
Di sisi lain, suara erangan nikmat terdengar saat puncak itu datang. Diavolo melihat wajah gadis yang baru saja dia ambil hartanya. Lumayan, tidak kalah dari bosnya. Kali ini, Diavolo hanya mengambil mahkota gadis itu, tanpa menyerah energi spiritual wanita itu. Raja Iblis tersebut punya tujuan lain.
"Pastikan dia tumbuh dengan baik." Diavolo memakai jubah tidurnya lantas keluar dari kamar. Meninggalkan Volturi yang hanya bisa terdiam melihat tubuh satu wanita yang sebenarnya sangat menarik perhatiannya. Namun demi kelangsungan negara, dia merelakan wanita itu jadi korban Diavolo.
"Maafkan aku, De." Kata Volturi lirih. Mulai memakaikan pakaian pada tubuh polos dan seksi wanita itu. Volturi menyentuh pelan perut rata wanita itu, bisa dia rasakan satu kehidupan mulai terbentuk di sana. Anak Diavolo tumbuh di rahim wanita itu.
"Aku ingin Irish jadi pasanganku, tapi kerajaanku perlu pewaris secepatnya. Dan wanita itu memenuhi syarat untuk mengandung benihku. Jika Naraku bertindak, setidaknya aku punya dia untuk mengamankan posisiku. Meski dia akan jadi setengah iblis. Tapi aku bisa memurnikannya." Batin Diavolo melihat ke arah langit malam bergelayut mendung. Dia tahu satu hal buruk akan segera terjadi.
Han menyembunyikan Irish di belakang tubuhnya. Saat aura itu semakin dekat. "Berikan dia padaku! Beraninya kau mengikat hal yang sudah jadi milikku!" suara menyeramkan itu menggema di kamar Irish. Di luar kamar, semua orang berebut ingin masuk ke kamar Irish. Sedang Isaac dan Meli sudah muncul di samping Han dan Irish.
"Dia sebenarnya siapa sih?" Han bertanya heran. Aura ini sangat kuat tapi ada satu hal janggal yang Han rasakan, tapi apa itu, Han belum bisa menemukan.
"Yang aku tahu, dia pemegang kunci segel energi di tubuh Irish. Kalian belum melakukannya?" tanya Isaac konyol.
"Kakak pikir beli cabe apa langsung dapat!" sungut Irish kesal. Baru juga foreplay, gangguan sudah datang. Wajah Irish berubah cemberut.
"Kau kurang gercep sih." Meli menimpali protes pada Han.
"Apa sih?!" tanya Han salah tingkah. Pemuda itu hanya bisa menggaruk kepalanya, sesekali menoleh ke arah Irish yang sudah memerah wajahnya.
Brakkkkk, pintu terbuka dari luar, bersamaan dengan satu sosok muncul di luar jendela apartemen Irish. "Hati-hati dengannya!" Somchai memperingatkan.
Sosok itu berdiri di hadapan mereka. Matanya merah, menatap nyalang pada semua orang. Hingga mata itu bertemu dengan mata coklat Irish yang bersembunyi di balik tubuh Han. Tangan Irish dan Han saling bertaut. Menggenggam satu sama lain.
Naraku muncul untuk pertama kalinya dengan rupa aslinya. "Waahhh ganteng lagi mbak, ck..ck..ck...fans beratmu gak ada yang jelek!"
Satu tabokan Nanto terima dari Ivan, dua orang somplak benar-benar cocok satu sama lain. "Sakit bege!"
"Mulut lu yang begee!"
Aaarrggghhhh, semua merunduk saat petir menyambar di luar sana. Tangan Naraku terangkat, fokusnya tertuju pada Irish. "Ikutlah denganku. Datang padaku." Tubuh Irish menegang. Ada sesuatu dalam dirinya yang menggeliat pelan. Seolah bangun secara perlahan. Tanda api hitam di dahi Irish muncul. Kesadarannya mulai di tekan. Dia mulai kehilangan kendali pada dirinya sendiri. Lebih tepatnya satu hal itu memerangkap jiwa Irish. Mengurungnya, mengikatnya hingga Irish tidak punya kuasa untuk melawannya.
"Ai, jangan biarkan dia menguasai dirimu!" Isaac yang sadar dengan keadaan Irish mencoba membangunkan jiwa gadis itu.
Han pun sama, pemuda itu mencoba memanggil Irish melalui jiwanya, mereka terhubung oleh ikatan mate yang sudah mereka punya.
"Nduk, sadar. Eling, ingat. Jangan biarkan dia membangunkanmu."
