
“Jadi mas sudah tahu?”, tanya Krisna.
Ted mengangguk. Ia bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu ia dan Pak Hendra terlibat bisnis dengan orang yang sama. Di sana Pak Hendra mulai menunjukkan keanehan karena terus lupa dengan apa yang di sampaikan oleh orang-orang.
“Bapak juga sempat pingsan. Aku bawa dia ke rumah sakit. Kata dokter gejala alzheimer.”
Pak Hendra tersenyum kecut.
“Lalu apa? Kalian mau menertawakan saya karena jadi orang tua sakit-sakitan.”
“Pa!”, teriak Krisna.
Suasana hening. Krisna meninggalkan ruang tamu dan di susul oleh Ted.
“Kamu nggak pergi juga?”, tanya Pak Hendra.
Biru menatap Pak Hendra.
“Jadi tua dan sakit itu bukan sebuah dosa. Kakek nggak harus selalu sehat agar tetap di hormati.”
“Siapa bilang kakek takut nggak di hormati?”
“Lalu?”
“Kakek hanya takut nggak bisa menuntaskan tanggungjawab pada mereka-mereka yang sudah menggantungkan hidupnya pada kakek.”
“Kan ada papa mama kek.”
Pak Hendra terdiam, seolah tidak puas dengan jawaban Biru.
“Ada Biru juga.”, kata Biru sambil tersenyum.
Pak Hendra menatap cucu sulungnya tersebut.
“Kamu bersedia?”
Biru mengangguk. Pak Hendra tersenyum lega.
“Sekarang, Biru bisa panggil yang lain?”
“Ya.”
Biru pergi untuk mengajak Krisna dan Ted kembali bergabung dengan mereka di ruang tamu.
“Maafkan papa.”, kata Pak Hendra tiba-tiba.
Krisna dan Ted terkejut karena selama ini Pak Hendra adalah sosok yang sangat keras kepala bagi mereka. Bahkan ia tak pernah meminta maaf sekalipun. Namun kini dengan mudahnya ia berkata maaf, membuat mereka salut dengan Biru.
“Rencana Tuhan memang sangat unik ya pak.”, ucap Ted.
“Kamu tahu nggak. Dulu kakekmu ini sudah berencana menikahkan kamu dan Avisa saat kamu kembali ke rumah ini tapi calon papa mertuamu ini menolak. Katanya nggak mau mengekang keinginan anak. Apalagi perkara menikah.”
Saking terkejutnya, Biru tidak mampu berkata-kata.
“Nggak nyangka kan?”, tanya Krisna.
“Kalau dulu aku setuju, mungkin Avisa akan membenciku lebih dari sekarang.”
“Makanya kalau bercanda itu jangan keterlaluan mas.”
“Habis reaksi anaknya lucu loh.”
Mereka tertawa.
“Jadi anda tidak pernah mengatur pernikahan kami karena bisnis?”, tanya Biru.
“Buat apa? Bisnis saya sudah besar tanpa harus mengorbankan perasaan anak-anak saya.”
“Lalu Jingga?”
“Kamu kira Jingga bertunangan dengan Alexa karena saya?”
“Jadi bukan?”
Ted tertawa keras.
“Alexa berusaha keras mendapatkan Jingga sejak pertama kali saya bawa dia ke Inggris. Kebetulan saja ayahnya rekan bisnis saya.”
Biru terdiam. Perlahan ia mulai tahu bahwa yang selama ini di pikirkan Avisa hanyalah kesalahpahaman belaka.
Setelah semua pembahasan selesai, mereka mulai membicarakan hal lain yang lebih ringan. Sedangkan di taman belakang, Avisa dan Charlotte belum juga mau bicara sejak tadi. Ajeng bingung di buatnya.
(di sini mereka berbicara menggunakan bahasa inggris yang sudah author terjemahkan)
“Kalian nggak akur ya?”, tanya Ajeng.
“Ya.”, jawab Charlotte.
Ajeng tersenyum canggung.
“Charlotte sudah tahu tempat mana saja di daerah sini?”
“Tidak banyak. Saya baru dua kali ini datang ke kota ini.”
“Nanti mau jalan-jalan bersama?”
“Oh ide bagus.”
“Avisa juga.”
Ajeng menoleh pada Avisa. Meskipun sebenarnya enggan, Avisa menjawabnya karena sungkan.
“Iya tante.”
“Bagus.”
“Bagaimana Charlotte suka sama rumah ini?”, tanya Pak Hendra.
“Suka sekali. Rumah ini sangat indah.”
“Sering-sering datang kemari kalau suka.”
“Sepertinya anda harus berunding dengan Ted untuk hal itu.”
