
Berkali-kali Zoya menghela nafas dengan panjang. Melihat tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun di dalam kamar mandi.
"Sebenarnya, kulit Yaya bagus. Padahal dia nggak pernah merawatnya. Dia juga cantik." Zoya meraba wajahnya, melihat dari pantulan kaca kecil yang berada di dalam kamar mandi.
"Gue harus bisa mengecilkan tubuh Yaya. Gue nggak sanggup membawa tubuh segede gaban ini."
Zoya membuka lemari, memilih pakaian yang setidaknya bisa dia pakai untuk berjalan-jalan keluar rumah. Pagi ini, Zoya ingin pergi ke taman untuk berjalan pagi, sebelum dia harus pergi untuk bekerja.
"Ckk,,," decak Zoya, melihat pakaian Yaya.
Zoya meraup wajahnya dengan kasar. Dengan penampilan yang sama sekali bukan selera Zoya, Zoya keluar dari kamar.
"Mau kemana sayang?" tanya bu Murni yang sedang membersihkan dapur.
"Zoya mau ke taman bu." jelas Zoya.
"Biar dia tar ayah ya." pinta Bu Murni.
"Jangan. Zoya mau berjalan kaki saja. Sekalian olah raga."
Bu Murni tersenyum. "Semangat sayang. Nanti ibu buatkan salad buah."
Zoya mengangguk senang. Zoya mengira, ibu serta ayah Yaya akan sakit hati dan kecewa dengan keputusannya untuk menurunkan berat badan.
Ternyata tebakan Zoya salah. Keduanya bahkan mendukung Zoya. Dan juga memberi Zoya semangat.
Zoya memang belum kembali bekerja. Dirinya beralasan ingin memulihkan diri dengan benar. Kenyataannya, Zoya memang belum siap berhadapan dengan para karyawan di perusahaan.
Tentu saja karena sekarang dirinya bukan Zoya. Melainkan Yaya. Dan Zoya sangat tahu, bagaimana para karyawan setiap hari memperlakukan Yaya.
Alasan berikutnya tak kalah penting. Yakni Milly dan sang papa. Kembali bekerja, itu sama saja akan bertemu dengan Milly. Yang notabennya mereka berada di satu ruangan.
Zoya tentu saja harus bisa mengendalikan diri saat bertemu Milly. Yang menjadi pertanyaannya, apa Zoya bisa melakukannya.
Melihat dari ingatan Yaya saja, Zoya meradang dan ingin sekali menghabisi Milly. Apalagi jika bertemu secara langsung. "Nggak bisa. gue harus lebih cerdas dari pada Milly."
Zoya merasa jika Milly adalah perempuan yang sangat berbahaya. Dan tidak bisa dianggap remeh. Dirinya berhubungan dengan sang papa selama bertahun-tahun.
Dan semua itu tidak ada yang mengetahuinya. Baik dirinya maupun sang mama. "Jika gue langsung melabraknya, yang ada Yaya yang akan terkena imbasnya."
Zoya masih mengingat bagaimana kejamnya Milly mengurung Yaya di atas gedung saat hujan lebat. "Gue nggak boleh gegabah. Ingat Zoy,, elo Yaya, bukan Zoya. Elo nggak punya power."
Zoya berkata seperti itu, lantaran tahu keadaan kedua orang tua Yaya. Dimana mereka berdua mencari pundi-pundi uang dengan bekerja membuka toko kelontong di depan rumah.
"Beruntung, gue orangnya nggak pilih-pilih makanan." gumam Zoya, dimana makanan yang dia makan sekarang berbeda dengan makanan yang setiap jari dia makan.
"Tapi, jika dipikir-pikir, enak juga masakan ibunya Yaya. Pantesan anaknya segede tong begini." ujar Zoya memandang perut Yaya yang buncit seperti sedang hamil.
Zoya masih dalam berjalanan pelan menuju taman. "Astaga. Rasanya luar biasa." Zoya menghentikan langkahnya. Dengan nafasnya sudah terengah.
Padahal dirinya baru berjalan beberapa meter saja. Namun Zoya sudah merasa kelelahan. "Gila." Zoya menggelengkan kepalanya.
Padahal, Zoya setiap seminggu tiga kali selalu mendatangi tempat gym. Dimana dirinya berolah raga di sana untuk menjaga bentuk serta kebugaran tubuhnya.
