Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Menemui Afifah


Askara dan Afifah pamit dengan Salma. Mereka juga akan mampir ke toko ibunya Salma, karena mau pamit dengan ibunya Salma.


Selepas Afifah pergi, Salma duduk di sofa ruang tamu, dia membuka hadiah dari Afifah. Ternyata isinya sebuah buku yang di dalamnya Afifah susun foto-foto dirinya dengan bundanya, sejak dia masih kecil hingga sekarang. Di dalam buku itu tertulis juga puisi untuk Salma dari afifah. Salma menangis membacanya. Tidak menyangka Afifah benar-benar tulus meminta maaf padanya. Afifah ingin dekat dengan dirinya, bukan karena ingin dirinya dan ayahnya kembali, melainkan dirinya ingin tetap memiliki sosok bunda, meski tidak lagi bisa bersama. Tapi, Salma terlalu kejam sekali dengannya. Dia tidak menghiraukan Afifah, bahkan sampai Afifah sakit pun dia tidak menghiraukannya.


^^^


Satu bulan berlalu setelah kepergian Afifah dan Askara ke Jogja, Salma semakin bimbang, karena setiap hari gadis kecil itu selalu muncul dalam mimpinya. Setiap malam, tidak pernah ada satu malam yang terlwatkan oleh Salma untuk tidak bermimpi Afifah.


Salma masih ragu untuk kembali menikah dengan Dimas, apalagi Dimas sekarang selalu menolak Salma jika Salma mulai bermanja dengannya. Dimas tidak seagresif kemarin dengan Salma, dan membuat Salma semakin sadar kalau dirinya seperti mempertaruhkan harga dirinya di depan Dimas.


Bukan maksud Dimas menolak, dia juga kasihan dengan Salma jika harus menikah dengan dirinya yang masih saja belum sembuh. Dimas sudah memutus untuk membatalkan menikahi Salma, dia lebih baik sendiri, daripada harus menikah tapi menyiksa batin istrinya.


“Apa yang ingin kamu bicarakan, Dim? Sepertinya serius sekali?” tanya Salma saat Dimas menemani dirinya membuat kue.


“Sal, maafkan aku, sebaiknya kita tidak usah lanjutkan hubungan kita, Sal. Aku tidak mau menyiksa batinmu. Maafkan aku, jujur aku masih sangat mencintaimu, tapi kalau kita paksakan menikah, kasihan kamu, Sal. Aku tidak bisa, aku ini sakit. Aku sudah berobat ke sana kemari tapi hasilnya sama saja. Kamu terapi aku setiap hari juga sama saja hasilnya? Sudah aku tidak mau menyiksa batinmu, Sal. Aku tidak mau, aku kasihan sama kamu,” ucap Dimas, yang memebuat Salam terdiam, lalu tersenyum pada Dimas.


“Kau yakin?” tanya Salma.


“Sal, aku tidak mau menyiksa kamu. Kamu masih normal, kamu harus bisa cari pria yang normal juga, tidak seperti aku. Kita masih bisa berteman, Sal. Kita masih bisa saudaraan, aku sudah anggap kamu ini adikku,” ucap Dimas.


“Dim, sebetulnya ada yang ingin aku katakan juga sama kamu, tapi aku tidak enak, kali saja aku bicara ini kamu marah denganku,” ucap Salma.


“Katakan saja apa yang ingin kamu ungkapkan, aku tidak akan marah, aku akan selalu menjadi pendengar baikmu, Sal,” ucap Dimas. “Apa kamu akan bicara soal Afifah?” tanya Dimas.


“Iya, Dim. Aku memang mau bicara soal Afifah. Kenapa ya sudah sebulan ini aku selalu mimpi dia, dia kadang nangis memeluk aku, kadang juga ngajakin aku ngobrol, kita cerita, tapi dia selalu berwajah sendu. Setiap malam dia hadir di dalam mimpiku, Dim,” ucap Salma.


“Dia merindukanmu, Sal. Dia itu sangat menyayangimu, aku lihat dari sorot mata di saat kemarin bicara denganku, dia begitu tulus menyayangimu, Salma.” Ucap Dimas.


