
Wajah jenderal golok terlihat sangat suram saat melihat musuh yang memiliki teknik pedang sangat kuat dan merepotkan itu mengejeknya. Dia tentu masih ingat akan kejadian Ling Tian saat melawan jenderal tombak dan dia harus ikut serta menghadang serangan mengerikan dari Ling Tian.
Setelah Ling Tian kabur, tidak berapa lama kemudian sang jenderal tombak tewas karena menderita luka sangat serius. Sementara dirinya juga harus mendapatkan perawatan intensif.
Karena alasan ini pula dirinya tidak diikut sertakan dalam perang dan hanya ditugaskan oleh Pimpinan Tertinggi manusia primitif untuk menjaga gua tempat para manusia ditahan. Sebenarnya jenderal golok belumlah pulih sepenuhnya dari luka dalam yang dia derita. Setidaknya masih butuh waktu satu bulan lagi untuknya bisa sembuh total.
Namun sepertinya kesialan seolah tidak ingin jauh-jauh dari dirinya. Orang yang telah memberinya luka parah malah datang menghampirinya. Terlebih bukan hanya dengan dirinya sendiri, tapi malah membawa teman yang mana jenderal golok yakin jika temannya itu juga sama kuatnya.
"Apa yang kalian lakukan ditempat ini?" tanya jenderal golok.
"Hehehe.. Jenderal golok yang terhormat! Kamu masih bertanya akan kedatangan kami? Tentu saja adalah membebaskan semua tahanan!" jawab Ling Tian sambil terus tersenyum menyeringai.
"Cih! Aku tidak akan membiarkannya meski harus mempertaruhkan nyawaku sendiri!" kata jenderal golok.
"Ohoo.. Kamu sangat pemberani jenderal golok! Tapi lebih baik kamu menyerah saja! Kemudian berikan golokmu itu kepadaku sebagai kompensasi atas nyawamu!" ucap Ling Tian menanggapi.
"Kurang ajar!" teriak jenderal golok yang sangat marah.
Dia merasa seperti sedang diolok-olok, direndahkan serta dianggap semut oleh pemuda bertopeng di hadapannya itu. Aura ranah Pendekar Besi Menengah meledak dari dalam tubuhnya yang disertai dengan niat membunuh lumayan pekat.
"Wah-wah-wah! Sepertinya kamu sangat marah dan ingin adu niat membunuh? Baiklah!" kata Ling Tian lalu niat membunuh yang jauh lebih besar bahkan puluhan kali lipat dari milik jenderal golok meledak dalam tubuhnya.
Seluruh tubuh Ling Tian diselimuti oleh aura yang berwarna hitam kemerahan yang jika dirasakan bagi seseorang yang didekatnya akan membuat merinding dan ketakutan.
Jenderal golok langsung tertekan dan dibuat bertekuk lutut serta memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
'Niat membunuh ini.. Tidak! Ini aura pembunuh! Sudah berapa puluh ribu manusia yang dibunuh olehnya?' batin jenderal golok yang bertanya-tanya dengan wajah pucat pasi karena terkejut.
Ling Tian memang belum terlalu banyak membunuh manusia. Namun dirinya memiliki sebuah teknik yang berasal dari pengetahuan yang diberikan guru tuanya mengenai tata cara memperpekat niat membunuh hingga ratusan bahkan ribuan kali lipat hingga mencapai titik ekstrem lalu juga dapat dengan mudah menyembunyikannya.
Jika ada orang yang mengetahui ada teknik seperti itu, maka pasti orang-orang akan berguru kepada Ling Tian atau bahkan menyembahnya supaya diajarkan teknik tersebut.
Itu karena niat membunuh atau aura pembunuh sangatlah efektif untuk menakut-nakuti dan menghancurkan mental lawan sebelum bertarung. Namun biasanya jika seseorang yang dari aliran lurus atau putih memiliki niat membunuh pekat atau bahkan memiliki aura pembunuh, maka dia pasti akan dijauhi oleh semua orang karena merasakan ancaman jika berada dekat dengan orang tersebut.
Dan teknik yang Ling Tian pelajari benar-benar sangat luar biasa. Teknik itu mampu memudahkan penggunanya untuk menghilangkan aura pembunuh yang terpancar dari seorang pembunuh berantai sekalipun. Dengan begitu sang pengguna tidak akan dijauhi oleh sesamanya.
