Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
116 (Melamar Mu)


Sontak Andri menoleh ke arah ibunya. “Mama mau nikah sama papa?” tanya Andri.


“Ha? I-iya, kalau memang jodoh.” Fi tertawa canggung karena malu.


“Aku punya papa baru dong ma?” Andri tertawa riang.


Fi pun tak dapat melihat wajah Yudi yang terus memandang dirinya.


Sesampainya di depan pintu utama rumah Fi, mereka semua pun turun, kecuali Yudi dan Rian.


“Fi.” ucap Yudi dari dalam mobil.


“Ya tuan?” sahut Fi.


“Tolong masak lontong Medan, pakai sambal ijo di campur tauco.” pinta Yudi pada calon istrinya.


“I-iya tuan.” sahut Fi tanpa bertanya apapun.


“Baik, Fi, bu, nak Andri, papa pergi dulu.” cara Yudi memperlakukan Andri persis seperti ayah dan anak kandung.


“Iya papa.” Andri pun melambaikan tangannya.


Setelah itu, Yudi pergi bersama mobil yang di kemudi Rian menuju rumahnya.


“Fi, memang kau bisa masak lontong Medan?” tanya Yuri.


“Tinggal lihat google bu.” kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


Pet pet pet!!!


Fi di sambung dengan terompet oleh ketiga rekan kerjanya.


Mereka yang tahu Fi memenangkan kasusnya langsung memberi selamat.


“Fi, selamat ya, semoga setelah ini kau selalu berbahagia, lupakan masa lalu.” ucap Reni seraya memeluk Fi.


“Iya benar, urus lah nak Andri dengan benar, berikan ia cinta dan kasih sayang yang banyak.” Lia pun ikut memeluk Fi.


“Iya, dan jangan lupa, kalau tuan datang melamar mu, harus di terima.” Selia yang tak mau ketinggalan memeluk Fi dari belakang.


“Terimakasih banyak teman-teman.” Fi sangat senang, karena ia kini memiliki teman.


Yuri yang melihat putrinya mendapat banyak dukungan menjadi terharu.


“Ayo Fi, ini sudah sore, kita harus membuat lontong Medan yang enak untuk tuan.” Yuri mengajak putrinya untuk segera ke dapur.


“Aku bisa masak lontong Medan.” Selia yang berasal dari Medan tentu tahu cara mengerjakannya.


“Serius Sel?” tanya Fi memastikan.


“Tentu saja, ibu ku kan kerjanya jual sarapan pagi, seperti lontong, pecel, mie gomak dan lainnya, dan aku sebelum merantau selalu membantu ibu ku untuk membuatnya,” ucap Selia dengan menyakinkan.


“Baiklah, kalau begitu ayo ke dapur.” Fi pun membawa Selia untuk memasak bersamanya.


Malam harinya, Fi yang baru saja mandi memakai piyama mikey mouse.


Ia yang melihat jam telah menunjukkan pukul 20:00 malam berpikir kalau Yudi tak akan datang.


“Ma.” Andri memanggil dirinya.


“Iya nak?” sahut Fi.


“Aku mau tidur sama nenek.” malam itu Andri ingin bersama neneknya.


“Ya sudah kalau begitu. Mama antar ya.” Fi pun menggenggam tangan anaknya, lalu menuju kamar ibunya.


Saat mereka melewati ruang tamu, tiba-tiba ada yang menekan bel pintu.


Ting tong?


“Apa itu tuan Yudi?” Fi yang penasaran pun menuju pintu bersama Andri.


Retek!


Kriett...


Setelah pintu terbuka, Fi tersentak bukan main.


Sebab Yudi datang bersama kedua orang tuanya.


Penampilannya yang imut membuat Rani, ibu sambung dari Yudi tertawa getir.


“Hahaha! Yudi, apa kau serius ingin menikahi anak di bawah umur?” Rani mengira kalau Fi adalah anak baru masuk SMA.


“Betul kata mama mu, kau gila ya Yudis? Mana mungkin mamanya mau menikahkan putrinya pada mu.” Philip Hirarki ikut tertipu oleh wajah Fi yang awet muda.


“Maaf tuan, nyonya, silahkan masuk dulu.” Fi menghentikan perdebatan keluarga Hirarki tersebut.


“Oh iya, kau benar juga. Ayo ma, pa.” Yudi baru sadar setelah Fi menegurnya.


Kemudian keluarga Hirarki pun masuk ke dalam rumah Fi.


“Silahkan duduk tuan, nyonya,” ucap Fi.