“Aku juga kangen dia, Dim.”


“Jangan egois, Sal. Kamu terlalu terbawa emosi kamu. Anak seusia Afifah itu masih sangat labil, jangankan seusia Afifah, kita saja yang sudah tua kadang masih labil, Sal,” tutur Dimas. “Mau aku antar menemui dia?” tanya Dimas.


“Bagaimana aku mau menemuinya, alamat mereka saja aku tidak tahu?” jawab Salma. “Memang aku terlalu egois ya, Dim? Aku terlalu memikirkan hatiku saja,” imbuh Salma.


“Aku tahu alamatnya, nanti aku antar,” jawab Dimas.


“Dari mana kamu tahu?” tanya Salma.


“Waktu Afifah pamit, dia memberikan alamat rumahnya di Jogja diam-diam padaku, katanya kalau nanti aku sudah menikah denganmu, aku harus ajak kamu ke sana, karena dia akan memberikan kado untukmu,” jelas Dimas.


“Antar aku ke sana, Dim,” pinta Salma.


“Besok, ya? Ini kan sudah malam?” Dimas mengiyakan ajakan Salma.


Dimas sudah lega karena sudah bicara dengan Salma soal dirinya yang tidak akan melanjutkan pernikahannya. Salma juga bicara dengan Dimas kalau dirinya sebetulnya belum siap untuk menikah lagi. Mereka akhirnya sepakat untuk tidak menikah, dan Salma akan ke Jogja, menyusul Afifah, tapi bukan untuk kembali dengan Askara.


^^^


Salma sudah siap untuk ke Jogja pagi ini. Dia pamit juga dengan ibunya, kalau dirinya ingin ke Jogja main ke tempat Afifah. Bu Mila yang mendengarnya juga cukup lega, Salma bisa berdamai dengan hatinya sendiri. salma memang anak yang keras hati sejak kecil. Harus dengan kesabaran supaya dia bisa berdamai dengan hatinya.


“Kamu hati-hati, ya? Salam buat Afifah.” Ucap Bu Mila.


“Iya, Bu.” Jawabnya.


“Titip Salma ya, Dim?”


“Iya, Bu.”


Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Perjalanan yang cukup jauh, jadi Dimas juga sudah mempersiapkan semuanya. Dimas juga sudah mencari hotel untuk dia bermalam bersama Salma. Tapi, kalau Afifah meminta Salma menginap di rumahnya, Dimas akan membiarkannya untuk itu. Biar Salma dekat lagi dengan Afifah.


^^^


Setelah melalui perjalanan panjang, Dimas akhirnya sampai di depan rumah Askara. Rumah yang sederhana, tidak terlalu mewah itu membuat Salma merasa tenang melihatnya.


“Ayo masuk,” ajak Dimas.


Salma mengangguk, dia berjalan di sisi Dimas. Lalu Dimas menekan bel pintu rumah Askara. “Iya sebentar ....” Terdengar suara anak perempuan, dan Salma yakin itu Afifah.


Pintu rumah itu terbuka, dan memperlihatkan Afifah yang terlihat begitu dewasa sekali, berbeda dengan Afifah saat kemarin dia pamit dengan Salma saat akan pergi ke Jogja. Satu bulan membuat gadis itu berubah sekali, dia terlihat begitu dewasa.


“Bunda ....” Afifah langsung memeluknya.


“Bunda kangen kamu,” ucap Salma.


“Sama, Fifah juga kangen sekali sama, bunda. Ayo bunda masuk,” ajak Afifah. “Duduk dulu ya, Bunda. Afifah buatkan bunda sama om teh dulu,”ucap Afifah.


“Ayahmu di mana, Fifah?” tanya Dimas.


“Ayah belum pulang, Om. Masih di kantor, nanti biasanya jam sembilan baru pulang,” jawab Afifah.


“Jadi kamu sendirian? Sama ayah saja?” tanya Dimas.


“Iya, Om.” Jawab Afifah.


