
Sudah tiga hari Ayah Bilal di rawat, kesehatannya sudah mulai membaik, mungkin besok ayah Bilal sudah di perbolehkan untuk pulang. Ibu Rahimah, Balqis dan ustadz Taqa lega mendengar kabar dari dokter yang menangani ayah Bilal.
Bahkan ayah Bilal menyuruh anak dan menantunya untuk kembali ke Jakarta. Karena menurut ayah Bilal sendiri ia sudah sangat pulih. Namun Balqis masih ingin menemani ayahnya untuk beberapa hari kedepan. Bagi ustadz Taqa pun tidak masalah, karena jadwal efektif kuliah mulai Minggu depan.
"Ayah, Balqis senang deh ayah sudah dinyatakan membaik. Ayah jangan sampai sakit lagi ya, makanan yang ayah konsumsi juga harus di jaga, dan Jagan suka memikirkan hal-hal yang tidak perlu."
"Tu dengarin anak sendiri yah. Yang di bilang Balqis benar, ayah itu suka sekali tidak memikirkan kesehatan sendiri."
"Nah begini ni nak Taqa, istri dan Ibumu, suka sekali mengomeli ayah. Padahal ayah baru saja sehat, apalagi nanti ayah sudah pulang kerumah. Sepertinya setiap hari ayah akan dimarahi sama Ibumu. Apalagi sama istrimu ini."
Ustadz Taqa terkekeh mendengar perkataan sang ayah yang tengah mengadu kepada dirinya bagaimana sikap ibu mertuanya serta Istrinya itu jika dirumah nanti. Ya ustadz Taqa sendiri paham bahwa ibu dan Balqis pasti mengomel juga demi kesehatan sang ayah.
Sedangkan Balqis langsung memanyunkan bibirnya mendengar perkataan ayahnya. Ia seakan tidak terima ayahnya membicarakan dirinya dihadapan sang suami. Kesannya ia memang suka mengomel, ya walaupun sebenarnya memang benar, hihi.
"A, kita pulang sebentar ya, Balqis belum mandi ni dari semalam. Sudah gatal banget, mana tidak bawa baju ganti lagi. Ayah tidak apa-apa kan Balqis pulang sebentar, nanti Balqis kembali lagi kesini."
"Iya tidak apa-apa nak, pulang lah. Ayah tahu semalaman kalian tidur juga tidak nyaman kan, apalagi nak Taqa. Kamu sih disuruh pulang semalam tidak mau."
"Ya sudah ayah jangan balik mengomel, Assalamu'alaikum ayah, ibu."
"Wa'alaikumsalam."
Balqis dan ustadz Taqa menyalim takzim punggung tangan ayah Bilal dan ibu Rahimah. Balqis tak lupa mencium pipi ayah dan ibunya. Memang kebiasaannya seperti itu sebelum ia menikah.
Setelah itu mereka meninggalkan rumah sakit. Namun saat tiba di parkiran, mereka berpapasan dengan ayah Taufiq dan ibu Rahmah. Ternyata kedua orang tua ustadz Taqa kembali datang untuk menjenguk besan mereka.
"Loh ayah, ibu, mau jenguk ayah Bilal ya yah, Bu?"
Mereka segera mencium kedua tangan paruh baya itu secara bergantian. Ibu Rahmah juga memeluk sayang keponakannya itu. Ia juga terlihat gemas dengan sang menantu yang memiliki wajah seperti boneka hidup.
"Iya nak, ayah kepikiran sama ayah mertua kamu. Oh iya bagaimana keadaan ayah kamu nak?"
"Alhamdulillah ayah Bilal sudah membaik yah, sepertinya besok juga sudah diperbolehkan untuk pulang. Oh iya ayah, Balqis dan Aa Taqa pamit pulang dulu ya yah, Bu."
"Alhamdulillah nak, yasudah hati-hati. Taqa jangan ngebut bawa istri kamu."
Setelah berbicara sebentar, ustadz Taqa dan Balqis benar-benar meninggalkan pelataran rumah sakit tersebut membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang. Ustadz Taqa sesekali melirik ke arah sang istri. Sepertinya istrinya itu sudah tidak memperlihatkan raut kesedihan, karena sang ayah sudah mulai membaik.
