
"Kita omongin lagi nanti, biar ku pikir-pikir dulu tawaranmu, bell akan segera berbunyi, aku pergi dulu" ucap Mega.
"Ok, aku tunggu jawabannya" kata Zidan.
Sementara Mega pergi ke arah IPA, Zidan pun melangkah ke arah IPS.
Rita dan Nia pun ternyata dari tadi mondar mandir nungguin kedatangan Mega. Mereka takut kalau Mega ga masuk sekolah.
"Kemana sih Mega ??"
"Ko ga ada kabar ?"
"Apa Mega sakit ?"
Mega pun akhirnya memasuki ruang kelasnya. Rita dan Nia pun langsung menyambutnya dengan bahagia di depan pintu kelas. Hebohlah mereka berdua melihat Mega datang.
"Oh my honey Mega ! Kamu kemana aja ?" tanya Rita sambil memeluk Mega.
"Apaan sih kalian ?? Heboh banget gitu ?" cetus Mega.
"Aku kira kamu ga masuk ?" tanya Nia.
"Kita kangen berat sama kamu Mega"
Mega hanya mengerutkan dahi.
Tiba-tiba bell berbunyi dan seorang guru pun mulai memasuki ruangan itu.
"Tugas kemarin di kumpulkan dan yang ga ngerjain tugas harap maju kedepan !!" ucap guru itu dengan lantang.
"Tugas ???" tanya Mega kaget.
"Iya, kenapa ?" tanya Rita.
"Kok gue bisa lupa ??" ucap Mega dalam hati.
Yang lain pun mulai sibuk mengumpulkan buku tugas itu ke meja depan. Sedangkan Mega masih bengong karena lupa mengerjakan tugasnya. Setelah semuanya kembali duduk di meja masing-masing, Mega pun berdiri dan mulai melangkah maju.
Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali pak Wahyu. Ia kaget, kenapa Mega maju ke delan ? Bukankah dia anak yang rajin mengerjakan tugas ?
"Kamu ga ngerjain tugas ??" tanya pak Wahyu.
Mega menganggukkan kepala.
"OMG my honey Mega ko bisa ?" ucap Rita lirih.
"Tumben Mega lupa sama tugas ?" tanya Rifki dalam hati.
"Hah ?? Mega lupa sama tugas ??" ucap Sofia tercengang.
Pak wahyu masih heran.
"Tumben sekali ? Pergi kemana kamu kemarin ? Sampai-sampai lupa kalau ada tugas dari saya ?" tanya pak Wahyu.
"Hehe, namanya juga lupa pak, ga inget" ucap Mega.
Rita dan Nia pun saling pandang.
"Tuh anak kenapa sih ?" tanya Nia.
"Ga tau, udah tadi berangkatnya siang, ini pake ga ngerjain tugas lagi" jawab Rita sambil tepuk jidat.
"Sekarang kamu ambil buku kamu ! Terus tulis permintaan maaf 100 kali, abis itu minta tanda tangan ke Pak Agung !!" perintah pak Wahyu.
"Baik pak" ucap Mega seraya berjalan menuju mejanya untuk mengambil buku dan pulpen, lalu menulis kalimat yang di perintahkan.
Lagi-lagi Rita dan Nia pun heran.
"Nurut banget tuh anak ?" ucap Nia.
"Tadi pagi sarapan apa sih dia ?" tanya Rita.
"Mega ! Are you ok ?" tanya Nia.
Mega hanya tersenyum. Kemudian menoleh ke arah Zizi. Zizi pun tersenyum kepada Mega.
"Semangat !" ucap Zizi.
Mega hanya menganggukkan kepala.
"Ok ! Yang lain silahkan buka halaman 97 ! di situ ada soal tanya jawab, silahkan kerjakan ! Saya beri waktu 45 menit. Di mulai dari sekarang !"
Semuanya pun membuka buka buku dan mulai mengerjakan tugasnya dalam hening. Sementara Mega terus menulis kalimat hukumannya.
Tak lama Mega pun maju ke depan untuk menyerahkan tulisan itu. Pak Wahyu pun mengoreksinya.
SAYA TIDAK AKAN MENGULANGINYA LAGI
Begitulah tulisan yang di buat oleh Mega.
"Baik, sekarang kamu antar ke ruangan kepala sekolah, dan minta tanda tangan beliau ya ?" ucap Pak Wahyu.
"Baik pak"
"Paham pak"
Rita memberi kode ke Nia.
"Hari ini dia kenapa sih ? Aneh banget, kalem banget gitu ? Biasanya juga pecicilan ? Banyak omong ? Banyak tingkah ? Cerewet dan cempreng ?"