Dimas dan Salma saling pandang. Afifah baru kelasa lima SD, dia baru sebelas tahun usianya. Tapi dia bisa hidup dengan ayahnya saja, Dimas tidak menyangka Afifah dan ayahnya hanya tinggal berdua saja, tapi rumahnya terlihat rapi sekali.


“Gak ada pembantu di sini, Fah?” tanya Salma.


“Gak, Bunda. Ayah belum sempat cari pembantu, ayah sama aku kan pendatang baru, sulit cari pembantu yang dipercaya, jadi kami beedua saja,” jawab Afifah.


“Lalu yang masak? Terus cuci baju, nyapu, ngepel, nyetrika?” tanya Salma.


“Ya bagi tugas, kadang aku kadang ayah,” jawab Afifah.


“Kamu bisa cuci setrika?” tanya Salma.


“Bisa, kan diajari ayah?” jawabnya.


Askara mungkin sudah biasa mengurus dirinya sendiri sejak Azzura pergi meninggalkannya, dia juga sudah biasa mengurus Afifah sendiri, jadi untuk sekarang tidak masalah bagi Askara, di rumahnya tidak ada pembantu.


“Ih bunda kok ikut ke sini?” tanya Fifah.


“Sini biar bunda yang buat tehnya?”


“Masa bunda tamu malah yang buatin? BiarAfifah saja bunda,” jawab Afifah.


“Oke, baiklah, bunda lihat saja,” ucap Salma.


Afifah menuangkan air panas ke dalam teapot yang sudah ia isi dua kantung teh. Ia menata gelas di atas nampan, dan mengambil cemilan di lemari.


“Yah adanya Cuma ini, Bunda. Afifah sama ayah belum sempat belanja, soalnya ayah sibuk, jadinya cemilaannya tinggal ini,” ucap Afifah.


“Bunda bawakan kue kok, nanti bunda bukain, kali saja kamu pengin makan kuenya,” ucap Salma.


Afifah menuangkan teh ke dalam cangkir, lalu membawanya ke depan. “Sini biar bunda saja yang bawa, kamu bawa toples cemilannya itu saja,” ucap Salma.


“Iya bunda,” jawabnya.


Salma menikmati teh buatan Afifah. Afifah dari tadi tidak berhenti memakan kue buatan Salma. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. “Itu pasti ayah pulang.” Ucap Afifah.


^^^


Askara gugup, dia langsung turun dari mobilnya karena melihat pintu rumah terbuka, dan ada mobil di depan rumahnya. “Ini Afifah padahal aku sudah wanti-wanti, jangan menerima tamu asing malam-malam!” Askara langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


“Afifah!”


“Ayah ih, ngagetin saja, salam kek? Pulang-pulang langsung teriak?”


“Salma? Jadi tamunya kamu?” tanya Askara.


“Iya, Mas. Maaf gak ngabari dulu.”


“Gak gitu, maksudanya aku itu sudah wanti-wanti Afifah supaya jangan menerima tamu kalau aku gak ada, aku selalu melarang dia untuk membukakan pintu kalau ada yang datang,” ucap Askara.


“Lagian, Fifah pasti lihat jendela dulu dong yah, kalau mau menerima tamu? Dan aku lihat bunda, ya aku langsung buka pintu dong, yah? Kalau aku gak kenal ya enggak?” jawab Afifah.


“Pintar sih kamu,” ucap Salma.


“Kan ayah yang ngajarin, kok jadi ayah yang lupa? Udah tua sih, ya?” ledek Afifah.


“Sal, kamu kok ke sini? Kamu tahu alamat rumah ini dari siapa?” tanya Askara.


“Dimas yang tahu,” jawab Salma.


“Apa ada kabar bahagia nih kalian ke sini? Mau kasih undangan?” tanya Askara dengan duduk di sebelah Fifah.


“Gak aku kangen dengan Fifah kok,” jawab Salma.


“Om sama bunda sudah menikah, kan? Kan om janji sama aku kalau sudah menikah dengan bunda mau ajak bunda ke sini? Ini sekarang ke sini, pasti om sudah menikah dengan bunda?” ucap Afifah.


