Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 91. Pertolongan Dewi Siluman Iblis


“Tenanglah Ute-e, ini akan membuat otakmu selalu mengingat kejadian hari ini!”


Juli sangat murka, dalam sekejap mata Juli telah melayang di udara depan Ute-e, semua mata terbelalak, mereka tidak mengira anak kecil yang tidak berpangkat bisa menekan mereka dengan mudah, serta memiliki kemampuan seorang Dewa dan dapat melayang di udara.


“Si.. Siapa dia? Kenapa anak sekuat ini tidak terdeteksi oleh kita saat dia berada di bawah kubah pelindung?”


“Aku juga tidak tahu, tapi yang mulia ratu telah memperingatkan kita untuk masalah ini”


“Gawat kalau begini terus, kita bisa mati sebelum melaporkan kejadian ini pada Ratu”


Berbagai komentar ketakutan terdengar, Ute-e mulai menelan ludah ia benar-benar tidak mengira dirinya akan dipecundangi oleh anak manusia sampai ke tingkat ini, keringat dingin mulai membasahi kening karena tatapan mata mengerikan Juli bukanlah sesuatu yang bisa dilawan.


“A-Anak manusia! K-Kalau kau maju satu langkah lagi aku akan menghancurkan kepala bocah perempuan ini” Ute-e mencoba mengancam dengan nada tergagap, ancaman ini bukan membuat Juli takut atau pun khawatir tapi justru membuat Juli semakin murka padanya.


Dengan sebilah pisau tajam perlahan Juli meletakkan pada pangkal lengan besar kiri Ute-e yang tidak bisa bergerak,


“Mau mengancamku?” Juli memotong lengan kiri Ute-e yang memegang Hana perlahan.


Sreek!


“Aaaakkhh! Bocah hentikan kita bisa bicara baik-baik” teriakan kesakitan Ute-e membuat semua pasukannya terbelalak dengan raut wajah pucat pasi, sementara Juli terus memotong hingga lengan itu putus sampai ke pangkalnya.


Tangan kiri Ute-e dan Hana jatuh ke tanah Juli segera menjentikkan jarinya, hingga Hana hilang dalam udara sementara tangan Ute-e jatuh ke bumi. Ute-e menyadari bocah manusia di depannya sedang dalam mode mengerikan, dia sendiri beserta pasukannya bukanlah lawan yang berimbang saat ini.


“Ini pembantaian, bocah! Dari mana kau mendapatkan teknik seperti ini?” teriak marah Ute-e yang berusaha melawan segel tubuh pengikatnya.


Pada dasarnya segel ini dapat membuat siapapun dalam radius tertentu tidak bisa bergerak karena terjerat dengan pola-pola misterius yang kasat mata, di sisi lain tenaga dalam Juli terus terkuras di setiap detiknya untuk menahan puluhan siluman berpangkat Bintang Hitam.


“Kau berani menarik lengan Ratu ku? Sekarang giliran mu” Tatapan Juli dingin, kini tangan kecil itu memegang lengan kanan Ute-e dan mulai menarik legan Ute-e secara paksa.


“Tidak! Tidak apa yang kamu lakukan” Ute-e menjadi pucat saat merasakan cengkraman tangan kecil Juli sangat kuat dan bahkan merobek daging lengannya. Semua pasukan siluman melebarkan matanya mereka tidak menyangka anak kecil itu dapat merobek daging dan menarik lengan Ute-e dengan mudah.


“Aaaaakkhh! Tidak… Aku seorang siluman tidak akan… tidak akan merasakan sakit kalau hanya penyiksaan seperti ini… tidak akan!” Ute-e mulai meraung-raung saat melihat lengan dicabut dari tubuhnya, Juli melakukannya dengan mudah bahkan lebih mudah dari mencabut sehelai rambut. Semua orang ketakutan mulai ngeri melihat anak misterius yang memiliki banyak teknik rahasia yang tidak di ketahui oleh mereka.


“Sial! Bocah ini sama kejam dengan siluman, jika begini kita juga akan mendapatkan perlakuan yang mengerikan?”


