Legenda Pendekar Dari Goa

Legenda Pendekar Dari Goa
Kesulitan


Tidak seperti Bujaro, Araki dan Moji mempunyai tingkat kehati-hatian yang cukup tinggi. Walaupun dalam melewati hutan, mereka berdua tengah mengalami masalah yang sama. Namun, mereka masih bisa melewati perangkap yang sama dengan baik.


Araki dan Moji hampir sampai ke dalam goa. Tetapi, rupanya Moji lebih dulu melewati hutan mungkin karena telah terbiasa dengan perangkap yang ada.Tak lama kemudian, Araki menyusul Moji.


"Sudah kuduga sebelumnya, bahwa Araki pasti tertinggal." Ujar Moji sambil mempercepat langkahnya untuk memasuki goa.


Sambil mempercepat jalannya, Moji tidak ingin didahului oleh Araki. Tentunya, ingin menjadi juaranya.


Bahkan, dengan kakaknya sendiri, Moji tidak mau kalah. Lalu, apalagi dengan sang kakak. Tentu saja, Moji tetap ingin menjadi yang nomor satu.


"Sekarang aku akan menyusul kak Bujaro, dan aku harus bisa melewatinya juga." Sambungnya lagi sambil mempercepat langkah kakinya.


Sedangkan Araki sendiri, dia terus berjalan tanpa mengenal kata lelah. Araki yang belum terbiasa dengan latihan ini, ia pun tertinggal dari kedua kakak beradik yang sudah sering latihan bersama orang tuanya.


"Wah, mereka sudah jauh jaraknya denganku, aku harus segera menyusulnya." Gumamnya sambil mempercepat jalannya.


Setelah melalui semua perangkap yang ada di hutan, kemudian Araki bergegas memasuki goa yang dimaksudkan.


"Aku harus berhati-hati, jangan sampai ceroboh. Aku tidak tahu jebakan apa lagi yang ada didalam goa." Gumamnya.


Sesaat Araki hendak memasuki goa tersebut, Araki benar-benar dikejutkan dengan tiga pintu goa di hadapannya itu.


"Kenapa ada tiga mulut goa?" gumamnya bertanya-tanya.


Goa yang akan Araki lalui ternyata adalah sebuah labirin. Dari luar goa hanya terdapat satu pintu masuk. Tetetapi setelah Araki memasukinya, ternyata didalam goa tersebut, masih ada tiga pintu lagi. Benar-benar telah menguji kehati-hatiannya agar tidak masuk ke perangkap jebakan yang sudah dibuat oleh ayahnya Moji dan Bujaro.


Tanpa pikir panjang, Araki memasuki mulut goa melalui pintu tengah.


"Ah, aku akan mencoba pintu tengah, siapa tahu aja ini yang benar." Ucap Araki dengan pilihannya.


Setelah yakin dengan apa yang akan dilakukannya, Araki mencoba memasuki pintu tangah goa tersebut. Lalu, ia berjalan terus kedalam, sembari berhati-hati dengan perangkap yang kapan saja mengenai dirinya. Araki terus melangkah ke depan, tentu saja dengan sangat hati-hati.


Beberapa lama kemudian, dia menyadari ada sebuah kejanggalan.


"Hah! kenapa aku balik ketempat semula, padahal ini kan pintu yang aku masuki tadi." Ujar Araki dengan gelagat yang kebingungan.


Araki yang bingung telah kembali ke pintu yang semula, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, sambil mengamati kembali.


Kemudian, Araki memasuki pintu sebelah kiri. Namun, tetap saja sama, yakni kembali ketempat semula.


"Kenapa aku kembali lagi, benar-benar aneh. Baiklah, aku akan mencobanya lagi. Aku akan melalui pintu sebelah kanan. Mungkin saja, ya mungkin saja ada jalan disebelah kanan." Gumamnya sambil mengusap pelipisnya yang merasa bingung.


Dengan yakin, Araki memasuki pintu sebelah kanan. Namun, ternyata ia kembali lagi ketempat semula.


"Mana yang benar, perasaan dari tadi salah terus. Aih! benar-benar menguji kesabaranku. Baiklah, aku harus kembali berpikir untuk menemukan jawabannya." Ucapnya lirih sambil memikirkannya.


