
Istana Sundapura penuh dengan para pejabat tinggi kerajaan, nyai Iseng dan tabib Lau Lien pun mengisi salah satu kursi kehormatan sebagai bagian dari keluarga istana.
Halaman depan istana penuh dengan penduduk ibukota kerajaan Shun Land berjalan di iringi Dewi Pakuan yang berdandan sebagai seorang Ratu dan memakai mahkota Ratu Shi khal ibundanya Shun Land, pamor/Sura Ratu Galuh Sindula penerus Raja Agung Sunda Land Jatiraga terlihat jelas. Tidak ada yang mampu melawan sorot sinar matanya.
Di samping Dewi Pakuan permaisuri May Lien dan di sebelah kanan permaisuri Sari tungga dewi dan permaisuri Dewi Sumayi di iring putri Dian Prameswari dwibuana, pangeran Makkamaru panglima Bajul pakel, panglima Tarpa dan laksamana Sarpa juga laksamawati Komalahayati dari tanah Rencong.
Delapan pelayan wanita berbaris rapi di belakangnya, terdengar suara kepala pengawal istana bersuara.
"Seluruh yang hadir di mohon berdiri paduka raja dan permaisurinya segera memasuki ruang utama Istana dan memberi hormat serta salam pada paduka raja dan permaisurinya berserta para petinggi utama kerajaannya.
Shun Land memberikan salam balik ke segenap yang hadir dan duduk di singgasana keempat istrinya berada di Kakan dan di kiri.
Suasana hening seketika begitu raja Shun Land memasuki istana sampai duduk setelah beberapa saat Shun Land mulai bicara.
"Terima kasih atas sambutan kalian semua semoga kalian semua selalu di lindungi oleh Sang Maha Pencipta, dan maafkan saya baru bisa berkumpul kembali dengan kalian karena selama beberapa tahun tidak bisa berkumpul karena sesuatu hal,.....
Selanjutnya saya ingin menyampaikan beberapa hal kepada kalian menyangkut tentang kerajaan. Yang pertama adalah saya ingin perkenalkan Ratu Galuh Sindula di sebelah saya sekaligus istri saya,....
,.......Selanjutnya saya akan membang......" tetapi kalimat Shun Land terhenti karena dari pintu depan ada yang ingin bertemu tetapi para pengawal kerajaan tidak mengijinkan hingga orang tersebut berteriak.
"Tuan Jaya Sempurna saya Lamsijam ingin menghadap sangat penting". Semua mata tertuju pada asal suara. Terlihat Lamsijam sedang berdiri di hadang dua prajurit.
"Penjaga biarkan dia masuk, dia sahabat ku".
Shun Land memerintahkan para pengawal. "Apa kataku tadi aku bilang aku adalah bawahannya kau tak percaya minggir sana". Lamsijam menggerutu pada para pengawal.
Dengan santai Lamsijam masuk ke dalam istana sesampainya di depan Shun Land langsung berlutut dan menghaturkan salam.
"Salam hormat dan sembah bakti kepada paduka, mohon waktunya pada paduka raja untuk bicara secara pribadi".
Shun Land langsung menjawab. "Baik paman Lamsijam, kepada semua yang hadir saya kebelakang dulu, ada sesuatu hal yang sangat penting, paman ikuti saya". Shun Land langsung beranjak dari singgasananya berjalan ke ruang pribadinya di ikuti Lamsijam.
Sesampainya di dalam ruang pribadi Shun Land segera bertanya. "Jelaskan paman apa yang terjadi, dan sampai di mana yang lainnya". Lamsijam tidak langsung menjawab tetapi menarik nafas dalam-dalam membuang kekesalan terhadap para penjaga istana.
"Begini paduka ketika di jalur alas Roban kami mendengar kabar yang menghebohkan di wilayah gunung Gora, saya pun di perintahkan oleh pangeran Sanjaya triloka untuk mencari tahu berita yang beredar, akhirnya saya pergi langsung ke wilayah gunung Gora,......
Mendengar laporan Lamsijam Shun Land langsung teringat ucapan Ratu Sunda Galuh di puncak gunung Mahameru.
