
...16. Dialektika Lanjutan...
“Bang Saba dulu kuliah ambil jurusan apa?” Ia membereskan bekas makan siang mereka. Banyak pengetahuan yang dilontarkan Saba dalam multidisiplin ilmu. Sangat jarang sekali orang seperti ini. Sebab kebanyakan orang akan mendalami dan fokus dalam satu disiplin ilmu saja. Alasannya, ya mereka ingin lebih mendalami dan fokus dalam bidang tertentu. Seperti abah misalnya.
“Ilmu politik, sosiologi, filsafat, dan teknik. Aku juga sempat masuk matematik.
“Sebanyak itu?” Jawaban yang mengejutkan. Membuatnya tak percaya. Ia sempat menoleh pada Saba yang tengah mengupas buah mangga. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Selesai dalam waktu bersamaan?” tanyanya penasaran.
“Ada yang bisa ada yang tidak,” jawab Saba enteng.
Ia menyodorkan piring ke depan Saba. Laki-laki itu bangkit, mencuci lantas memotong-motong buah mangga.
“Bagaimana bisa belajar multidisiplin ilmu secara bersamaan?” Baginya satu bidang saja memuyengkan. Apalagi ini lebih dari 2 disiplin ilmu.
“Yang pertama makan ikan,” tukas Saba. Menancapkan sendok garpu pada salah satu potongan mangga. Lalu menyuapkan ke mulutnya.
“Serius Bang,” protesnya.
“Ya benar. Tanpa makan kita gak bisa berpikir. Kelebihan makan ikan gizinya banyak, sehat dan bagus.” Potongan ke dua kembali masuk ke dalam mulut Saba.
Ia menghela napasnya. Terkadang berbicara dengan Saba perlu kesabaran. Di saat ia berharap jawaban serius justru Saba seolah-olah menganggapnya main-main. Ia lalu menukas. “Gelarnya banyak dong,” tangkasnya. “Saba Lumintang, S.Ip, S.Sos, S.Fil, S.Si dan S.T.”
Saba tertawa ringan.
“Benar, kan,” desaknya.
“Gelar gak penting. Gelar hanya menandakan kita tamat sekolah. Esensi sekolah itu belajar mencari ilmu. Karena belajar menandakan kita pernah menggunakan otak kita untuk berpikir.”
Sejenak ia terdiam. “Percaya.” Satu kata itu akhirnya keluar dari mulutnya. Meskipun ia berharap Saba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan darinya dengan argumen yang lebih detail. Karena ia suka apabila Saba menerangkan sesuatu dari sudut pandang laki-laki itu.
Lagi, lagi Saba tertawa kecil. Tapi entah kenapa tawa itu selalu diproses oleh otaknya sebagai tawa ejekan.
“Hanya tiga yang sampai lulus. Satu … hanya sampai semester 4. Satunya lagi, semester 6.”
“Keren,” ucapnya seraya bertepuk tangan.
Saba menyergah, “Biasa saja. Segitu belum apa-apa. Ilmu itu luas dan terus menyesuaikan perubahan. Masih banyak ilmu yang seharusnya bisa kita pelajari. Tapi sekarang belajar bisa dari mana saja. Gak harus di kampus.”
“Sayang juga, ya yang sudah semester 6. Setahun lagi bisa lulus padahal. Itu jurusan apa?”
“Matematik. Karena aku merasa sudah cukup. Dan aku bisa belajar sendiri.”
“Lalu yang berhenti di semester 4?”
“Sosiologi.”
Ia menyergah, “Karena Abang bisa belajar sendiri.”
“Sosiologi adalah ilmu empiris. Kita hidup sebagai manusia individu dalam lingkup sosial masyarakat. Terjun langsung. Tinggal, berinteraksi dan melakukan kegiatan dalam proses menjalani kehidupan. Semuanya komplit ada di sana. Mulai struktur dan karakter individu dalam masyarakat, problematikanya, fenomena yang sedang terjadi, sampai gerakan yang dilakukan oleh masyarakat.”
Senyum samar menghias bibirnya.
“Dulu aku sempat mengajar di kampus. Lalu diberhentikan dengan alasan disiplin ilmu yang aku ambil tidak linear.”
Ia pernah mendengar peraturan ini.
“Tapi mengajar bukan hanya di kampus, kan? Di mana saja, kapan saja dan siapa saja bisa kita ajarkan tentang ilmu-ilmu yang mungkin saja di kampus tidak kita dapatkan.”
“Padahal di jaman sekarang satu disiplin ilmu gak lagi relevan dengan kehidupan,” imbuhnya.
“Tapi peraturannya begitu,” timpal Saba. “Peraturan kampus dan mungkin beberapa perusahaan atau instansi. Ya, mau bagaimana lagi.” Bahu Saba terangkat.
Saba berdiri menyambar ponselnya yang berdering. Menerima telepon di teras.
Sementara ia membawa piring berisi potongan mangga ke kursi lain. Melahapnya. Tangan yang lain mulai membuka kembali buku yang tadi dibacanya.
Menurut kesimpulannya sementara, Saba mengidolakan tokoh-tokoh yang punya empati tinggi terhadap hak-hak masyarakat sipil. Terutama yang mengalami perlakuan tidak adil. Selain itu juga tentang gagasan-gagasan liberasi yang ditulis di dalam buku yang saat ini tengah dibacanya.
