Master Of World

Master Of World
Hanya Aku


Bagaimana pun menyembunyikan diri, wajah aslinya dapat dikenalinya, dapat dilihat oleh Arata. Sena hanya tersenyum, kemudian menunduk memberi hormat padanya."Aku mengerti, akan sama seperti sebelumnya,"


Kalimat yang diucapkan Sena terdengar samar olehnya. Pria yang ingin bergerak, bibirnya ingin berucap. Namun terlambat, waktu yang dimilikinya hanya beberapa detik.


Kesadarannya tiba-tiba kembali ke dalam gazebo, sedangkan Enkai telah kembali menguasai dirinya.


"Jangan! Agghhh..." Arata berteriak histeris, melemparkan cawan tehnya.


Prang!


Pecahan porselen yang berantakan."Wanita s*alan! Kamu sengaja! Kurang baik apa aku memperlakukanmu? Kamu mengorbankanku!? Lebih baik kamu mati! Aku ingin kamu mati! Lebih baik kamu tidak ada di dunia ini!" Kalimat, setiap kata yang menghantuinya selama berada di ruang ini. Ingatan yang memang disegel olehnya. Namun, setiap kata yang terlontar kala emosi tidak dapat dikontrol olehnya kini kembali diingatnya.


Memiliki kekasih yang penurut, tidak melawan sama sekali atau menjelaskan. Kala menyuruhnya mati maka dia akan mati. Sebuah hal gila yang dilakukan Arata setelah kematian kekasihnya, memilih menghentikan tindakan ayahnya yang hendak menuntut keadilan. Daripada menggunakan sisa energinya untuk menyelamatkan Hime.


"Maaf..." Hanya itulah kata yang tersisa. Dirinya tidak mengetahui kapan dapat kembali seperti semula lagi. Apa Hime akan mengulangi hal yang sama? Menuruti perintahnya 2300 tahun yang lalu untuk mati?


"Ini konyol, aku berharap pada diriku sendiri. Agar dapat menarik kata-kataku, jika bisa aku ingin diriku sendiri dapat menghargai apa yang telah aku miliki." Gumamnya, menuangkan teh ke dalam cawan lain yang masih utuh.


Air matanya mengalir, setiap detik yang diingat olehnya. Hanya karena beberapa kalimat, Hime tersenyum mengatakan akan menuruti apapun kata-katanya. Seorang wanita yang hanya berasal dari sebatang pohon.


Ada kalanya dirinya mengingat sebuah kalimat dari Hime."Aku tidak memerlukan dimensi seindah ini, aku juga tidak memerlukan perhiasan atau pakaian indah. Aku hanya sebatang pohon yang kebetulan mendapatkan berkat dari Dewi. Terkadang aku berfikir, jika hari-hari indah ini berakhir dan aku mati. Akankah aku kembali menjadi sebatang pohon?"


Hime tidak mengharapkan apapun, dirinya lah yang ingin memanjakannya. Namun, pada akhirnya dirinya lah yang menginginkan kematian Hime.


"Enkai, siapapun namaku saat ini. Aku ingin kamu membantuku untuk menarik kata-kataku. Jangan biarkan Hime mati." Gumamnya menatap kursi kosong di hadapannya. Entah kapan dirinya dapat kembali ke keadaan semula dimana ingatan dan kesadarannya menyatu.


*


Enkai yang awalnya berdiam di gazebo merasa takut dan cemas, orang itu hanya akan membohonginya. Karena itu dirinya memaksakan kesadarannya sendiri. Mempersingkat waktu kemunculan pemuda aneh yang mirip dengan dirinya itu.


Enkai yang tertunduk kembali membuka matanya, kala Arata kembali tersimpan dalam alam bawah sadarnya. Dirinya sedang berada di area pertarungan. Belasan bulu setajam pedang sudah tidak tertancap di tubuhnya, bahkan menghilang tanpa bekas. Tapi ada yang aneh, pakaiannya berubah berwarna putih seperti pria tadi. Rambutnya juga memanjang tanpa sebab.


"Ada apa ini?" teriak Enkai keheranan. Matanya menelisik, monster itu sudah tewas terkapar. Sedangkan Onigumo dan Tsuya berada di dekat sang anak dengan luka parah di tubuhnya.


"Kamu berhasil?" gumam Onigumo menatap ke arah Enkai yang mulai turun menggunakan pijakan tidak terlihatnya.


"Apa aku berhasil?" Bukannya menjawab Enkai malah bertanya balik.


Tiga orang yang saling melirik kemudian mengangguk. Tapi tiba-tiba tangan kecil anak yang sedingin kelopak bunga menariknya untuk masuk ke dalam gua mengambil bola energi."Kak, kamu dapat mengalahkannya," ucapnya tersenyum seperti tidak terjadi apapun.


Enkai hanya mengangguk, sebenarnya dirinya ragu bercerita. Bukan dirinya yang mengalahkan monster burung api. Tapi seorang pria yang memiliki wajah serupa dengannya.


