Membawa Kabur Anak Kembar Presdir

Membawa Kabur Anak Kembar Presdir
The Healer


New York, Manhattan


Hospital


Dokter Arthur keluar dari ruangan ICU, Mark dengan cepat menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri ku Ar?"


"Ella sudah lebih baik Mark, hanya saja terjadi pembengkakan pada jantung nya"


Deg


"T-tapi bagaimana bisa"


"Mark, Ella memang rutin mengkonsumsi obat, tapi bukan berarti hal ini tidak terjadi mengingat sejarah kesehatan jantungnya"


Jelas dokter Arthur


"Kau tenang saja Mark, Ella akan baik-baik saja, kita akan terus pantau, sebentar lagi kami akan memindahkannya ke lantai atas" Arthur menepuk pundak sahabat nya itu.


.


.


.


Zena sedari tadi melirik kesisi kirinya dimana Zack sedang duduk dengan Zein di pangkuannya, sementara Zain berada di tengah antara dirinya dan Zack.


"Tante Daniella sakit apa Tuan?" Tanya Zena


"Mom memiliki penyakit jantung bawaan, tapi sudah berhasil di operasi, namun belakangan ini karena sesuatu hal jantung Mom tidak begitu baik" terang Zack


"Sesuatu Hal?!" Zena menoleh ke Zack begitu juga dengan Zack


Mom drop karena kepergian mu Ze.


"Ya, sepertinya belakangan ini Mom terlalu banyak berpikir sehingga itu berpengaruh pada jantungnya" Ucap Zack lagi, Ia tak mungkin mengatakan jika kepergian Zena kala itu membuat Ibunya benar-benar drop.


Bisa-bisa Zena akan menyalahkan dirinya sendiri atas ini semua.


Mobil yang di bawa Nevis memasuki landasan terbang dan berhenti tidak jauh dari pesawat pribadi milik Zack.


"Daddy kita naik pesawat?" Tanya Zein terlihat begitu gembira, Zack menurunkan Zein dan membantu menahan pintu sebab Zain dan Zena masih di dalam mobi dan hendak turun.


Zack terkekeh kecil "Ya, apa kau suka?"


"Ya, ya, ya, Zei suka" Ia melompat kegirangan tak sabar ingin masuk kedalam pesawat tersebut, Zack menoleh ke Zain yang juga menatap pesawat tersebut dengan kekaguman tapi Ia hanya diam saja dan - act so cool.


"Apa kau menyukai pesawat?" Tanya Zack yang berjongkok disamping Zain agar sejajar namun malah mengejutkan Zain sedikit.


Zain menggeser beberapa langkah "Hanya suka lihat saja" Ucapnya lalu menoleh pada Ibunya yang sudah turun "Mom, apa kita akan ketemu Granma dan Granpa?


"Iya sayang, Granma saat ini sedang sakit, kita pergi menjenguknya dulu ya" Zena mengusap lembut kepala Zain yang mengangguk.


Kini mereka semua berjalan dan masuk kedalam pesawat, sepanjang perjalanan Zein tidak bisa diam, Ia banyak berceloteh dan kesana kemari, apalagi ketika pramugari membawa camilan kecil, Zein begitu senang.


"Apa kau menyukainya" tanya Zack pada putrinya itu


"Hem" mengangguk "ighni Eknhak" mulutnya yang penuh camilan yang Ia makan.


"Zei, kunyah dan telan dulu makanannya baru bicara, itu gak sopan sayang" Tegur Zena dengan dangat lembut.


"Maaggfhh Mom" Zei pun kembali duduk


"Zain tidak ingin makan" tanya Zena menatap putranya yang lebih suka dengan pemandangan luar.


"Bagaimana pesawat ini bisa terbang?" Ucapnya menatap sayap pesawat yang ada diluar


"Gaya Angkat dan Gaya Gravitasi" Zack bersuara, keduanya sempat bertemu pandang namun Zain memutuskannya lebih dulu.


Sepertinya Zack memang harus lebih ekstra lagi dalam mengambil hati Zain.


Tak berapa lama pesawat mereka tiba, dan mereka bersiap-siap hendak turun.


"Berikan Zein padaku" Tutur Zack yang melihat Zena menggendong Zein yang tertidur.


"Em, baiklah" Zena membiarkan Zack mengambil Zein dalam pelukannya dan itu membuat kulit tangan dan lengan mereka bersentuhan, sedikit menciptakan kilat antara keduanya.


