
"Kamu baru pulang Rey?" Sapa bunda saat melihatku tiba di rumah.
"Iya bun, tadi siang aku ke kota menemui pak Dahlan untuk membujuknya agar mau menjual tanahnya yg dekat kebun kita." Ucapku pada bunda sambil berlalu ke kamarku.
Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan cara untuk mendapatkan tanah itu, sungguh aku tak ingin menikahi Mona, aku tidak mencintainya. Mungkinkah ini waktunya aku segera menuruti kata bunda untuk mencari pacar? atau sekalian cari istri saja?. Berharap dengan begitu Mona mau tidak mau akan melupakan aku. Gumamku dalam hati sambil memijit pelipisku yg sedikit sakit.
"Ada apa Rey? ada masalah? Cerita sama bunda!". Kata bundaku sedikit cemas sembari mendudukkan dirinya didekatku.
"Pak Dahlan tetap menginginkan aku menjadi menantunya bun, setelah itu dia akan memberikan tanahnya padaku." Jawabku kemudian.
"Memangnya kenapa Rey? bukankah putrinya itu cantik, dia mahasiswimu kan?" Tanya bundaku lagi sambil menatapku heran.
"Iya bun dia cantik, tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya, dia gadis yg manja, juga agresif, parahnya lagi pernah dulu waktu Rey ngajar di kelasnya, dengan tidak tau malunya dia meluk Rey didepan mahasiswi lain, apa salah Rey nganggap dia gadis yg nggak punya harga diri dengan kelakuannya yg seperti itu?" Jelasku panjang lebar pada bunda.
"Dia juga terus saja mengikuti Rey kemanapun, mencoba menggoda Rey dengan alasan mau belajar, bahkan bisa dibilang lebih mirip penguntit." Sambungku lagi.
Ku lihat bunda hanya menghela nafasnya panjang dan kembali menatapku sendu.
"Hmm.. Baiklah terserah kamu saja Rey, apapun pilihan kamu asal dia tulus padamu bunda akan merestui kalian, jadi bunda harap kamu segera mencari istri, bunda sudah tua Rey, sebelum nanti bunda meninggalkanmu bunda ingin kamu sudah ada istri yg mengurusmu." Kata bunda seraya mengecup keningku sekilas sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu kamarku.
Ku rasa bunda benar, aku harus mulai mencari pendamping hidup, dengan begitu bunda akan lebih bahagia juga aku bisa membuat Mona melupakan aku.
Tapi siapa?
Arghhh..... Aku sudah mulai frustasi sepertinya.
Airy pov
Haishh.. kenapa rasanya otakku sudah buntu ya? Mana waktunya mepet lagi, apalagi aku juga sudah berjanji pada Pak Rey buat bantuin dia.
Ayo Ai... berpikir!!!. Seruku pada diriku sendiri.
Sudah hampir satu jam aku mondar mandir mengililingi kamarku, berharap akan mendapatkan ide yg bagus untuk stand di festival nanti.
Sungguh tidak semudah yg aku bayangkan.
Sesaat aku berhenti melihat iklan yg ada di TV kamarku.
Ucapku sendiri lega dan sumringah sambil menatap layar TVku.
Akhirnya aku sudah mendapatkan sedikit inspirasi untuk tema itu.
Sebaiknya besok aku nemuin Pak Rey buat diskusiin ini, semoga dia suka. Aku telpon dulu aja deh takutnya besok dia nggak ke kebun atau lagi sibuk.
Segera ku raih handphoneku mencoba menghubunginya.
Tutt..Tutt..Tutt..
Apa dia lagi sibuk? lama banget ngangkatnya.
Tutt..Tutt.Tutt..
"Ya halo.."
Akhirnya diangkat juga.
"Halo bos, lagi sibuk nggak?". Tanyaku sedikit padanya sekedar basa basi.
"Nggak, kamu ada apa telpon malam malam gini? jangan bilang mau ngajak saya malam mingguan ya?". Ucapnya kemudian yg membuatku sedikit kaget.
"Kok tahu sih bos? bos dukun ya? hehe..." Balasku menggodanya kembali, hmm rasain aku bales tuh. Pede banget jadi orang, siapa juga yg mau malam mingguan sama bos resek kayak dia.
Gumamku pelan.
"Ah ya boleh, kebetulan saya lagi senggang, tunggu 15mnt lagi saya jemput." Sahutnya lagi kemudian menutup telponku tanpa memberi waktu untukku menjawab.
What?? apa dia beneran kesini, ah nggak mungkin, pasti dia cuma mau menggodaku, tapi kenapa jadi deg degan gini sih, gimana kalau dia beneran kesini?Kataku dalam hati sambil mondar mandir terus melihat keluar jendela kamarku, berharap semoga tadi dia hanya bercanda.
Bersambung dulu ya kak, nantikan kelanjutannya..
Terima kasih sudah membaca 😘