“Iya! Kekuatan bersama kita juga tidak bereaksi dengan terhadap kutukan ini, gawat”


Juli menoleh ke arah yang jauh ke tempat Hana terbaring, ia bisa melihat kondisi Hana yang sedang tidak baik-baik saja, Juli kembali mengalihkan pandangannya pada Ute-e dengan tatapan marah. Sementara Ute-e berusaha senyum seolah penyiksaan Juli tidak ada apa-apanya.


“Oh… kau mengira kau bisa tertawa, baiklah aku akan melihat seberapa hebat kau ini” Juli kembali menusuk mata kiri Ute-e hingga menembus tengkoraknya.


“Aaakkkhh!” Teriak kesakitan ute-e mulai terdengar mengisi ruang udara, semua pasukan siluman menjadi ketakutan.


DROOMMM!


Tiba-tiba sebuah tebasan energi pedang raksasa menebas ke arah Juli hingga menghancurkan segel kutukan yang telah di ciptakan. Seorang Dewi siluman cantik jelita melayang di langit, senyuman manis hingga terlihat sederet gigi putih disela bibir indah.


“Yang Mulia Ratu Datang!”


“Yang Mulia Ratu Datang”


“Sekarang kita selamat bocah ini akan dibinasakan”


Semua pasukan siluman berteriak kencang karena telah tertolong, mereka sempat berpikir kalau mereka akan menghembuskan nafas secara mengerikan hari ini. kebahagiaan siluman meluap luap begitu melihat kehadiran Dewi Siluman Iblis. Sementara Juli dengan cepat mencengkram kepala Ute-e dan siap menghancurkannya.


Sejenak mata Dewi Siluman Iblis melebar melihat tingkah laku bocah di depannya,


“Hm… anak manusia, pengguna teknik terlarang, untungnya aku menemukan mu saat dirimu masih bocah! Hahaha, aku kagum padamu bisa memberi pelajaran pada jendral bodoh ku, tapi sekarang kau akan mati hari ini” Dewi Siluman Iblis terlihat sangat bersemangat, pandangan matanya mengintimidasi Juli yang berada di ranah batu.


Juli menyeringai seraya mengangkat Ute-e yang sudah sekarat ke arah Dewi Siluman,


“Dewi Siluman Iblis, aku tidak menyangka kita akan bertemu secepat ini, tapi yakinlah! Kau juga akan keluar dari sini dengan keadaan sekarat itu paling ringannya jika tidak terbunuh” Juli mulai terlihat cukup serius api hitam tubuhnya terus membesar berkobar-kobar kembali.


Dewi Siluman Iblis mengerutkan kening ia sadar bocah didepannya akan berlaku nekat jika pertempuran sungguh terjadi apa lagi Juli pengguna Api Kegelapan dan itu sungguh sangat beresiko untuk dilawan secara gegabah. Disisi lain nyawa Ute-e juga sedang terancam bagaimanapun Dewi Siluman Iblis bukanlah siluman yang rela mengorbankan nyawa jendralnya secara sia-sia.


“Aku pernah melihat pengguna Api Kegelapan seribu tahun lalu, ketika peperangan besar dan itu di gunakan oleh seorang Dewa Leluhur umat manusia, tapi kali ini di depan mataku aku melihat seseorang bocah menggunakan Api Kegelapan, kau rupanya bukanlah bocah sembarang, tapi sayang aku telah memantau mu sejak ke datangan mu ke Bumi Barat, kurasa kau adalah seorang dewa terluka yang menyamar dan bersembunyi di sini, tapi, dari manakah kau berasal? Dan bagaimana kau bisa mengetahui nama ku?” Dewi Siluman Iblis mengelus-elus dagunya terlihat berpikir.


Juli menyeringai, “Dewi Siluman Iblis, kau tidak perlu mengetahui siapa aku, sebaiknya kau maju saja tidak usah banyak bicara” Juli mengerakkan Jari tangan kirinya membentuk pola misterius di belakang tubuhnya, 4 bola hukum di belakang tubuh kini mulai membesar dan berputar mengelilingi tubuhnya. Cengkraman tangan kanan terhadap kepala Ute-e semakin keras hingga Ute-e kembali menjerit histeris.


“Yaang Mulia Ratuuu… Tolooong!”