Mega pun keluar dari ruang kelasnya dan menuju ke ruangan kepala sekolah. Ia pun berjalan dengan santainya. Suasananya benar-benar sepi. Karna jam pelajaran sedang berlangsung.
Tak lama Mega pun sampai juga di ruangan yang di tuju. Ia merapikan bajunya dan juga rambutnya. Kemudian bersiap untuk mengetuk pintu.
TOK TOK TOK
"Permisi" ucap Mega sambil mengetuk pintu ruangan pak Agung.
"Ya, silahkan masuk !" ucapnya dari balik pintu itu.
Mega pun memasuki ruangan itu dengan penuh sopan santun, senyum, salam dan sapa, alias 3S di gunakannya.
"Maaf pak, saya Mega Indah Tri Utami dari kelas 11 IPA 2, mau minta tanda tangan bapak" ucap Mega.
"Kelas 11 IPA 2 kan kelasnya Zilvana Ziya ya ?"
"Iya pak, kelasnya Rifki Muamar Azrori juga ko pak, dan teman-teman yang lain" ucap Zizi bernada tak suka bila hanya Zizi yang di sebutkan.
"Oh, iya ya ya"
"Zizi itu anak baru di sini, kenapa justru ia yang lebih di kenal oleh para guru ! Kenapa mereka ga menghargai anak-anak yang lain bahkan yang lebih lama sekolah di sini" gerutu Mega dalam hati.
"Minta tanda tangan buat apa ?" tanya pak Agung.
"Maaf pak, emmm... Saya lupa mengerjakan tugas"
"Ha ha haaa, badung juga kamu ya ?? Ha ha ha ! oke oke ! Sini bukunya"
Mega pun memberikan buku itu kepada pak Agung. Ia pun mulai membaca tulisan itu.
SAYA TIDAK AKAN MENGULANGINYA LAGI
Ia terus meneliti tulisan itu hingga pada tulisan yang mulai berubah. Di barisan sekitar nomor 67.
AKU SUDAH DATANG LAGI
Pak Agung mulai serius membaca tulisan itu dan ia pun mulai membetulkan kacamatanya yang tadinya agak miring lalu menoleh ke arah Mega sesekali.
AKU SUDAH DATANG LAGI
"Kenapa tulisannya berubah ?" ucap Pak Agung dalam hati.
Tulisan itu semakin besar dan mulai berubah warna jadi warna merah dan mulai berganti dengan darah.
BERSIAPLAH AGUNG, AKU DATANG
Pak Agung sontak melempar buku itu ke lantai dan membuat Mega kaget.
"Ada apa pak ?" tanya Mega.
Pak Agung pun menoleh ke arah Mega dan mendapati sesosok makhluk tengah berdiri di belakang Mega dengan berlumuran darah dan membawa pisau.
Mata pak Agung melolot dengan tubuh gemeteran. Sedangkan Mega menunduk dan mulai mengambil bukunya yang jatuh.
Kemudian pak Agung pun berlari keluar ruangan dengan terburu-buru dan ketakutan. Mega pun heran.
"Kenapa sih tuh orang ! Malah lari, kan gue belum di kasih tanda tangannya" ucapnya sambil mengambil buku itu.
Dari balik kedua kakinya sayup-sayup ia melihat beberapa tetesan darah. Mega pun memastikannya kembali, ia melihat lagi di antara dua kakinya.
Wajahnya pucat penuh darah, masih dengan seragam SMA dan ia membawa pisau. Terdapat luka tusukan di perut sebelah kanannya.
Rambutnya berantakan meskipun ia memakai bandana. Bandana itu berwarna merah. Ia pun memakai kalung berinisial K.
Mega menegakkan kembali badannya. Ia merasa seluruh tubuhnya begitu kaku. Terpaku diam seribu bahasa. Nafasnya mulai menggema di ruangan.
Mega perlahan mulai membalikkan badannya ke arah anak itu. Sambil memejamkan matanya ia memberanikan diri untuk mencoba menatap.
Saat ia mulai membuka matanya alangkah terkejutnya Mega, karena tak ada siapapun di sana. Bahkan jejak darah pun tak ada sama sekali.
"Hah ??? Ko ilang ?" tanya Mega heran.
Saat ia sedang mencari sosok tadi, tiba-tiba saja salah satu foto yang berada di ruang pajangan siswa teladan jatuh.
PRAAANGGGG !!
Sontak saja Mega kaget dan lari sambil berteriak.
AAAAAAAAA