Anak ini tidak bertanya atau kagum sama sekali. Masih menariknya untuk masuk lebih dalam ke gua di hadapan mereka. Beberapa kunang-kunang dan kristal aneh ada disana. Termasuk juga batu energi bernilai tinggi.


Berlian sebesar bola sepak, dengan kwalitas tinggi. Mungkin jika di jual di dunia manusia akan bernilai triliunan rupiah. Gila! Gua ini penuh dengan harta karun bagi monster, iblis, maupun manusia.


"Tujuan kita adalah bola energi." Sena menghentikan langkahnya. Tangan kecilnya menunjuk ke arah kotak tua usang sesuatu yang terlihat tidak berharga sama sekali.


Kotak kayu kecil itu diraihnya. Membayangkan tentang sesuatu yang ada di dalamnya. Mungkin berbentuk bola yang melayang-layang? Atau berbentuk bola berlian kecil?


Tapi kala kotak dibuka, yang terlihat adalah batu krikil kecil. Jika diamati lebih banyak, seperti tanah yang dibentuk, dikepal-kepalkan. Enkai memegang dengan jarinya, bau aneh tercium.


"I...ini apa?" tanya Enkai.


"Bola energi," kata-kata dari sang anak bergerak cepat merebut bola kecil dari tangan Enkai. Dengan cepat memasukkan ke dalam tubuh sang pemuda hingga tertelan.


Huek!


Seketika pemuda itu ingin muntah rasanya. Tapi anehnya bola kecil itu tidak keluar sama sekali. Matanya menelisik anak perempuan aneh itu terlihat mencari batu energi kecil. Kemudian kembali meletakkan ke dalam kotak kayu yang memiliki segel aneh. Mungkin tanda lambang keluarga kerajaan.


"Aku tidak ingin terlibat pertarungan, jadi kita gunakan batu energi untuk menipu mereka." Ucap Sena, beberapa detik setelahnya. Benar saja Onigumo dan Tsuya datang, kesulitan berjalan akibat luka yang mereka alami.


Enkai yang awalnya terlihat mual kini menunjukkan raut wajah terharu penuh senyuman. Berpura-pura adalah keahliannya bukan?


"Terimakasih sudah membantu! Pada akhirnya adikku dapat melihat bola energi dari dekat. Peninggalan Arata, iblis yang selalu diidolakan olehnya. Dengan begini aku harap dia segera sembuh. Setelah ini kamu mau minum obat ya?" Pinta Enkai, dengan air mata mengalir. Memegang tangan sang anak.


Sena mengenyitkan keningnya tanpa ekspresi. Menghela napas berkali-kali, wajahnya kemudian tersenyum."Aku sangat menyukai Arata. Tanda segel kerajaan di kotaknya benar-benar keren. Terimakasih, mengijinkanku melihatnya di sisa hidupku yang tidak tau entah kapan akan berakhir."


Anak yang memeluk Enkai setelah mengembalikan kotak pada Onigumo dan Tsuya.


"Kalian tidak ingin bagian hadiah? Lagipula kamu yang mengalahkan monster itu kan?" tanya Onigumo mengenyitkan keningnya.


"Tidak, yang terpenting adikku bahagia. Dia sudah bahagia hanya dengan melihat peninggalannya saja. Itu sudah cukup." Ucap Enkai dengan wajah masih menahan mulanya. Rasa yang benar-benar tidak enak. Entah terbuat dari apa benda yang masuk ke dalam mulutnya.


"Ya sudah kalau begitu." Ucap Tsuya membuka isi kotak. Sesuai ekspektasi mereka, bola energi adalah batu energi khusus dengan kemampuan tinggi."Ini milikku!"


"Tidak ini milik ras iblis! Kamu mau mati!?" Onigumo mengeluarkan senjata berupa pedang setinggi tiga meter, selebar tubuh manusia.


"Ini milik ras monster!" Tsuya tidak mau kalah mengeluarkan pedang kilat. Dua makhluk yang kembali bertarung.


Sementara Enkai dan Sena meninggalkan tempat tersebut.


"Kenapa bentuk bola energi seaneh itu? Seperti---" Kalimat Enkai disela.


"Seperti k*toran?" tanya Sena, sementara Enkai masih menahan rasa mualnya.


Anak yang menghela napas, merentangkan tangannya minta digendong di bagian punggung."Arata tidak pandai memasak. Membuat pil energi dengan bahan khusus, memasukkan beberapa unsur energi tubuhnya. Karena itu pil yang seharusnya tidak memiliki rasa dan bau. Menjadi terasa seperti sayuran busuk. Mungkin jika dinilai, di jaman manusia, dia hanya pandai membalik burger dan menggoreng ayam."


Enkai tertawa, seseorang yang dipuji-puji ternyata memiliki kelemahan."Dasar! Tidak bisa memasak! Seorang dewa tidak bisa memasak!? Aku bahkan bisa jauh lebih baik darinya! Benar-benar bodoh,"


Benar bukan? Hanya Enkai yang boleh menghina dan mengumpat pada Arata.