Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Tunggu Aku Pak!


❤️❤️❤️


Aku tertawa dengan kerasnya. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatapku dengan sangat tajam.


"Hahaha.. ya ampun, lucu sekalii." Gumamku yang masih tertawa geli setelah melihat adegan yang tak ku sangka-sangka di depan mata ku.


Sesaat setelah aku puas dengan tawaku, aku tersadar ada sepasang mata yang menatap dengan bola matanya yang membulat sempurna terlihat seakan ingin melompat dari tempatnya.


Glek


Aku menelan ludahku dengan susah payah.


"MATIII!" Batinku, dengan cepat aku mengalihkan pandanganku.


Aku berusaha kabur dari tempatku berdiri, seolah kakiku mati rasa dan membeku aku kepayahan melangkahkan kakiku. Ku paksakan kaki ku melangkah menjauh dari tempat itu.


Dag-dig-dug


Entah akan ada hukuman apalagi padaku nanti, aku tak bisa membayangkannya. Aku sibuk dengan pikiranku sambil terus berjalan tergesa-gesa dengan langkah yang kaku. Jantungku berdegub dengan kencang, takut, gugup semuanya bercampur jadi satu.


"Bu Tania dengar ngga ya? Aduh mampus. Apa bakalan dapat hukuman tambahan lagi nih? Ibu, ayah.. tolong Ririii... huhuuu".


~


Kini aku sudah berada di kelasku. Dengan tatapan yang kosong aku melangkahkan kaki ku sampai di tempat duduk ku. Pikiran-pikiran tentang hukuman apalagi yang akan ku terima nanti seolah menghantui dan mengisi setiap ruang otak mungilku. Ku duduk kan tubuhku di atas kursi dengan tatapan mata yang masih kosong.


"Abis dari mana lo? Tas ada di dalam kelas tapi orangnya ngga ada?" Tanya Kania, sahabatku. Tapi aku tak menggubrisnya.


"Hello, excuse me?!" Kania menjentik-jentikkan jarinya tepat di depan wajah ku. Tetapi aku masih diam.


"WOI" Ujarnya cukup keras.


"Ah, iya kenapa?" Ujarku yang masih sedikit melamun sambil melihat ke arahnya.


"Lo kenapa si? Gue liat dari pas masuk ngelamun aja? Mikirin apaan?".


Tanpa menjawabnya aku memalingkan wajahku ke depan.


"Aaaaa" Teriak ku dengan menutupi wajahku dengan telapak tangan.


Anak-anak dikelas terkejut dan menatap ke arah ku dengan heran.


"Kaniii" Ujarku menatapnya dengan tatapan yang memelas.


"Lo, kenapa si? Kerasukan jin?" Ujarnya mengernyitkan dahinya, menatapku dengan heran.


Belum sempat aku menjawab pertanyaan Kania, kami di kejutkan dengan kedatangan Bu Tania yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu itu.


Seketika kami semua terdiam dan duduk di tempat masing-masing dengan rapi. Tak ada yang mengeluarkan suara sekecil apapun.


Aku? Tentu saja aku hanya bisa menundukkan wajahku dalam-dalam.


Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tak berani menatap ke depan. Ku tunduk kan kepala ku lesu. Aku tidak fokus menyimak pelajaran kali ini. Hingga sebuah suara mengejutkan ku.


"Arianti?!" Panggilnya dengan suara yang lantang.


"Iii.. iya Bu" Jawabku sambil menatap ke arah sumber suara.


"Coba ulangi sekali lagi yang ibu katakan tadi!". Perintahnya.


"Eh, nggg.. ".


"Aduh, gimana nih" Batinku. Aku gugup bukan main.


Ku lirik Kania di sampingku, berharap dia akan menolongku. Namun, ketika Kania hendak membantuku tiba-tiba saja Bu Tania melontarkan kata-kata pedasnya yang sekali lagi membuatku takut sekaligus tertunduk malu.


"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawabnya?" Ujar Bu Tania dengan nada tingginya.


"Eng.. aa.. anu Bu.. i..".


"Makanya kalau ibu sedang menjelaskan materi itu di perhatikan, jangan melamun. Sekolah ini tempatnya belajar bukan untuk melamun".


"I.. iya. Saya minta maaf Bu" Ujarku tertunduk takut.


"Jangan sampai saya melihat yang seperti ini lagi. Paham kalian?" Tegasnya.


"Paham Bu" Ujar kami serentak.


"Terutama kamu Arianti!" Ujarnya penuh penekanan.


"I.. iya Bu".