"Baiklah saudaraku! Aku sudah membuat luka dalamnya kembali menganga! Sekarang kamu akan lebih mudah mengalahkannya! Hehehe.." ucap Ling Tian sambil terkekeh dan menarik kembali niat membunuhnya.
"Mengapa? Mengapa kau tidak langsung membunuhku saja?" tanya jenderal golok sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Sebelumnya bukankah sudah kukatakan bahwa yang akan membereskanmu adalah saudaraku? Apakah kamu itu tuli?" Ling Tian bertanya dengan kesal.
"Hoi.. Kamu! Siapa namamu tadi? Jenderal golok atau apalah tadi.. Mengapa kau hanya membiarkan Tuan Muda Ling Tian lewat begitu saja? Bukankah sebelumnya kamu berkata bahwa tidak akan membiarkan siapapun untuk masuk bahkan dengan menyebutkan nyawamu?" tanya Mao An mencibit jenderal golok.
Sang jenderal golok hanya tersenyum masam mendengar ejekan dari Mao An. Dia tentu ingin menghalangi Ling Tian, namun apalah daya? Hanya menggunakan niat dan aura membunuh saja dirinya sudah dibuat bertekuk lutut dan memuntahkan seteguk darah, lalu bagaimana jika dirinya tetap menghalangi Ling Tian untuk masuk? Bukankah itu hanya akan sia-sia dan mempercepat jiwanya bertemu dengan dewa kematian?
"Haaiihh.." jenderal golok hanya bisa menghela nafas untuk menanggapi pertanyaan dari Mao An.
Melihat orang yang dikatakan akan menjadi lawan bertarungnya seperti sudah kehilangan niat, Mao An kini berusaha untuk mendekatinya dan mengajaknya bergabung di dalam kelompoknya atau bisa dikatakan menjadi pelayan daripada Ling Tian.
"Baiklah.. Aku rasa kamu sudah tidak berniat lagi untuk bertarung! Bagaimana kalau kita minum teh saja dan membahas beberapa hal?" ucap Mao An bertanya.
"Teh? Apa itu teh? Apakah semacam racun?" tanya jenderal golok yang tidak mengetahui apa sebenarnya teh itu.
"Dasar bodoh! Sinilah! Kita berdamai dulu! Aku berjanji tidak akan menyerangmu!" seru Mao An yang sedikit kesal dengan pemahaman dari jendral golok yang sangat dangkal.
"Ah! Baiklah!" ujar jenderal golok yang tersentak dengan perubahan sikap dari orang yang memiliki aura monster beast.
Mao An kemudian mengeluarkan dua kursi dan satu meja lengkap dengan satu teko teh galaksi yang tergeletak diatas mejanya.
"Duduklah!" kata Mao An dengan datar.
Jenderal golok hanya mengangguk dan menuruti perintah dari Mao An. Dia pun duduk di kursi yang tersedia berhadap-hadapan dengan Mao An.
"Minumlah secara perlahan! Ini yang dinamakan teh!" ucap Mao An menyadarkan satu gelas teh hangat kepada jenderal golok.
"B-baik!" kata jenderal golok dengan terbata-bata.
Jenderal mencium bau harum yang sangat melegakan keluar dari cairan yang ada di gelas yang saat ini sedang dipegangnya. Jenderal golok tidak langsung meminumnya, dengan aroma yang sungguh sangat mengagumkan dan menenangkan itu saja dirinya sudah dibuat terpejam matanya.
Mao An hanya melihat gelagat yang dilakukan oleh jenderal tanpa berkata apa-apa lagi. Dia hanya fokus pada teh galaxy miliknya serta menyeruputnya dengan perlahan.
Mao An juga bersyukur bahwa jenderal golok ini tidak terlalu keras kepala dan mudah untuk diajak bekerja sama serta damai tanpa harus salah satu diantara keduanya ada yang terluka.
Setelah beberapa saat menikmati harumnya teh galaksi dan akhirnya dia pun memutuskan untuk meminumnya secara perlahan seperti apa yang dilakukan oleh Mao An.
Slruuupp!
"Aahhhhh.. Nikmatnyaaaa!" seru jenderal golok yang kegirangan karena merasakan sensasi nikmat yang luar biasa pada lidahnya saat air hangat dari teh itu mulai mengalirinya.