,..... Dan sekarang kau Jaya Sempurna akan menerima pusaka Sunda Galuh yang di ciptakan oleh eyang mu Sanghyang Wenang ayah Ku sendiri,.dan kau setelah membangun istana kerajaan Galuh Sindula kau pun harus membangun sebuah bangunan yang tinggi untuk tempat dirimu dan rakyat mu menyembah dan bersyukur terhadap nikmat yang di berikan Sang Maha Pencipta, Masalah membangun nanti juga akan ada yang membantu mu,.....
"Ini bukan membantu membangun tetapi memberikan istana seutuhnya". Shun Land bergumam dalam hati. Sesaat kemudian Shun Land berkata pada Lamsijam.
"Paman segeralah kembali berikan perintah ku pada pangeran Sanjaya triloka dan yang lainnya, katakan jangan di teruskan perjalan ke sini tapi singgah lah di perguruan Kanoman sumur Pitu tunggu saya di sana, setelah selesai urusan di sini saya segera ke sana, paman saya tidak bisa berlama-lama saya akan kembali ke dalam istana".
Lamsijam langsung berpamitan dan keluar mendahului Shun Land, Shun Land sendiri langsung masuk ke dalam istana. Dan meneruskan bicaranya.
"Maaf kalian jadi menunggu, Shun Land berhenti bicara yang tadinya ingin memberitahukan akan membangun istana di wilayah gunung Gora, tetapi mendapatkan informasi bahwa istana itu sudah jadi, akhirnya Shun Land meneruskan bicaranya.
"Sekarang ini Istana yang lebih besar dan lebih luas telah di bangun di wilayah gunung Gora, saya ingin memberitahukan bahwa pusat pemerintahan kerajaan akan berpindah ke istana Sunda purba, istana ini adalah warisan leluhur raja agung Sunda Land Jatiraga leluhur kerajaan ini di wariskan kepada Ratu Galuh Sindula istri saya ini,......
,....... Dengan ini juga nama kerajaan Tarumanegara saya ganti dengan Nama Galuh Sindula, ingat oleh kalian baik-baik suatu masa yang jauh ke depan kerajaan ini pun akan muncul kembali dengan megahnya,.....
,..... Tetapi kota Sundapura pura ini tetap menjadi pusat komando armada perang Galuh Sindula dan kepemimpinan kota Sundapura ini akan di pegang oleh pangeran Dehen dan nyai Sri Tanjung pendekar bulan merah, selanjutnya masalah peralihan akan di bahan kedepannya hanya itu yang ingin saya sampaikan,.......
,........ Ini semua demi kemajuan dan kemakmuran rakyat saya mohon kepada seluruh pejabat kerajaan bekerja dengan baik dan tulus ikhlas mengabdi pada kerajaan dan rakyat Galuh Sindula, saya ingin menjumpai Para penduduk kota dan rakyat Galuh Sindula di depan istana". Shun Land mengakhiri bicaranya sebagai Raja.
Shun Land berjalan keluar istana di iring para Ratu Galuh Sindula Dewi Pakuan dan ketiga permaisurinya. Shun Land melambaikan tangan pada rakyatnya dengan wajah yang berseri-seri begitu juga Ratu Galuh Sindula Dewi Pakuan dan ketiga permaisurinya.
Di salah satu sudut ruangan luar istana ada seorang laki-laki sedikit tambun sedang duduk menatap sang raja dan ratu Galuh Sindula dengan derai air mata, yang lainnya semuanya mengelu-elukan tetapi dia hanya memandang dengan air mata kebahagiaan tiada henti.
Shun Land pun melambaikan tangannya untuk masuk kembali ke dalam istana, sebenarnya Shun Land mengetahui keadaan kakak angkat ini dari permaisuri May Lien.
Permaisuri May Lien memohon Shun Land untuk segera menemuinya tetapi Shun Land sengaja ingin memcandai kakak angkatnya yang paling setia padanya. Ketika Shun Land akan berbalik terdengar ada suara keras sedikit parau.
***************
Mudah-mudahan kedepannya bisa update 2 sampai 3 Chapter lagi Aamiiin,
Terima kasih banyak buat sahabat-sahabat LRA yang setia, atas like and komentarnya juga Supportnya semoga tuhan yang maha esa memberikan kesehatan dan Rizki yang berkah Aamiiin.