"Kenapa dari kemarin perasaan nasib ku sial sekali. Bu Tania terlihat sering menatap tajam ke arahku seakan ingin menelanku bulat-bulat. Ahhhh, siallll". Pekik ku dalam hati.


~


Waktunya istirahat.


"Ke kantin yuk. Laper banget nih" Rengek Kania.


"Yaudah yuk" Jawabku dengan nada yang kurang bersemangat.


"Lo kenapa? Lesu gitu?" Tanya Kania sambil memperhatikan raut wajahku yang terlihat kurang bersemangat.


"Gimana ngga lesu. Gue harus datang pagi-pagi buat bersihin toilet belum lagi tadi Bu Tania keliatan marah banget ke gue. Lo liat kan ekspresinya? Kek pengen nelen gue hidup-hidup tau ngga?" Ujarku bergidik ngeri kala mengingat wajah Bu Tania yang seperti macan kelaparan itu.


"Hahaha.. lo sih. Berani banget nantangin macan betina" Kelakarnya.


"Kayak yang gue sengaja aja" Jawabku lesu.


"Haha.. yaudah yaudah. Ngga usah terlalu dipikirin. Emang gitu kan sifatnya. Kayak lo baru tau aja" Kata Kania mencoba menenangkan ku.


"Hm" Jawabku sekenanya.


Kami berjalan bergandengan menuju kantin sekolah. Namun di perjalanan menuju kantin, ada saja beberapa orang yang berbisik-bisik membicarakan ku ketika aku lewat akibat dari kejadian yang memalukan Senin kemarin. Malu sekaliiii... Aku menundukkan kepalaku malu. Untung saja ada Kania yang sudah seperti pahlawan ku.


"Heh, ngga ada kerjaan lain ya? Nyinyir mulu kerjaannya" Suaranya terdengar pelan namun tegas. Mereka yang tadinya berbisik-bisik membicarakan ku jadi terdiam setelah mendengar perkataan Kania.


"Kaniii.." Ujarku menatapnya dengan wajah yang memelas.


Dia merangkul ku kedalam pelukannya. Kami berjalan sambil berpelukan. Eits, tapi perlu di garis bawahi ya, meskipun kami sangat dekat dan mungkin terlihat lengket. Tetapi kami bukan suka sesama jenis, kami masih sangat normal. 😌


~


Waktu menunjukkan jam 16:00 sore, itu berarti waktunya kami bersiap-siap untuk pulang.


Aku berjalan bersama Kania sampai di depan gerbang sekolah.


Tin tin


Terdengar suara klakson motor di depan kami.


"Cepet dong, panas nih" Ujarnya.


"Iya bentar Den. Elah ngga sabaran amat" Jawab Kania.


"Gue duluan ya Ri. Lo di jemput kan?" Tanya nya sebelum naik ke atas motor.


"Iya. Yaudah sana. Kasian tuh ayang beb lo kepanasan".


"Hehhe iya" Balasnya cengengesan.


"Jangan ngebut lo Den. Awas kalo temen gue kenapa-kenapa" Ujar ku memperingati.


"Siaappp.. tenang aja" Ujarnya sambil menarik turunkan alisnya.


"Yaudah sana. Sakit mata gue kelamaan liat kalian berdua" Ujarku bercanda dengan nada yang seperti menyindir.


"Alahhh, bilang aja ngiri lo.. hahha" Kelakar Dennis, pacar Kania.


"Berisiiikkk".


"Hahahha.. gue duluan. Bye..." Pamit Kania sambil dadah-dadah ke arahku.


"Bye" Jawabku, yang juga ku balas dengan lambaian tangan.


~


"Neng" Panggil pak Udin yang mengagetkan ku.


"Eh, pak Udin udah datang" Ujarku lalu berjalan menghampirinya.


Saat hendak naik ke atas motor. Mataku tertuju pada sebuah mobil sedan biru tua mewah yang berlalu di hadapanku dengan kaca mobil yang masih terbuka. Tentu saja siapa pun bisa melihat siapa pemilik mobil tersebut. Pak Juan, keberadaannya selalu sukses mencuri perhatianku.


Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian tadi pagi ketika pak Juan mengacuhkan Bu Tania. Aku jadi senyum-senyum sendiri. Dan entah muncul keberanian dari mana, otak ku berani berpikir dan merasa tertantang untuk mendekati pak Juan dan mengambil perhatiannya.


"Tunggu aku pak" Ujarku tersenyum dengan penuh arti.


❤️❤️❤️


Enjoy 😚


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya dan follow IG author juga @dwyulianas xiexie 😚