Saba pernah belajar dalam ilmu sosiologi, filsafat, ilmu politik, matematik bahkan teknik. Dua disiplin ilmu yang terbagi dalam ilmu pasti dan relatif selalu berkorelasi dan berkoherensi dalam kehidupan. Mungkin itu pula yang mempengaruhi cara berpikirnya.
“Halo ….” Suara seorang wanita membuatnya mendongak.
Wanita itu tersenyum. Disusul Saba yang muncul di belakang.
“Tunggu sebentar,” ucap Saba lalu pergi meninggalkan mereka.
“Suka baca Sutan Ibrahim?” tanya wanita itu. Lalu duduk di sebelahnya.
“O, sorry. Maksud aku Tan Malaka. Buku yang kamu pegang.”
Ia tersenyum kecil. Tidak mengangguk juga tidak memberikan pernyataan.
“Isinya seru, bagus dan penuh pemikiran-pemikiran berbobot dan kritis. Sangat menginspirasi,” tukas wanita itu.
Meski baru membaca bab awal. Ia setuju dengan pernyataan wanita itu.
“Sampai sekarang buku itu,” tunjuk wanita tersebut. “Masih relevan. Aku bahkan sudah baca ketiga kalinya. Itu gara-gara Bang Saba yang pertama kali menyuruh dan meminjamkan bukunya.”
Lagi, lagi senyum kecil terbit dari bibirnya. Ia menutup buku itu.
“Bab awal menceritakan tentang keberadaan mistikisme. Tulisannya bercerita tentang penyangkalan terhadap bangsa Mesir Kuno pada Tuhan mereka yang disebut Maha Dewa Rah. Yang menciptakan alam semesta hanya dengan berkata-kata. Dibawanya dalil-dalil ilmiah dari Charles Darwin, Albert Einstein, Isaac Newton sebagai pembanding. Logis. Penyangkalan ini logis,” sebut wanita itu.
“Kalau ibaratnya di kita sekarang ya … bau-bau mistikisme masih kuat. Kamu pernah dengar, kan tentang mitos-mitos di masyarakat kita?”
Ia tak bereaksi. Hanya sudut bibirnya yang tertarik samar.
“Pergi ke dukun untuk berobat, minta ini, itu, melakukan ritual-ritual untuk menambah kekayaan, panjang umur, percaya pawang hujan, dan masih banyak. Disayangkan banget, sih. Sampai sekarang masih ada kelompok-kelompok masyarakat kita yang seperti itu. Padahal itu sesuatu yang irasional banget.
“Mengharapkan kekuatan-kekuatan ghaib, supranatural untuk mempermudah dan melancarkan hajat. Bagaimana bangsa ini bisa maju mengejar keterbelakangan dan ketertinggalan kalau masih percaya hal-hal begituan?
“Pokoknya gak rugi kamu baca buku ini. Apalagi bab-bab selanjutnya penjelasannya lebih seru. Tentang—“
“Kania,” potong Saba yang datang menyodorkan sebuah buku.
Wanita yang disebut Kania itu berdiri. Tersenyum menerima buku yang diberikan Saba. “Gak buru-buru dikembalikan, kan, Bang?” tukasnya.
“Terserah kamu. Yang penting kamu jaga baik-baik dan kembali seperti saat kamu pinjam.”
“Siip,” tangkas Kania dengan acungan jempol. Memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya. “Minggu depan aku bawa anak-anak ya, Bang. Mereka mau berdiskusi dengan Abang.”
“Di mana, kapan?” tanya Saba.
“Nanti deh, aku hubungi lebih lanjut.”
“Oke,” sahut Saba.
Ia berdiri ketika Kania mengucap, “Aku pamit duluan, ya ….” Menyambut uluran tangan Kania.
“Nice to meet you, eh … aku Kania,” sebut Kania.
“Nawa,” balasnya.
“Kamu anak mana? Jakun juga?” tanya Kania.
Ia mengangguk. Istilah jakun-jaket kuning- pasti langsung paham.
“Aku mahasiswa pasca jurusan Sosiologi.” Kania memperjelas perkenalannya.
“Dia anak kesehatan lingkungan.” Saba menyergah untuk menjawab.
“Oo, anak FKM, ya.” Kania menyimpulkan.
Sementara ia hanya mengangguk.
Ketiganya berjalan menuju teras rumah utama.
“Oke, Nawa. See you next time. Bang Saba jangan lupa, agendanya diluangin buat aku dan anak-anak. Pokoknya gak lebih dari 2 jam,” pesan Kania. Melambaikan tangan lalu pergi.
“Aku juga pamit, Bang,” ucapnya pada Saba. Ia kembali masuk ke dalam rumah mengambil tasnya.
“Kamu bawa ikan-ikan ini,” pinta Saba. Memasukkan semua sisa ikan di atas meja makan ke dalam wadah tertutup.
“Gak usah,” selanya.
“Terus siapa yang akan makan semua ini?”
“Ada Bu Ning dan keluarganya. Arif juga pasti akan makan setelah sampai.”
Saba tetap memasukkan sop ikan dan lele goreng tersebut. Kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. “Buat kamu. Bu Ning sudah makan. Arif paling malam sampai sini. Dia pasti makan di jalan.”
Walau sedikit sungkan, ia akhirnya menerima bungkusan itu. “Terima kasih,” ucapnya.
Saba tersenyum.