Namun entah kenapa sebenarnya ustadz Taqa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, namun ia tidak tahu apa yang akan terjadi, ia terus berzikir dan berdoa sepanjang perjalanan di dalam hatinya. Hingga kini kendaraan yang ia bawa telah tiba dikediaman ayah Bilal.
Ternyata saat mobil itu sudah terpakir sempurna, sang istri sudah tidur dengan nyenyak, ustadz Taqa tidak tega untuk membangunkan sang istri. Ia pun menggendong Balqis menuju kamar mereka yang ada di lantai dua.
"Kamu ini ringan banget sayang, tidur yang nyenyak Istriku. Aa mau mandi dulu, sudah gerah banget ini."
Cup!
Ustadz Taqa mengecup sayang kening sang istri lalu melesat ke kamar mandi. Hanya memakan waktu sepuluh menit, ustadz Taqa sudah menyelesaikan mandinya. Ia sudah segar dan juga wangi sabun dan shampo yang biasa digunakan oleh sang istri. Aroma tersebut kini menjadi candu untuk ustadz muda tersebut.
Sembari menunggu waktu magrib, ustadz Taqa bershalawat di balkon kamar. Sedangkan shalat ashar sudah mereka lakukan di rumah sakit. Ia hanya akan menunggu sebentar lagi untuk membangunkan istrinya untuk segera mandi.
Ternyata Balqis terbangun sendiri karena mendengar suara merdu sang suami. Ia mengintip dari balik kamar ke balkon untuk melihat seseorang yang tengah bershalawat. Seketika Balqis terpaku dan terbuai dengan suara merdu sang suami, membuat hatinya lebih tenang.
Entah kenapa tiba-tiba saja perasaan Balqis sedikit tidak tenang, seperti sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi. Namun ia berusaha menepis rasa itu, seperti firasat yang di rasakan ustadz Taqa.
"Balqis, kamu sudah bangun? Kenapa berdiri di situ? Ayo sini."
Balqis jalan mendekat ke arah sang suami. Saat Balqis akan melewati suaminya untuk duduk di bangku yang ada di sebelah ustadz Taqa. Kaki kanannya tersandung kaki kirinya sendiri, hampir saja ia terjatuh jika tangannya tidak di ditarik oleh sang suami. Sehingga posisinya sekarang duduk di pangkuan ustadz Taqa.
Seketika Balqis terpaku kala wajah itu cukup dekat, ustadz Taqa pun memperhatikan wajah sang istri dengan lekat. Jantung sepasang suami istri itu tiba-tiba berdetak sangat kencang, seperti ada sesuatu yang memompa dengan cepat.
Fuhhhh...
Ustadz Taqa meninup mata Istrinya itu untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Membuat sang wanita tersipu malu, dan refleks menarik diri. Ia segera berdiri dan berpindah tempat ke bangku yang ada di sebelahnya.
"Kamu terpana ya melihat Aa? Ia Aa tahu jika suamimu ini memang tampan. Aa bersyukur Allah memberikan ketampanan kepada Aa, jika tidak mana mungkin sampai kamu terpaku melihat wajah Aa yang tampan ini."
"Dasar kege-eran, siapa yang bilang Aa tampan. Jangan kepedean deh. Itu saya hanya memperhatikan belek di mata Aa."
Ustadz Taqa terkekeh mendengar jawaban klasik sang istri. Ia tahu pasti itu hanya alasan seorang Balqis agar tidak ketahuan jika Istrinya itu sempat terpana sepersekian detik dengan wajah tampannya.
"Baiklah Aa percaya, kamu mandi gih, sebentar lagi akan memasuki waktu magrib. Perempuan itu jangan suka malas."
"Enak saja ngatain Balqis. Aa itu memang tidak ada sisi romantis nya ya. Udah ah saya mau mandi, berbicara dengan Aa tu hanya akan menguras emosi."
Ia melesat ke kamar mandi. Ustadz Taqa terkekeh melihat wajah menggemaskan sang istri. Ia suka melihat ekspresi Istrinya yang menurutnya sangat lucu. Sedangkan Balqis langsung memegang dadanya saat tiba di dalam kamar mandi. Bagiamana bisa jantungnya sampai sekarang masih berdebar karena jarak yang begitu dekat dengan ustadz Taqa.
...****************...
...To Be Continued ...