Mata Irish terpejam, mencoba melawan apapun itu yang mulai menguasai dirinya. "Aarrgghhhhh." Irish berteriak keras, seiring gelombang kekuatan yang menyerang semua orang. Mereka semua terhempas ke berbagai arah. Bahkan Asna langsung tidak sadarkan diri. Dengan Somchai yang seketika membuat sikap meditasi. Fokus, Somchai berusaha mencegah Irish mendatangi Naraku.
"Aku Naraku! Memerintahkan padamu untuk bangun. Sudah saatnya kita menguasai dunia."
Braakk, jiwa Isaac terpental, menghantam dinding kamar Irish. Dalam sekejap, mereka semua sudah berpindah tempat. Di sebuah padang tandus dengan tebing curam dan jurang dalam menghiasi, ditambah tanah berpasir yang membuat suasana seperti di medan perang.
Giliran anak panah Han yang melesat bertubi-tubi menyerang Naraku. Satu tarikan dan anak panah Han menjelma jadi ratusan. Ivan dan Nanto jelas melongo dengan semua yang terjadi di hadapan mereka. Takjub sekaligus takut.
Satu kubah pelindung muncul melindungi Naraku dari serangan Han. Iblis itu menyeringai, satu gerangan tangan memutar dan serangan Han berbalik ke arah mereka. Mata Han membulat, pria itu melompat ke depan. Tanda dewa naga di dahi Han bersinar, giliran dinding transparan berwarna hijau muncul melindungi semua yang ada di belakang Han. Asna bangun, wanita renta itu ikut duduk bersila di samping Somchai, berdoa dan merapalkan mantra untuk membantu melawan Naraku.
"Mari berjuang bersama." Asna melihat sendu ke arah Isaac. Tahu ujung dari semua ini. Dua bulir air mata mengalir dari sudut mata Asna sebelum wanita itu menutup mata, mengerahkan sisa tenaga yang masih dia punya. Pun dengan Isaac, jiwa itu mencengkeram pedangnya erat. Dengan Meli setia berdiri di sampingnya. Keduanya pun saling tatap sebelum sama-sama mengarahkan pandangannya ke depan. Di mana Han tengah bertarung dengan Naraku.
"Dia perlu membuka segelnya. Dan itu perlu waktu." Suara Somchai membuat Isaac dan Meli mengangguk. Di belakang mereka, tubuh Irish melayang tinggi. Segel iblis dalam dirinya 90% sudah terbuka. Petir mulai menyambar, dengan cahaya kilat berkelap kelip. Di kejauhan bisa di dengar suara debur ombak yang naik, membentuk gelombang tinggi.
"Irish, cicitku. Kendalikan dirimu. Kekuatan itu mulai menunjukkan kuasa penghancurnya.
Mata Irish berubah hijau dengan tanda mate dari Han muncul. "Aaarrghhhhh." Irish berteriak kesakitan. Dua energi dalam dirinya berebut untuk menguasai tubuh Irish. Gadis itu jatuh menghantam tanah, dengan tubuh menegang menahan sakit. "Tolong aku! Kakak! Ini sakit! Sakit sekali!" teriak Irish berulang kali. Han secepat kilat mendekati Irish. Dengan Isaac menggantikan pemuda itu berduel dengan Naraku.
"Ai bertahanlah!"
"Bunuh saja aku! Aku tidak bisa menahannya! Sakit! Panas! Aaarrgghhhhhhh!!" suara Irish melengking di tengah padang tandus itu. Dengan suara pedang beradu menjadi latar belakangnya.
"Biar aku coba!" Meli mendorong tubuh Han minggir.
"Mel! Jangan aneh-aneh kamu!"
"Buka saja segelmu. Itu perlu waktu!" Kata Meli cepat. Mata Han melotot. Melihat bagaimana jiwa Meli bersinar terang. "Aku punya kekuatan darah kalian. Ingat?" Meli bergumam lirih. Gadis itu mencoba menetralkan dan menekan keluar energi yang ditanam oleh Naraku. Melihat Meli baik-baik saja. Han mulai memposisikan dirinya. Bermeditasi untuk membuka segel roh dewa naga yang ada dalam dirinya.
Brakkkkk
"Isaaaaccc!" Meli menoleh cepat. Bisa Meli lihat, pedang Naraku sudah berada di leher Isaac. "Arrrgghhhhh!" Meli melotot, saat Irish mencekik lehernya.
"Kau pikir siapa dirimu?! Berani menghentikanku!"
"Tidak! Irish kau tidak boleh kalah! Dia tidak boleh menguasaimu!" kata Meli terbata-bata.
"Semua sudah terlambat!" Suara Irish bukan lagi suara gadis itu. Tawa Naraku menggema. Segel iblis dalam diri Irish sudah terbuka sepenuhnya. Kehancuran akan segera datang.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****