
Beras dirumah sudah habis, ibu juga sedang hamil besar tambal ban ku beberapa hari ini sepi, ayah juga beberapa hari ini tidak pulang, ibu menyuruhku untuk meminjam kepada budeku sedikit beras untuk kita makan nanti.
"Assalamualaikum bude"
Hujan kebetulan turun dengan derasnya, aku hanya membawa pastik kresek aku pakai di atas kepala, payung ibu sudah robek.
"Walaikumsalam, Ya Allah kenapa hujan-hujanan Lut" bude membukakan pintu sembari mengandeng tanganku untuk masuk.
"Bude tadi aku disuruh ibu untuk meminjam beberapa liter beras"
"Astaghfirullah, kamu sama ibumu belum makan nak?"
"Belum bude, tambal ban ku sepi ibu hamil besar tidak bisa menjahit"
"Bapak mu kemana nak?"
"Bapak beberapa hari ini belum pulang, kami tidak di kasih uang bude"
Sembari meneteskan air mata, bude membungkus kan beberapa liter beras untuk kami, mungkin perasaan bude berkecamuk adiknya di perlakukan seperti itu oleh bapak.
"Ini nak, bude juga bungkus kan beberapa lauk untuk kamu dan ibumu, bawa payung bude ini ada uang kasih ke ibumu, hati-hati di jalan"
"Terimakasih banyak bude" aku seketika meneteskan air mata betapa pilunya kehidupan ini.
Aku berjalan pulang menembus derasnya hujan, langkah kaki ku percepat di sepanjang jalan tiada hentinya aku menteskan air mata, aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, aku tidak berani kerumah paman sudah terlalu sering aku menyusahkan paman, biasa aku meninjam lebih tepatnya meminta beberapa liter beras jika aku tidak mendapat hasil dari tambal ban, tapi kalau aku mendapatkan hasil aku selalu membayar nya, aku tidak mau terus-menerus meminta paman, meskipun itu bukan persoalan yang beaar bagi paman tetap saja aku tidak mau.
Ada pepatah mengatakan "Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah" itu yang selalu aku jadikan pedoman sampai saat ini, tapi hari ini aku terpaksa melanggar pedoman hidupku itu, aku kalah dengan keadaan terpaksa tanganku berada dibawah untuk menyambung hidup hari, sampai aku dirumah aku lalu memasak beras yang tadi aku pinjam dari bude untuk ibu dan aku makan, ibu beberapa hari ini memang kurang sehat, ibu batuk hebat dan juga memuntahkan cairan kuning ibu belum bisa berobat, memang kami belum mempunyai uang kami hanya menunggu ayah pulang dan memberikan ibu uang untuk berobat, mau minjam ke paman dan bude rasanya tidak berani, karena sudah terlalu sering kita merepotkan beliau-beliau.
"Gubraaakkkk" suara dari kamar ibu.
"Astaghfirullah ibu" aku panik bukan kepalang.
Ibu tersungkur di lantai dengan darah keluar dadi mulut ibu, aku segera berlari di tengah derasnya hujan untuk kedua kalinya, aku kerumah paman.
"Walaikumsalam, kanapa Lut"
"Ibu pak sum, ibu" aku panik untuk mengatakan kepada pak sum
"Iya ibunu kenapa"
"Ibu pingsan mulutnya keluar darah pak sum"
"Astaghfirullah" pak sum langsung berlari menuju rumah kami.
Setibanya di rumah pak sum juga panik melihat ini.
"Astaghfirullah mbak, kamu kenapa mbak" pak sum membangunkan ibu dari lantai.
Tak berapa lama kami langsung puskesmas terdekat, ibu segera di rujuk ke rumah sakit karena di puskesmas tidak cukup alat untuk mengecek keadaan ibu, saat itu bapak tidak ada dirumah, aku disuruh paman untuk mencari bapak, aku berkeliling disetiap tempat bapak biasa berjudi maupun sekingkuh, tetap saja tidak ketemu bapak aku tanya kepada teman-temannya ayah berada di tempat billiards, tanpa mengulur waktu aku segera kesana, beberapa menit aku sudah sampai di tempat itu.
"Bapak ibu pingsan, di bawa ke rumah sakit"
"Hmmm" bapak hanya menoleh dan melanjutkan permainannya.
"Bapak, ibu mulutnya keluar darah" aku mencoba menjelaskan keadaan ibu.
"Ibumu mau mati sekalian aku juga tidak peduli, kalian cuma manusia tidak berguna".
Teman-teman bapak menertawai apa yang di ucapkan bapak, inilah tempat-tempat iblis berkumpul mereka mungkin sama halnya dengan bapak, yang meninggalkan keluarganya demi kesenangan mereka, ternyata bapak sedang mabuk, bicaranya terus meracu kata-kata umpatan kekuar dari mulut bapak.
"Sudah sana pergi, gak tahu orang lagi kalah juga"
"Kamu sama ibumu mau mati atau mau bagaimana aku gak peduli, pergi sana!!!".