Mereka tertawa kecuali Avisa.
“Bagaimana kalau sekarang kita makan malam dulu? Sudah jam 6.”, ajak Krisna.
Mereka semua setuju dan menuju ruang makan.
***
Di rumah Biantara.
Sepulang dari kediaman Darmawan, Avisa mengajak Ted untuk berbicara. Seperti saran Bu Windari dan Biru.
“Pa.”
“Ya?”
“Avisa mau bicara.”
“Ok. Tapi papa mau mandi dulu. Gerah.”
“Iya.”
Mereka ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
“Babe.”
“Ya.”
“Malam ini, aku akan menceritakan semuanya pada Avisa dan mengakhiri semua kesalah pahaman ini.”, ucap Ted.
“Jadi?”
“Jadi kamu juga harus minta maaf atas perlakuanmu selama ini ke dia.”
“Memang aku melakukan apa?”
“Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tahu. Aku tahu semuanya. Jadi aku mohon. Aku sudah lelah bertengkar dengan anak-anakku. Kamu bisa menerima Jingga, kenapa Avisa tidak?”
Charlotte terdiam.
“Ok?”, Ted memastikan.
“Ok.”
“Terimakasih. Aku mencintaimu.”
“Aku juga.”
Selesai membersihkan diri, mereka berkumpul di ruang tamu.
“Jadi?”
“Hari ini, Avisa mau papa cerita semuanya. Avisa akan dengerin.”
Segala rahasia yang di simpan oleh Ted akhirnya di ceritakan pada Avisa.
Tahun 19xx. Sebelum Dila mengandung Avisa, ia sempat berselingkuh dengan pemilik salah satu maskapai penerbangan di negara ini. Hubungan mereka sudah sangat jauh. Karena itu saat mengandung Avisa, Ted sempat tidak percaya bahwa itu adalah anak kandungnya.
Sampai pada hari kelahiran Avisa, barulah mereka tahu bahwa ia adalah anak kandung Ted. Akhirnya Ted memberi kesempatan kedua pada Dila. Namun saat itu justru Ted mendapatkan kesempatan untuk melenarkan bisnisnya di Inggris.
Di sana, ia selalu mengirim surat pada istri dan anak-anaknya namun pada suatu ketika suratnya tak pernah mendapatkan balasan. Akhirnya dengan tak enak hati ia membayar seseorang untuk memata-matai Dila.
"Papa tidak ingin percaya tapi ternyata yang papa khawatirkan benar-benar terjadi. Mamamu berhubungan lagi dengan lelaki itu. Papa merasa di bodohi.”
Karena itu Ted bersumpah akan menjjadi lebih sukses dari pria itu namun tidak akan menceraikan Dila terlebih dahulu agar mereka tidak bisa bersama. Sejak saat itu juga, Ted tidak mau lagi mengirim surat ke Indonesia.
Bertahun-tahun fokus pada impiannya, hanya Charlotte yang menemaninya hingga mendapatkan kesuksesan. Ted adalah orang yang sangat mementingkan balas budi, untuk itu ia menikahi Charlotte dan menyiarkannya di tv beberapa tahun setelahnya. Agar Dila bisa menyaksikan itu dari mata kepalanya sendiri.
“Kamu bisa bilang papa brengsek dan tidak masuk akal. Tapi yang papa rasakan saat itu hanya sakit yang teramat sangat. Papa kira kesempatan yang papa berikan akan membuat mamamu menjadi lebih baik dan tidak mengulanginya lagi. Tapi ternyata?”
Ted hampir saja meneteskan air matanya mengingat kenangan pahit di hari-hari lalu.
“Papa tidak mau kalian di besarkan oleh laki-laki itu. Papa bertekad membawa kalian bagaimanapun caranya. Karena kalian anak papa.”
“Jadi papa tahu bagaimana keadaan mama?”
Ted menunduk.
“Sejauh apapun cara papa memisahkan mereka, mamamu tetap berakhir dengan dia. Mereka akhirnya menikah. Sejak itu, papa tidak mau tahu lagi.”
Avisa menghela nafas berat.
“Avisa... Pernah ketemu mama.”
Ted spontan menoleh pada Avisa.
“Mama minta Avisa tinggal bersama tapi Avisa nggak bisa bilang iya. Avisa takut papa akan merusak kebahagiaan mama lagi kalau Avisa ikut mama.”
“Papa tidak pernah merusak kebahagiaan mama, sayang.”
“Waktu papa ambil Jingga?”
“Itu karena mamamu saat itu sudah hamil anak laki-laki itu.”
Avisa terbelalak, kaget dengan penuturan papanya.