Di saat Zoya sedang beristirahat, terdengar suara celetukan dari arah belakang yang membuat telinganya panas.
"Lihat....!! Ada anak gajah sedang berjalan...!!" serunya, disusul tawa yang terdengar riuh.
Zoya membalikkan badan. Nampak beberapa anak berseragam putih merah memandang ke arahnya disertai tawa lepas.
"Mereka....!! Sialan...!! Beraninya mengejek gue. Anak-anak brengsek." umpat Zoya berjalan menghampiri mereka.
Mereka berani melakukannya lagi dan lagi, lantaran Yaya hanya akan pergi tanpa menghiraukan cuitan mereka, saat mereka mengatakan hal seperti itu.
Itulah yang membuat anak-anak tersebut semakin berani mengejek Yaya. Dan ini, pertama kalinya bagi Zoya dihina seperti ini. Dan pastinya, Zoya tidak akan terima.
"Hooeeyy,,,, anak gajah datang,,,,!! Dia melotot....!! Awa...!!" teriak salah satu dari mereka, sementara yang lain tertawa.
"Beraninya bermain-main dengan Zoya." gumam Zoya tersenyum samar.
Dan,,,, "Aaaawww...." seru seorang anak yang berteriak tadi.
Sebab, Zoya langsung menjewer telinganya, menariknya ke atas tanpa ampun. "Elo masih kecil. Punya mulut dijaga. Jika sekali lagi, mulut elo ngomong macem-macem, gue jahit. Mau...!!" bentak Zoya, seraya melepaskan tangannya di telinga sang anak.
Anak tersebut menangis sembari memegang telinganya yang memerah karena dijewer Zoya. "Mama.....!!!" teriaknya mengadu.
Sementara yang lainnya terdiam, dan hendak pergi. Tapi suara Zoya membuat tubuh mereka membeku. "Mau kemana kalian...!!" bentak Zoya.
Semua anak di hadapan Zoya hanya mengangguk dengan wajah pucat pasi, karena takut dengan Zoya.
"Sekarang pergi....!! Cengeng...!!" usir Zoya.
Semua anak-anak tersebut berlari menjauh dari Zoya. "Yaya,,, Yaya,,, ternyata elo juga kalah sama anak-anak sekecil semut itu. Badan doang besar." umpat Zoya pada tubuh yang sedang dia tempati.
Zoya hanya berjalan santai mengitari taman. Bukan berlari. Sebab, tak mungkin Zoya berlari, yang ada dirinya malah pingsan.
Zoya sama sekali tidak menggubris para manusia yang memandangi dirinya dengan berbagai ekspresi. Zoya tetap enjoy berjalan santai, untuk mengeluarkan keringat.
Zoya merasa lelah, dia berhenti dengan duduk di sebuah bangku yang ada di taman. "Huuuufffttttt,,,, capek. Apa gue masuk gym saja ya, buat mengecilkan badan."
Sebab, jika hanya menjaga pola makan dan olah raga seorang diri, Zoya yakin. Dirinya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengecilkan tubuh.
"Apa Yaya punya uang." gumam Zoya.
Zoya memandang lurus ke depan. "Gue sama sekali belum pernah melihat-lihat isi dari almari atau laci meja Yaya. Siapa tahu ada uang di sana yang bisa gue gunakan." batin Zoya.
Sebenarnya, Zoya bisa saja mengambil uangnya sendiri. Tapi tak mungkin dia melakukan hal tersebut. Yang ada, dia malah dituduh pencuri oleh keluarganya sendiri.
Di saat Zoya sedang berada di taman. Di rumah, Bu Murni dan Pak Endri sedang dilabrak oleh orang tua anak yang dijewer oleh Zoya.
"Maaf bu, kami tidak tahu apapun." cicit Bu Murni.
Ibu dari anak itu berkacak pinggang sembari memasang ekspresi judesnya. "Beri pengertian pada anak ibu itu. Jangan hanya beraninya sama anak kecil. Mentang-mentang tubuhnya segede bus." serunya.
"Lihat, anak saja tidak jadi sekolah. Malah pulang dan menangis karena dijewer Yaya."
"Maaf bu, mungkin ada salah paham di sini." tutur pak Endri mencoba meredam emosi sang ibu tersebut.