“Om belum menikah dengan bunda, Fah.”


“Kok belum nikah? Kenapa?” tanya Afifah.


“Ya belum saja,” jawab Dimas.


“Kamu itu tanya-tanya gitu, memang kalau bunda sama om Dimas sudah menikah kenapa?” tanya Askara.


“Mau kasih kado sama bunda, udah Afifah siapkan itu di kamar,” jawabnya. “Ayah ih jangan meluk-meluk, sana ayah mandi dulu,” ujarnya.


“Ya sudah ayah mandi,” ucap Askara. “Oh ya, kalian belum makan, kan? Aku pesankan makanan, ya? Kita makan malam bersama,” ucap Askara.


“Gak usah repot-repot Asakra, tapi kalau kamu mau belikan ya oke sih,” ucap Dimas.


“Ya sudah nanti aku pesankan.”


Askara ke kamar mandi. Dia tidak menyangka Salma datang dengan Dimas ke rumahnya. Askara kira mereka sudah menikah, atau akan memberikan undangan, ternyata mereka malah belum menikah, dan ke rumahnya bukan untuk memberikan undangan.


^^^


Selesai makan malam bersama, Afifah dan Salma dari tadi berdua saja di kamar Afifah, entah mereka sedang apa, sepertinya mereka sedang meluapkan rindunya. Salma di ajak ke kamar Afifah. Dia ingin tahu, Afifah sedewasa apa sekarang. Ternyata kamar Afifah sudah tidak ada lagi boneka-boneka kesukaannya waktu kecil, hanya ada foto-foto Afifah dengan dirinya yang Afifah pasang di tembok, ia bingkai rapi, dan ada juga yang di meja belajarnya.


Kamarnya tertata rapi sekali, seperti kamas anak remaja. “Ini kamu yang menata, fah?” tanya Salma.


“Iya, mau siapa lagi kalau bukan Afifah, Bunda?” jawab Fifah.


“Bunda nginep sini ya? Fifah kangen tidur meluk bunda,” pinta Fifah. Salma hanya diam, bingung dirinya mau menjawab apa. “Ehm, kalau bunda bingung gak usah gak apa-apa,” imbuhnya.


“Nanti bunda coba tanya om Dimas dulu ya?” jawab salma.


“Oke, nanti Afifah rayu om dimas juga biar menginap di sini, gak usah ke penginapan,” ucap Afifah.


Mereka berbincang dengan akrab, dan sesekali bercanda. Tawa mereka sampai terdengar keluar, sampai di telinga Askara dan Dimas yang sedang mengobrol.


“Biar saja mereka melepaskan rindunya, Ka,” ucap Dimas.


“Kenapa kamu belum menikahi Salma?”


“Aku tidak akan menikah dengannnya,” jawab Dimas.


“Kenapa?”


“Ya karena kami memang tidak bisa bersama lagi. Aku ini sudah anggap Salma seperti adikku sendiri, Ka. Jadi ya sepertinya untuk menikah lagi, rasanya sudah beda,” jawab Dimas. “Kamu tidak mau berusaha membujuk Salma untuk rujuk?”


“Aku tidak berani, nanti yang ada, Salma malah jauh dengan Afifah lagi. Aku tidak mau egois, Dim. Aku memang masih mencintai Salma, tapi aku tidak bisa memaksa Salma yang ada nanti malah dia jauhi Fifah lagi, yang terpenting Fifah bahagia, karena Salma masih mengingatnya. Salma ke sini untuk menemui Fifah dan bilang kangen dengan Fifah saja aku sudah bahagia dengarnya, Dim,” jawab Askara. “Yang terpenting anakku bahagia, Dim,” imbuhnya.


Benar kata Askara, yang terpenting adalah Afifah. Askara lebih baik memendam cintanya pada Salma, daripada dia mengungkapkannya nanti malah jadi ribut lagi, dan Salma menjauhinya lagi, kasihan Afifahnya.