rumah itu setelah turun dari taksi dan membayarnya.
Radt dan Laila berdiri di depan gerbang itu. Mereka belum mengucapkan salam, tapi tiba-tiba sudah ada seseorang yang mendekati dari dalam sana.
“Mau cari siapa ya, Bu?” tanya orang itu sembari memegang alat pencabut rumput.
Radit mengira pria paruh baya ini adalah tukang kebun rumah ini. Ia akui rumah orang tua ayahnya memang sangat besar.
“Pemilik rumah ini masih Almarhum Sudiro?” tanya Radit menyebut nama sang kakek yang tidak pernah ia tahu wajahnya.
“Ya betul,”’ jawab pria paruh baya itu.
“Kalau Andira, tinggal di sini?” tanya Laila menyebut nama adik Ridho.
“Iya, tapi sekarang Nyonya Andira dan suaminya sedang keluar,” jawab pria paruh baya itu lagi.
“Kami ingin bertemu dengan Nyonya itu,” ucap Radit.
“Masnya dan Ibunya dari mana?” tanya si bapak itu.
“Dari Jakarta. Saya ada urusan penting dengan Andira,” jawab Laila.
Bapak itu pun membukakan pintu dan mempersilahkan Laila bersama Radit untuk masuk. Laila dan Radit pun duduk di ruang tamu sembari menunggu Andira.
D tempat lain, Bilqis masih berada di kantor. Ia sengaja tidak ikut bersama Alex karena untuk hari ini, Alex ditemani oleh Jhon dan Bimo. Alex membawa Jhon untuk mempresentasikan sistem kemanan siber terbaru untuk klien terbaiknya.
Perusahaan yang Alex kembangkan bersama Jhon dan kawan-kawan adalah perusahaan penyedia layanan keamanan siber yang berpusat di Singapura. PT. K-Net Security cukup terkenal di Singapura. Bahkan para pengusaha di Indonesia pun mulai melirik kecanggihan sistem pengamanan yang Alex dan kawan-kawannya miliki, hingga akhirnya ia membuka kantor di pusat kota Jakarta dan berharap dapat melakukan cyber knowledge serta transfer tekhnologi untuk meningkatkan kapabilitas kebutuhan perlindungan siber terhadap seluruh klien di Indonesia.
“Halo.” Bilqis menjawab telepon kantor yang berdering.
“Daddy. Hacim.”
Kening Bilqis langsung mengernyit mendengar suara imut itu. “Aurel.”
“Mommy?” tanya Aurel yang hafal dengan suara sekretaris ayahnya.
“Ya.”
Suara imut Aurel membuat Bilqis rindu.
“Tidak ada, Sayang. Daddy sedang keluar kantor dengan Uncle Jhon dan Uncle Bimo.”
“Oh. Pantas, ponsel Daddy tidak diangkat-angkat,” sahut Aurel dengan nada lesu.
“Aurel sakit?” tanya Bilqis.
“Iya.” Gadis kecil itu mengangguk dengan anggukan kepala yang tidak bisa Bilqis lihat, tapi Bilqis bisa membayangkan bagaimana dua kuncir rambutnya itu bergoyang saat mengangguk.
“Aurel sakit apa?” tanya Bilqis lagi.
“Demam, Mommy. Kepalaku pusing dan ingin muntah.”
“Ya, ampun sayang. Terus kamu di sana sama siapa?” tanya Bilqis panik.
“Hanya dengan Nanny Maya.”
“Ya sudah, Mommy akan ke sana. Berikan telepon ini pada Maya, Mommy ingin bicara.”
Aurel pun menurut dan langsung memberikan telepon itu kepada pengasuhnya. Setelah itu, Maya berbicara dengan Bilqis. Bilqis benar-benar panik. Ia kasihan mendengar Aurel di sana yang sedang sakit tanpa pengawasan orang tua. Walau ada pengasuhnya di sana, tapi Bilqis tetap merasa iba. Ia pernah berada di posisi Aurel. Saat itu sang ayah pergi dan tak kembali, sementara Laila sedang bekerja untuk menghidupi biaya hidup mereka. Bilqis dan Radit pun di asuh oleh tetangganya yang dibayar oleh Laila setiap bulan.
Setelah menyetir mobil selama lebih dari tiga puluh menit, Bilqis sampai di rumah itu. Rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil itu memiliki gaya design yang unik.
Bilqis mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah saat kakinya melangkah memasuki rumah itu.
“Mommy …” teriak Aurel yang langsung berlari ke arah Bilqis.
“Sayang.” Bilqis pun langsung menangkap tubuh mungil itu. “Badanmu panas sekali, Sayang.”
Saat Bilqis menggendong tubuh itu, dapat Bilqis rasakan suhu tubuh Aurel.
“Kita ke dokter ya, Sayang?” tanyanya pada putri kesayangan Alex.
Aurel menggeleng. “Tidak. Aku tidak suka bau rumah sakit.”
Kemudian, Bilqis menanyakan obat yang biasa dikonsumi Aurel pada Maya. Pengasuh Aurel itu pun menunjukkan obat yang biasa Alex berikan pada putrinya.
“Sayang, sekarang kamu makan dulu ya. Setelah itu minum obat ini.” Bilqis menunjukkan obat penurun panas dalam bentuk sirup.
“Aure; tidak mau makan.” anak itu menutup mulutnya.
“Sedikit saja. Mommy suapi ya.” Bilqis tetap membujuk gadis kecil itu untuk makan.
Walau sulit membujuk Aurel untuk makan, tapi Bilqis memiliki seribu cara agar makanan itu masuk ke dalam mulut Aurel. Bilqis pun terpaksa menyuapi Aurel sembari bercerita.
“Kalau suara macan bagaimana, Sayang?” tanya Bilqis dengan sendok yang sudah siap di depan mulut Bilqis.
“Aaa …” Baru mulut Aurel terbuka, dengan cepat Bilqis memasukkan makanan itu ke mulutnya.
Begitu seterusnya hingga Akhirnya Aurel pun mau menelan makanannya. Di tempat yang jauh dari tampat yang diduduki Bilqis dan Aurel, Alex melipat kedua tangannya di dada sembari tersenyum. Ia cukup lama memperhatikan bagaimana Bilqis menyuapi putrinya dengan telaten.
Sebenarnya, saat Bilqis masih dalam perjalanan menuju rumah ini, Alex menelepon kembali nomor yang meneleponnya dan tidak diangkat karena masih berada di ruang rapat kantor Ammar. Untungnya, pertemuan mereka sudah selesai, sehingga ia langsung meluncur pulang mendengar kabar dari Maya kalau demam Aurel semakin tinggi dan tidak mau makan.
“Aku tidak salah memilihmu, Qis,” gumam Alex karena saat ini ia bukan hanya mencari wanita yang ia sayangi saja, tapi juga yang putrinya sayangi juga yang menyayangi putrinya. Dan hal itu ada di diri Bilqis.