"Salah paham... Salah paham... Tidak ada salah paham. Anak bapak saja yang sok jadi preman. Mana korbannya anak kecil. Apa nggak malu." teriaknya, mengundang beberapa tetangga berdatangan ke rumah Pak Endri.
"Ada apa ini?" tanya salah satu tetangga pak Endri.
"Lihat ini." ibu tersebut menunjuk ke arah anaknya yang masih sesegukan sembari memegang sebelah telinganya.
"Yaya menjewer anak saya. Hingga dia kesakitan." ucapnya mengadu.
"Maaf bu, saya tadi melihat kejadiannya. Bukan mbak Yaya yang bersalah. Tapi anak ibu dan teman-temannya." tukas seorang perempuan dengan membawa kantong berisi sayuran.
Beliau memang melihat para anak-anak yang setiap hari selalu mengejek Yaya di berbagai kesempatan. Dan Yaya selalu berlalu, tak menggubris mereka.
Tapi kali ini, yang membuatnya terkejut adalah sikap Yaya yang tak seperti biasa. Dia menghampiri anak-anak itu dan memberi pelajaran pada mereka.
Sedangkan pak Endri dan bu Murni hanya diam. Pasalnya mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa memang Zoya yang bersalah, atau malah anak ibu ini yang bersalah.
"Ooohhh,,, ibu membela Yaya...?! Anak saya masih kecil bu...!!" ucap sang ibu tidak terima.
"Bukan begitu bu, tapi memang anak ibu dan teman-temannya yang memulai. Mereka mengejek mbak Yaya. Dan saya rasa, mbak Yaya hanya merasa geram dengan tindakan mereka." jelasnya.
"Tetap saja itu tidak dibenarkan. Yaya itu sudah dewasa. Dan mereka masih anak-anak. Masa malah melakukan hal seperti ini. Harusnya diberitahu saja, bukannya malah dijewer." kekehnya tak mau disalahkan.
"Baik ibu-ibu. Saya sebagai ayah dari Yaya meminta maaf atas kelakuan serta tindakan yang dilakukan Yaya. Sekali lagi, kami sebagai orang tua meminta maaf pada ibu." ujar pak Endri merendahkan diri.
Ibu tersebut menatap sinis pak Endri, tanpa mengatakan sepatah katapun, dia mengajak anaknya pergi meninggalkan rumah pak Endri.
"Dasar. Anaknya yang bersalah, malah nyalahin orang lain." ucap salah satu tetangga dari Yaya.
"Pak Endri, bu Murni, sudah.... jangan diambil hati. Kami yakin, Yaya tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan." ucap sang tetangga.
"Benar pak, bu, tadi daya melihatnya sendiri, sewaktu membeli ini." tukas salah satu ibu-ibu sembari mengangkat barang belanjaan di tangannya.
"Lagi pula, saya menebak mbak Yaya sudah jengkel. Mereka, anak-anak itu selalu mengatakan dan menghina Yaya karena bentuk badannya. Maaf,,, pak, bu, jika saya salah berbicara." ujarnya, juga merasa tidak enak.
Pasalnya, dia membawa-bawa postur tubuh Yaya. "Tidak apa-apa bu, memang anak kami badannya subur." canda bu Murni sembari tersenyum.
Sebab, setahu mereka Yaya adalah pribadi yang baik, sopan, dan ramah. Tanpa mereka tahu, jika yang ada di dalam tubuh Yaya saat ini, bukalah sosok Yaya yang mereka kenal.
Melainkan Zoya yang tidak akan pernah mau mengalah dan tidak akan pernah mau direndahkan oleh siapapun. Zoya yang selalu mengangkat dagunya, saat berhadapan dengan siapapun.
Di taman, Zoya merasa sudah lumayan membakar kalori. "Gue pulang saja. Maaf Ya,,, gue mau geledah kamar elo. Gue butuh uang. Semoga saja simpanan uang elo sama kayak berat badan elo." gumam Zoya sembari berjalan.
"Gue nglakuin ini juga buat elo. Biar elo nggak terus-terusan dihina. Emang elo nggak capek. Gue saja yang dihina, dan itu hanya sekali. Astaga,,,, darah gue dah naik ke ubun-ubun." lanjut Zoya berbicara seorang diri.