Sambil bolak balik, Araki mulai berfikir dengan teka-teki yang terdapat didalam goa tersebut. Kemudian, sejenak ia terdiam.


Tidak lama dari diamnya yang masih berpikir, ia memasuki pintu goa kembali. Berharap, tidak akan salah lagi, pikirnya.


Saat sudah berada dalam goa, Araki celingukan sambil melihat disekitarnya. Kemudian, Araki kembali memikirkan untuk mencari pintu keluar dari dalam goa.


Tanpa disengaja, pandangannya tertuju pada sesuatu yang membuatnya penasaran. Yakni, dirinya tengah melihat sebuah tanda didinding goa tersebut.


"Apakah tanda ini adalah jalan keluar? atau justru jebakan untukku. Oh, benar-benar sulit untuk aku pecahkan teka-teki ini." Gumam Araki sambil mengernyitkan dahi.


Tidak ada pilihan lain lagi, Araki mengikuti tanda yang ada didinding goa tersebut. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya, tak peduli bagi Araki jika yang akan ia dapatkan sebuah jebakan.


Setidaknya, dia mencobanya untuk mendapatkan titik temu.


"Mengapa tanda ini berhenti disini?" Ucapnya lirih bertambah pusing dan juga bingung untuk memecahkan teka-teki.


Araki terus bergumam. "Mungkinkah akan ada pintu dibalik akhir ini? semoga saja." Ujar Araki dengan rasa penasarannya.


Pusing, bingung, akhirnya Araki memeriksa sekeliling dinding goa itu. Kemudian, ia menemukan sesuatu yang mencurigakan.


"Apa ini?" tanya dalam benaknya.


Araki telah mencurigai sebuah batu yang tertumpuk dengan rapih. Kemudian, ia mencobanya untuk membongkar batu tersebut. Berharap, akan mendapatkan titik temunya.


"Kenapa batu ini berbeda? mungkinkah ini sebuah pintu keluar, semoga saja begitu. Jika pintu ini adalah perangkap untukku, mamp_uslah aku." Kata Araki sambil memperhatikan tumpukan batu tersebut.


Dengan sangat hati-hati, Araki berusaha untuk tetap waspada. Takutnya, apa yang dilakukannya itu yang tidak lain adalah jebakan untuk dirinya.


Saat tinggal batu terakhir yang hendak dibongkar Araki, ternyata tertanam kuat kedalam tanah.


"Apa! yang benar saja ini." Ucapnya yang tidak menyangkalnya.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Araki mencoba mengangkatnya kembali. Namun, tiba-tiba merasa berat untuk mengangkat batu tersebut.


Tanpa sengaja, Araki telah menggeser batu tersebut tanpa kesulitan. Tidak lama kemudian, ternyata dinding goa bergeser dengan sendirinya. Araki membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena sangat terkejut.


Bayangkan sendiri, bagaimana ekspresi Araki yang tengah terkejut itu dengan bola mata yang membulat dengan sempurna.


"Ha! itu pintu keluar." Ucapnya serasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Dengan rasa senang, Araki tersenyum mengembangkan. Namun, saat akan menuju pintu keluar, tiba-tiba pintu goa dengan cepat tertutup kembali.


Araki kembali bengong, lagi-lagi dirinya seperti mendapatkan jebakan. Meski kenyataannya memang jebakan untuk dirinya, mungkin.


"Yah! kenapa pintunya tertutup kembali,apa ada hubungan dengan batu-batu itu?"


Akhirnya, Araki harus berpikir lebih keras lagi.


Sambil penuh harap akan mendapatkan titik temu, Araki kembali mencoba menggeser batu yang tertanam kedalam tanah lalu membiarkannya lagi.


Setelah itu, Araki memperhatikan pintu goa tersebut dengan seksama. Bahkan tak berkedip sedikitpun.


Saat itu juga, Araki menyadarinya. Bahwa batu yang tertanam ketanah menggeser dengan sendirinya.


Saat batu itu kembali ke posisi semula, pintu goa ikut tertutup.


"Oh, pintu ini ternyata terhubung dengan batu ini." Ujar Araki sambil memperhatikan batu dengan pintu, kemudian ia mentertawakan dirinya sendiri.


"Benar-benar bo_doh aku ini, kenapa aku tidak kepikiran sampai disini?" gumamnya lagi.