Dewi Siluman Iblis menjadi sedikit pucat, ‘Gawat Bocah ini benar-benar akan membunuh Ute-e bagaimana pertanggung jawabku terhadap ayahnya, tapi ini semua akibat kecerobohannya’ batin Dewi Siluman Iblis.


“Baiklah! Bocah kita buat kesepakatan, untuk kali ini aku melepaskan mu, tapi kau harus melepaskan jendral ku, bagaimana?” Tanya Dewi Siluman Iblis menawarkan, karena jika ia menyerang pastinya Juli akan membunuh Ute-e terlebih dahulu dan hal itu tidak diinginkan oleh Dewi Siluman Iblis.


Juli menyeringai, “Huh! Apa si Ute-e ini sangat berharga bagimu sehingga mau berdamai denganku, baiklah aku pun tidak ingin sampah ini, tapi aku ingin satu Pil Surgawi darimu, itu tawaranku, jika tidak maka tidak ada jalan negosiasi” Ucap Juli serius menatap tajam Dewi Siluman Iblis.


Dewi Siluman Iblis terperanjat, dia tidak mengira bocah ini bahkan tahu dirinya memiliki Pil Surgawi, dan itu pil tingkat sepuluh, pil untuk penyembuhan tingkat Dewa, dan harganya sangatlah tidak terukur dia pun hanya memiliki tiga saja, permintaan itu sungguh sangat berat baginya.


‘Sial! Bocah ini tidak memberiku pilihan, aku hanya berpikir nyawa jendral bodoh ini atau pusaka yang ku miliki, aku benar-benar tidak mengira dia akan merampokku’ Dewi Siluman mencoba berpikir mendalam.


“Baiklah! Aku akan memberikan pil ini sebagai imbalannya kau berikan cincin ruang mu padaku”


Dewi Siluman Iblis kembali menawarkan. Juli terlihat semakin murka cengkeraman kepala Ute-e semakin kuat karena tidak ada lagi jalan negosiasi pikir Juli. Dewi Siluman Iblis segera mengangkat tangannya karena ia tahu bocah di depannya memang gila.


“Baiklah! Baiklah! Ambil ini dan lepaskan dia” Dewi Siluman Iblis segera melemparkan pil sebesar kelereng berwarna emas bercahaya terang dan memiliki aura yang sangat kuat, sekali lihat saja Juli tahu bahwa itu benar Pil Surgawi.


Juli segera menangkapnya, ‘Hm… aku tidak menduga nyawa Ute-e sangat berharga pada Dewi Siluman Iblis, tapi baiklah melawannya kali ini aku benar-benar tidak bisa keluar hidup-hidup, lagi pula aku harus menyelamatkan Hana, karena jika aku nekat Hana pun akan merenggang nyawa’ batin Juli seraya melemparkan Ute-e pada Dewi Siluman Iblis.


“Yang mulia! Dia telah menyerahkan jendral, sekarang mari kita kepung dia dan merebut kembali pil itu” teriak pasukan siluman, kini mulai mencoba mengepung Juli, sementara Juli hanya menyeringai tatapan tajamnya tidak terlepas dari Dewi Siluman Iblis.


“MUNDUR!”


Teriak Marah Dewi Siluman Iblis, "kalian para bocah hanya menyusahkan ku saja, kali ini biarkan dia pergi jangan ada yang mengganggunya lebih lanjut, untuk kedepannya aku sendiri yang akan memusnahkannya".


Semua pasukan siluman terkejut dengan keputusan Dewi Siluman Iblis, namun mereka sekarang mundur secara teratur terbang menjauhi tempat itu. Dewi Siluman Iblis menatap Juli dengan tatapan murka,


“Bocah! Ingatlah! pertemuan kita selanjutnya akan menjadi ajalmu” terdengar Suara Dewi Siluman Iblis di dalam kepala Juli dan setelah itu iapun terbang meninggalkan tempat itu.


Juli menyeringai, “Aku tahu satu-satunya siluman yang selalu memengang teguh pada janji itu kau Dewi Siluman Iblis” gumam Juli sembari terjun ke bumi mengubah tubuhnya ke mode biasa, “Sekarang Aku harus menyembuhkan Hana” gumam Juli pucat seraya menjentikkan jarinya.


“Tik”


**