Nevis menggandeng Zain, keduanya mulai akrab sedang Zena berjalan di belakang mereka, Zack adalah yang paling akhir turun.


Kelima orang itu langsung masuk kedalam mobil, dan di dalam Zena tak lepas pandangannya pada Zack yang menatap Zein yang tidur di pangkuannya, meski tipis tapi Zena dapat melihat senyuman Zack.


Ia sangat menyayangi anak-anak.


"Mom...." Zain menoleh pada sang Zena


"Ya sayang"


"Kepala ku sedikit pusing" Ucap Zain, Zack langsung menoleh ke Zain yang berada didepannya


"Ada apa" tanya Zack pelan, tak ingin membangunkan Zein namun Ia juga khawatir pada Zain.


"Sepertinya hanya kelelahan, Ia sedikit pusing" Ucap Zena "Zain minum dulu ya, lalu baring di pangkuan Mom" Zain mengangguk patuh, Ia sudah memejamkan matanya.


Zena melihat raut khawatir pada wajah Zack.


"Lebih cepat Feng" Seru Zack


"Baik Tuan"


"Apa dia sering seperti ini" Zack menatap putranya yang menutup matanya.


"Tidak juga, Zain lemah dengan perjalanan jauh, Sewaktu Julian mengajaknya berkeliling juga Ia mengeluh pusing setelahnya" jelas Zena mengusap lembut kepala putranya sembari memijit perlahan


"Julian?!" Zack tidak fokus pada penjelasan Zena, Ia malah lebih fokus nama pria yang di sebut oleh Zena


"Ayah Julian" Ucap Zain yang mendengar pembicaraan Zena dan Zack.


"Sia...


"Kita sudah tiba Tuan" Feng tak sengaja menghentikan ucapan Zack yang ingin bertanya siapa Papa Julian


Feng membawa mereka menuju lantai dimana Daniella di rawat.


"Nevis, hubungi Paman Andi, katakan padanya untuk menyiapkan kamar anak-anak" ucapnya kala mereka berada di dalam lift


"Baik Tuan"


"Kamar anak-anak?" Zena melayangkan tatapan keberatan pada Zack


"Kau keberatan?"


"Aku dan anak-anak akan tinggal di hotel" Ucap Zena bertepatan dengan pintu lift yang terbuka


"We talk later - kita bahas nanti" Zack melangkah lebih dulu membawa Zein yang masih terlihat nyaman tertidur dalam pelukan Zack.


Kamar VVIP 101


"Come on Sayang, kau harus memakan obatnya" pinta Mark pada Ella yang berada di ranjang


"Aku tidak ingin Mark, obatnya sangat pahit" Rengek Daniella dan Mark hanya bisa menghela nafasnya bersamaan dengan ketukan pintu "Masuklah"


Feng membukakan pintu kamar ruangan Daniella, Zack masuk dengan masih menggendong Zein lalu disusul dengan Nevis, sedang Zena masih berdiri di luar.


"Mom, apa kau tak ingin masuk" tanya Zain menghentikan langkahnya menunggu sang Ibu


"Zack, kau menggendong siapa" Tanya Mark yang berdiri membelakangi sang istri


"Hai Mom, Hai Dad" Sapa Zack


Mark dan Daniella kini dapat melihat dengan jelas Zack sedang menggendong anak perempuan.


"Zacky..." Daniella berusaha untuk duduk dan di bantu oleh Mark "Anak siapa yang kau gendong, Nak" tanya Ella.


"Mom, bukankah berjanji satu hal sama Zack, Mom akan sembuh jika....." Zack menggantungkan kalimatnya dan menoleh ke belakang dimana pintu masuk terbuka "Kemarilah" ucap Zack.


"Ayo Mom" Zain menarik tangan Zena dan perlahan mereka masuk dengan Zena tertunduk


"Z-Zena.... Zack, Kau berhasil membawa Zena kembali" Daniella membuka paksa selang oksigen yang ada di hidungnya dan bergegas hendak turun dari ranjang "Zena... Zena.... Kau kembali" Ucapnya yang hendak membuka infusnya


"Ella" untungnya Mark cepat tanggap


Melihat itu Zena segera menghampiri Daniella, dan kedua wanita itu saling berpelukan dengan air mata yang mengalir deras.