Fi yang terus menyebut mereka tuan dan nyonya membuat Rani merasa aneh.


“Kau orang luar negeri ya?” tanya Rani.


“Tidak nyonya, saya asli orang pribumi.” Fi mengatakan hal yang sebenarnya.


“Oh, tapi aneh juga ya cara bicara mu.” Rani tak tahu jika Fi adalah mantan art anaknya.


Kemudian mata Philip mengarah ke Andri yang terus memeluk kaki jenjang Fi.


“Itu adik mu?” tanya Philip, sebab wajah Fi sangat identik dengan Andri.


Andri yang mendengar perkataan Philib jadi salah sangka. ”Jadi sebenarnya aku bukan anak mama?” tanya Andri dengan mata Andri berkaca-kaca.


“Apa?” Philip, mau pun Rani tercengang, sebab mereka tak menyangka kalau wanita belia yang ada di hadapan mereka seorang ibu-ibu.


“Andri anak mama, siapa bilang anak tetangga.” Fi pun menggendong anaknya.


Kemudian Fi pun duduk di depan keluarga Hirarki.


“Perkenalkan saya Fi Saeadat, janda dua anak, tapi anak pertama saya sudah meninggal dunia.” penerangan dari Fi membuat Philip dan Rani melihat satu sama lain.


Umur berapa dia menikah? batin Rani.


“Sekarang usia saya sudah menginjak 25 tahun.” ucap Fi, menjawab pertanyaan dalam hati Rani.


“Ya, Ini wanita yang aku ceritakan 5 tahun yang lalu pa, ma. Jadi yang akan kita lamar malam ini adalah dia, Fi Saeadat.”


Baik Philip, maupun Rani tak bisa menolak, pasalnya pilihan mereka sendiri telah menghancurkan masa depan anak mereka.


“Baiklah, oh ya nak, dimana ayah dan ibu mu? Karena kami perlu meminta izin padanya untuk melamar mu.” ucap Philip dengan lembut.


“Ayah dan ibu saya sudah lama tiada, yang sekarang bersama ku adalah ibu sambung ku, sebentar akan saya panggilkan tuan, nyonya.” kemudian Fi bangkit dari duduknya menuju kamar Yuri.


Andri yang di tinggal melirik ke arah Rani. Rani yang melihat pun melempar senyuman pada Andri kecil yang imut.


“Nenek cantik sekali.” Andri yang pandai mencari muka membuat Rani yang telah berusia 60 tahun merasa tersanjung.


“Benarkah?” Rani pun memegang wajahnya yang telah banyak keriputnya.


“Iya, nenek mu memang cantik Andri.” untuk pertama kalinya Yudi berkata baik soal Rani.


Itu ia lakukan agar tujuannya untuk bersatu dengan Fi berjalan dengan lancar.


“Papa benar, pasti nenek waktu muda jauh lebih cantik.” Andri tersenyum manis pada Rani dan Philip.


“Anak yang ramah, pasti ibunya mengajarinya dengan sangat baik.” Philip berpikir kalau Andri belajar dari Fi.


Yang pada kenyatannya ilmu cari muka yang Andri lakukan, hasil menonton kelakuan 2 kekasih ayahnya.


Tak lama Fi dan Yuri pun datang ke ruang tamu. Yuri yang melihat tamu penting mereka begitu beraura membuat Yuri sedikit degdegan.


Melihat kedatangan Fi dan Yuri, Yudi dan kedua orang tuanya pun berdiri, kemudian saling berjabat tangan.


“Silahkan duduk pak, bu.” Yuri mempersilahkan tamu mereka untuk duduk.


Begitu pula dengannya dan Fi, mereka pun duduk bersama Andri di sofa yang sama, menghadap keluarga Hirarki.


“Ada apa gerangan bapak dan ibu datang kemari?” tanya Yuri berbasa-basi meski ia telah tahu tujuannya.


“Maaf sudah menggangu waktu istirahat ibu sekeluarga, perkenalkan saya Philip Hirarki, ayahanda dari Yudistira Hirarki, dan ini istri saya.” Philip menunjuk istrinya yang ada di sebelahnya.


“Istri saya, Maharani, tujuan kami datang kemari untuk memenuhi hajat putra kami satu-satunya, Yaitu Yudistira untuk melamar putri ibu yang bernama Fu Saeadat.” ucap. Philip dengan tangkas.


...Bersambung......


Nantikan karya baru author yang update pada tanggal 01 Agustus 2022, wajib baca!